lowongan

Dicari:

orang yang bisa memberi gw kerjaan! khusus wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi [daerah lain dipertimbangkan]

serius!!!

Iklan

romeo-juliet

menurutku…
kita adalah pertalian kata-kata
jalinan jemari hanya ada di udara
maka ketika kau diam
duniaku ikut senyap lalu runtuh

dan kau berkata…
tuan putri bodoh, padahal aku hanya ngin memelukmu dalam diam, jadi berhentilah menangis. romeo-juliet mati konyol gara-gara mereka ga cek nadi masing-masing. maukah kamu kita seperti itu?

hihihi, aku hampir tertawa lebar kau mengatakan itu. tapi aku ingat, aku ini si penggugat. jadi kutanya kau, bagaimana caranya aku mengecek nadimu jika langit membentang menjauhkan kedua lengan kita?

bahagia

Orang-orang yang katanya sangat bahagia, sesungguhnya tidak memiliki segalanya. Mereka hanya memanfaatkan apa yang ada pada mereka dengan sebaik-baiknya. Kalo saja gw lebih peka, mungkin saat ini gw udah merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Karena, konon segala apa yang ada pada kita dari Tuhan, adalah untuk memberi kebahagiaan sejati. Tapi gw lebih banyak tidak bersyukur pada apapun. Padahal gw udah punya semuanya. Termasuk kamu. Eh? :p

semakin

laci meja saya selalu terbagi tiga bagian. satu untuk dokumen, isinya kertas melulu. tempatnya di laci paling bawah. laci kedua berisi peralatan mandi dan makan. laci ketiga atau teratas berisi lagi-lagi dokumen, kertas2 penting berukuran kecil, alat tulis, alat rekam, pendeknya, alat kerja.

dua hari ini, laci kedua saya selalu penuh. saya mandi di kantor. tapi hari ini nggak lagi. kemarin handuk yang saya jemur di luar dekat kamar mandi, hilang, atau mungkin terbang, atau entah. semalam saat ingat handuk itu saya buru-buru keluar ke tempat jemuran untuk mengambilnya. tapi saya tak menemukannya dimana pun. sudahlah.

yang jelas saya sekarang makin terlatih mencari kesalahan pada orang lain. saat tak menemukan handuk saya, maka yang bisa disalahkan adalah mas-mas cleaning service. ya, mereka salah karena mereka tak ada untuk ditanyai. mereka juga seharusnya mengambilkannya untuk saya saat handuk itu sudah kering. atau kalo handuk itu terbang dan jatuh, mereka seharusnya menemukannya, membersihkannya dan mengembalikannya pada saya.

tak peduli sesungguhnya itu kesalahan saya karena seharusnya beberapa jam setelah mandi, saya sudah mengambilnya lagi sebelum malam tiba. tak peduli yang seharusnya bertanggungjawab atas barang itu adalah saya sendiri. tak peduli seharusnya saya yang berusaha mencarinya dan bukan mengeluh pada teman yang tak tau apa-apa. tak peduli seharusnya saya tak usah memikirkannya lagi karena handuk lain masih banyak.
Lihat, saya semakin jahat dan bodoh

kacaw

gw lagi kacau. makanya males ngapa2in. sampai stengah hari, gw udah bikin kesalahan enam kali. doh, ga termaafkan. pengen invisible tapi sekarang masih jam kantor. kawan yang kemarin tiba2 menghubungi gw. tapi gw males ngobrol dengan siapapun. pengen ngumpet aja ke dasar bumi.
perasaan gw sedang kacau [aaahhh, repetitif…iya, tau, lagi kacau!]

menyiksa

Awal 2006, gw dan tiga teman lainnya yang bertugas di daerah, ditarik ke kantor pusat. Kami akan dipromosikan magang untuk jenjang karier berikutnya. Tapi teman gw yang perempuan, memilih keluar dan berkarir di media nasional. Dia di Jakarta sekarang. Satu orang, laki, memilih menjadi anak ‘sopan dan rajin’ di hadapan bos2 meski tidak memiliki skill. Kariernya melaju pesat, tiga loncatan sekaligus. Satu orang lagi, laki-laki, menerima tawaran kerja di grup bisnis narasumber kami dulu. Dia di kota S, kariernya sangat bagus. Sementara gw bertahan dengan kekeraskepalaan dan hasilnya, karier jalan di tempat.

Hubungan gw dengan dua kawan yang keluar itu, sangat baik dan tetap akrab. Kami sering nongkrong bareng. Dulu saat ultah kantor, kami bertiga tidur di kamar yang sama di hotel. Ketika bolak balik ke S untuk kontrol ke dokter, gw selalu nginep di tempat temen laki-laki gw itu. Udah sangat akrab dan seperti saudara kandung. Setelah ga kontrol ke dokter di kota S, hubungan kami biasanya via telpon dan ym. Pukul berapapun dia pengen curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul, gw ladenin.

Tapi kini kami putus kontak sama sekali. Gw ga bisa ingat gimana awal-mulanya. Hubungan kami terputus setahun belakangan. Gw masih sering sms dan nelpon-nelpon dia ke beberapa nomer telponnya yang masih aktif, namun tak pernah sekalipun dijawab. Begitu juga dengan ym- nya. Gw ga tau pasti gw salah apa ma dia. Walaupun sedih karena merasa dihindari olehnya, berkali-kali gw coba menghibur diri. Gw bilang, ah, paling2 dia butuh waktu untuk sendirian, mungkin kali ini masalahnya lagi numpuk.

Lalu gw tiba2 melihatnya tadi siang. Kami berada di ruangan yang sama, saat makan siang di mall. Gw perkirakan dia udah melihat gw sejak beberapa saat lamanya. Gw sempet warawiri di sekitarnya mencari meja kosong dan akhirnya dapat meja yang diantarai dua meja darinya, dalam posisi berhadapan. Gw lagi ga pake kacamata sehingga berkali-kali memicingkan mata untuk memastikan orang itu benar dia. Tapi, OMG, tampaknya dia meminta temannya pindah tempat duduk yang tepat menghalangi pandangan gw ke dia.

Ah, semoga ini pikiran jelek gw aja. Dia sepertinya sengaja menghindar. Entah untuk alasan apa. Gw hanya boleh menatapnya dari kejauhan. Oh, nggak, gw pun ga boleh menatapnya lagi. Jadi gw mempercepat makan siang gw dan beranjak dari sana. Gw ke Gramedia beli kado untuk ponakan gw. Sebisanya gw menghindar lagi bertemu orang yang gw kenal. Terlanjur sakit hati. [eh, apa hakmu sakit hati?] Tapi gw bertemu ibu-anak-cucu yang awal2 gw disini udah gw anggap ibu gw sendiri.

Aaahhh….lagi2 gw mempercepat langkah gw, keluar secepatnya dari mall. Ternyata oh ternyata, di luar sana, ada temen gw yang tadi. Jadi gw berjalan pelaaaaan, nunggu dia naik jembatan penyeberangan, berada di seberang mall, naik ke angkot, dan lenyap dari pandangan. Barulah gw melangkah lagi. Ini menyiksa. Sementara gw ga tau salah gw apa!