Kado Pernikahan

Saya nyaris lupa. 18 April kemaren, sahabat saya menikah. Jauh sebelumnya, mereka berdua, pasangan yang dulu bersahabat dan kini menjadi suami istri itu meminta kado dari saya. Kado pernikahan berupa puisi. Bukan hal mudah karena saya bukan pembuat puisi. Tapi akhirnya tercipta juga sebuah tulisan buat mereka. Untaian kata yang diselipkan dalam undangan pernikahan mereka. Semoga langgeng ya 🙂

Kado Pernikahan

Sahabat, semesta ini cermin pernikahan abadi…

Kau lihat mentari yang terus bersinar itu
Ia pemurah
Berbagi cahaya yang membebaskan dari gelap, tanpa pernah berhitung

Kau lihat samudera maha luas itu
Ia pemaaf
Menerima segala limpahan yang penuh cemar maupun yang bening

Kau lihat bumi yang kita pijak itu
Ia penyabar
Menerima maki, cerca, dan pijak segala mahluk dalam diam

Kau rasakan angin yang tak henti bertiup itu
Ia memberi arah
Mengajarkan untuk mengikuti sang imam agar tak tersesat

Kau lihat air yang terus mengalir itu
Ia setia,
Seperti cinta kasih dan kesetiaan Bilqis pada Sulaiman

demi gengsi

Saya capek. Sudah lama saya rasakan ini. Sudah lama juga saya ingin menyerah. Saya ingin pulang, melupakan semuanya.

Saya akhirnya menyadari, saya menjalani ini semua hanya karena gengsi. Biar ga nganggur. Biar gaul. Biar ga dipandang sebelah mata oleh orang2 yang ngerasa hebat karena punya kantor.

Bertahan demi gengsi itu melelahkan sekali.

Tapi ketika akan menyerah dan ‘pulang’ ada saja yang berkata, “Ah, ini bukan kamu yang saya kenal, yang punya daya juang tinggi dan tak pernah menyerah.”

Mereka yang mengatakan itu, apakah benar2 mengenal saya?

Apakah mereka tahu tentang impianku yang “hanya” ingin total menjadi penulis? Penulis cerita anak!

Yang saya butuhkan saat ini, ada orang yang memaksaku pulang agar saya punya alasan dan punya seseorang untuk disalahkan.

Demi gengsi!

*akhirnyadiupdatejugabloginisetelahsebulanberlalu*