Kenangan Minim Bersama Etta

Hari ini di jam yang sama, sepekan lalu (Kamis, 21 Januari 2016), bapak yang saya panggil dengan sebutan “Etta” bersiap menjemput malaikat pencabut nyawa. Kalimat “laailahaillallah” terus dilafazkan dari mulutnya meski sayup terdengar. Sambil dipapah, Etta lalu buang air besar dan memuntahkan sisa-sisa makanan di lambung, lalu membasuh diri, dan menunaikan salat dhuhur. Usai salat, tangannya disedekapkan, berbaring menghadap kiblat, dan perlahan rohnya beranjak dari raga. Semuanya berlangsung begitu tenang sehingga orang2 terdekat yang mengelilinginya tak menyadari kepergiannya.

Saat dikabari, tangis saya pecah. Hanya sesaat. Saya disibukkan urusan packing dadakan untuk 3 orang, mengamankan dapur dan listrik sebelum ditinggal karena saya berniat akan lama di kampung menemani mama. Kondisi saat itu bener2 kacau. Tarik ulur mesen tiket untuk dua atau tiga orang karena ayah Puan baru masuk kantor sehabis cuti. Rencananya dia akan nyusul tapi akhirnya kami pulang barengan setelah ada kabar Etta meninggal, bukan hanya sakit. Pesawat berangkat jam 17 dan tiketnya harus dilunasi jam 14. Perjalanan ke bandara biasanya memakan waktu 2 jam. Kini sudah pukul 13.00. Puan kebelet. Saya masih harus membeli beberapa printilan, menyiapkan bekal buat puan, dan mampir ke atm. Hujan pun. Tak ada ojek, tak ada taksi, dan tak ada tetangga yang bisa dimintai tolong buat nganterin ke atm atau indomaret karena mereka baru akan keluar rumah jam 2 siang buat jemput anak sekolah, dan jam itu adalah time limit tiketku.
Akhirnya dengan lutut gemeteran karena belum sempet makan siang, saya menggendong Puan serta menjinjing dua tas besar, satu tas selempang kecil, menembus gerimis dan becek. Tak ada ojek dan angkot pun enggan berhenti. Akhirnya saya terseok seok berjalan dengan beban berat itu hingga 600 meter untuk sampai di pangkalan taksi. Saya meminta sopir taksi mampir ke atm untuk bayar tiket. Sopir taksi baru sadar bahwa saya terburu-buru setelah dia melihat saya menangis lewat kaca spion, saat mengabari ibu mertua. Taksi pun melaju kencang.

Setelah berada di bandara dan bertemu ayah Puan di sana, barulah saya sedikit bernafas lega. Saya baru mengingat-ingat bahwa sebelum Etta menjalankan ibadah umroh awal Januari lalu, sesungguhnya saya sudah mengihlaskan kepergiannya. Sebab penyakit sesak etta (karena usia) makin sering kumat sebelum berangkat. Maka doa saya pun hanya satu, “jika Engkau hendak memanggilnya ya Allah, tolong beri kesempatan kepada beliau untuk berkunjung ke tanah suci.”

Meski mengaku ihlas, di pesawat dalam perjalanan pulang, beberapa kali rasanya saya pengen mengamuk, maraung-raung, marah pada diri sendiri. Kenapa saya hanya meminta Etta bertahan hingga selesai umroh? Kenapa saya tak meminta pada-Nya agar kami masih bisa lebaran bersama idul fitri nanti?
Astagfirullahuladzim.

Lebaran idul adha lalu, saya mudik bersama Puan. Suasana lebaran masih rame, karena dari 9 bersaudara, hanya 3 orang yang masih tersisa dan Etta satu-satunya lelaki, sehingga rumah kami adalah tempat ngumpul. Di kampung pun, sama. Tetua lelaki hanya tersisa beberapa orang termasuk Etta dan semuanya sudah tak begitu sehat lagi. “Untungnya” saat itu saya mudik agak lama, sebulanan. Saya pun masih sempet mendorong2 kakak saya agar segera mengajak Etta untuk umroh karena menunggu giliran haji seperti menunggu Godot. Etta dan mama sudah mendaftar pada tahun 2009 dan diperkirakan baru akan mendapatkan giliran berangkat pada 2018, kalau beruntung.

Menurut KTP, Etta meninggal pada usia 84 tahun. Tapi kemungkinan beliau jauh lebih tua dari angka itu karena zaman dulu tak ada catatan pasti. Bahkan tanggal lahir Etta di KTP sama persis dengan 2 orang saudaranya yang lain, padahal mereka bukan kembar tiga. Dari ketiganya, yang tertua tetap Etta.

Hal yang saya ‘sesalkan’, di antara kami bersaudara, sayalah yang memiliki kenangan paling minim dengan Etta. Saat SD saya lebih banyak di rumah kakaknya mama yang berjarak 3 rumah dari rumah kami. Saat SMP saya tinggal di rumah adiknya Etta, yang meski satu desa, tapi saya jarang pulang. Saat SMA saya tinggal di rumah kakaknya mama yang lain di kota kabupaten. Zaman kuliah tak usah ditanya. Lepas kuliah saya ke Kalimantan selama 6 tahun, lalu ke Jakarta. Setelah menikah, saya tinggal di Depok.
Macam apalah saya….ddzzgghhh…
Sudahlah, saya tak sanggup lagi bercerita lebih banyak.

One thought on “Kenangan Minim Bersama Etta

  1. […] ini, 21 Juli, tepat enam bulan kepergian Etta, pedih di hati masih menusuk. Hari ini, Kamis ke-26 kepergian Etta, perih di hati masih […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s