kenangan konyol

Saya sedang di Jogja sekarang. Bersama teman seperjuangan dulu zaman kuliah. Dia juga teman sesama pemulung yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Bertahun2 ga bepergian bareng, ternyata ga ada yang berubah dari kami. Konyolnya tetep sama. Selalu sama.

Kekonyolan pertama, jika ingin bepergian selalu diputuskan serba mendadak. Rencana libur ke Jogja pun baru kami putuskan Senin kemarin. Esoknya baru stengah mampus nyari tiket. Tapi selalu ada dewa2 penolong saat kepepet. Besoknya lagi baru ada kepastian soal hotel. Kali ini penolongnya, dewi, bukan dewa :d

Seperti biasa juga, persiapan kami lakukan dengan terburu2. Ngepak barang bawaan saya lakukan sejam sebelum ke stasiun. Temen saya malah baru nyetrika baju sejam sebelum berangkat :p
Alhasil, begitu banyak yang tertinggal. Saya: charger batre kamera, mukenah, tisu, sabun mandi cair, kartu penting, dll, dsb (ga perlu saya tulis semua biar ga lama2 nyeselnya). Sementara temen saya: sendal buat dia dan anak-anaknya, baju anak pertamanya, dll, dsb (saya ga nanya satu2). Seperti biasa kami cuma bisa menertawakan kekonyolan ini sampe perut kram.

“Kayaknya kita emang ga boleh pergi bareng. Selaluuu saja begini kejadiannya,” kata dia.
“Iya, kalo ga pergi sama kamu saya ga gini kok,” kata saya, lalu melanjutkan tawa.
“Berarti ga ada yang berubah ya, kecuali karena dia udah punya dua anak. Yang lain sih masih sama,” timpal suaminya. Haha…iya banget.

Kami jadi bernostalgia. Dulu jika bepergian, selalu gini, grasagrusu dan kacau balau jadinya. Tiba masa tiba akal. Selalu nyaris ketinggalan kapal (dulu kemana2 naik kapal laut) dan harus lariiii karena telat.

Kami paling inget dulu saat kuliah kerja nyata saya pernah bolos maen ke bandung selama dua minggu. Ga pake izin ortu. Dari awal berangkat udah serba ga enak. Dari Makassar ke Surabaya naik kapal yang puenuuuh banget. Untung waktu itu belum zamannya kecelakaan2 kapal (upsss…) Dari Surabaya lanjut pake kereta ke Bandung. Terlantar dulu di stasiun sepagian. Seminggu lebih di Bandung, lanjut ke Jakarta, nginep di sekitar kampus temen.

Dasar pergi2 tanpa izin ortu, ada aja apesnya. Entah barang, entah makanan, adaaa aja yang nyolong. Kesel tapi kami cuma bisa ngetawain kesialan2 itu.
Dari Jakarta ke Makassar kami naik kapal laut lagi. Aksi kejar mengejar kapal terjadi lagi. Parah, karena jarak kapal berlabuh di Tanjung Priok dari halte bis jauh banget. Terpaksa ngejar dengan ojek yang berarti ngurangin jatah makan mahasiswa kere tapi suka kemana2 macam kami.

Setelah ngos2an ngejar tangga kapal yang mulai ditarik, kami selanjutnya harus berjuang mencari tempat. Dek atas sih luas tapi atapnya langsung langit. Gimana kalo hujan? Untungnya karena kami dua perempuan yang tidak berwajah cantik tapi patut dikasihani, kami selalu bisa mendapatkan tempat. Itu juga salah satu keunggulan kelas ekonomi di kapal laut. Semua orang seperti bersaudara, senasib sepenanggungan. Saya berani jamin, tanpa duit dan makanan, saya ga akan kelaperan karena apapun yang dipunyai tetangga tidur kita, pasti akan dibagi. Jarang kayaknya ngeliat orang brenti ngunyah di atas kapal!

