Lima Minggu

Lima bulan sudah kami menikah. Selama masa itu, setiap bulan haid saya, alhamdulillah, lumayan teratur dibanding masa2 sebelum nikah. Kisarannya di tanggal 17-18, paling lambat 19 (hanya terjadi bulan Desember lalu). Beberapa kali, saya merutuki, eh bukan, itu terlalu kasar. Me-apa ya, menagih kali ya, omongan dokter2 yang pernah nanganin saya dulu. Para dokter ahli kandungan dulu bilang, jika saya menikah, saya ga akan lagi menderita kesakitan karena nyeri haid tiap bulan akibat myom dan endometriosis. Tapi nyatanya, sakitnya menjadi2. Bahkan Januari lalu saya sampe pingsan lagi karena nyeri.

So, hampir setiap menjelang tanggal 17, saya was2, akankah bulan ini nyeri lagi? Senyeri apa? Brarti ga ngantor lagi? Yah, walopun cuti haid sebenernya hak normatif pekerja perempuan, saya kadang ga enak sama temen2 kantor karena mungkin hanya saya yang semenderita ini saat haid dan ga bisa bangun dari tempat tidur di hari pertama, sehingga harus libur kerja 😦

Selain soal absen ngantor, sebagai perempuan (kecuali mereka yang telah berkomitmen ga akan punya anak), saya merasa dikejar2 “kewajiban” untuk punya anak segera. Alasan pertama, soal usia dan kesehatan reproduksi. Alasan kedua, ehm, karena ‘dorongan’ orang2 di sekeliling kami. Jadilah setiap haid datang, dengan wajah dan perasaan yang sulit digambarkan, saya ngomong ke mas: “yah, mas, saya haid”.

Setiap kali saya ngomong begitu, setiap kali itu pula mas selalu menanggapinya dengan senyum, lalu membesarkan hati saya. Bahkan berkali2 mas mengingatkan saya pada janjinya untuk ga menuntut saya harus punya anak yang lahir dari rahim saya sendiri. Sejak dari zaman pacaran, ketika dia tahu ada sesuatu di kandungan saya yang mungkin akan menyulitkan saya mengandung, dia selalu bilang: “kita bisa adopsi.” Saya belum pernah menyetujui usul adopsi itu karena memikirkan banyak hal. Lagipula saya berpikir, banyak anak2 yang butuh, dan bisa kita beri perhatian tanpa harus mengadopsinya. Dan, hei, bukankah kita sudah punya banyak anak? Itu loh, tanaman2 kita di depan rumah yang setiap disiram selalu disapa dengan panggilan “nak” :p :))

Sejak Maret lalu, saya pun mulai menjalani hari dengan santai. Mungkin itu obat mujarab bagi penyakit ini. Bulan lalu, haid saya datang tepat waktu, tanpa disertai nyeri. Keluarnya lancar, ngocor gitu aja, dan berlangsung singkat. Kalo biasanya baru bersih pada hari ke-8 sampe hari ke-10, bulan Maret lalu cuma 4 hari. Alhamdulillah. Lalu, diam2 saya memupuk harapan bahwa saya akan sembuh dan segera bisa hamil. Tapi harapan itu tak terlalu saya pikirkan. Saya tetap asik berkebun, bersepeda, atau jalan2 ke pasar kaget pada Minggu pagi.

Ketika haid saya mulai telat bulan April ini, mau ga mau, jadi kepikiran. Tapi ga terlalu membebani. Saya udah keasikan berkebun dan bersepeda sampe capek banget. Tapi kok haidnya ga kunjung datang? Saya mulai browsing sana sini soal ‘tanda2 awal kehamilan’
Hmmm…beberapa tanda terlihat cocok dengan yang saya alami. Tapi saya ga mau GR. Saya takut GR seperti bulan kedua pernikahan kami yang dengan konyolnya ngetes kehamilan saat jadwal haidnya emang blom tiba :))

Tapi lama2 kok ya tanda2nya makin mirip. Pertama: telat haid 4 hari dari tanggal 17. Kedua: nyeri2 pada perut bagian bawah, panggul, dan payudara. Ketiga: mual2 dan ngantuk pagi2. Empat: laper melulu. Dll. Cuma, sinyal “jangan GR” muncul lagi. Ngeliat tanda2 itu ga ada bedanya dengan masa2 menjelang haid. Antara menekan rasa GR dan ingin memetik harapan yang udah dipupuk itu, saya akhirnya beli alat tes kehamilan. Langsung beli 3! Maksudnya kalo tes hari ke-5 negatif, ya coba lagi di hati ke-7, dan seterusnya.

Selasa, 22 April, saat bangun pagi, saya pun ngetes urine. Celup alatnya, angkat! Hanya hitungan detik, udah tercetak dua garis yang berarti postitif! Kami berdua cuma liat2an, ga tau mau ngomong apa. Tapi, aaaahhh, saya ga mau GR!!! Harus ada diagnosa dokter, karena alat ini bisa aja ga berfungsi. Tapi untuk periksa ke dokter, saya harus bersabar hingga lusa, saat libur.

