tak peduli

Mira, karyawan Trans|7 jadi korban perampokan Rabu dini hari lalu. Beritanya saya baca saat sedang jaga malam itu juga. Mungkin jadwal kerja kami sama, baru dimulai justru setelah orang lain beranjak ke alam mimpi.

Rumah Mira katanya di Cengkareng. Kerjanya di kota. Sementara saya tinggal di dalam gang seberang kantor. Tapi soal bahaya, tak ada bedanya. Kejahatan, kecelakaan, bisa menimpa siapapun dari kita, kapan pun, dan di mana pun. Terlebih kaum perempuan dan pekerja malam.

Eh, tapi tak hanya malam, siang pun para penjahat berkeliaran. Tak hanya di tempat sepi, bahkan di keramaian. Pekan lalu saya mengalaminya dua hari berturut-turut. Kopaja yang saya tumpangi dinaiki tiga-empat laki-laki bertampang sangar, mata merah, dengan mulut bau alkohol.

Dua orang masing-masing berdiri di dua pintu, depan dan belakang. Satu orang tereak2 tak tentu yang intinya minta uang penumpang. Oh, bukan minta, tapi malak. Dan satu lagi (kalau berempat) mengambil uang dari penumpang dengan muka bengis dan menindas sambil ngomong: “betul” dan menghentakkan kaki. Benciiiii banget ngeliat tampang2 mereka!

Itu terjadi di bundaran Senayan, yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari pos polisi. Setiap hari terjadi. Dua hari itu saya lewat sana sekitar jam 11-an siang. Penumpang sepi. Hari pertama, penumpang cuma enam orang. Nyaris imbang dengan jumlah pemalak. Kalo saja enam orang mau bekerjasama, sekali dorong, pemuda berbau alkohol yang jalannya sempoyongan itu pasti jatuh ke aspal.

Tapi percuma. Dengan sedikit gemetaran saya keluarkan uang Rp 1.000 dengan muka merengut. Mereka lalu pergi. Menyasar kopaja di belakang.

Hari kedua, saya belajar dari pengalaman. Kemarin saya duduk persis di belakang supir. Masih terjangkau tangan mereka untuk minta uang. Jadi saya pindah ke bangku paling depan, samping supir. Lalu memasang tampang tak peduli seolah tuli saat mereka beraksi. Saya ga nengok2 saat mereka naik, tereak2, dan minta duit. Hasilnya mereka turun dan duit saya ga berkurang. Resiko duduk di depan itu cuma panas, dari mesin dan sengatan matahari.

Dari kejadian itu saya mencatat satu hal, ibu kota mengajarkan saya TAK PEDULI. Karena sulit bagi saya menahan diri untuk tak menoleh ke ‘sumber keributan’.
Tapi jangan tanya saya: apakah sudah waktunya saya meninggalkan ibu kota. Karena saya sulit menjawabnya.

setahun lalu

Ya tuhan, lama sekali blog ini tak diapdet. Laba2 spam mulai bersarang di sana sini. Debu2 komentar tak jelas menebal. Kaca jendela untuk melihat ke blog tetangga juga mulai buram.

Hari2 ini saya diingatkan pada setahun lalu. Pada bulan Maret yang tak ada di arsip. Pada sedikit kegamangan yang sama. Pada kehausan perhatian. Pada perasaan sendirian. Pada begitu banyak mimpi yang ingin dicapai. Pada ketidakjelasan sikap. Pada pertanyaan2 akan nasib hari2 berikutnya.

Setahun yang lalu di hari2 ini saya memasuki masa ketakutan tak mendapatkan kerjaan setelah resign. Dan hari2 ini perasaan itu muncul lagi. Tapi saya juga bertanya, sampai kapan saya akan bertualang? Kapan saya akan betah di suatu tempat dan mulai merajut mimpi?

Masalahnya, pada tempat2 yang ada tak membuat saya bisa mulai merenda mimpi. Karena waktu tersita oleh rutinitas menit ke menit….
Dan melow2 ga jelas ini….
Ah, terserah kalau dibilang cari2 alasan. Karena mood memang menentukan segala yang akan saya lakukan. Dan untuk mendapatkan mood, butuh dukungan lingkungan yang saat ini belum saya dapatkan!

curiga

Inspirasi mengalir deras malam ini. Setelah melihat kalimat di twitternya tifatul sembiring, saya akhirnya terinspirasi membuat puisi sebagai permintaan kado pernikahan temen saya. Awalnya saya ga mau, takut ga sesuai. Dan nilai ‘bagus’ adalah hal relatif. Saya ragu karena, gimana kalo yang saya bikin ternyata jelek dan ga sesuai selera mereka?