Lanjut, sebelum transit di Surabaya, kami merasa perjalanan begitu lama. Kapal sesekali oleng. Ternyata kapal emang cuma muter2 di lokasi yang sama karena akan menyelamatkan penumpang yang stress lalu terjun ke laut karena uang berjuta-juta hasil mburuhnya di Malaysia dicopet di kapal. Meski rasa persaudaraan tadi cukup kental, resiko kecopetan di kapal memang lebih ganas dibanding di darat. Saya dan teman2 pun pandang2an lalu tertawa (lagi). Rupanya keapesan masih mengikuti kami. Mungkin karena (terutama) saya pergi diem2 tanpa izin. Seketika saya ngerasa pengen bersimpuh di kaki mama meminta maafnya.

Di Surabaya, kapal biasanya transit 4 jam. Kami memutuskan maen ke mall terdekat, makan di McD :p pulang dari mall sempet2nya kami mampir di pasar sekaligus terminal deket pelabuhan Tanjung Perak beli apel Malang buat oleh2. Cih, nggaya, ga punya duit kok ya sempet ke mall dan beli oleh2. Tapi gimana lagi, oleh2 yang ngetren saat itu ya apel Malang yang sama sekali ga seger lagi 😦

Dan taukah apa yang terjadi? Berhubung tadi udah muter2 lama di laut, sepertinya waktu transit dipersingkat dari 4 jam jadi 2 jam. Atau bisa juga karena kami emang kelamaan jalan2 n nawar2 oleh2 ga seger itu :))
Ternyata, kami lagi2 harus lari kenceeeng banget karena tangga kapal udah diangkat! Jangkar mulai dilepas. Kami berjibaku dengan apel di tangan kiri dan tangan kanan berjuang meraih anak tangga terakhir. Salah perhitungan ya jatuh ke laut. Sementara ribuan pasang mata di kapal dan di darat hanya menonton perjuangan kami sambil menyoraki. Malu? Hihi…nggak! Ini lucu untuk ditertawakan sampe perut kram :)) Udah brapa lama ya ga ngakak segila waktu itu? :))

Dan tadi sore temen saya tiba2 ngomong; sampe skarang mamanya belum tau kalo kami lagi di Jogja. Hah??? *tepok jidat*

resolusi 2010?

Saya ingat tepat tanggal 23 Desember setahun lalu saya hanya menuliskan satu resolusi di blog ini: Mendapatkan pekerjaan baru.

Dan Alhamdulillah, tak sampai tiga bulan setelahnya, saya mendapatkan pekerjaan baru. Tak hanya itu, saya pun makin dekat dengan dia. Dengan ortu dan keluarga besar memang makin jauh jaraknya tapi soal akses, sedikit lebih gampang dari sini.

Lalu apa resolusi saya pada sehari penambahan usia sekaligus menjelang tahun baru? Ngggg…, sepertinya salah satu resolusi ingin saya simpen sendiri. Bukan tak ingin di-Amin-kan, tapi biarlah jadi mimpi indah saya sendiri. Yang jelas tujuannya baik, jadi, mohon doanya yaaaa…. (worship)

Resolusi yang lain, ingin lebih baik dari tahun ini lah. Oh, harus spesifik ya? Oke, saya pengen punya rumah atau apartemen! Seorang teman pertengahan tahun ini ngomong, β€œAyolah, ini udah mau akhir tahun. Masa sih tahun depan kita masih ngekost aja?” Dan, saya setuju dengannya. Maka mimpi itu saya jadikan resolusi.

Mengingat itu adalah mimpi yang mahal, saya juga berharap ada perbaikan pemasukan tahun nanti.

Dibanding tahun lalu, tahun ini memang ada perbaikan pendapatan yang pesat. Tapi dulu di kota lama tabungan bisa awet karena di sana ga ada pilihan untuk belanja2 dan makan2. Jalan2 juga jarang karena akses ke pedalaman cukup sulit. Sementara di sini, wadoh, mau pendapatan segede apapun kayaknya juga bisa ludes sekejap. Banyak godaan. Biaya pergaulan dan biaya kenakalan bocor dimana-mana.

