lebih

tiga hari? lebih? hmmm, sepertinya lebih dari tiga hari. selalu seperti ini. dikepung rindu. dikepung sendu. dikepung haru. lalu suara bergetar. pilu. sesayat perih. selalu saja tak bisa kutunjukkan rasa itu. tak pernah bisa.
rindu mengepung penuh
malam ini mungkin akan kutunggu bintang jatuh. mungkin ia akan membawaku terbang ke tempatmu. atau hancur berkeping.
dikepung rindu.

Iklan

resolusi 2008

Bikin resolusi? Ah, bukan perkara gampang buat saya. Berkali-kali di setiap akhir tahun saya ikut-ikutan bikin daftar hal-hal yang akan saya lakukan tahun depan, tapi setelah itu seperti tak bermakna. Dibuat untuk tidak dilaksanakan. Padahal dari tahun ke tahun, poin resolusinya sama. Saya ga ngerti dimana letak kesalahan dan ketidakpatuhan saya. Tapi resolusi yang tak sempat terucapkan, justru biasanya bisa saya raih. :p

Kali ini saya coba bikin resolusi lagi. Kapok sebenernya. Tapi daeng rusle memberi saya pr, yang hampir tak pernah saya dapatkan dari siapapun. Jadi saya berpikir, apa salahnya memenuhi permintaannya itu.

Halah, pengantarnya udah terlalu panjang dan ga penting. Ini, poin resolusi saya:
1. Yang berhubungan dengan kebendaan, mmm…saya pengen semua barang2 yang pernah saya punya kemarin, balik lagi. Laptop, kamera, 2 hp, motor….hahaha! Eh, motor masih ada sih, tapi udah direncanain mau dijual juga :p Apa segitu BU-nya saya? Nggak lah…lagi hoby aja jual2in barang trus abis itu gigit jari ga bisa beli lagi yang baru, justru saat benda2 itu dibutuhkan. Bodoh ga sih?

2. Kalo semua benda2 itu udah balik lagi, mungkin saya akan lebih mudah melaksanakan resolusi selanjutnya. Bikin karya bagus!!! Entah tulisan jurnalistik, cerpen, top banget kalo udah bisa novel. Resolusi ini juga udah ada dari tahun kapan, dan hasilnya masih gitu2 doang. Ga ada yang signifikan. Halah, bahasa apa sih, ini? :p

3. Jalan-jalan!!! Saya udah harus kembali bergerak. Menyambungkan titik2 dalam peta. Hah, ini juga resolusi yang udah dibikin tiap tahun, tapi sekali lagi, u know lah :p

4. Lebih berbakti pada ortu 😦 Selama ini, nyaris tak ada yang saya lakukan untuk sekedar bikin ortu seneng. Ouh…permintaan ortu agar saya jadi PNS, itu yang paling berat. Walopun saya tau ortu bisa mengerti alasan saya menolak permintaan itu. Maaf pak, ma, pegabdian pada masyarakat tak harus lewat jalan menjadi PNS 😦

5. Tahun ini harus udah bikin daftar silsilah keluarga. Udah direncanain sejak kapan tahun tapi ga pernah terlaksana. Padahal saya selalu panik, apa jadinya rencana itu kalo tiba2 bapak dipanggil Allah? Padahal bapak satu2nya orang yang masih hapal silsilah keluarga besar kami.

6. Taman baca dan sejenisnya. Paling ga perpus pribadi yang bisa diakses anak2 lingkungan rumah. Ini program dari tahun kapan dan ga pernah terealisasi. Buku bacaan yg tersedia juga bukan kelas anak kecil kali 😦 Saya bener2 payah kan? Cari2 alesan lagi! Payah :p
7. Ini udah resolusi ke berapa yak? Ntar kebanyakan lagi! Ouh, iya…saya juga pengen jadi orang yang lebih baik, lebih berguna, lebih peduli, tak banyak bicara tapi lebih banyak berbuat

8. Mmm….pengennya sih, jadi orang yang selalu bisa ngertiin yayang, bisa terus menyemangati dia. Eh, bagian ini, resolusi bukan sih? Trus soal sekolah, pindah kerja, lebih patuh ma dokter biar lebih sehat, punya usaha sendiri, sebisanya olahraga rutin, dll….itu masuk resolusi nomer berapaaaa????

