Ketiga

Waktu berjalan begitu cepat. Hari ini Puan berusia tiga tahun. Tahun lalu, cerita ulang tahunnya berisi kejutan2, tahun ini pun sama. “Bakat copy paste” Puan berkembang pesat. Benar2 tahun emas perkembangan otaknya. Saya bangga (tentu saja) menceritakan ini tapi bukan untuk pamer, melainkan sebagai dokumentasi pribadi.

Saya ingat pada September lalu, saya dan Puan mudik selama sebulan. Di kampung, Puan saya ikutkan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Bukan atas keinginan saya tapi karena permintaan Puan. Sejak melihat anak2 tetangga kami mulai bersekolah, dia menuntut hal yang sama hampir setiap hari. Puan pernah saya ‘sekolahin’ sehari di G******e, dan itu membekas banget di kepalanya. Keinginan itu ga pernah padam dan makin menjadi2 karena tiap hari menyaksikan anak2 tetangga naik mobil antar jemput sekolah. Sementara kami belum siap menyekolahkannya. Alasannya, Puan belum berusia 3 tahun, masih terlalu dini untuk masuk sekolah. Alasan lain, di sini (Depok) seperti di perkotaan lainnya, mana ada sekolahan buat anak kecil yang gratis? Mahalnya minta ampyun, padahal ga jaminan juga Puan bakal betah sekolah terus.

Jadwal sekolah di PAUD berlangsung setiap hari pada Senin-Jumat. Dan Puan enjoy meski capek. Pekan kedua kami di kampung, Puan sakit, sehingga dia baru masuk sekolah lagi pekan berikutnya selama dua hari yang terpotong libur lebaran Idul Adha. Pekan terakhir di kampung, dia udah kecapean dan bilang, “Puan mau pindah sekolah ke TK Pelangi aja.” Hahaha, TK Pelangi itu obsesinya karena anak2 tetangga ada 5 orang yang sekolah di sana. Puan juga terpengaruh Ipin-Upin yang sekolahnya bernama sama, TK Pelangi.

Selama bersekolah, pada dasarnya Puan hanya mengulang semua kegiatan bermain yang dilakukan di rumah bersama saya. Jadi, dia sudah mahir merangkai semua permainan di kelas. Dari susun balok, main puzzle, meronce, menggambar, menjiplak bentuk, dan sebagainya. Permainan di rumah memang saya jiplak dari sekolah “sehari” Puan di mall itu. Pelajaran berbeda di PAUD adalah pengenalan huruf vokal, doa2, serta beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ini memang belum saya ajarkan ke Puan. Lagi-lagi saya menganggap masih dini.

Tujuan utama saya ikutkan PAUD semula adalah belajar bersosialisasi dengan lingkungan baru. Tapi mungkin waktunya memang tak memadai, apalagi Puan jenis diesel yang panasnya lama. Selama belajar pun saya ikut terus menerus di kelas.

Tapi hal yang bikin saya takjub adalah, Puan dengan cepat hapal doa2 yang seingatku hanya dibacain dua kali oleh guru PAUD. Selama ini saya juga sering melafalkan tapi sepintas lalu saja karena saya anggap Puan belum sampai ke sana. Yaaa, saya memang pemula banget lah, masih buta soal pendidikan anak, sehingga saya ga tau kalo ternyata memori otak anak kayak kanebo, meresap sampe titik air terakhir :p
Demikianlah, di suatu siang menjelang tidur, saya dikejutkan saat Puan membaca doa makan dengan lancar! Esoknya disusul dengan doa tidur, lalu besok2nya doa sebelum keluar rumah. Ya Allaaahhh…saya bawa oleh2 mudik yang luar biasa buat ayah Puan berupa hapalan doa-doa itu.

Usia menjelang dua tahun kemarin, titik perhatian saya adalah soal bakat foto copy Puan. Kini berkembang sedikit di atasnya. Kadang2 Puan saya anggap “polisi syariah” di rumah, karena dia tidak sekedar meniru lagi, tapi menjadi pengingat. Misalnya nyuruh saya segera salat, nyuruh saya pake jilbab jika akan keluar rumah, mengingatkan jika tidak berdoa sebelum ngapa2in, dll.

