Surat Buat Sir

aku anak malam
ibuku bulan, ayahku bintang

makanya gw ga pernah tidur. kerjaan gw juga ‘mendukung’ gitu, masuk sore, pulang malem, larut malam maksudnya, nyaris pagi. jaman kuliah dulu, gw ga tidur karena banyak2 diskusi malem2, ditambah dengan ketakutan ma mimpi2 buruk jadi gw milih ga tidur, lalu kini karena kerjaan, akhirnya jadi kebiasaan. tidur malem minim, apalagi tidur siang, nyaris ga pernah kecuali kalo dah bener2 mendekati ‘tewas’.

makin malem makin melek hingga hantu2 memanggil-manggil dari peraduan

ya, malem dikejar dedlen bikin mata makin melek. karena harus nungguin kerjaan, gw nyambi browsing, ngeblog dan chating. mmm….dulu2 gw dikasih gelar ratu chating ma temen kantor. padahal gw ga begitu maniak chat. tapi gw ga tahan kalo ga ada temen ngobrol. lha…??? bedanya apa chat ma ngobrol yak?
pokoknya bedalah, gw cuma ngobrol ma orang2 tertentu yang bener2 nyambung. sejak makin intens kerja malem, gw makin banyak kenal dengan manusia malem lainnya di berbagai belahan bumi. entah temen milis, temen chat room dan sekarang, cuma dengan temen bloger. dengan para bloger, tentu saja saya merasa nyambung dan save. selalu ada bahan untuk diobrolkan lalu dituliskan, atau sebaliknya, selalu ada tulisan yang bisa diobrolkan.

maka demikianlah, gw pun akhirnya mengenal orang2 hebat dan bersahabat dari dunia maya yang kadang dilecehkan dengan kalimat ‘halah, cuma cyber, ga ngaruh’. salah, justru pengaruhnya gede buat gw. gw beruntung kenal dengan mereka2…diantaranya si dokter, yoyok, simbok, mas mbilung dan masih banyak lagi yang laen. gw berteman akrab dengan dunia cyber karena kerjaan dan karena kebutuhan. maka gw cuma bisa senyum2 kalo diledekin temen2, yati bisa mati tanpa internet, hidupnya dia di sana bahkan sampe ledekan playgirl cyber. Oh no, ga gitulah. tapi ‘me-nyata-kan’ temen2 ‘dunia maya’, iya, gw lakukan!

dan sampailah hari ini, ketika mas mbilung menulis di blognya tentang hari terakhirnya di Tokyo. gw lalu merasa ada sesuatu yang akan berkurang bahkan hilang dari hidup dan habit gw. dengan beliau, yang bergelar Sir Mbilung McNdobos, gw bisa ngobrol dari pagi hingga pagi lagi (potong masa istrahat tentu saja). Beliau, adalah kawan yang luar biasa, top banget dah, apapun bisa diobrolin.
Dari soal kerjaan sampe soal pribadi, dari gosip tetangga sampe kebijakan internasional, dari soal masa lalu, soal faktual hingga mimpi2 masa depan, dari musik jadul hingga musik ter-gress, soal buku sampe obrolan konyol, soal serius sampe soal2 ga jelas, obrolan paling tertib sampe obrolan gila. Apapunlah pokoknya! Anda benar2 kawan ngobrol yang teope begete Sir, terima kasih obrolan2nya.

ya, gw sedih…ough, terharu mungkin lebih tepat.
tapi setelah beliau kembali ke Bogor, ke tengah keluarga tercinta, beliau bisa hidup lebih sehat, hehehe. ga pake begadang lagi sampe azan subuh terdengar!
selamat menjalani hidup sehat sir, masih banyak mimpi yang harus diujudkan. Insya Allah, saya akan menagih Anda terus.

Sendang Bening Bersenandung

Hampir tiga minggu setelah kepergian Tarub kini. Nawangwulan tak pernah melewatkan hari-harinya tanpa menatap Sendang Bening yang tak pernah kering. Jika dulu tatapannya ke Sendang Bening penuh rindu, kini mata indahnya menatap penuh harap. Berharap lelaki itu tiba2 ada disana, mandi dan menggosok tubuhnya. Tentu saja Nawangwulan tak akan iseng lagi menyembunyikan pakaiannya tapi justru menyediakan handuk dan pakaian bagi lelakinya itu.

