Ratu Plinplan

Udah banyak temen2 deket yang menggelariku si ratu plin plan. Detik ini pengen gini, detik kemudian pengin itu. Gamang. Selalu berdiri di simpang jalan. Repotnya, ini juga termasuk soal masa depan. Saya ga pernah tau mau jadi apa. Tau sih, saya ingin jadi ibu yang tetap bekerja (amiiiin). Tapi jalannya itu yang bikin bingung.

Dari November lalu saya berencana resign dan pindah kerja ke ibu kota. Pengennya sih sambil sekolah lagi, kalo bisa di UI. Alasan lainnya, u know-lah, biar saya bisa lebih dekat dengan dia.

Lalu waktu berjalan. November terlewatkan dan saya belum resign. Target baru ditetapkan, akhir Januari udah harus out! Jadilah nyaris tiap hari saya ngirim lamaran kemana-mana. 

Tapi di tengah-tengah itu semua, kegamangan itu selalu datang. Karena… banyak yang terjadi akhir2 ini. Hal2 kecil selalu mendatangkan badai emosi. Saya sih menduga ini bagian dari frustasi pada jarak. Dan ternyata lagi, sisi hati saya yang lain menginginkan PULANG. Udah begitu lama ortu minta saya pulang, tapi saya tetap bertahan di sini. Saya selalu bilang, akan datang waktunya. Tanpa diminta pun saya pasti pulang. Dan sekarang saat itu tiba. Sayangnya, ga ada tempat untuk pulang. Belum dapat kerjaan.

Salahnya lagi, lamaran2 kerja yang saya kirim selama ini selalu lowongan di ibukota. Bukan sengaja ga milih tempat pulang, tapi lowongan yang ada emang base-nya di sana. Gimana dong?

Barusan saya ngobrol dengan temen saya, salah satu dari lajang bahagia itu. Mungkin ia prihatin dengan target saya yang selalu melenceng, kesannya tak konsisten, padahal ini karena belum dapet kerjaan aja, akhirnya ia menyarankan untuk daftar kuliah saja. Di makassar. Urusan kerjaan baru, dia yakin akan lebih mudah. Dan itu terkait dengan bidang yang dipilih saat kuliah. Dan pilihan kuliah ini pun, udah pasti diwarnai beribu gamang. Huhhh!

Dan ngobrol2 itu kembali mendatangkan gelombang emosi dalam diri saya yang tak saya pahami, apa, kenapa. Huh!!! Saya menakutkan hal2 yang sebenernya belum terjadi dan mungkin ga akan terjadi. Menangis bodoh lagi lah saya. Apa iya saya akan bergeser dari rencana semula Jakarta, lalu ke Makassar? Atau gimana? Bagi saya, dua tempat itu adalah dua medan magnet yang sama kuatnya, saat ini! Saya tau, ini soal saya pribadi. Masalahnya ada pada saya sendiri. Saya ga fokus, saya ga tau apa yang saya inginkan. Ya balik lagi tadi…namanya juga ratu plinplan! 😦 Cape deee…

surat-6

Selamat tahun baru [yang cukup telat], my luv…

Sudah 744 keping senja kita lewati. Dua pekan lalu, di malam pergantian tahun itu, tak ada ucapan anniversary kedua. Pun esoknya dan hingga detik ini. Banyak yang mewarnai perjalanan ini sejak pertengahan tahun lalu. Lagi-lagi sama meski tak persis serupa dengan masalah yang selalu kita hadapi. Bentangan jarak yang begitu jauh untuk direngkuh.

Saya ingin bercerita tentang jejak yang kulalui di sini saat tak bersamamu.

Suatu sore dua pekan lalu, saya lagi-lagi melewati sebuah jalan dengan bentangan papan reklame di tepi kanan. Dari balik jendela saya membaca iklan rokok itu. Saya lupa kalimat persisnya. Tapi cukup ringkas untuk menyimpulkan seperti apa seorang : Pacar Posesif! Katanya, pertanyaan yang diajukan setiap waktu adalah; Lagi dimana, ngapain, sama siapa?

Tentu saja saya protes [kau boleh menambahnya: apa sih yang tak kuprotes?] sebab yang kupahami, pertanyaan itu hanya datang dari orang yang menyayangi. Maka selalu kuajukan padamu, karena saya sayang kamu.
Lagi dimana, agar kutau kau berada di tempat yang aman
Ngapain, agar kutau kutak perlu mengkhawatirkanmu
Sama siapa, agar kutau siapa orang yang harus kuhubungi untuk tau keadaanmu

Semuanya muncul dari rasa sayang. Dan tak sekalipun dimaksudkan untuk mengekang seperti kerangkeng. Semuanya hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Jika sekali waktu bagimu itu mengekang, kau boleh merenggangkannya. Tak pernah ada gembok di tangan kita, kekasih. Kau merdeka atas waktu dan tempat.