Maka resolusi saya yang lain adalah, berhemat. Eh, ini resolusi atau perintah?

koin keadilan

Waw…begitu terasa nikmatnya hidup saat saya bisa bertemu kasur empuk untuk meluruskan punggung malam ini. Rasanya, lelah seharian tadi langsung terbayar lunas begitu badan menyentuh kasur setelah mandi.

Hampir seharian tadi saya ikut menghitung koin keadilan, koin2 untuk kebebasan prita di jalan langsat, markasnya wetiga, dagdigdug, dan politikana.com. Saya ada di sana mulai sekitar pukul 11 sampai pukul 16.50. Lalu malem usai ikut pembubaran Panitia Pesta Blogger 2009 di es teler 77 jl Adityawarman, saya balik lagi menghitung koin sekitar sejam. Hasilnya, bisa memasukkan 5 juta ke lima plastik bersama beberapa orang. Sebelum ke sana tadi pagi, saya udah membawa perlengkapan sendiri misalnya pembersih tangan, sarung tangan plastik, masker, air minum, dan kamera. Hihihi…kamera ini masuk perlengkapan juga kan ya? Walopun akhirnya jarang saya pake karena sibuk memilah dan menghitung koin.

Saat berada di sana, rasanya hati ini bungah. Terharu melihat kebersamaan semua orang. Terharu melihat keping2 koin yang rasanya setiap keping itu memiliki ceritanya sendiri. Ada yang dibawa pemulung, ada yang dari celengan anak kecil, ada yang dari sisa belanjaan ibu-ibu. Maka tak heran jika segala bentuk koin ada di sini. Keping2 yang tak pernah saya lihat lagi ujudnya bahkan ada di sini. Dari koin 5 rupiah, 25 lama dan baru yg begitu keciiiil, 50 lama dan baru yang ukurannya ga beda jauh dari uang 25, lalu 100-an model lamaaa dan baru, 500 lama dan baru, koin 1000-an, beragam koin dari begitu banyak negara, dan terakhir koin untuk nge-game!

Para relawan juga datang dari berbagai latar belakang. Paling pagi jam 8 ada dua lelaki tua, pensiunan mulai terbungkuk2 memilah koin. Lalu ada 3 perempuan paruh baya dari salah satu panti asuhan di Jakarta Timur. Lalu saya, datang ngaku2 sebagai blogger (hihi…tapi belakangan bocor infonya: ternyata saya jurnalis yang menjadi relawan katanya. Ga jadi deh diwawancara tipi :p). Ada pula anak SD yang bolos les demi ikut neneknya ngitung koin. Lalu ada artis, mba Sita Nursanti (dari grup vokal Rida Sita Dewi, RSD) ikut jadi relawan. Hebat juga lho, dia bertahan dari jam 2-an sampe jam 21.30. Kami duduknya deketan lho, pulangnya juga bersamaan (huh, ngaku2, ga penting banget deh).

Sebelum jam 12 siang, ngitung koin rasanya lamaaa banget. Sekarung itu lama banget milah2nya, juga ngitungnya. Makin siang, makin sore, makin malem, wus wus gitu, tau2 dari 2 juta, trus 7 juta, 14 juta, 22 juta, 36 juta…pas malem saya mau pulang udah 70-an juta dan total koin seluruhnya yang udah terhitung dari posko lain udah lebih 300 juta! Sementara orang2 yang tak hadir di sana, tak ketinggalan menjadi relawan dengan mengirim makanan, minuman, kain, plastik pembungkus, menggratiskan pengiriman paket koin, dan sebagainya. Bagaimana hati saya tak bungah melihat semua itu?

