Jobless dan Urusan Dana Jamsostek

Status ini akhirnya saya sandang juga, pengangguran. Iya, yang umum
berlaku, status sebagai ibu rumah tangga tanpa pembantu ga masuk hitungan sebagai pekerjaan karena tidak menghasilkan duit. Menghasilkan duit pun masih akan dipandang sebelah mata seperti nasib para pembantu yang gajinya ga sesuai standar UMP. Sehari-hari saya hanya menghasilkan sampah dapur, asap dari kompor, dan lemak di sana sini setelah sibuk memamahbiak menandaaskan makanan sisa2 yang sayang kalo dibuang. Badan pun melar sentosa karena ga (di)sempet(in) olahraga. Hihi, sensi nih, tulisan diawali dengan nyinyir dan curcol sendiri.

Saya resmi nganggur pada 1 September 2015. Surat pengunduran diri saya ajukan pada awal Agustus setelah cuti di luar tanggungan selama dua tahun, mulai 1 September 2013. Selama cuti di luar tanggungan itu, status saya di Tempo sebagai karyawan tidak aktif. Tempo memberi saya kesempatan nyambi sebagai karyawan kontrak untuk ngurusin blog indonesiana.tempo.co. Tapi…akibat kesoksibukan saya, pekerjaan ini kemudian terlantar. Pihak Tempo pun mangambil langkah-langkah menyikapi kelalaian saya dalam menjalankan tanggung jawab. Sebelum 1 september, hubungan kontrak saya pun diputus…huhuhuuuu, perihnya mak😦

Lanjuuuutttt…tetep Alhamdulillah yaaa karena dapet dana pensiun meski ga dapet duit tali asih. Juga ada (sedikit) dana Jamsostek yang bisa dicairkan meski harus melalui proses yang rada2 nyebelin.

Kenapa saya bilang nyebelin? Karena prosesnya udah beda dengan jaman dulu. Tahun 2009 saya juga pernah mencairkan dana Jamsostek dan bisa kelar dalam sehari dengan berbekal surat rekomendasi dari kantor lama. Sekarang syaratnya banyak.

Masih inget kan, negeri ini sempet ribut2 soal dana Jamsostek atau yang sekarang disebut BPJS Ketenagakerjaan. Sebelum Agustus 2015 ada aturan ga boleh dicairkan kalo belum usia pensiun meski sudah ga bekerja lagi. Lalu aturan ini direvisi, boleh dicairkan dengan syarat tidak bekerja lagi. Waktu itu saya baca di berita2, syarat utamanya adalah rekomendasi dari kantor yang menyatakan sudah ga bekerja di sana lagi. Jadi saya ngerasa udah komplit dan siap mencairkan simpenan saya sebulan setelah resign.

Suatu hari di bulan Oktober saya pun menuju kantor Jamsostek di daerah Salemba. Sampe sana, orang bejubel. Saya membaca semua pengumuman yang ditempelkan, dan mulai bingung. Lalu nanya cleaning service, “Mas, ngambil nomer antrean di mana ya?” Dia balik nanya, mau ngurus apa? Mau cairkan dana Jamsostek. Oh, tempatnya di gedung belakang.

Saya pun ke belakang, sambil ngendong Puan nih. Sampe belakang, ketemu Satpam dan dibilangin, “Pengambilan nomer antrian baru dibuka lagi pada 5 Januari.” Astaganagaaa…itu ngambil nomer antrean doang harus nunggu tahun depan? Ma kasih deh. Tapi Pak Satpam lalu ngasih kertas kecil berisi alamat situs bpjsketenagakerjaan.go.id. Katanya ngurus klaim lewat online lebih cepet. Tapi saya disuruh ke kantor depan lagi buat nanya lebih jelas ke bagian informasi. Harus ngambil nomer antrian yang berbeda lagi di sini. Demikianlah, perjalanan jauh dari Depok ke Salemba dengan menggendong Puan menghasilkan secarik kertas kecil tadi.

Di rumah, saya pun segera membuka situs yang dimaksud. Semua berkas difoto lalu diapload ke situs tersebut. Jawaban datang esok hari bahwa saya berkas saya belum lengkap karena berkas ga bisa diunggah. Tapi sudah ada kejelasan bahwa saya harus ke Jamsostek lagi pada tanggal sekian dengan membawa berkas asli.

Ternyata bener, respons via web lebih cepet. Tapiii, ternyata ada syarat baru lagi, dan itu berlaku bagi peserta Jamsostek yang mengundurkan diri sejak 1 Agustus 2015. Syaratnya, surat rekomendasi atau keterangan kerja dari perusahaan harus dilegalkan oleh Dinas Tenaga Kerja. Saya telpon ke kantor dan pihak PSDM baru tahu aturan itu juga. Saya disarankan ke suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Selatan yang membawahi wilayah kantor Tempo. “Di sana paling surat rekomendasinya dikasih cap aja kok,” kata mbak PSDM.

Saya pun browsing lebih banyak lagi dibanding sebelum ke Jamsostek untuk tau pengalaman orang lain. Tapi rupanya blom ada yang update syarat terbaru itu. Saya nelpon ke Disnaker DKI Jakarta, dioper ke Sudin Naker Jaksel, dan jawaban yang didapat…yagitudeh. Saya dibikin bingung antara harus ke kantor wali kota Jakarta Selatan atau Jakarta Barat. Katanya, mending dateng ke sini dulu, kalo ga baru ke Jakarta Barat. Ya Allah, bapak itu ya, ga mikir perjalanan Depok-Jakarta Selatan-Jakarta Barat.

Tapi yasudahlah, semoga cuma sehari ini, sekalian bawa Puan jalan2 ke Jakarta. Ternyata eh ternyata, sampe di Sudin Naker Jaksel, riweuh lagi. Ada beberapa syarat untuk melegalisir surat keterangan kerja. Ada KTP, fotocopy surat keterangannya 4 rangkap, dll, dan yang nyebelin adalah membuat surat permohonan legalisir dengan ditulis tangan. Petugasnya bilang cukup 1, tapi syarat yang ditempel di dinding katanya 2 rangkap. Ckckck, hari gini, buang-buang kertas.

Setelah berkas lengkap, masuklah ke ruangan petugas yang nerima dan akan memverifikasi berkas. Proses ini ga serta merta kelar lho ya, karena lebih banyak waktu nungguin petugasnya inilah itulah. Dan ternyata lagiii…urusan ini ga bisa kelar hari ini juga. Mesti nunggu lusa. Haduh, ke Jakarta lagiiii? So, sehari khusus hanya masukin berkas buat dapet stempel doang, lalu nunggu sehari, lalu esoknya datang buat ngambil berkas yang sudah distempel. Tentu saja plus nungguin petugas ber-apalah-apalah dulu, tanpa sistem antrean–sehingga mereka marah2 sendiri ngeliat orang bejubel nungguin petugasnya.

Yakinlah, setelah kelar urusan di kantor pemerintah, leganya luar biasa, meski duit yang tak seberapa itu belum di tangan. Sebab, urusan di kantor Jamsostek sendiri lumayan cepet pet, khususnya yang ngeklaim lewat jalur online ya. Saya ga sampe 15 menit di kantor Jamsostek Depok dan urusan pun selesai. Tinggal nunggu duitnya cair sekitar 10 hari kerja yang ditransfer ke rekening. Nah, salah satu kelebihan ngeklaim lewat web adalah, kita bisa milih di kantor Jamsostek mana pun yang kita pengen.
Dengan cairnya duit ini, resmi pulalah saya sebagai pengangguran total *urut dada*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s