Kami pernah main ke rumah tetangga, sore2, sebelum para bapak2 pulang kerja. Di rumah tetangga tersebut, saya buka jilbab karena cuaca sedang gerah banget. Puan pun negur saya dengan suara kenceng, “Kok ibu buka jilbab? Malu bu.” Astagfirullah, iya, iya…saya jadi nyengir :p

Kejadian lain saat puasa lalu, saya dan beberapa tetangga buka puasa bareng di mall. Rupanya Puan merhatiin, biasanya begitu azan magrib, abis buka puasa, cepet2 salat Magrib. Lha kali ini kok ya makannya lamaaa dan ga ada acara salat. Trus dia bisik2 ke saya, “Ibu kok ga salat salat dari tadi?” Haduh, saya kelimpungan cari alasan. Lalu saya bilang saya ga tau letak mushollah karena mallnya besaaar sekali dan ini pertama kalinya kami ke sini. Jawaban ngasal karena sekarang Puan sudah bisa bilang: “Yuk, kita tanya dulu ke orang-orang.”

So, makin jago copy paste Puan, saya harus semakin berhati-hati bertindak, bersikap, berkata2. Terima kasih guru kecilku yang mulai beranjak besar, selamat ulang tahun, semoga bahagia hidupmu, berguna bagi semua mahluk, Aaamiiin :*

Akhirnya…

Hari ini Kamis ke sekian Puan disapih. Sudah mendekati dua bulan. Prosesnya lumayan lama. Kata orang2 yang lebih berpengalaman, lamanya proses itu salah satunya karena menyapihnya ketika si anak sudah melewati usia 2 tahun. Katanya lagi, prosesnya akan lebih mudah jika si anak disapih pada usia 2 tahun pas.

Entahlah. Beragam cara untuk menyapih. Saya udah nanya banyak ibu2 muda saat akan menyapih Puan. Saya ingiiin sekali proses menyapih begitu saja tanpa drama. Katanya proses itu harus didahului dengan pesan yang disampaikan ke anak, jauh hari sebelumnya, 6 bulan hingga setahun. Tapi, ada juga yang berlangsung mulus, bahkan diminta oleh anaknya sendiri, tanpa didahului pesan2.

Saya sempat mencoba menyapih sebelum Puan berusia 2 tahun. Tapi saya ga konsisten. Rasa ga tega membuat saya plin plan. Ditambah pikiran, toh saya di rumah, toh anaknya masih mau, toh air susunya masih ada, jadi kenapa harus disapih? Apalagi ditambah cerita tetangga dan teman lain yang menyapih anak bahkan hingga usia 5 tahun. Saya ga akan sampe 5 tahun juga sih, tapi faktanya ada anak yang bisa sampe usia segitu dan ASI-nya masih ada. Isinya racun? Bohong. Nyatanya ga ada anak usia 2 tahun ke atas yang keracunan ASI.

Demikianlah ketidaktegaan saya berlangsung hingga Puan berusia 2,5 tahun. Sebulan menjelang puasa lalu, akhirnya saya merencanakan untuk menguatkan hati menyapih Puan. Saya mengambil momen puasa karena saya jadi punya penjelasan ke Puan: Bentar lagi bulan Ramadan, waktunya puasa. Ibu puasa makan dan minum, Puan puasa nenen. Nanti, kalau udah puasa, Puan ga nenen lagi yaaa…

Saya ga mengulang2 kalimat itu selama sebulan. Hanya disampaikan sesekali, karena saya mencoba menyapih sebelum Ramadan tiba. Saya berencana mengurangi waktu nenennya misalnya dengan dijatah 2-10 menit saja. Ternyata, cara itu kurang tepat karena faktanya, kami hampir selalu melewatkan waktu yang disepakati. Beberapa kali juga saya berniat berhenti dan membiarkan Puan nenen sesukanya sampai usia berapapun. Lalu saya sadari bahwa keberhasilan menyapih memang terletak pada kuat tidaknya niat dari ibunya. Anak sih pasti akan beradaptasi. Itulah kenapa sistem penjatahan waktu nenen agak sulit berhasil. Saya pun kembali pada niat semula, menyapih pada hari pertama puasa.

Waktunya pun tiba, hari Kamis, usai sahur, saya kembali ke tempat tidur saat Puan nangis kebangun mencari2 nenen seperti biasa. Saya peluk dan ingatkan: Ini sudah puasa, waktunya berhenti nenen. Dan seperti sudah diduga, dia menangis sejadi-jadinya sekitar satu jam, hingga akhirnya dia tertidur kelelahan. Siang hari saat akan tidur siang, proses itu berulang. Puan nangis lagi sejam dan tertidur sambil tersedu2.

