kaya oleh-oleh

_mg_9637

Hari itu, 23 Oktober. Badan saya rasanya masih setengah remuk. Udah seminggu lebih pileknya ga sembuh2. Tapi temen saya datang dari Papua. Dia, orang yang pernah saya ceritakan di sini, sedang di Jakarta, udah dua hari.

Dan ini yang penting. Katanya dia bawa oleh2 buat saya. Maka saya samperinlah dia. Tak peduli macet di Jumat sore mulai menyapa Jakarta, saya paksakan ke JCC, tempat berlangsungnya pameran yang diikutinya. Sebelumnya saya mampir ke Plaza Blok M buat beli oleh2 bagi calon bayinya.

_mg_9509Nyampe sana, oleh2 sudah menanti saya. Kaos Papua. Lalu saya obrak abrik stand pamerannya, dapet tas buatan penduduk asli sana yang ada tulisan Papua-nya. Tapi saya lupa apa sebutan untuk tas ini. Lalu saya maksa ikut kuisnya dan dapet lagi tas hitam buat macem2 peralatan. Haha…rampok! Dan tak lupa, saya berfoto dengan mengenakan topi Papua. Saya sempet ngomel karena topi itu dibuat dari bahan kulit binatang, bulu kasuari, dan bulu burung cendrawasih. Cantik sih 😦 tapi…

Sore beranjak gelap. Saya pamit ke acara lain, acaranya ngerumpi.com di Pasar Festival. Awalnya saya tak ingin datang. Lagi males bertemu siapa pun, lagi ga sehat, dan ga mood. Tapi saya paksakan datang akhirnya. Tiba di sana, gitu deh, langsung bergabung dengan orang2 yang sudah dikenal baik, kelompok kucing, hihihi. Bagian senengnya, saya ketemu para ‘mantan blogger’ hahaha…! Dan, bagian seneng lainnya, dapet oleh2, buku gratis, dan bertemu jagoan kecil yang tawanya menyegarkan!

Foto2 tentang acara ini saya posting di blog satunya.

Iklan

hanya ingin…

Ku telah miliki
Rasa indahnya perihku
Rasa hancurnya harapku
Kau lepas cintaku
*) Rasakan abadi
Sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Kupikir ku salah mengertimu
Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu
Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku
Di sisa akhir nafas hidupku
owwooowowowo
Walaupun semua hanya ada dalam mimpiku
Hanya ada dalam anganku
Melewati hidup

balik ke: *)

Tiba2 saya kangeeeen banget denger lagu ini, kangen banget dengan kamar di sebuah rumah di Balikpapan, kangen banget mendengarkan lagu ini diiringi alunan biola, kangen semuanya di masa-masa itu.

Saya bukan penggemar fanatik lagu dan penyanyi manapun. Lagu ini terpilih, kebetulan saja. Lagu Revublik sedang in waktu itu dan nadanya relatif mudah karena hanya pengulangan2 nada dari awal hingga akhir.

Tapi lagu ini bikin saya tersayat. Lebih tersayat lagi saat mendengarnya melalui gesekan biola. Ga pernah sangat pas saya memainkannya, paling hanya dua baris pertama saja atau pada reff. Tapi saya bisa menangis dibuatnya. Bahkan saat ini, saat mengingat lagu ini (tapi tak ingat lagi cara menggesek biola), saya meneteskan air mata.

Cengeng memang, biar sajalah.

cemal cemil

cemal Tadi sore saat mengitari mall Taman Anggrek yang begitu luas dan membingungkan bagi orang udik seperti saya, akhirnya saya memilih menuju tempat yang saya pasti kenal pengaturannya. Hero, pasar swalayan di lantai dasar. Saya harus membeli beberapa kebutuhan bulanan.