Bayangkan, begitu banyak orang baik di negeri ini, begitu banyak orang yang ikut berharap perbaikan hukum di negeri ini. Misalkan 1 rupiah = 1 orang, maka ada 300 juta orang baik di negeri ini, ada 300 juta orang berharap keadilan di negeri ini. Malu aja pemerintahnya kalo ga menyadari itu!
Kalo besok masih diberi kekuatan, saya ingin ke langsat lagi. πŸ™‚

survei

Hihi, hari ini menyenangkan sekali. Seharian penuh saya jalan bersamanya dari mal ke mal. Bukan karena hedon, tapi segala keperluan emang adanya di mal. Pertama janjian di blok m biar gampang kemana2nya. Diawali dengan sarapan jam 11-an di restoran cepat saji.

Lalu kami nyari kacamata, tapi ga ketemu jadi kami pindah ke mal ambassador. Minusnya lebih dari 7 tapi bisa kami tunggui selama 1,5 jam, jadi kami menghabiskan waktu di mal itu lagi, liat kamera poket dan bb. Cuma survei harga, ga beli. Saya dan dia udah punya kamera gede. Sekarang dia lebih banyak pake kamera kecil yang menggunakan film, sementara saya mulai merasa keberatan bawa2 kamera gede dan ga praktis untuk motret momen2 di jalanan.

Saat melihat harga kamera, seorang perempuan berseragam menghampiri kami, menawari ikut survei, katanya cukup semenit. Kami sanggupi aja, ga berat ini, cuma diminta dengerin mp3. Ada 3 macam yang harus kami dengarkan. Setelah itu kami dapet hadiah senter kecil sekaligus korek. Ternyata surveinya dari philips. Keren sih, ngebass bener suaranya. Tapi pilihan lagunya beda2 sehingga sepertinya saya memilih ipod karena dipengaruhi lagunya. Oh iya, merk mp3 yang disurvei tak diberitau sebelumnya.

Udah lama saya mau beli senter, ga jadi2 mulu. Korek api pun saya ga punya. Ketika listrik sering padam beberapa waktu lalu, saya cukup repot. Eh, skarang udah punya, lucu pula, warna perak dan biru.

Kaki udah mulai pegel bolak balik n naik turun tangga. Akhirnya kami mutusin ke supermarket di lantai paling bawah. Niatnya mau beli termos, meja kecil buat laptop, sabun buat (maap) cebok abis eek (hihihi…), dan lain-lain. Ternyata termos dan meja yang kami dapat bukan seperti yang kami mau. Batal. Tinggal nyari sabun. Saat milih2, saya didatangi pramuniaga. “Mba, ambil sabun ini aja tapi kami catet namanya ya, buat survei,” katanya. Woh, langsung saya ambil. Akhirnya pengeluaran saya nol rupiah berkat survei2 itu, hihi…
Untungnya ga ada pertanyaan soal profesi. Biasanya profesi jurnalis atau keluarga jurnalis ga bisa diikutkan dalam survei. :p

Kami lalu ngambil kacamata, makan siang jam 3, dan ke pasific place, liat pameran world press foto 2009. Lagi2 diminta ngisi registrasi, saya dapet pin dan bisa ikut workshop dan hunting lomografi pekan depan. Yuhuuu…senengnya. Dari sana kami ke plasa semanggi. Mau nemenin dia lagi beli earphone philips. Huh, pantesan di survei tadi dia milih philips, soalnya emang udah ngincer :p

Oh iya, perjalanan tadi lebih banyak jalan kakinya, ke dan dari ambas, ke dan dari pasifik place, ke dan dari plangi. Pegeel. Acara hari ini berakhir dengan makan (lagi) malam di plangi. Kuenyang!

Terima kasih atas hari ini my luv. Terima kasih untuk semua kesenangan2 yang saya dapatkan πŸ™‚

Ngelem

Kuping saya pekak saat puluhan kendaraan berlomba berpacu begitu lampu hijau menyala. Persimpangan Kodim di Arteri Pondok Indah ini memang lumayan rumit dan ramai.

