silet

Tiga lelaki berkulit kusam duduk di pagar pembatas jalan depan pasar mayestik. Di dekat mereka dua laki-laki berpakaian safari, sepertinya petugas keamanan gedung, ikut menunggu angkutan umum. Sepasang suami istri berkulit bersih sedang menunggu taksi. Si istri tampak gelisah setelah berkali2 memanggil taksi yang ternyata berisi penumpang. Sementara dua dari tiga pemuda berkulit kusam melihati gerak gerik pasangan tersebut.

Dada saya agak berdesir menyaksikan pemandangan itu. Segera saya masukkan kamera ke tas. Tak banyak waktu untuk berpikir. Sebuah metro mini berhenti di tempat saya berdiri. Dua laki2 bersafari naik dari pintu belakang, di susul tiga pemuda tadi. Saya naik dari pintu depan. Ada bangku kosong di deret ketiga. Tapi dua dari tiga pemuda menghalangi, dan saya pun memilih berdiri di tangga saja. Saya berpikir, berdiri di tangga akan memudahkan saya segera turun jika keadaan berbahaya.

Satu dari tiga pemuda memulai ‘orasi’-nya, diikuti kata “tul, betul,” dari dua temannya. Saya jadi inget pengalaman dua hari berturut2 naik kopaja tahun lalu bersama tiga penodong mabuk.

“Kami terpaksa, jadi relakan seribu dua ribu uang anda. Uang segitu tak akan membuat anda miskin. Kami tidak akan menggunakan senjata, kami hanya pakai silet,” kata si orator.

Dan temannya, yang tak berjarak dengan saya, memperagakan sesuatu. Ia melipat2 kertas, lalu menyiletnya kecil2 tepat di depan mata para penumpang. Ia mengulanginya dengan lebih dramatis di depan wajah seorang anak kecil. Si anak nyaris tak berkedip. Setelah menyaksikan itu, si anak berbalik memegang lengan bapaknya yang sedang memegang kemudi.

Si pemuda kehabisan kertas. Kini ia memperagakan seolah sedang menyilet wajah dan lengannya. Beberapa penumpang menutup mata. Saya sedikit bergidik. Diam2 saya menyiapkan selembar uang seribu. Tapi penumpang di depan saya terlihat tak peduli dan terus memandang ke depan ketika si pemuda mengulurkan tangan meminta uang. Saya memutuskan untuk bersikap serupa. Uang seribu masuk kantong, dan dua ribu saya serahkan ke kenek. Tiga pemuda sudah berada di pintu belakang. Usai memungut ongkos penumpang, si kenek memeluk dan menggendong si anak kecil yang tadi ditakuti silet. Ternyata, sopir, kenek, dan si anak, adalah keluarga kecil.

Saya jadi bertanya2, apa yang ada di pikiran si anak ketika berlangsung ‘peragaan’ tadi? Bagaimana jika hal itu membekas terus dalam benaknya hingga dewasa? Akan melahirkan suatu ketakutan dan trauma, atau malah dijadikan contoh cara mencari uang?

Dalam perjalanan pulang hari itu, saya melihat pemandangan berbeda. Di atas metromini yang saya tumpangi, sepasang pengamen asyik bernyanyi. Si istri yang hamil tua menyanyi dengan begitu indah. Si suami memainkan gitar dengan baik. Bagus sekali cara mereka membawakan lagu hingga membuat saya berpikir: jangan2 mereka penyanyi asli lagu itu yang diam2 menyamar jadi pengamen bis kota. Apalagi kulit mereka begitu bersih :d Saya agak terharu mendengar nyanyian mereka (atau karena melihat mereka?) Jadi berpikir lagi: akan seperti apa nanti anak yang di dalam kandungan si istri ya? Mungkin ia akan menjadi penyanyi hebat πŸ™‚

damai

Seminggu setelah lebaran, kondisi jakarta belum kembali normal. Penjual makanan yang biasa mangkal di jalan masuk komplek perumahan belum lengkap. Tadi siang saya pun makan di pinggir jalan depan kantor pos taman puring/mayestik. Enak. Mungkin karena laper kali ya. Dan saking lapernya, saya lupa pesen ke tukang gado2 supaya ga pake pare. Tapi ternyata parenya juga enak, ga pait.

Eh, sebenernya bukan soal makan yang ingin saya ceritakan. Tapi soal insiden kecil yang terjadi di depan saya saat makan siang. Jalur di titik itu ga terlalu padat. Meski berada di tikungan dan merupakan penyatuan dari dua arah, laju kendaraan lumayan kenceng. Biasanya saya nunggu lamaaa banget kalo mau nyebrang. Nah pas saya makan, ada motor mau belok masuk kantor pos tapi posisinya ga di kanan, melainkan di tengah. Motor lain dari belakang jadi ngerem mendadak karena laju. Jadilah agak rame2 saling klakson. Apalagi yang mau belok ini motornya agak2 ngadat. Ada yang mulai emosi, brenti di tengah kepadatan itu hanya buat ‘nggertak’ si pemotor yang mau belok dengan mlototin. Pemilik kendaraan lain makin sibuk mengklakson2. Ramelah.

Melihat kejadian itu, rasanya agak geli. Yaelah, cobalah dimaklumi aja, kasian motornya ngadat gitu, ga usah dimarahin lagi. Orang yang di mobil, ikut negur si penggertak, “udahlah, jalan aja, macet tuh.” Teguran itu sepertinya bikin si penggertak malah ga terima. Akhirnya orang2 di pinggir jalan termasuk penjual minuman ikut tereak, “woi, masih lebaran woi, udah…udah, jalan aja. Lebaran woi.”

Diingetin begitu, macet sesaat pun terurai. Bagus juga mau nurut dengan kata2 ‘lebaran’. Tapi, kalo misalnya lebarannya udah lama lewat, apa mereka juga masih mau ngalah (atau ngihlasin apapun) seperti tadi? Kenapa sebagian orang ga berpikir bahwa damai itu indah ya? Kalo saja bisa, saya pengen suasananya lebaran terus, biar damai. Damai di bumi bagian mana pun, terutama di bekasi sana.