Tak ada yang perlu kau resahkan. Bukankah kita telah melewati 744 keping senja? Onak dan duri selalu ada. Tapi tanpa itu, kita tak akan pernah terlatih untuk meredam sakit dari perihnya goresan di kulit kita, kan sayang?
Tak perlu pula kau resahkan tentang jarak ini. Tak apa sayangku, kita selalu bisa melewati masa- masa itu kan? Kita selalu bisa mengalahkan cibiran jarak itu kan?

Sesekali, saya juga letih sepertimu. Ketika waktu hanya cukup untuk rutinitas dan masa istrahat. Dan kita tak lebih dari sekedar jam pasir untuk satu sama lain. Hanya sebagai penanda, bahwa ada kamu dan ada saya di sela makan siang, bangun pagi dan menjelang tidur malammu. Ketika batas kesabaran makin menipis, ingatlah selalu, bahwa kau merdeka atas waktu dan tempat. Sebab saya masih ingin menjadi sama seperti dulu. Perempuan dengan hati seluas samudera yang selalu menunggu.

Palestina dan Imelda

Matahari terlalu terik untuk membuat langkah saya melambat menuju kantin kantor siang tadi. Ditambah perut melilit karena lapar. Tapi di halaman parkir, pak Satpam melambaikan tangan. Haduh, laper nih, kataku dalam hati. Tapi saya samperin juga akhirnya. Di pos satpam yang sempit dan panas, duduk seorang ibu dengan anak di pangkuannya. Lengan dan betis anak di pangkuannya hanya sebesar dua jemari saya yang didempetkan. Lehernya, hanya terkulai ke kiri, kanan, depan, belakang, seperti tak bertulang.

Seketika tenggorokan saya tercekat. Sedkit menyesal karena nyaris mengabaikan panggilan Pak Satpam tadi. Lalu kutuntun si ibu dan anak di gendongannya memasuki lobi yang adem. Lalu berceritlah si ibu tentang permata hati di pangkuannya.

Dulu, anak itu bernama Imelda. Saat usia 10 bulan ia kena panas tinggi dan kejang2 lalu dilarikan ke rumah sakit. Di sana, ia dipanggil Melinda. Sebulan ia terbaring koma, tak pernah sadar. Tak ada penjelasan tentang sakitnya. Si ibu hanya diberi resep untuk ditebus dengan uang sisa penjualan rumah dan barang2nya. Macam2 obatnya, termasuk obat malaria. Dan semuanya dosis tinggi, bukan untuk anak seusia Imelda. Ketika datang rombongan pejabat dari Jakarta untuk meninjau rumah sakit, Imelda disingkirkan ke kamar tersembunyi di belakang, dekat kamar mayat.

Sebulan berlalu, si dokter memarahi mantri yang merawat Imelda karena merasa tak pernah diberitahu ada kasus. Bahkan seorang teman sekamar Imelda meninggal dalam kasus dan periode yang sama. Tak terima dimarahi, mantri pun marah pada si Ibu. Sang ibu tak mau masalah berkepanjangan, ia pun membawa pulang anaknya. Apalagi tak ada perubahan pada si anak. Ia juga tak bisa membayar uang perawatan lagi.

Saat dibawa pulang, Imelda nyaris seperti patung. Kaku. Setelah tersadar dari koma, lengan dan lututnya tak bisa lagi diluruskan. Lehernya lunglai tak bisa tegak. Ibunya mulai gila melihat kondisi anaknya. Gila dalam arti sebenarnya. Deritanya tak berakhir. Ia ditinggalkan pergi suaminya. Katanya, pemicu perceraian itu karena sakit yang diderita Imelda. Apalagi saat itu mereka tak lagi punya rumah dan barang apapun. Habis dijual untuk ongkos perawatan karena kartu berobat Keluarga Miskin (Gakin) mereka ditolak. Nama Imelda belum terdaftar. 

Tak kuat menghidupi dua anak sendirian, ia pun menikah lagi. Tapi nasibnya tak berubah. Suami barunya “hanya mampu” memberinya (bakal) dua anak baru. Dan Imelda tak kunjung sembuh meski telah berganti nama menjadi Heny seperti saran orang2 di lingkungannya agar tak keberatan nama. Masih kejang2, dan tubuhnya menyusut sekecil bayi 8 bulan di usianya yang ke empat tahun!!! Gizi buruk akhirnya.

