PB 09 Menuju Malang

Blogshops (blogging workshops) memang menjadikan Pesta Blogger tahun ini berbeda. Tahun 2007, Pesta Blogger hanya bergerak di Jakarta. Tahun 2008, Pesta Blogger mulai merambah Bali dan Jogjakarta, bersama 5 orang blogger dari mancanegara. Tahun ini, (alhamdulillah) Pesta Blogger sedikit-sedikit bisa menjelajah lebih jauh lagi, ke 10 kota di Indonesia, termasuk Malang, Semarang, Bandung, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Surabaya, Medan, Yogyakarta, dan Palembang.

Blogshops diadakan untuk mendorong lebih banyak masyarakat Indonesia terlibat dalam aktivitas blogging–dan lebih jauh lagi, untuk melakukannya secara bertanggung jawab, konstruktif, kritis, dan dengan kesadaran sosial yang tinggi.

Seusai blogshops, akan digelar Pesta Blogger ‘mini’ bersama komunitas blogger lokal. Jenis acara dan tempat penyelenggaraannya akan diusulkan oleh komunitas blogger di daerah tersebut.

Perhentian pertama dalam rangkaian Blogshops Pesta Blogger 2009 adalah: Malang, bersama blogger Ngalam. Blogshop di Malang diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Selasa/28 Juli 2009

Tempat: UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MALANG
American Corner, UPT Perpustakaan UMM
Jl. Raya Tlogomas Km. 8 No. 246
Malang 65144

Setelah blogshop dengan sesi tutorial blogging dari dagdigdug.com dan pendampingan dari Komunitas Blogger Ngalam (terbatas hanya untuk 40 orang peserta yang belum familiar akan kegiatan blogging), akan ada sesi diskusi lagi. Tentu saja diselingi dengan makan siang. Sesi diskusi, akan diisi oleh Iman Brotoseno (Chairman Pesta Blogger 2009), dan Komunitas Blogger Ngalam. Nah, pas acara ini, terbuka untuk blogger dan mereka yang berminat.

Oh iya, ini penting! Acaranya gratis!

Registrasi dapat dilakukan dengan menghubungi Sandy Suryadinata dari blogger Ngalam, yang akan melakukan koordinasi dengan peserta dari Malang.

Nah, jadwal kota-kota lain yang akan dikunjungi berikutnya, adalah:

Malang, 28 Juli
• Semarang, 4 Agustus
• Bandung, 12 Agustus
• Balikpapan, 20 Agustus*
• Samarinda, 21 Agustus*
• Makassar, 27 Agustus
• Surabaya, TBA
• Medan, TBA
• Yogyakarta, 7 Oktober
• Palembang, TBA

*) tentatif

Bersiap-siap yaaa…sampai jumpa di kotamu!

Postingan dan info lebih lengkap dapat dilihat di sini

pasangan

Saya terinspirasi menulis ini ketika duduk bengong di salah satu sudut Pondok Indah Mall. Libur hari kedua bikin bete ga tau harus ngapain. Di tengah kesendirian (hayahhh) itu, saya melakoni kebiasaan, mengamati orang-orang yang lalu lalang di depan saya.

Kesan saya? Hmm…cantik-cantik, wangi-wangi. Beda banget sama saya yang ke mall tanpa dandan, bercelana pendek, kaos oblong (yang dulunya warna) putih, seperti baru bangun tidur dengan rambut ga tersisir. Pokoknya, bakal dilirik sama Nicolas Saputra itu cuma mimpi, hahaha…

Sementara mereka yang ke mall bersama pasangannya terlihat begitu bahagia, gandengan tangan, rangkulan di pundak, bahkan sempet nyolong beberapa kecupan di tengah keramaian. Ah, indahnya dunia ya. Begitu pula yang datang dalam rombongan keluarga dengan anak kecil di gendongan atau di kereta dorong. Sangat bahagia (kelihatannya).

Saya sampe berpikir, Jangan-jangan memang ada larangan ke mall bagi yang sedang tidak berbahagia? Ouh, kesian sekali.

Tapi ternyata, sekian jam nongkrong ga jelas gitu, setidaknya ada dua pasangan yang melintas yang menginterupsi pikiran bahagia tadi. Dua pasangan muda belia dimabuk cinta ini sama-sama mengenakan pakaian yang warna dan modelnya persis sama dengan pasangannya.

Pasangan pertama ‘tidak bahagia’ yang saya saksikan mengenakan kaos putih bertuliskan SOUL untuk laki dan MATE untuk perempuan, plus gambar hati di baju keduanya. Sebenernya ga ada yang salah dengan kaos berpasangan itu. Saya udah sering ngeliat sebelumnya dan emang keliatannya lagi tren. Yang bermasalah itu sepertinya cowoknya. Wajahnya sungguh terlihat tidak nyaman dengan tas perempuan penuh manik-manik di pundaknya. Errr…bisa jadi juga rasa ga nyamannya itu bersumber dari wajah tak nyaman saya ketika tak sengaja melihatnya (ga sengaja? Padahal ngeliatin dari ujung kepala ke ujung kaki dibilang ga sengaja? Haha, abis, ajaib bener). Cowok itu cakep bener, tapi mendadak aneh di mata saya dengan penampilan ajaibnya. Sementara ceweknya menggenggam dompet panjang warna coklat di tangan kanan dan tangan kiri merangkul lengan cowoknya. Dugaan saya, dia membantu membawa tas ceweknya. Baik ya? Tapi kenapa mukanya jadi berubah ga bahagia gitu? Kesian, hihihi… Kalo ga suka, kenapa harus maksain diri bawa tas manik2? Sementara dompet ceweknya muat disimpen di tas manik2 itu.