Di pintu masuk, ada satu stand yang menarik perhatian saya. Isinya, jajanan tempo dulu. Dinamai cemal cemil. Ada coklat cap ayam jago, ada permen karet bunder2 seukuran kelereng warna warni, ada permen gula asem, ada permen susu, kacang ijo berbalur gula warna warni, kapal-kapalan, kue putu (begitu dulu saya mengenalnya), dan masih banyak lagi. Sebagian ditempatkan dalam kaleng kerupuk super mini.

Surprise buat saya, karena ga nyangka ada jajanan ini di swalayan. Lucu2 semuanya. Dan sungguh menggugah kenangan masa kecil. Tapi sejak kecil saya memang bukan tukang jajan. Jadi, saya hanya membeli satu macam yang benar2 melekat dalam memori saya, permen karet bunder kayak kelereng.

Harganya Rp 3.450 untuk sebungkus kecil berisi 12 biji. Dulu zaman saya kecil, permen ini tidak dijual dalam kemasan, melainkan per biji yang disimpan dalam toples plastik besar. Saat jajan, tangan2 kecil kami merongoh toples memilih2 warna yang kami sukai. Jadi, yang belakangan akan mencicipi bekas tangan kami yang entah telah memegang apa sebelumnya. Sedaaap, hahaha.

Karena tak dibolehkan jajan, kecuali waktu2 tertentu misalnya acara 17-an Agustus, kadang2 permen sekecil kelereng itu harus kami bagi dua dengan teman lainnya. Apesnya, kalo masing2 hanya dapat seuprit gitu, permen ini ga bisa digelembungkan macam gayanya Lupus. Hiks…kesannya hoax banget, makan permen karet tapi ga bisa bikin balon :))

Permen ini keras saat gulanya belum lumer, jadi sangat mudah jika harus dibagi dua. Salah2 bisa tertelan sebagian pecahannya saat baru mulai dikunyah. Dan hal itu yang paling kami takutkan. Sebab menurut cerita yang beredar di kalangan kami, kanak2 yang mudah takjub ini, konon kalo nelen permen karet, bisa meninggal! Hiii…masa harus meninggal hanya karena permen secuil yang tidak mengenyangkan ini?

Tapi saya berpikir, bisa jadi isu itu dikembangkan orangtua agar kami tak jajan sembarangan. Alasannya, pertama soal kuman tangan2 kami dalam toples tadi. Kedua, tidak mengenyangkan. Ketiga, jajan berarti harus punya duit!

Dulu, susah banget kayaknya dapet duit. Di rumah, saya wajib sarapan sebelum sekolah agar tak perlu jajan. Saya pernah ga sarapan sebelum sekolah dan setengah pingsan, dibopong, lalu diminumin air gula. Tapi di sekitar sekolah saya yang di kampung, emang mau jajan apa? Paling adanya es cendol campur tape (sumpah, segeeer banget dan kayaknya sekarang saya ga pernah dapet yang sesedap itu meski dulu ditakut2in penjualnya pake air yang ga dididihkan dulu), dan kue apem. Biar ga jajan2, nenek saya dulu juga sering bikinin kue apem yang kalo saya inget2 sekarang, kok kayaknya enak banget ya?

Trus, kapan saya bisa jajan? Ya itu tadi, pas ikut lomba2 17-an di kecamatan. Macem2 tuh jualan di sana. Maklum deh, udah ‘kota’ dikit. Yang populer waktu itu, es potong rasa ketan item. Dan saya udah mengulang kenangan itu saat berlebaran di Kota Tua sekitar tiga pekan lalu. 🙂

*aaaahhh, kenapa gambarnya jadi item gitu yak?* 😦

sumpah

Sepertinya begitu lama saya berfokus pada hidup saya sendiri. Dan belakangan saya tersadar, ternyata saya tak punya siapa-siapa di sekeliling meski hanya untuk berbagi cerita, nongkrong, makan-makan, karaoke.