Selama proses itu, rasanya sediiiiih sekali, dan saya pun ikut nangis. Apalagi, malam pertama disapih. Puan masih mencoba meminta nenen. Saat saya ingatkan perjanjian seperti subuh dan siang harinya, Puan cuma tertunduk sedih lalu berbalik memunggungi saya dan memeluk guling.

Haduh, rasanya hancur hati ini. Saya sedih karena saya berpikir Puan udah ga membutuhkan ibunya lagi. Saya protes dalam hati, begitu cepatkah dia melupakan nenennya? Rasanya ga relaaaa banget. Saya nyaris tergoda untuk menawarinya nenen lagi. Selama ini saya selalu berpikir rasa sedih itu hanya ke-lebay-an para ibu muda yang baru punya anak. Saya salah. Kini saya mengalaminya. Penuh drama. Mama saya mengalaminya juga pada 5 anaknya.

Puan hanya menangis minta nenen dua kali, pada subuh dan siang di hari pertama. Tapi hari2 selanjutnya, dia selalu gelisah dan terbangun tengah malam mencoba mencari2 nenen lagi. Pada siang hari, dia begitu rewel dan ogah tidur siang.

Alhamdulillah, prosesnya cukup lancar. Tapi saya menodainya dengan membuat kesalahan besar. Suatu hari kami meninggalkan Puan sendirian untuk salat subuh di mushollah. Dan dia terbangun mencari2. Saat saya pulang, Puan menangis di jendela memanggil2 dengan wajah ketakutan. Apalagi lampu kamar saya matikan. Sambil nangis, dia sempet cerita: Puan cari2 ibu ga ada. Puan lempar2 mainan.

Sedih, hingga sakit rasanya dada ini. Semua gorden keliatannya tersingkap, dan mainannya berceceran di kolong kursi. Mungkin saking marah dan frustasinya dia mencari2 saya ke dapur, tempat biasanya dia menemukan saya saat terbangun. Kamar dan dapur gelap. Lampu yang dinyalakan hanya di ruang tamu. Tapi dia tidak menemukan siapapun di dalam rumah, apalagi menemukan nenen :((((

Saya mencatat peristiwa ini sebagai sebuah penyesalan luar biasa yang menjadi sumber trauma Puan. Hari2 setelahnya, jika dia tak menemukan saya di sisinya saat terbangun tengah malam, sahur, dan subuh, dia akan menangis sejadinya. Akhirnya saya pun terpaksa menggendong sambil masak saat sahur. Karena saat saya bergerak dari tempat tidur, dia pasti terbangun dan menangis kenceng. Sampe saat ini pun, Puan masih nempel dan ga mau lepas dari pelukan saat saya ada di rumah. Tapi, dia sudah mulai mau ditinggal berdua ayahnya di rumah jika saya pamit baik2.

Alhamdulillah lagi, sejak berhenti nenen, makannya lancar jaya 3 kali sehari meski dengan menu yang itu2 aja, telur dadar atau telur puyuh. Alhamdulillah, terima kasih guru kecilku :*