Hati saya menangis. Saya mengajak mereka ke kantin, tapi mereka tak bisa makan. Tak terbiasa makan! (apa artinya iniiiiii????) Akhirnya mereka hanya dibekali beras dan lauk pauk yang saya minta dari Bu Kantin serta sedikit sumbangan uang dari beberapa teman kantor. Dua orang teman mengantarnya pulang ke rumahnya untuk melihat dan mendokumentasikan kehidupan si ibu agar esok banyak dari kita, saya, kamu, Anda semua, yang tergerak hatinya untuk membantu mereka setelah membaca beritanya.

Besar harapan saya, nurani orang2 di sekitar kita akan tergerak. Sebab banyak contoh kedermawanan yang saya saksikan belakangan ini. Solidaritas atas nama agama dan kemanusiaan mengalir deras ke Palestina. Dari Kaltim kalau tak salah terkumpul Rp 800 juta atau Rp 500 juta, entahlah, pokoknya banyak. Dari Indonesia, sebanyak 1 juta dollar (wewww…kaya sekali kita ya). Juga ngirim tim dokter ke sana (semoga bukan dokter yang membiarkan kawan2nya Imleda meninggal yang dikirim). 

Lalu tadi, di setiap perempatan, kotak2 sumbangan untuk Palestina masih diedarkan juga. Perempatan yang saya amati berada tepat di dekat lokasi kebakaran beberpa hari lalu yang menyebabkan dua orang meninggal dan keluarga lainnya masih dirawat intensif di RS karena luka bakarnya parah. Mereka tentu saja butuh uluran tangan tetangga (satu kotanya) karena harta mereka ludes terbakar. Dengan hati sungguh miris, saya bertanya apa defenisi kemanusiaan yang kita dan mereka anut saat melihat kenyataan Palestina dan Imelda di depan mata??? 😦

migrasi

dear putri…

saya mengingatmu dalam beberapa hari ini semenjak kita bicara cukup lama waktu itu. ya, pembicaraan yang selalu diawali oleh segudang keraguanmu dan kubalas dengan segudang ke- sok-tahu-an-ku. saat malam datang, kadang saya membayangkanmu di sana, di tengah gelombang. saya ingin mengingatkanmu, laut yang tengah kau arungi bukan laut tenang yang kau bisa terlena di perahumu sambil meneropong ke daratan. karena itu kukirim surat kedua ini buatmu.

jika kau sempat meragukan pertemanan kita karena keputusanmu mengarungi laut yang penuh misteri itu dan mengayuh perahumu dalam kesendirian, lupakanlah. saya bukan orang seperti yang kau takutkan. telah banyak hal yang kulewati. denganmu dan dengan perempuan lain, dengan cerita yang nyaris sama, miris dan menyedihkan. tapi itu bukan alasan untuk tidak mendukungmu, dan mereka. meski kuakui ini cerita terberat yang harus kutampung di benakku.

benar kata lelaki tempatmu bertanya itu, bahwa hanya pemberani sepertimu yang akan berlayar, bermigrasi ke pulau lain. tapi ini pilihanmu, putri. kemudi ada di tanganmu. angin, penduduk pulau tempatmu berasal dan pulau tempatmu menuju, bisa bersama-sama menggoyahkan perahumu. tapi kau akan kuat. saya tak mungkin menemanimu, tapi saya mendoakan jalan perpindahanmu setenang air di danau. kau boleh menemuiku setiap waktu seperti biasa untuk berbincang.

saya mengamini isi blogmu yang lain seperti lelakimu mengakui kau perempuan cerdas, bahwa: Aku tidak lagi berdiri di perempatan, pertigaan, maupun jalur lingkar. Saat ini aku berjalan dalam sisi jalan yang lurus panjang. Aku ingin bersama mu melintasi semua itu. Mau kah kau?

putri, mari kita kembali ke obrolan biasa kita. 

di blog tersembunyimu itu saya juga membaca yang lain. di sana kau mengajariku sesuatu, mengingatkan pada rasaku yang tak pernah kusadari sebelumnya. i love him [ya lelaki itu] ternyata dengan embel2 ‘because’. love him karena dia love him! hehehe, bahasaku ribet ya? tak perlulah kau mengerti bahasaku. cukup saya yang mengerti pelajaran itu. dan suratku kuakhiri saja ya. ragaku telah penat tapi belum kusimak suara-nya di telepon malam ini. met tidur, putri!