Tapi herannya, dua anak di depan saya seolah tidak terpengaruh. Mereka seperti menikmati suara kendaraan yang menderu bersamaan itu. Mata mereka terpejam, wajah sedikit mendongak, seperti menikmati segala kebisingan di sekitarnya. Atau mereka menikmati teduhnya dedaunan pohon nangka? Ah, saya tak yakin karena tepat di samping anak berbaju garis2 coklat itu ada pipa pembuangan dan keduanya duduk di tepi got.

Saya memperhatikan lebih seksama. Si baju garis2 coklat tampak bener2 terbuai, padahal tak ada angin sepoi saat itu. Tunggu, kenapa jari kirinya mengepal begitu keras seperti sedang kram? Kenapa pula gaya keduanya sama persis; satu tangan di dalam baju ditembuskan ke bagian kerah dan sesekali hidungnya di arahkan ke sana untuk menghirup sesuatu dari tangan tersembunyi itu? Sementara satu tangan lain mengepal seperti kejang. Mereka duduk berhadapan, sesekali saling menatap, nyengir, lalu terpejam menikmati sesuatu.

“Asik kan ya, haha,” kata si baju garis coklat ke temennya si baju biru. Ga persis begitu ucapannya, tapi tawanya seperti dalam mimpi. Bukan tawa senang, tapi juga tak hambar. Si kaos biru tak menjawab, hanya mengangguk dan terus menghirup dari balik kerah depan bajunya.

Si anak baju coklat mungkin pegal, atau ingin memperbaiki posisi, jadi tangan tersembunyinya dikeluarkan. Ouh, ternyata ada lem aibon dalam kaleng kecil di genggamannya. 😦

Saya takjub, sedih, kaget, entahlah. Tapi keduanya bener2 tak peduli saya mematung pada jarak dua meter menonton mereka. Juga ketika saya memotret dengan hp, mereka seperti tak menganggap saya ada meski wajah mereka ke arah saya. Si baju coklat terus asik dalam tawa-bukan-senang-bukan-hambarnya, dan si baju biru yang lebih tak peduli segalanya, terus mengirup lem di balik bajunya. 😦
Anak-anak ini, kemana orang tua mereka?

raiskuker2000

Saya ga tau persis apa yang berkecamuk *halah* dalam hati saya saat ini. Sedih, geli, atau lega, entahlah. Beberapa menit lalu, sepulang makan siang plus sarapan di warteg, saya mampir ke tukang loak. Nanyain sapa tau mereka mau beli rice cooker bekas. Katanya boleh, bawa aja ke sini. Saya segera balik ke kost ngambil ricecooker.

Rice cooker ini dibeliin kk saya sekitar lima tahun lalu. Lima tahuuuunnn? Hahaha, saya juga takjub sendiri, baru sadar raiskuker mini itu udah saya pake lima tahun. Waktu itu saya tinggal di Samarinda, Kaltim. Saya dibeliin kk saya yang masih kuliah di Jakarta. Di sana waktu itu belum ada riskuker mini kayak gini. Menjelang puasa ketika itu, jadi niatnya dipake biar ga susah nyari nasi pas sahur. Ongkos kirimnya lebih mahal daripada harga raiskukernya. Hiksss, rasanya bener2 tinggal di ujung dunia.

Dipake sekian lama dari kost yang satu ke kost yang lain, wajar ajalah kalo udah rusak. Tapi sebenernya ga setiap saat saya pake. Hanya jika mood masak aja. Pas puasa pun lebih banyak beli jadi. Hanya waktu tinggal bersama temen2 di rumah kontrakan di Balikpapan, raiskuker itu dipake sehari2. Pindah ke Jakarta, raiskukernya masih dibawa2 dan hanya dipake ngerebus kentang karena masak nasi merah waktu itu jadi cepet basi.

