Mendadak Pindah

Senin, 10 Januari lalu, saya begitu kaget ketika tiba di kantor dan kebetulan ketemu bos di tangga trus diberi tahu: “kamu udah harus ada di Makassar 14 Januari ya.”

O’ow…saya langsung protes: “kok mendadak gini sih mas?” Saya makin panik ketika menyadari bahwa tanggal 14 tinggal 3 hari lagi. What? Yang bener aja? Trus si bos jawab: “ah, ga mendadak lah. Kan udah diberi tau sejak Oktober lalu.”

Nggg…iya sih…tapi kirain udah batal karena nunggu tiga bulan ga ada kabar apapun. Saya diem akhirnya. Tapi…tapi…eh, yang bener nih, saya dipindah? Dan saya panik lagi. Akan saya kemanakan barang2 di kost yang numpuk2 ga karuan itu? Trus gimana packingnya, titip dimana? Ga mungkin kan semuanya diangkut sekali jalan. Apalagi kalo penugasan cuma enam bulan, brarti ntar juga saya balik ke sini lagi. Masa ngangkut barang lagi? OMG, bingungnyaaaa… 😦

Lebih bingung lagi jika mengingat rencana2 saya dan dia. Gimana ini? Pelan2 saya pun ngasih tau sambil ngasih harapan: “semoga ini tetep wacana sama kayak tiga bulan lalu.” Tapi dalam hati saya udah ga yakin juga sih.

Sore hari, ketemu bos lagi, dan ternyata bener, saya harus berangkat Jumat lusa. Akhirnya seharian kerja ga konsen. Gimana dong kost yang sekarang? Saya udah enak dan cocok di sana. Saat balik enam bulan nanti, belum tentu tempatnya masih kosong. Harus nyari ke mana lagi yang murah dan enak gitu?

Dan kami mulailah hari2 sedih dan bingung ga menentu itu. Sementara di kost, saya cuma bisa bengong ngeliatin barang2 berserakan yang ga kunjung rapi. Ga enak banget perasaan ini. Antara sedih dan seneng dan bingung. Ah sudahlah, jalani saja. Toh saya udah di sini sekarang dan…yaaa…emang agak ribet sih. 😀

semesta

Barusan, semesta bekerja sama dengan baik, menunjukkan semua yang kumau setelah berlangsung sepotong percakapan kemarin sore di twitter. Mungkin ini buah dari rasa yang bergolak sejak obrolan kemarin itu, yang tak bisa kunamai hingga terpejam semalam. Rasa gembira yang bercampur sedih, kuatir, gelisah, surprise, dan sebagainya. Orang lain mungkin akan menamainya ‘galau’, kata2 yang muncul belakangan seolah baru. Tapi ini bukan galau. Ini olahan semesta yang lalu memberiku jawabnya ketika mataku kembali terbuka menjelang siang.

Adalah seorang kawan lama, yang berkali2 coba saya kontak tapi tak berjawab. Euforia yang muncul belakangan, –yang mungkin juga bentuk dukungan semesta, yang tak punya kata ‘kebetulan’– akhirnya mempertemukan kami di ruang maya. Makan waktu berhari2 juga prosesnya sebelum terujud sepotong obrolan itu.

Demikianlah, janji bertemu sudah tercapai. Gelisah berikutnya, saya bimbang ingin mengajak ‘dia si matahariku’ atau tidak. Di satu sisi saya ingin mengenalkannya pada kawan lama, satu sisi saya ingin menghadapi ini sendiri dulu. Tapi dorongan ingin mengajaknya lebih kuat, juga lebih lemah, ketika si kawan bilang akan mengajak kawan lain. Semesta belum menjawab kebimbangan itu. Atau sudah tapi saya belum menangkap maksudnya.

Dan pagi ini, tiba2 lagi saya merindukan kawan lama yang lain. Kususuri jejak mayanya, dan saya menemukan cerita lain yang pernah sepintas terbaca dan melekat erat di kepala. Melekat, dalam sekali. Tentang seorang kawan, yang berjanji, ia takkan mencatat sejarah bahwa ia pernah meninggalkan kawannya.

Tak hanya google, semesta pun ikut mencatat janji itu dan mengingatkanku pagi ini sebelum pertemuan itu.

1461 keping senja

Pukul 01, di 1 Januari.
Kita mengulang kisah seribu empat ratus enam puluh satu keping senja yang kita kumpulkan bersama.
Tentang kau yang tergagap melepas tanya. Dan aku yang tergugu mencari jawaban.
Tentang kau yang terhenyak sekejap. Dan aku yang tersipu malu.
Tentang kau yang menghilang dalam sunyi dikepung bunyi terompet. Dan aku yang terengah dilingkup senyap dalam siraman cahaya kembang api.
Tentang kau dan aku
Tentang janji bersama
Tentang hati
Selamat 1 Januari, cinta
Selamat empat tahun, matahariku.