Tapi ah, sudahlah, serahkan pilihan ke mereka aja. Yang ingin saya ceritakan tentang inspirasi di sini, adalah inspirasi kedua yang muncul setelah membaca plurknya @memeth. Ia bertanya: pernahkah, seberapa sering objektivitas kita terhadap seseorang dipengaruhi oleh penampilannya, termasuk bajunya?

Saya agak tertohok karena inget peristiwa yang tak sampai dua jam sebelumnya. Tadi saya pulang kantor jam setengah 10 malem. Seperti biasa, saya harus menyeberangi empat lajur jalan di fly over arah Ciledug ini. Jalan mendaki (dan tentu saja menurun di seberang) membuat kendaraan melintas dengan laju tinggi. Di satu sisi sedang nge-gas, di sisi lain kendaraan melaju di turunan. Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan lampu jalan di sana.

Saat tepat berada di pembatas jalan selebar 30 sentimeter di tengah empat lajur itu, saya harus double waspada pada kendaraan yang melintas di belakang dan di depan saya. Menunggu jalan bener2 sepi dan aman untuk menyeberang butuh waktu bermenit2 bagi saya. Karena nyali saya memang tak sebesar orang lain terutama remaja2 tanggung itu dalam hal nyeberang jalan. Makin lama nunggu, makin banyak asap terisap :p

Saat nunggu sepi, seorang bapak2 gondrong sedikit beruban tiba2 udah berdiri di samping kanan saya. Nyerocos tak jelas. Yang sempat saya tangkap samar: “kamu harus liat motor2 itu kalo mau nyeberang. Kamu harus laporin, di sini ga ada lampu jalan. Tuh, liat, gelap, bahaya di sini”.

Dalam hati, “haduh, ngomong apa orang ini. Ga merhatiin apa ya, saya udah berdiri lama banget di sini demi nunggu jalan sepi, masih aja diceramahin. Ga jelas. Ga mungkin gw nyeberang kalo liat kendaraan laju gitu.”
Dan usai mikir gitu, timbul kuatir dan curiga di hati. Tas selempang di kanan, saya pindahin ke kiri, dipegang erat. Waspada juga kemungkinan dijorokin, saya berjaga dengan menambah jarak!

Tau2 si bapak pindah ke sebelah kiri saya, ngasih kode kendaraan yang masih jauh untuk memelankan jalannya. “Ayo, nyeberang,” katanya ke saya. Dan saya pun ngikut sambil mikir, “Ya ampun, jahatnya saya curiga yang ngga2 padahal mau dibantuin nyeberang.”

Untung saya masih sempet ngucapin ‘ma kasih’. Duh, isi kepala saya bukan lagi skeptis, tapi kecurigaan yang mengarah ke suuzon dan fitnah. Saya lupa, masih banyak orang baik di Jakarta.

haram ngemis?

Postingan ini menyambung kisah sebelumnya tentang alasan anak2 ngelem demi menghemat uang makan dua hari.
Obrolan dengan mas dono, guru anak2 kolong itu, akhirnya menimbulkan kegeraman pada saya perda pemprov DKI-nya bang kumis yang mengharamkan memberi uang pada anak jalanan, gembel dan pengemis.

Sebenernya saya mendua sikap pada aturan ini. Saya setuju pada alasan, jika diberi, mereka akan makin betah di jalan. Gimana ga betah, duduk2 doang sambil menengadahkan tangan plus muka kumal dan memelas, bisa dapet Rp 30-an ribu sehari. Karena sebrengsek apapun Jakarta, masih lebih banyak orang baik dan murah hati yang akan membagi duitnya 500-1.000 rupiah.

Di Kaltim lebih dahsyat, sehari pengemis bisa dapet sampe Rp 350.000 (penelitian dinas sosial), punya rumah gedong di kampung, bolak balik naek pesawat ke kampung tiap bulan. Miriplah sama cerita pengemis yang mangkal di jembatan penyeberangan bunderan HI, bisa belanja2 di mall tiap minggu pas libur ngemis.

Membandingkan cerita pengemis sukses dengan anak jalanan yang harus ngelem itu miris banget kan? Satunya cuma duduk diem, satunya berusaha kerja dengan ngamen, mulung, jual asongan, tapi penghasilan mereka jauuh banget!
Lalu datang pula aturan yang akan menghukum si pemberi ke anak jalanan. Habis sudah sumber hidup mereka yang memang cuma mengandalkan rasa belas kasihan orang lain.

Bego kan, ada larangan, tapi ga ada solusi. Warga dilarang memberi, tapi anak jalanan ga dikasih jalan untuk mencari sumber penghidupan lain. Jadinya seperti mengamputasi tangan dan kaki yang sebenernya sehat2 aja. Kemana itu zakat2, kemana itu pajak2, kemana itu anggaran pemberdayaan masyarakat?

Ah, taiklah!
Entah kalo memang sebenernya ada upaya menghapuskan kemiskinan dengan membabat mati si miskin dengan cara ini.