Bajaj dan Bus Harry Potter

Dian mendekati bajaj yang baru saja menurunkan penumpang di bawah jembatan penyeberangan Atrium Senen. “Ke Sarinah berapa, Pak?” tanyanya setengah berteriak.

Sopir bajaj menjawab, “Sepuluh ribu.”

Dian melambaikan tangan pada saya dan Marta, “Yuk, naik.”

Saya ragu sebab mata kiri sopir bajaj itu seperti berselimut kabut. Putih. Sepertinya buta. Tapi di belakang kami, klakson kendaraan bersahut-sahutan, diiringi teriakan beberapa sopir meminta jalan. Saya akhirnya naik juga, disusul Marta, lalu Dian. Sopir bajaj langsung tancap gas dan kami terjengkang. Marta dan Dian senyum-senyum kecut, sementara saya berpegangan pada ban serep yang melekat di belakang kursi sopir.

Bajaj berusaha menyalip. Meski dilengkapi kaca spion, sopir menjulurkan kepala untuk melihat kendaraan dari belakang. “Wah, bener nih, matanya ga berfungsi,” batin saya. Detik berikutnya, bajaj nyaris menabrak kijang silver. Bersamaan, kami menjerit sambil menumpukan tangan pada pembatas kursi sopir dan penumpang.

Setengah meter di sebelah kanan, sebuah bus akan menepi. Tangan kenek menghalau kendaraan, tak ada yang menggubris. Kenek bus akhirnya meloncat, tapi bajaj tetap menyalip dari sebelah kiri. Kami saling berpandang-pandangan dan duduk makin berdempetan.

“Haduh, kalau saja ini seperti bus Harry Potter yang bisa mengecil saat lewat jalan sempit,” bisik saya pada Marta.

“Apa?” tanya Dian.

“Itu, lho, di film Harry Potter. Kan busnya bisa menyesuaikan dengan sempitnya jalanan,” jelas Marta.

“Rasanya pengen cepet-cepet terbebas dari kardus berjalan ini,” kata saya lagi sambil menggigit jari. Dian langsung menjepretkan kameranya ke arahku. Hasilnya agak gelap. Sisi kanan bajaj ditutupi triplek.

Bajaj terus meliuk-liuk di sela kendaraan lain. Tubuh kami oleng ke kiri dan kanan. Sopir bajaj seperti lupa ada kami di kursi belakang. “Kiri, baaaanggg,” teriak kami. Setelah 20 menit akhirnya kami bisa menghirup udara dingin di Sarinah. *

*) konon, cerita seperti ini setiap hari terjadi di Jakarta. tapi tak pernah dituliskan. saya hanya mencoba mengumpulkan beberapa yang saya alami

4 thoughts on “Bajaj dan Bus Harry Potter

  1. venus mengatakan:

    hwahahahaha……

    *ga kebayang. betapa indahnya kalo gw juga ada di sana, liat ekspresi lo yg ketakutan, mwahahahaha…*

    duh, bajaj…itulah knp gw lebih suka naik angkot. lhoh? :p

  2. puputpuputpuput mengatakan:

    wahh olah raga jantunggg

  3. Mbilung mengatakan:

    lha …. orang-orang yang nyupir di jakarta ya gitu semua co.

  4. merahitam mengatakan:

    Wahahahahahaha…Mau lagi??? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s