Ketika menyadari itu, alangkah nelangsanya hati. Saya tak punya teman. Ouh, ada, satu atau dua, tak lebih. Tapi saya enggan menumpukkan beban padanya lagi. Dia terlalu banyak membantu saya sejak masih di sana, lalu saat saya pindah ke sini.

Saat kesadaran itu datang, lalu nelangsa menelusup ke ruang hati, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tak berada di keramaian seorang diri. Tak naik jembatan seorang diri. Berusaha tak menyeberang jalan seorang diri. Tak berada di ketinggian seorang diri.

Lalu saya pun mengukuhkan hati untuk mengingat sumpah ini:

Don’t cry, baby

Lawan segala sakit

Jangan mau jadi layang-layang putus

Atau kota ini akan menggilasmu

Tapi sebenernya, saya kehilangan atau saya yang menghilang duluan? Entahlah.

penyakit perempuan

Hari ini tepat seminggu lalu saya menjalani operasi kecil untuk mengangkat tumor jinak yang juga keciiiiil di leher kiri. Hari ini juga, saya udah berhenti memakaikan perban pada bekas operasi itu. Dokter memang tidak menyarankan untuk mengenakan perban (mungkin saking kecilnya operasi itu) tapi saya aja yang berniat untuk jaga-jaga dari debu dan polusi Jakarta yang Alhamdulillah belakangan ini sudah mulai ditepis hujan.

Tubuh saya mungkin memang rentan ditumbuhi hal semacam, tumor, kista, dan sebagainya. Saya menceritakan ini bukan untuk pamer penyakit atau minta dikasihani (seperti pernah dituduhkan orang2 di blog saya). Saya bercerita untuk berbagi, untuk berjaga-jaga, mengajak anda lebih awas terhadap tubuh sendiri. Karena, sejak awal, dokter yang memeriksa saya sudah mewanti-wanti: empat dari lima perempuan muda, rentan terkena penyakit ini.

Statemen terakhir itu diucapkan dokter ahli kandungan yang selalu saya kunjungi dulu di Samarinda, Kaltim. Ketika itu, selalu mengalami kesakitan yang amat sangat saat haid. Kram terutama pada perut bagian bawah, pinggang, kaki dan tangan, disertai keringat dingin, mual2, dan sebagainya. Kata dokter (perempuan), itu kurang lebih sama sakitnya dengan ibu-ibu yang akan melahirkan.

Durasinya pun lama, sampe 10 hari dengan volume darah yang keluar juga banyak terus. Perut saya besar (kata dokter volume rahim saya seperti ibu2 yang telah melahirkan tiga anak, huhuhu…) sampe beberapa kali dikira hamil (atau dihaluskan dengan pertanyaan, “lho, nikahnya kapan sih, kok ga bilang?”).

Setelah dua kali pingsan di kantor (prosesnya udah mulai semaput di jalan jadi cepet2 balik ke kantor biar ada yang nolongin), saya akhirnya memberanikan diri ke dokter kandungan atas saran…internet. Saat di dokter, selain dapet nasehat, juga diomelin. Apalagi setelah suatu saat saya pingsan di mall dan dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya membayar Rp 1,7 juta untuk perawatan yang ga sampe 24 jam. Saya diomelin habis2an. “Kamu makan fastfood ya?” doh, kok tau banget sih, dok?

Dokter mendapati dinding rahim dan luar rahim saya ditumbuhi endometriosis (kista kalo ukurannya lebih besar) dan tumor jinak (myoma) ukuran tujuh centimeter. Tapi dia ga menyarankan untuk operasi sebab katanya saya belum menikah, jangan melukai rahim, dan sakit ini soal hormon saja, bisa sembuh dengan obat.