Kedua

Anak biasanya adalah fotocopyan orangtuanya. Children see, children do, kalo kata orang bule. Kalimat itu udah saya hapal luar kepala bahkan sebelum punya anak. Jadinya, kami selalu waspada dalam berkata atau bertindak di depan anak. Obrolan dewasa, gosip, obrolan pertengkaran, tidak dilakukan di depan anak. Kalo pun terpaksa, pake bisik2 atau bahasa isyarat yang tak terlihat anak.
Tontonan televisi, tidak kami beri. Kecuali jaman promosi stasiun televisi dunia anak sebelum diakuisisi sama transvision. Karena waktu itu isi tayangannya hanya belajar nyanyi, baca, ngaji, ngitung. Sekarang udah jarang, paling nonton si bolang. Chanel piliham lain paling national geografi atau tv quran yang tayangannya hanya ngaji dan salat di depan kabah. Tapi sebesar apapun usaha kami membatasi Puan untuk hanya mengcopypaste yang baik-baik saja, pastilah ada yang luput.
Perkembangan Puan dari usia setahun ke dua tahun, bagi saya sungguh luar biasa. Tak banyak kata yang bisa mewakili kekaguman saya. Sungguh, Allah Maha Besar. Ah, sudahlah, itu aja kesimpulannya.
Puan terhitung agak lambat bisa berjalan. Baru pada usia 15 bulan. Itu pun tertatih, selangkah demi selangkah dan masih lebih banyak sambil dipegang satu tangan. Sementara anak seusianya, bahkan di bawahnya, udah bikin emaknya ngos-ngosan ngejar2.
Tapi, Puan berbicara lebih cepat menurut saya jika dibandingkan dengan teman-teman seumurannya. Sebelum genap setahun, dia sudah bisa memanggil “Ayah” dan bolak balik nanya “Inyi apa, itu apa.” Suatu pagi di usianya yang belum sampai 18 bulan, dia tiba2 ngoceh di tempat tidur, “Puam mau mam bowa2 ubi.” Uh, itu kejutan besaaaaar banget karena tiba2 dia sudah bisa merangkai kalimat. Bukan lagi satu atau dua kata seperti disebutin dalam denver chart.
Tiba-tiba rasanya saya terlempar ke kenangan saat usia Puan masih hitungan pekan yang hanya bisa au au auuuu, kini dia berkata-kata. Allah sungguh Maha Besar!
Di usia sebelum 18 bulan itu juga, Puan mulai mengikuti semua omongan kami. Difotocopy sesuai aslinya, meski kadang2 belum sempurna pengucapannya. Dia bahkan bisa membuat kalimat perintah. Misalnya, “Tutup pintu kamar mandi, Ayah,” saat melihat ayahnya lupa menutup pintu saat keluar dari kamar kecil. Hahaha, ini ajaran emaknya.
Saat mendekati angka dua tahun usianya, saya semakin hari semakin banyak ternganga2 melihat perkembangan bahasanya. Dia bahkan sudah bisa menghapalkan angka 1 sampai 10 tanpa pernah saya ajari khusus. Mungkin hasil mendengar saya menghitung apapun, misalnya saat ngangkat pakean dari dalam mesin cuci, untuk dicocokkan dengan jumlah penjepit jemuran. Hari pertama, dia menghitung sampai 5. Hari kedua, sampai 7. Hari berikutnya, sampai 10. Dan makin lama makin cepat pengucapannya, bahkan hingga sebelas, diikuti dengan kata-kata “belas, belas.”
Tapi, suatu pagi, pada usia ke 17 bulan, saya sungguh kaget dengan fotocopy satu ini; Puan menirukan kami ngupil. 😐
Saat mengenakan baju sehabis mandi, tiba-tiba Puan menghentikan tangan saya dan bilang, “Liat bu, liat.” Telunjuk mungilnya dimasukkan ke lubang hidung lalu jarinya dijentikkan seperti membuang…upil, sambil bilang, “Nih…,” ke arah saya. OMG, antara pengen nangis sekaligus ketawa :((
Lalu, hari-hari setelah itu, Puan sesekali menonton stasiun tv JimJam. Dan lagunya berubah: Monkey See, Monkey Do.
Hah, itu nampar ibu, Nak!

Selamat ulang tahun, Puan. Terima kasih atas pelajaran yang kamu berikan pada kami berdua. Selalulah gembira. Semoga hidupmu bermanfaat bagi semua mahluk, Aaaamiiin.

Kisah dalam sepotong donat

Jangan pernah meremehkan donat yang bentuknya tak sempurna. Karena, ada keringat bercucuran dan pegal-pegal pada lengan di balik pembuatannya. Saya merasakannya kemarin. Rasanya kliyengan nyaris pingsan. Mungkin dianggap lebay, tapi seperti itu yang saya rasakan. Saat saya ceritakan ke kakak saya yang jago bikin kue (indikatornya: sering diminta bikin kue buat acara2 pesta :p) dia bilang saya sok jago. Kakakku yang udah tahunan bikin kue, tak pernah berniat bikin donat.

Langkah nekad saya kemarin bermula saat Puan diberi donat kampung oleh tetangga yang abis jajan. Saya cicipin, rasanya tak istimewa, mungkin berisi terigu semua. Bentuknya pun ga donat banget. Tapi Puan makan dua dan masih minta nambah, tapi ga dikasih lagi karena…udah abis :p

Kebetulan, di kulkas ada tape. Dan saya teringat, dulu saya pernah makan donat tape buatan ponakan saya. Enak. Jadilah saya browsing, cari resep, dan nonton di youtube cara bikinnya. Kesimpulan saya, ah, gampanglah. Bahannya cukup simpel. Ponakan saya bisa bikin, pasti saya pun bisa. Ketimbang jajan di luar yang ga ketahuan bahannya, mending bikin sendiri. Mau beli di gerai donat di mall, beh, maaf, harganya bisa 4 kali makan di warung tenda pecel lele. Belum ongkosnya ke sana. Hihi, dasar pelit :p