Tapi kini hampir sebulan kepergiannya. Tak ada kabar yang datang. Mungkin di gurun nan gersang sana tak ada yang jualan pulsa. Tak mungkin tak ada sinyal karena tak ada pepohonan yang menghambat, tak ada pegunungan yang mementahkan. “Ada apa denganmu wahai kekasihku?” Nawangwulan membatin. Tarub tak pernah tahu, godaan datang tiada henti menghampiri Nawangwulan.

Senja itu, seperti biasa, Nawang duduk di tepi sendang yang tak pernah kering, menatap beningnya air yang memantulkan kilau matahari yang sebentar lagi disembunyikan malam. Tapi kesenyapan Sendang terganggu derum gerobak bermesin yang diarak orang sekampung. “Duuuh, pasti juragan bandot itu datang lagi. Wahai Dewi Cinta, kuatkan hatiku mananti Tarub,” pinta Nawangwulan dalam hati.

Tak lama, orang2 kampung mengusung berbagai macam buah2an, pakaian dan perhiasan, kiriman sang juragan bandot buat Nawang. Tak ada sukacita pada wajah sendunya menerima pemberian itu. Sebelum dimasukkan ke rumah dan sebagian dibagikan kepada tetangganya, Nawangwulan pun meminta mereka melangkahi pemberian2 itu. Konon setelah dilangkahi, pengaruh telung akan hilang.

Tak cuma godaan juragan bandot yang dihadapi Nawang. Konon kepala pasukan yang sedang bertempur di wilayah kerajaan tetangga, tiada henti memujanya. Pesan2 penuh rayuan gombal diterima Nawang saban hari melalui kurir khusus. Belum lagi gosip2 yang selalu datang terbawa angin nakal, mengabarkan Tarub telah memiliki perempuan lain di gurun nan gersang sana.

Saat2 seperti itu, kadang membuat Nawang berpikir untuk menggunakan sisa-sisa kekuatannya, menorehkan pelangi sebagai jalannya kembali ke langit. Ya, Nawangwulan sang Penoreh Pelangi, gelar yang didapatnya dari para dewa. Tapi kekuatan cinta dan kerinduan pada Tarub selalu mampu membuatnya bertahan dan menunggu, menatap penuh harap pada Sendang Bening yang tak pernah kering.

Esoknya, sesaat sebelum matahari berbagi kehangatan, Nawangwulan telah kembali duduk menatapi Sedang Bening yang tak pernah kering. Kali ini wajahnya berbalut senyum bahagia. Rupanya semalam, Tarub hadir dalam tidurnya, setelah sebelumnya dia memperdengarkan suara lembutnya ke telinga Nawang. Semuanya seperti mimpi, tapi mimpi itu menghadirkan senyum di wajahnya. “Hmm…power of love,” Nawang bergumam.
Hue…? Kok Nawang pake bahasa planet?

cerita yang dibuat dengan sangat Ge-eR ini, melanjutkan dongengan kk besar! beda kisah, boleh dong? Di sini versi bersenandung, di sana versi ndobos, xixixi…

kota kelabu

siang ini hujan turun lagi, menyambung hujan yang turun sejak semalam

aku memutuskan bermandi hujan, di halaman belakang

menikmati jarum2 air yang tumpah dari langit. memijati kepala dan punggung, meredam bara, lalu luruh bersama air mata.

aku menikmati hujan

hujan yang turun dari langit dan hujan yang turun dari mata.

hujan hari ini membuat kota terlihat kelabu

aku, perempuan gurun

Aku tau, di luar sana, kau menghadapi hal2 mengerikan. Anyir genangan darah menyeruak, membangkitkan amarah dan kemuakan. Desingan peluru menderu tiada henti, bersiap mencabik jantungmu setiap detik.

Yang kulakukan kemaren, jelas, adalah kebodohan besar yang mengacaukan jalanmu meretas mimpi. Aku minta maaf untuk itu, sedalam-dalamnya. Tidak sepantasnya aku merecokimu pertanyaan saat kau ingin diam, sendirian.