Udah ah, ini udah kebanyakan! Dan, tau sendirlah….saya udah mulai banyak bicara tapi tak berbuat! Dan, saya ga usah melempar pr ini kemana-mana ya…

Bajaj dan Bus Harry Potter

Dian mendekati bajaj yang baru saja menurunkan penumpang di bawah jembatan penyeberangan Atrium Senen. “Ke Sarinah berapa, Pak?” tanyanya setengah berteriak.

Sopir bajaj menjawab, “Sepuluh ribu.”

Dian melambaikan tangan pada saya dan Marta, “Yuk, naik.”

Saya ragu sebab mata kiri sopir bajaj itu seperti berselimut kabut. Putih. Sepertinya buta. Tapi di belakang kami, klakson kendaraan bersahut-sahutan, diiringi teriakan beberapa sopir meminta jalan. Saya akhirnya naik juga, disusul Marta, lalu Dian. Sopir bajaj langsung tancap gas dan kami terjengkang. Marta dan Dian senyum-senyum kecut, sementara saya berpegangan pada ban serep yang melekat di belakang kursi sopir.

Bajaj berusaha menyalip. Meski dilengkapi kaca spion, sopir menjulurkan kepala untuk melihat kendaraan dari belakang. “Wah, bener nih, matanya ga berfungsi,” batin saya. Detik berikutnya, bajaj nyaris menabrak kijang silver. Bersamaan, kami menjerit sambil menumpukan tangan pada pembatas kursi sopir dan penumpang.

Setengah meter di sebelah kanan, sebuah bus akan menepi. Tangan kenek menghalau kendaraan, tak ada yang menggubris. Kenek bus akhirnya meloncat, tapi bajaj tetap menyalip dari sebelah kiri. Kami saling berpandang-pandangan dan duduk makin berdempetan.

“Haduh, kalau saja ini seperti bus Harry Potter yang bisa mengecil saat lewat jalan sempit,” bisik saya pada Marta.

“Apa?” tanya Dian.

“Itu, lho, di film Harry Potter. Kan busnya bisa menyesuaikan dengan sempitnya jalanan,” jelas Marta.

“Rasanya pengen cepet-cepet terbebas dari kardus berjalan ini,” kata saya lagi sambil menggigit jari. Dian langsung menjepretkan kameranya ke arahku. Hasilnya agak gelap. Sisi kanan bajaj ditutupi triplek.

Bajaj terus meliuk-liuk di sela kendaraan lain. Tubuh kami oleng ke kiri dan kanan. Sopir bajaj seperti lupa ada kami di kursi belakang. “Kiri, baaaanggg,” teriak kami. Setelah 20 menit akhirnya kami bisa menghirup udara dingin di Sarinah. *

*) konon, cerita seperti ini setiap hari terjadi di Jakarta. tapi tak pernah dituliskan. saya hanya mencoba mengumpulkan beberapa yang saya alami

Pertemuan dengan Keluarga Blogger

Sesaat setelah duduk di sofa ruang tengah rumah keluarga Mas Mbilung, saya mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Saya menoleh.

“Hai…” sapanya. Perempuan itu adalah istri Mas Mbilung, Mbak Jeni namanya. Dia mengenakan kaos putih dan celana pendek bergaris-garis. Rambut sebahunya yang telah memutih, tak rapi.

Saya berdiri menyambut pelukan dan ciuman pipinya. “Akhirnya kita ketemu juga ya,” katanya lagi. Setelah itu dia berlalu ke kamar kecil.

“Baru bangun tuh, Co,” kata Mas Mbilung. ‘Co’ adalah singkatan dari Aco, panggilan akrab beberapa blogger pada saya.

Lewat blog dan chating, saya mengenal keluarga ini sejak tahun lalu. Pertama dengan Mas Mbilung yang ketika itu masih bekerja di Bird Life Internasional dan ditempatkan di Jepang. Setelahnya saya dikenalkan dengan Mbak Jeni dan dua anaknya, Adri dan Ghilman, yang tinggal di Bogor. Kecuali dengan Mas Mbilung, ini pertemuan pertama saya dengan mereka.

“Iya nih, gw ga mau lagi ah, ikut kopdar kayak tadi malam. Capek,” kata Mbak Jeni yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Asik lagi, bisa kumpul-kumpul gitu,” sanggah Mas Mbilung.

“Asik pas ngumpul-ngumpulnya doang. Besoknya gw kayak melayang-layang, ngantuk banget,” jawab Mbak Jeni lagi sambil mengupas mangga di meja makan, tepat di belakang saya.