Malem2, saya nyari2 ragi di tiga toko agen sembako. Ga dapat. Akhirnya minta tetangga. Begitu selesai nyuapin sarapan Puan, saya mulai eksekusi. Timbang ini itu, cempulingin, lalu mulai nguleni adonan. Sikit-sikit tambahin terigu. Heh, masih lengket aja. Lha, kok lama ya, beda dengan yang di youtube? (dodolnya, saya mengabaikan editan video youtube yang bisa saja makan waktu berpuluh2 menit). Diuleni lagi. Masih ga kalis. Sementara lengan mulai pegel ga karuan, bahkan sedikit gemeteran. Saya fotoin lalu kirim ke tetangga yang biasanya jualan kue. Katanya, belum, masih harus diuleni sampe adonan ga putus. Tambahin terigu gak apa2 katanya.

Wah, bisa keburu pingsan nih, padahal belum mandiin Puan. Jadi saya diemin adonan dulu, lalu mandiin Puan. Saat itu kepala rasanya muter ga karuan dan nyaris jatuh. Huh, cemen. Akhirnya saya biarin Puan mandi sendiri dan main air dulu. Saya balik ke adonan, biar ga dibilang cemen. Tetangga yang saya kirimin foto adonan juga datang. Dia bantuin bentar banting2 adonan sampe lumayan kalis yang nyaris menghabiskan terigu. Oh, baiklah, memang bukan kerjaan enteng. Untung dibantuin karena saya udah berniat nyemplungin adonan ke tempat sampah. Soal nyemplung2in ke tempat sampah ini, pasti ajaran dari nonton acara lomba baking atau masterchef nih, hahaha. Enak banget, salah dikit aja, masakan dibuang, padahal masih bisa dimakan.

Lanjut. Puan selesai mandi, saya pun diemin adonan, ngeblender gula buat taburan biar ga perlu keluar rumah lagi. Lalu nyapu-ngepel. Oh my…capeknyaaa. Kelar ngepel, adonan dibulet2in dulu. Wow, ngembang banget sampe baskomnya penuh. Trus, harus didiemin lagi. Waktunya ngelonin Puan. Begitu puan lelap, saya bangun gorengin donat. Herannya, masih lengket aja! Saya nanya tetangga lagi, katanya dia belum pernah bikin donat tape. Dan kisah suksesnya bikin donat pun diawali dengan beberapa kegagalan. Oh, gitu ya…baiklah. Berarti ini memang langkah yang teramat berani alias nekad, hahaha.

Saat Puan bangun sore harinya, maunya langsung makan donat, padahal belum makan nasi. Ngabisin 3 biji sambil bilang, “Enyak bu, enyak.” Itu bikin saya senyum2 sambil ngomong, “Ma kasih, tapi ga boleh sering2 ya nak, bikinnya susaaaah dan capeeeeekkk.”
Saya sampe nyaranin orang lain untuk ga bikin sendiri. Mending beli aja, daripada keburu pingsan, hahaha. Tapi, saya dapet resep donat kentang ala Dewi, yang katanya belum pernah gagal. Tergoda juga sih mau nyobain. Tapi nanti, nanti aja. Mau pijet dulu :p

Dongeng sehat

Sejak 12 Februari, di usia Puan yang ke-14 bulan, terjadi pertempuran hebat. Si baik sedang melawan si jahat. Si baik harus menghadapi si ingus. Si baik juga harus mengusir si nyeri yang menghalangi kedatangan trio gigi atas dan bawah.
Mereka saling menyerang dengan panah api. Panasnya api terasa di ketiak puan hingga 39,8 derajat. Pipi, pinggiran mata, dan bibir Puan pun merona.
Ayo Puan, kita hadapi bersama. Ibu dan Puan mandi bareng pake air anget. Ibu minum vitamin c, Puan minum ASI. Kita makan bareng, yang banyak. Kita skin to skin, menghadapi kekuatan jahat, bersama2.
Lalu, bulir bening keringat wangi, muncul di bahu dan jidat Puan. Sehat, sehatlah segera. Lalu kita bermain lagi dengan sepeda hadiah eyang. Atau berlari-lari mengejar kucing, dengan sepatu yang berbunyi cit cit cit.