Lalu pasangan kedua, mengenakan baju kembar juga. Lakinya memakai daleman kaos berkerah lengan pendek warna pink dan luaran kaos kuning, cerah. Ceweknya mengenakan daleman kaos lengan panjang pink dan kaos luarnya kembar ma cowoknya, kuning dan sama-sama bergambar kartun. Apa yang salah? Ga ada, karena warna seharusnya memang milik umum, tak bersekat. Kalo minjem istilah anak abg, mereka akan terlihat: “so sweet” atau “iiih, lucu”. Tapi…tapi…kenapa bahasa tubuh si cowok sungguh tersiksa keliatannya? Kikuk bukan main. Kontras dengan ceweknya yang ceria dan berusaha memancing tawa cowoknya dengan obrolan dan gelendotan manjanya di lengan si cowok. Ini hanya dugaan saya sebagai yang melihat. Cowoknya mungkin malu dengan baju yang dikenakannya. Bahasa tubuhnya menyiratkan, dia seolah ingin tak terlihat saja di permukaan bumi. Wajahnya bener2 ga nyaman, tertindas. Ah, padahal cakep juga lho…

Upsss…sorry, saya ga sedang membuat posting cela-celaan. Karena ketika mencela orang lain bukankah empat jari saya yang lain akan berbalik mencela? Saya hanya dibuat berpikir oleh dua pemandangan ‘tidakbahagia’ tadi. Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan saya sering membuat kekasih saya ga nyaman dan bahkan merasa tertindas saat ia berada di samping saya? Kalo ini benar, duh, maafkan saya, sayangku.
Anda, warga Ngerumpi, pernahkah memikirkan hal yang sama seperti ini? Ayolah berbagi, agar saya tahu tindakan mana yang pantas dan tak pantas.
Terima kasih.

*tulisan ini juga saya posting di ngerumpi.com*

Bertahan

Beberapa hari lalu saat membaca berita tentang pelepasan KKN mahasiswa Universitas Indonesia ke pulau Miangas di ujung utara Indonesia, saya tersenyum senang sekaligus iri.

Rasanya ingin menjadi mahasiswa lagi dan menjadi bagian dari mereka yang dikirim ke pulau terluar itu. Saya senang UI masih memikirkan orang-orang yang nyaris tak terjangkau ‘peradaban Indonesia’ itu. Saya senang bahwa masih ada mahasiswa yang memilih lokasi KKN yang begitu jauh dan tidak mengambil program lain di dalam kota, magang di perusahaan-perusahaan bonafid, digaji pula.

Pagi ini saya teringat beberapa tahun lalu ketika akan meninggalkan Makassar menuju Kalimantan. Beberapa kawan mempertanyakan keseriusan saya. Banyak kalimat yang meragukan keputusan saya. Apakah sebagai perempuan saya akan sanggup bertahan di sana sendirian? Atau pertanyaan lain: apakah saya nggak akan stress hidup di daerah seperti Kalimantan setelah terbiasa dengan aktivitas di kota yang begitu dinamis?

Zighh…bawa-bawa soal keperempuanan pula! Padahal dua atau tiga kawan dekat saya yang lain telah membuka jalan itu. Bahkan mereka berada di daerah yang lebih terkebelakang lagi, tak berbekal surat lamaran, tapi memulai segalanya dari titik nol. Ya, mereka perempuan-perempuan yang terlihat lemah tapi ternyata begitu perkasa. You, rock girls!

Untuk pertanyaan kedua, ketika itu, salah satu dari mereka saya jawab: kalo semua orang memilih ke kota, lalu siapa yang akan ke kampung? Wew, saya terharu sendiri ketika itu mendengar ucapan saya.

Kini, 6,5 tahub kemudian, rupanya saya juga udah ikut arus urban, ramai-ramai ke kota.
Hei, apa yang kau cari nona? Lalu siapa yang ke kampung jika nona kini ke kota?

*salut untuk kawan yang terus bertahan di titik utara Kaltim sana*

online

Saya mau posting singkat saja. Saya cuma mau bilang, akhirnya saya bisa online dari kost atau dari mana aja sekarang seperti halnya dulu pas masih di kota lama.
Tapi…bisa online setiap saat, bukan berarti posting di blog ini makin rajin, lho…hahaha.

apa yang paling…

Jika ditanya, apa yang paling saya inginkan saat ini, jawaban saya tetap sama dengan pekan lalu: ingin bersama orang-orang yang disayangi.

Apalagi saat sedang sakit seperti sekarang. Keinginan itu mungkin didasari ketakutan, ‘tar kalo kenapa-napa, ga ada yang liat’…duh serem deh.

Sayangnya, tetep ga ada yang nemenin.

Sama persis saat sakit kira-kira dua minggu sebelumnya. Saat nelponin kakak dan adik untuk nemenin walopun hanya lewat telpon, mereka ga bisa. Dua-duanya lagi di perjalanan dan ribet untuk terima telpon. Dasar saya-nya sensi, saya ngerasa ditolak. Saya ngerasa mereka ga bersedia menemani saya yang sedang sakit, nangislah saya. Yeee…cengeng!

Kalo kamu, apa yang paling kamu inginkan saat ini?