Mas Mbilung yang bernama asli Rudyanto ini menceritakan, tadi malam mereka kopdar hingga jam empat di bundaran hotel Indonesia. Kopdar atau kopi darat adalah istilah untuk pertemuan para penggiat dunia maya, termasuk para blogger. Saat berkumpul setiap Jumat malam, tak ada topik khusus yang dibicarakan. Mereka biasanya hanya berkenalan dan ngobrol santai.

“Gila juga ya, masa sih biaya pembuatan website pariwisata Indonesia bisa sampai 17 miliar?” kata Mas Mbilung sambil mencomot seiris mangga dari mangkuk di depan saya.

“Sebagian buat maintenance kali,” Mbak Jeni menimpali.

“Iya ya, Mas. Buat biaya apa aja sih segitu banyak? Saya liat lagi rame dibahas di blog,” kata saya.

“Iya, nggak masuk akal. Barusan saya liat, masa sih, Candi Prambanan ada di Aceh? Ngaco banget tuh yang bikin. Mungkin salah input, tapi itu fatal banget. Menyesatkan.” Kami tertawa mendengar ucapan Mas Mbilung.

Berselang beberapa detik, terdengar suara pintu dibuka. Ghilman berjalan ke arah saya sambil mengucek-ngucek matanya. Dia lalu menepuk-nepuk kedua pundak saya, “Halo, Tante Yati,” katanya.

Saya agak kaget sekaligus terharu dengan perlakuannya. Terkesan seperti orang dewasa. Tapi terasa akrab. Padahal kami baru sekali ini bertatapan muka secara langsung. Saya pun lalu balas menepuk bahunya. “Harusnya saya kali yang gini-giniin Ghilman,” kata saya.

“Iya nih, sok dewasa,” Mas Mbilung menimpali. Ghilman seperti tak mendengar komentar tentang dirinya. Dia lalu duduk di pangkuan bapaknya. Hanya sebentar. Setelah itu dia mendekati ibunya. “Bu, boleh main ya bu?” Mbak Jeni mengangguk, Ghilman lalu mencium pipinya. “I love you, Ibu.”

Ghilman lalu meraih stik play station di samping televisi dan siap memainkan game guitar hero kegemarannya.

“Kok main PS sih? Bukannya cuci muka dulu?” Tanya saya.

“Kan libur, tante, jadi boleh main game,” katanya sambil tetap melihat ke arah televisi.

“Tante, aku udah tau caranya biar tante cepet dapet pacar. Diiklankan aja di koran politik.”

“Hahaha….kok gitu? Saya kan udah punya pacar.”

“Siapa namanya?”

“Tanya aja sama bapak.”

Dia menghentikan permainannya. “Ah, nggak asik. Gini aja, kalau aku berhasil nebak nama pacar tante, aku boleh posting di blog yaaa…” pintanya. Saya geli dengan omongan Ghilman. Ternyata gayanya tak berbeda dengan saat kami chating. *

*) cerita ini terjadi pada Sabtu (15/12). versinya mungkin agak beda dengan cerita Ghilman, tapi beginilah memori saya bekerja :p

memelukmu, akhirnya!*)

Sabtu, 22 Desember 2007. Kupikir kami tak akan bertemu. Hingga jam 12, Uyo belum datang. Padahal saya janjian ma simbok jam 12-an setelah banyak kali janji ketemuan kami batal. Saya tertidur beberapa menit lamanya saat Uyo nelfon, ngabarin kalo dia udah di kost, menjemput saya. Haduh, maaf banget say, Depok-Kebayoran Lama, bukan perjalanan dekat. Lalu kita akan ke Cibubur lagi? My God, saya kok jadi penindas gini?
Stengah satu, kami berangkat. ke Slipi, lalu Kampung Rambutan, dan Cibubur akhirnya.

Mall lumayan rame. Masuk pintu utama, belok kiri, dari balik tiang saya melihat simbok, duduk berhadap-hadapan dengan Mas Hedi. Kemal dan Rafi di kanan dan kiri mereka. Saya dan Uyo langsung mendekat dan…saya memeluknya, akhirnya. Erat sekali. Bukan lagi dengan emoticon di ym, tapi langsung dari henpon saya…eh salah, live! Dan beda dengan pertemuan lainnya yang hanya salaman, atau paling cipika cipiki. Ini bener2 beda!