Dan dokter ngasih ultimatum: “Kalau kamu ga mau datang ke sini tiap bulan, ga kesakitan tiap bulan, kamu cuma boleh makan sayur dan buah. Boleh makan nasi tapi sesekali aja.” Saya masih nawar karena itu hal yang berat buat anak kost dan pemakan nasi macam saya. Saya dikasih semacam obat KB untuk penyeimbang hormon yang harganya muahalll. Asuransi saya tidak meng-cover jenis penyakit ini (ya, betapa bias gender-nya perusahaan2 asuransi itu)

Dokter ngasih solusi ampuh, “nikahlah, itu obatnya.” Saya jawab, “Dok, kalo resep satu ini bisa ditebus di apotek, sudah saya lakukan sejak dulu.”

Karena ga kuat dengan terus menerus mengkonsumsi obat kimia (dengan segala efek jangka panjang termasuk emosi labil, nafsu makan melonjak, pusing2, jerawatan, hingga rentan kanker payudara) saya berusaha patuh dengan berhenti makan daging. Mencoba jadi vegetarian walopun lebih banyak melanggarnya. Mengkonsumsi kunyit putih (yang kata salah satu dokter juga bisa jadi obat segala macam tumor), akupuntur, dan sebagainya.

Tapi, belakangan setelah sempat dinyatakan sembuh dan rahim saya dinyatakan bersih, saya menjadi kurang waspada. Segala macam dimakan. Apalagi sebulan terakhir saat Jakarta mulai senyap menjelang lebaran, makanan sehari2 saya junk food.

Saat pulang kampung, tiba2 leher kiri saya perih bukan hanya saat kena kerah baju atau rambut, tapi setiap saat. Saya berencana ke dokter bedah tapi saya coba dulu ke dokter kulit. Dan….yang selama ini saya pikir tahi lalat alias andeng2 (bener ga namanya?) yang terus membesar, ternyata adalah tumor. Dan harus diangkat saat itu juga.

“Jangan ke dokter bedah karena di sana pasti pakai jahitan dan akan berbekas nanti,” kata dokter. Saya pasrah saja meski dengan kaki dan tangan jadi dingin karena takut pada kata “operasi”. Dokter tau, “Ini akibat pola konsumsi di masa lalu, makannya enak2 terus ya? Pernah mengkonsumsi obat dalam jangka waktu lama?” tanyanya. Saya ceritakan soal obat2 KB penyeimbang hormon itu. Dokter mengangguk. “Ya, itu pemicunya. Kita, perempuan, memang rentan penyakit macam ini. Boleh makan segala macam, tapi jangan lemak hewani,” katanya sambil nunjukin tumor sejenis di leher bagian belakangnya.

Nah, temans, yang hendak saya bagi adalah, apapun keluhanmu, segeralah periksakan ke dokter. Kita tak pernah tau pasti apalagi kalo kita emang bukan dokter. Ga usah nanya2 ke temen atau memirip2kan dengan temen sebab beda keluhan, beda tindakan, beda harga (ini penting, kalo udah parah, harganya juga melambung), dan beda dokter juga. Jadi, tetaplah waspada.

nyaris miskin mendadak

Semalem usai plurkopdar dengan keluarga berang-berang di Cikini itu, saya ke Sency, melanjutkan ketemuan dengan temen2 kantor lama. Usai ngopi2 (cih, mahal amat sih, padahal saya cuma bisa minum seteguk biar ga pingsan), makan malam (yang meski udah diskon 50 persen masih aja hampir stengah jutaan, walopun bukan saya yang bayar…ihik), kami lanjut kliling2 mall. Cuci mata, liat2 artis nyasar dan nemenin salah satu temen nyari ransel buat laptop.

Terdamparlah kami akhirnya di mall sebelahnya, masuk Metro, keliling2 lagi karena di Sency tadi ransel yang ditaksir harganya masih Rp 1,5 juta. Blum diskon. Huh! Kayaknya diskon 90 persen pun buat saya tetep mahal. Merknya? Lupa :p Saya bukan penghapal merek soalnya :D.