Khilafku mungkin tak terhapus, akan tetap berbekas di sana. Dan dengan tak tau diri lagi, aku bermohon kau mengizinkaku menunggumu. Meski aku sangat tau, hal2 mengerikan yang kau hadapi di sana belum tentu bisa membawamu kembali ke sini, utuh. Mungkin banyak cabikan luka.

Tapi aku perempuan gurun, kekasihku…Aku terbiasa menunggu.

Setelah melepasmu terbang, melintasi gurun pasir, menggapai mimpi sejauh yang kau bisa
Aku akan menjelma awan kecil yang akan meneduhimu
Telapakku menjelma terompah, agar kakimu tak melepuh karena panasnya pasir gurun
Ciumanku menjelma angin yang akan menyentuh pipimu, menghapus peluhmu dan menjilati lukamu
Pelukanku menjelma langit malam, menghangatkanmu dari dinginnya angin gurun yang menusuk tulang
Aku akan membuat tempat ini nyaman buatmu kembali
Aku selalu menunggumu

saya, si manusia bodoh

bising banget ruangan ini, ga ada yang mau mengalah. semuanya berlomba2 menyetel musik kenceng2 dengan selera berbeda. hancur hatiku mengenang dikau menjadi keping2… huh, ada lengkingan suara Dhani dari jejeran komputer bagian tengah, paling ujung!

“kesian deh, temen rumahnya pulang ke papua, weee…ga punya temen lagi,” salah satu temen terbusuk meledek ke arahku. kukejar, pengen nabok. ga kena, malah dua pipiku seperti tercabut dari dua sisi wajahku. sakit banget dicubitin, tapi ga ada gunanya melawan. mo nyambit ga bawa sandal jepit, huh!

diluar gerah banget, matahari menyengat. gw langsung nyalain AC di tiga sisi ruangan lalu duduk manis di depan kompiku, di pojok ruangan. cek blog dan imel. suara2 bising itu masih memekik (ga) girang di sekitarku.

membuka blog ke tiga….arrgghhhh…, sepertinya saya telah melakukan kebodohan luar biasa.

buka imel pertama…bener, saya udah bertindak sangat bodoh dan tolol.

lemes…mau gimana lagi? saya memang bodoh dan tolol

skali lagi maafkanlah…karena aku… emang bego bangettttt….(lagu yang pas!). saya udah mengacaukan segalanya, bertindak sangat bodoh.

maafkan saya, maafkan kebodohan saya, maaf….!

terminal dan Fatimah

Ada konsekuensi setelah peresmian gedung. Harus dipastikan, ada orang yang membersihkannya setiap hari. Merawatnya dan membukakan pintu bagi yang datang. Mengajaknya bicara.

Karena gedung yang dibuat, bukan terminal. Hanya disinggahi saat kangen melakukan perjalanan. Atau hanya untuk memastikan terminalnya masih berdiri di tempat yang sama. Agar tak tersesat ketika ingin bepergian.

Atau, justru itu yang dicari para petualang? Mencari tempat pemberhentian bus dan kereta? Setelah ketemu, semuanya hambar? Karena mereka cuma ingin jalan kaki, bukan naik bus atau kereta.

Tapi aku menikmati menjadi terminal. Merengkuh yang datang dalam kelelahannya. Merebahkannya dipangkuanku. Lalu bercerita tentang perjalanannya hari ini. Jika ada yang bertanya, apa gunanya aku ada, maka jawabnya adalah, merengkuhmu, membuatmu nyaman sebelum kembali ke rumah, setelah terguncang dalam perjalanan panjangmu.

***

di sebuah sampul buku aku membaca kata2 ini:
…”tak seorang laki2 pun pernah mencintai perempuan. mereka hanya masih membutuhkanmu”…

tolong katakan, itu salah! karena…
…aku perempuan gurun. Yang akan membebaskanmu menyeberangi padang pasir, mengejar mimpi dan harta karun. Aku akan menjelma awan kecil yang akan meneduhimu. Ciumanku menjelma angin yang akan menyentuh pipimu, menghapus peluhmu. Aku percaya kau akan kembali padaku. Perempuan berhati seluas samudera yang telah menjaga oasis tetap nyaman buatmu kembali….

***

aku tak ingin meniru Fatima seperti dikatakan Sang Alkemis. Tapi kalau kau mau, aku akan melakukannya untukmu.