Pertama

Sesaat sebelum terlelap, mata beningnya menatapku lekat-lekat. Tatapan seperti ini, meski dari seorang bocah, kadang bikin jengah juga. Puan paling sering melakukannya saat kupeluk dalam gendongan kanguru. Tatapan kali ini disambi dengan tangan mungilnya yang nepuk2 badan saya, dan mulut yang sibuk ngenyot :p Agar tak jengah, kugoda dia dengan memonyongkan bibir ke arah jidatnya. Puan tersenyum, lalu memejamkan mata, dan terlelap.

Pagi tadi, ayah agak telat ke kantor. Eh, ralat, ga telat juga sih, biasanya emang berangkat agak siang karena….ga tau deh, urusannya begitu banyak meski topik besarnya cuma dua, ngutak atil henpon dan kamera. Setelah nyuapin Puan tadi pagi, ayah malah lanjut mandiin, yang biasanya adalah tugas saya. Ya sudahlah, seneng2 aja sih. Mungkin ayah ingin memberi kesan khusus pada ulang tahun Puan hari ini.

Iya, tepat setahun lalu, jam segini, saya di rumah sakit Hermina, Depok. Kala itu jantung saya berdebar sangat kencang. Perut mules. Saya memang mengalami kontraksi terus menerus meski saya tidak begitu merasakannya. Tapi bukan kontraksi yang bikin mules, melainkan rasa tegang menanti operasi. Panggul saya terlampau sempit, kepala janin tak kunjung sampai ke jalan lahir, sementara air ketuban keburu habis. Dokter memilih tanggal cantik, 12-12-2012, meski saya sudah menolak karena takut tak dapat perhatian yang cukup mengingat banyaknya ibu2 melahirkan hari itu. Tapi dokter hanya punya waktu hari itu, ya sudahlah, ini namanya jodoh.

Pukul 12.00 saya berjalan ke ruang operasi. Yak, jalan sendiri, bukan dibaringkan di tempat tidur. Berjalan dengan badan mendadak kedinginan dan sedikit gemetar, diiringi mama dengan wajah yang justru lebih pucat, dan suami yang terlihat berusaha santai.

Saya tak sanggup menceritakan detail perasaan saya selama di ruangan super dingin itu, baik sebelum, saat berlangsung, dan setelah operasi berjalan. Yang paling lekat dalam ingatan adalah rasa dingin. Lalu, selintas rasa sedih karena meski Puan lahir pukul 13.22, saya baru bisa melihat sosoknya menjelang tengah malam. Saya yang membawanya dalam perut selama 9 bulan tapi saya justru menjadi orang terakhir yang melihatnya setelah lahir. Meski rasa sedihnya sekilas, tapi membekas hingga kini. Saya selalu menutup mata jika melihat gambar bayi yang baru lahir. Rasanya ngilu, dan sedih.

Hari ini tepat setahun usia Puan Panrita Bestari. Semoga guru kami ini senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan. Semoga kami sanggup menjadi orang tua yang membahagiakan hidupnya. Amin.

Cerita dari Halaman: Kebun Vertikal

Gambar

Berbekal pengalaman, cabe kami dihabisin anak2 buat main masak2an, dan kangkung yang rajin disambangin Tono si kelinci putih milik tetangga, serta tabungan yang sudah lumayan mencukupi, akhirnya kami bikin pagar. belum jadi, hanya setengah. Belum diberi pintu besi. Bagian depannya masih berupa rangka. Abis, harga baja/besi mahal sih. Ini komponen paling mahal kalo bikin bangunan. Nantilah, nunggu duitnya ngumpul lagi aja.

Sebenernya, kami bikin pagar bukan mau ngalangin anak2 atau si Tono maen di halaman juga. Toh gerbangnya belum ada, jadi orang2 masih bebas keluar masuk. Tapi kok Tono ga mampir2 lagi ya? Padahal, kangkung yang dalam pot sudah kami pindahkan ke depan, dari tempat semula di garasi sepeda yang ada pintunya.

Alasan bikin pager adalah, agar kami bisa mewujudkan impian bikin kebun vertikal. Hehehe, terlalu berlebihan kayaknya kalo dibilang kebun vertikal. Wong cuma dua susun talang air yang ditanami kangkung, bayam, pakcoy, daun bawang (eh, banyak juga ya :p). Kalo kami bikin taman vertikal yang asli kayak rancangan arsitek2, pasti mahal banget. Media tanamnya pasti beda. Materialnya juga pasti yang lebih serius dan mahal. Jadi, akhirnya saya bikin gambar sendiri dan eksekusinya diserahkan ke tukang.