Setelah itu, seperti saat chat, kami cekikikan. Dia masih sempet ngeledekin saya karena cerita Puput soal ‘diem2an’ saat kami di Semarang… Tapi saya lega banget. Akhirnya ketemu. Setelah setahun lebih kami kenal di blog, ngobrol, berantem, sayang2an, ledek2an di chat.

Saya bilang ke Uyo, ini pertemanan yang aneh. Saya dan simbok kenalan lalu akrab, curhat- curhatan, tapi juga banyak berantemnya. Mungkin karena…pms kami selalu bersamaan dan sama parahnya? tensi kami sama tingginya? Tapi saat lama tak saling sapa, kangen kami memuncak hingga ubun-ubun, saling mencari, lalu ada tangis bodoh, kangen2an lagi. Ledek2an lagi. Bodoh2an juga. Yup, kami dua perempuan yang sering banget melakukan kebodohan bersama. Ah, sulit diceritain. Dan soal ‘menyayangi satu lelaki’ itu ga usah detail ceritanya ya, mbok? hehehe :p Mbok, love u!
Pelukan erat itu, terulang pada Minggu pagi esoknya. Kali ini dengan Dian. Ma kasih ya sist, udah nemenin saya ke bandara, juga berbagi ilmu.

*) judulnya sengaja disamain, biar ga repot mikir :p

keajaiban?

Setelah dua minggu absen, balik ke kantor rasanya asing. Kembali ke dunia nyata, begitu saya mengistilahkannya. Saya akhirnya lebih banyak diam. Yang lain…ah, ga ada ibu kantin 😦 Katanya libur sejak idul adha kemarin. Laper deh jadinya.

Hari ini, saya baru makan jam 2 lewat sekian menit. Di mall, again. Bosen, bosen deh, daripada ga makan. Abis itu keliling bentar dan mata saya kecantol ma satu benda yang lama pengen saya beli. Sale? Kebetulan! Saya pengen beli dengan voucher belanja hadiah lomba nulis :p tapi keknya harganya lebih murah dari nilai vouchernya, so pake uang tunai aja. Saat ngambil duit di atm, hei…nambah! Siapa yang segini baik hati ngasih duit dan membuat isi rekening saya berubah dua digit? Keajaiban pertama?

Abis itu, iseng mampir ke gramedia. Kemaren di Jakarta saya udah beli banyak buku, tapi saya ga pernah bisa tahan ga masuk ke toko buku. Di sana, saya bertemu bapak2 tua. Awalnya saya pikir saya salah orang. Terakhir ketemu akhir 2004, giginya sudah ompong semua. Tapi kok sekarang utuh? Saya sapa, dan saya tak salah orang. Kami berbincang ringan. Bapak ini masih aktif di dewan pendidikan.

Lalu saya menawarinya untuk membaca tiga seri buku Andrea Hirata. Bapak itu tertarik ketika saya menceritakannya sekilas. Dan tidak saya duga sebelumnya, bapak itu bilang, “Oke, karena you udah merekomendasikan tiga buku bagus, sekarang saya harus ngasih you satu buku bagus juga.”

Saya menolak. Bapak itu memaksa. Saya menawarinya membayar setengah harga semua buku. Bapak itu menolak. Katanya, “Ini sedekah. Sedekah ga boleh ditolak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan status kewartawananmu!” Mau ngomong apalagi, saya diam. Saya membayar dengan uangnya, lalu mengembalikan sisanya.

Saya meminta coret2an tangannya di sampul buku karya Dina Y Sulaiman, Dokter Cilik Hafal dan Paham Al Quran itu. Ouh….ternyata bapak itu baru saja ultah 23 November lalu, yang ke-71. Dan saya ultah kemarin, 23 Desember. Abis itu, kami berpisah. Keajaiban kedua? Ah, indah sekali hari ini….

resolusi?

Udah musim bikin resolusi ya? Sebentar lagi pergantian tahun. Usiaku juga berganti hari ini. Ada sesuatu yang membuatnya tak lengkap. Kita tak bersama. Saya udah harus pulang. Sedih, pasti! Udah terbaca sejak kemarin kan? Tapi, ma kasih, kemarin kamu membawaku ke rumah pelangi itu. Saya senang di sana, bersama mereka.Terima kasih kau menemaniku, meski tak selalu. Ma kasih buat semuanya….