Nasib kawan saya selama lima tahun itu baru saja berakhir di tukang loak. Kardusnya masih saya simpen, maklum pemulung. Saya membawanya dalam kantung plastik tadi. Setiba di tukang loak, saya disuruh naro riskuker di timbangan.
Dalam hati, oh, ditimbang?
Mulai muncul rasa ga tega.
Buru2 saya jelasin ke tukang loak, “Ini sebenernya ga rusak2 amat, cuma ada kabelnya yang putus. Saya lagi males aja bongkar2”. Padahal sih karena ga punya obeng. Raiskuker ini udah pernah saya bongkar dulu, penasaran, ternyata dalemnya sederhana banget. Casingnya doang bagus, dalemnya nyaris kosong, cuma ada beberapa kabel kecil penghantar panas.

Ga teganya itu, saya juga ga ngerti. Karena ikatan lima tahun itu kali ya? Tapi ibu2 tukang loak itu tak bergeming, seperti ga denger penjelasan saya. Ia hanya memeriksa beratnya, membuka tutup riskukernya.
“Lengkap kok bu,” kata saya, masih berharap si riskuker ga ditimbang doang tapi diambil, dibenerin, dan dipake lagi. *lho, kenapa elu loakin kalo gitu?*

Si ibu berlalu ke dalam ruang-yang-dipenuhi-entah-apa. Di pintu dia berbalik.
“Tapi murah lho, dek, ini riskukernya”.
“Brapa bu?”
“Cuman dua rebu”.
“Dua rebu? Ya ampun, murah banget”.
Saya melongo. Seketika ada rasa nelangsa. *halah* Saya ambil plastik pembungkus tadi *yang rasanya hanya tindakan refleks akibat shock* dan balik kanan.
“Ya udahlah bu, saya tinggal aja di sini daripada jadi sampah di rumah”.
Saya ngeloyor, ga nengok2 lagi, ga tertarik sama sekali dengan duit yang juga belum diserahin itu. Omairaiskuker, dua rebu??? Harga diri si raiskuker rasanya baru saja saya lecehkan.

dari hati #30

Menulis dengan tanda angka di belakang judul akan berakhir hari ini pada angka ke 30. Lunas sudah utang saya. Hadiahnya apa? Kecupan? Ah, sudahlah, lupakan.

Apa hasil evaluasi saya secara pribadi? Ini sangat sangat jauh dari memuaskan. Bukan soal jumlah kata yang jauh dari angka 50 ribu kata. Bukan juga karena jadinya bukan cerita atau novel. Tapi karena apa yang saya tulis bukan datang dari hati saya. Sebagian besar hanya karena ingin memenuhi tuntutan posting setiap hari. Karena awalnya memang tanpa pola, tanpa kerangka tulisan, jadi apa yang terlintas, itulah yang ditulis. Sebagian lagi karena memang dipaksa saja biar ada postingan. Bener2 bukan dari hati.

Saya mencoba membandingkan tulisan saya di awal blog ini dan tulisan akhir2 ini. Terasa sangat jauh bedanya. Dulu, meski singkat, meledak2, tapi bener2 datang dari hati, bener2 menggambarkan suasana perasaan saya saat itu, kegembiraan, kemarahan, kesedihan, kerinduan. Sangat gamblang. Dan kalaupun panjang, masih enak dibaca. Karena semuanya dari hati. Sekarang, rasanya jelek, monoton, kaku, jaim, membosankan, panjang tapi ga dalem, ga mengena di hati.

Ah, saya kecewa.
Kecewa pada diri sendiri, juga kecewa pada…aaaah, berhentilah mencari2 kesalahan di luar diri sendiri!
Lupakan ini. Saya akan mencari cara lain. Agar terlahir yang benar2 dari hati. Termasuk, ah…lupain sajalah. Males!