Taman vertikal ini saya tempatkan di pagar tembok sebelah kiri. Karena, yang bagian kanan berbatasan sama carport. Di sebelah kanan ini rencananya cuma akan digantungin pot bunga rambat yang ga makan banyak tempat. Nah, tembok pagar dibuat dari bata biar lebih kuat. Semula sih, biar murah, maunya pake batako aja, tapi katanya kurang kuat kalo bakal dijadiin taman vertikal.

Nah, pagar pada ketinggian setengah meter dari tanah, diselipin lempengan besi berbentuk huruf L sebanyak 20-an buah dengan jarak 15-20 sentimeter. Setengah meter lagi di atasnya, diselipin lempengan besi serupa tapi lebih pendek daripada yang bawah, biar tanamannya tetap dapet sinar matahari. Di atas lempeng besi ini, kami tempatkan talang air.

Mengapa kami pilih talang air dan bukan pipa paralon seperti yang banyak dipakai orang buat wadah tanaman? Karena talang air bentuknya persegi dan ga harus diapa2in lagi. Kalo pake pipa, harus dibolongin. Bentuknya juga bulat sehingga bisa terguling di atas lempengan besi tadi. Kalo pake talang air, tinggal diisi media tanam berupa campuran tanah, sekam, pupuk kandang, dan kompos. Jadi deh, langsung bisa ditanamin.

Percobaan pertama, kami nanem bayam. Sebenernya saya pengen nunggu dua talang air ini penuh media tanam dulu dan saling meresap bahannya. Tapi suami ga sabaran banget udah mau nyebar2 bibit. Tiap hari nanya, kapan boleh nanem? Akhirnya saya biarin dia menebar bibit. Akhirnya sih seperti biasa, saya ngomel panjang lebar.

Kenapa? Tiga hari kemudian, benih bayam yang disebar si suami mulai keliatan. Titik2 ijo muncul di mana2 dan bergerombol. Nah, gimana ga kesel. Ternyata, suami nanemnya ga disebar per biji, tapi sebanyak yang lepas dari sela jarinya. Jadi, ga merata rumbuhnya. Ada bagian yang kosong, ada bagian yang tanamannya bergerombol. Gimana ntar makannya tanaman2an itu, masa rebutan? Si suami mungkin ga inget bahwa 1 biji=1 pohon. Banyak pohon, bisa2 ga maksimal tumbuhnya karena makanannya ga cukup.

Tapi ya sudahlah, namanya juga percobaan pertama. Dan ini pasti pengalaman pertama si suami bisa nanem2 gini. Bedalah dengan saya si anak kampung yang terbiasa nanem apa2 untuk bisa makan sesuatu. Kenapa harus menanam? Pertama, karena tanah masih luas untuk ditanami. Kedua, tak selalu ada duit untuk membeli apapun. Ketiga, kalo bisa nanam sendiri, kenapa harus beli? Kan enak, tinggal metik.

Bayam yang kami tanam di kebun vertikal ini, bibitnya beli di penjual tanaman (hias). Waktu itu, saya juga beli bibit kangkung dan pakcoy. Bibit kangkung sih belum pernah kami buka karena kami sudah dua tiga kali panen kangkung dari hasil nguburin sampah sisa dapur. Sedangkan bayam, udah dua kali panen dari menebar bibit. Tapi beberapa kali pula kami panen bayam hasil menebar bunga bayam yang tumbuh liar. Konon bayam liar ini lebih bagus kualitasnya dibanding bayam cabut seperti kebanyak dijual. Bayam liar tumbuh alami, daunnya lebih hijau, lebih lebar. Tetangga saya ada yang ngasih makan bayinya dengan bayam liar ini. Konon, daun bayam liar juga lebih bagus dibikin keripik daun bayam (semacam peyek).

Sekarang, kami lagi nungguin panen pakcoy. Udah bisa dipanen sih. Tapi sejak abis lahiran ini, mertua sering banget memasok pakcoy (dari tukang sayur tapi) sehingga kami blom memanen dari halaman.