Di Metro, saya nunjukin E**e tapi temenku kurang suka. Agak kaku sih modelnya. Kliling lagi, lalu saya melihat sebuah tas kamera. Ga butuh sih, iseng aja ngeliat harganya. Oh, Rp 500-an ribu. Standarlah tas kamera segitu.

Nah, di rak yang sama dan se-merek dengan tas kamera tadi, saya nemunin tas ransel manis. Dengan sangat girang kutunjukin ke temen. Wew, lumayan nih, keren modelnya, nyaman di punggung, dan dalemnya pun aman untuk benda2 macem laptop dan kamera. Ya iyalah, emang dirancang buat itu kan?

Liat harganya, eh, murah, 200 ribu lebih. Walopun seleranya belum terlalu pas bener dengan model tas itu, temenku langsung setuju. Murah sih. Belum selesai seneng2nya dapet tas murah, tiba2 saya ngeliat lagi di rak sebelahnya. Lebih keren lagi. Dan lebih murah, cuma 133 ribu sekian. Dalemnya juga bagus bener! Saya yang ga berencana beli apapun langsung ikutan mau beli. Soalnya pas banget buat netbook dan kamera 400d saya, sekaligus. Mana ranselnya mungil gitu. Mau, mau, mau….!

Saya dan temenku langsung rebutan, nanya ke penjaganya ada warna apa aja selain item. Merah? Saya ngalah deh, saya yang merah aja. Sapa takut? Tasnya keren gitu kok.

Sambil nunggu si mbak ngambilin koleksinya, kita liat2 koleksi lain. Temen satunya naksir tas jinjing yang muanis bener, tapi menurutnya kurang gede. Liat harganya, wah, 500 ribu. Tapi wajar sih, bagus kok. Liat lagi ukuran yang lebih gede, lho, Rp 1,5 juta? Kok jauh bener bedanya? Perasaan temen2 langsung ga enak. Dia ngecek ransel pertama tadi. Hah? !,2 juta, dodol! Saya langsung dituding, ahhhh, mata minus, ayo liat lagi tas yang tadi. Berdebar2 saya cek harganya, lalu… “errrrr….iya, bener, harganya 2,133 juta”

Ngakak stengah mampuslah kami. Dan saya ngajakin temen2 kabur secepatnya mumpung si mbak blum nongol. Tapi kami ga enak hati juga. Temen saya nanya: tar ngomong apa dong buat nolak? Saya bilang: “Udah, gini aja, saya pura2 nanya, emang laptop lo brapa inch? Kalo 15 ya ga muatlah ama tas ini. Ayo, cari yang lain aja.” Aman!

Ga sampe 10 detik, si mbak muncul dan ngomong kalo yang megang lemari tempat tas itu lagi ke wc. Kita diminta nunggu bentar. Dalam hati, kebetulan kami emang udah mau kabur, mbak. Jadi saya bilang, “oh, ya udah mba, lain kali aja. Yang penting udah tau tempatnya di sini, tar gampang deh balik lagi kalo temennya udah datang.” Dan kami cepet2 kabur tanpa sempet bersandiwara tentang laptop 15 inch. Doh, shock liat tas seharga itu. Gimana yang 30-300-an juta ya? Cih!!!

dear, matahariku…

Dear matahariku,
Barusan, hatiku hangat mendengarmu mengucapkan kalimat ini lagi: apa jadinya gw tanpa kamu ya?

Sama hangatnya saat kalimat itu kamu ucapkan pada pertemuan kedua kita yang terhimpit dikejar waktu. Sesaat sebelum berpisah, usai perjalanan dari Semarang, dua tahun lalu.

Sama hangatnya pula saat melihat senyummu di bandara dua malam lalu. Menghapus semua kesal dan amarahku dengan segala kejutanmu.

Sama hangatnya juga saat kau memberiku kejutan pertama yang penuh kegilaan, pada pertemuan pertama. Di bandara yang sama.
Love u!