Kalo ada yang nanya, apa sih asiknya nanem2 dan kenapa harus bersusah2 gitu? Tinggal beli di penjual sayur keliling, kan beres. Harganya juga ga seberapa (sampe miris banget mikirin: ini petani kita dapet untung ga sih?). Kalo ditanya asiknya, ga bisa saya ceritain karena ga terukur. Kalo soal harga sayuran, oke, murah. Kadang2 malah nyaris ga berharga. Tapiiiii, jangan ditanya jaman2 sekarang. Sejak musim hujan menggila dan bikin banjir di mana2, setiap hari saya mendengar keluhan para ibu2.

Bayangin yak, bulan Februari lalu, harga seikat bayam yang biasanya saya beli Rp 500, naik menjadi Rp 1500. Itu juga ga segede biasanya jadi saya harus beli paling ga 3 ikat buat sekali masak. Asal tau aja, saya dan suami emang pemakan sayur banget. Trus, kemarin, harga tomat sampe Rp 2000 dapetnya cuma tiga biji yang ukurannya segede duku. Cabe kalo lahi muahal banget, beh, segenggam harganya Rp 5000. Harga daun bawang yang biasanya Rp 1000 dapet 6 batang, sekarang harganya Rp 3000.

Kalo kata orang2 pinter, sekarang tuh dunia lagi menghadapi krisis pangan. Krisis ini akibat cuaca yang ga menentu atau perubahan iklim. Dulu di pelajaran SD, kita taunya musim hujan jatuh pada bulan2 yang berakhiran -BER kayak September, Oktober, November, Desember. Sekarang? Mau Januari, mau Februari, mau Juli, hujan turun terus, banjir di mana2, dan gagallah panenan para petani. Ga heran kalo sekarang, organisasi non pemerintah, banyak merhatiin masalah perubahan iklim ini karena efeknya ke kehidupan kita di bumi emang gede banget. Misalnya kayak Oxfam. Oxfam ini merupakan konfederasi Internasional dari 17 organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Semoga sih organisasi ini bisa mewujudkan gerakan perubahan itu. Yah, dimulai dari hal kecil kayak gini deh, menghemat Rp 500 dengan menanam sendiri kebutuhan sehari2 kita.

Kenaikan harga2 sayuran dan kebutuhan pokok, emang paling dirasakan para ibu2. Jadi, jangan heran kalo yang suka nanem2, ya ibu2 kayak saya ini. Kerasa banget lho manfaatnya. Tanaman2 di halaman kami ini, Alhamdulillah, menolong banget. Mau cabe, tinggal metik. Walopun satu pohon gede udah kami musnahkan karena akarnya ternyata memang udah keropos. Tapi pohon yang satu lagi, bisa dipetik tiap hari, dibagiin ke tetangga yang pengen nyambel atau…makan mie instan. Mie instan, dengan irisan cabe yang banyak, dimakan pas ujan2 gini, yummy. Hih, bikin pengen :p

Halaman kami emang cuma seiprit, 3×3 meter persegi, yang di bawahnya pun ditempatkan septik tank oleh pengembang perumahan. Tapi kalo mau kemangi? Beh, ngambil berapa pun bisa. Oh iya, sehari setelah Puan aqikah, pohon2 kemangi juga terpaksa kami musnahkan karena terlalu rimbun sehingga menghalangi jalan masuk pintu samping. Sekarang sih udah dipindahin ke beberapa pot dan Alhamdulillah, masih bisa dibagi2 ke tetangga yang pengen makan daun kemangi (buat pepes atau lalapan). Yang sekarang lagi tumbuh subur juga adalah daun bawang. Dua bulan ini saya ga pernah lagi beli daun bawang. Tinggal ngambil dari pot2 yang saya jejerkan di rangka pagar.

Sebelum mengakhiri tulisan pamer2 tanaman ini, saya ngasih sedikit tips. Cih, sok ya? :p hihi… Gini, saya sering ditanyain, gimana sih nanem daun bawang? Apakah nanem bawangnya atau gimana? Jawabnya, belilah daun bawang yang masih ada akarnya. Kalo ga malu, minta deh di penjual martabak telor. Mereka kan biasanya cuma ngambil daun ijonya. Sementara batangnya ga diambil sampe akar. Nah, sisa batang yang masih ada akar itulah yang ditanam. Jangan lupa ngasih pupuk berupa kotoran hewan terutama kambing. Tebar aja di permukaan tanah sekitar tanaman itu. Dijamin deh, tiga hari kemudian akan keliatan tunas barunya. Selamat berkebun.