Kamis tiba. Jadwal periksa jam 18.30. Debar jantung ini rasanya begitu sulit ditenangkan. Periksa2, woh, ada titik kecil di dalam sana, usianya 5 minggu. What? Jadi, ketika saya aktif2nya bersepeda, saya tuh sedang hamil? Oalah…maaf ya nak, dibawa capek2 terus. Nah, lho, jadi kepikiran ntar gimana nih kalo harus kejar2an kereta dan berdesakan dengan para komuter yang kadang egoisnya di luar batas kewajaran.
Ah, tapi dia yang di dalam sana adalah anak yang tangguh ya. Pasti kuat. Amin πŸ™‚

lima bulan

Pagi tadi, saya uring2an menemukan kamar mandi dan toilet yang demikian jorok. Saya akhirnya kehilangan mood buat mandi, eek, makan, dan yang ada makin mual2. Saya pun ngomel panjang lebar ke suami karena isi perut rasanya udah mau gw muntahin semua dan ga pengen masuk kamar mandi lagi. Tapi keadaan memaksa. Saya harus tetep mandi karena mau ngantor. Dengan mengumpulkan semua ingatan tentang hal menyenangkan untuk membunuh rasa jijik, saya akhirnya masuk kamar mandi dan menyiram serta membersihkan semuanya. Di bbm, suami minta maap atas kealpaannya. Sebelumnya, kami pernah berbagi tugas bersih2 dan dia mendapat area kamar mandi. Ga sekaku itu sebenarnya, siapapun dari kami bisa membersihkan bagian manapun. Tapi saya paling jijik pada sampah berupa rambut, apalagi di kamar mandi. Walopun sebenernya itu rambut saya juga :d Jadi, urusan kamar mandi emang dia yang bersihin, walopun saya juga sering terutama buat bersihin dindingnya, bagian penutup kloset, dan hal2 yang tak ‘terlihat’ oleh dia.

Di perjalanan menuju kantor, sesungguhnya saya sedikit menyesal karena udah ngomel dan bahkan sampe ngomong, “rasanya pengen punya toilet sendiri.” 😦
Iya, saya memang kesel banget dengan kejorokan tadi pagi itu. Tapi saya merasa agak bersalah karena bagaimana pun, itu rumah kami berdua, rumah yang kami (tepatnya: dia) upayakan ada, untuk tempat kami berteduh. Sehingga, kami tak harus ngontrak atau tinggal di rumah orangtua setelah menikah.

Awal menikah dan tinggal di rumah itu, suami beberapa kali bilang, “maaf ya, cuma bisa ngasih rumah kecil gini.” Bagi saya, omongan itu terlihat seperti tanpa rasa syukur. Karena, buat saya rumah ini lebih dari cukup. Rumah dengan dua kamar, dengan kelebihan tanah di depan, belakang (yang ngepas untuk tambahan dapur), dan samping, sangat sangat layak untuk ditempati oleh dua orang. Jadi, permintaan maaf itu tidak layak diucapkan karena saya akan terlihat kurang berterima kasih 😦

Rasa syukur memiliki rumah ini kian bertambah tebal setelah kami mengunjungi beberapa perumahan di sekitar kawasan ini. Awal melihat2 rumah di kompleks tetangga, komentar kita berdua, “wah, ini lebih bagus ya modelnya” atau “pengembangnya pinter nih, selokannya gede” atau “nah, gini harusnya carport, ga dibeton semua, tengahnya buat rumput” atau “pengamanan di sini keknya bagus ya” dll. Selalu saja rumput tetangga terlihat lebih hijau di mata kami. Lama kelamaan, setelah dapet cerita2 dari para pemilik rumah di kompleks2 tersebut, termasuk ketika kami bertukar cerita dengan pasangan mas epat-mba dewi (pasangan blogger seangkatan yang ternyata tetanggaan kompleks) mengertilah kami bahwa kompleks sebelah tak selalu lebih baik dan lebih indah seperti yang terlihat.

Rumah kami, ya istana kami. Demikianlah, kami pun membangun dan mengisinya sikit sikit. Dari menambah tembok belakang buat dapur, beli lemari, kasur, tempat tidur, kompor, stop, itu dulu. Bulan berikutnya, dapet hadiah kulkas, mesin cuci, dan dispenser (yang ga akan dicolokin kabelnya). Dua bulan berikutnya, masang pintu teralis buat lahan samping. Tiga bulan kemudian, barulah kami mulai berani beli meja/kursi tamu setelah nabung lagi :p

TV? Oh, enggak, mending beli segala macem tanaman dan pernak perniknya dulu buat ‘dijejalkan’ di halaman kami yang tak seberapa luas. Ada 20-an tanaman cabe yang ‘terlanjur’ tumbuh subur dan sayang buat dimusnahkan, pandan, sirsak, jeruk nipis, mangga, daun bawang (udah dua kali nanem dan panen selembar dua lembar), dan beberapa bunga2an. Kalo sesekali iseng pengen nonton tv, mertua minjemin kami tv kecil yang sebenernya buat di mobil. Saya selalu bilang, “Rajin2 aja disiram tiap hari biar tv-nya cepet gede” :p atau, “kalo blum mampu punya mobil, setidaknya kami udah punya tv mobil” :)) eh, tapi kami udah punya sepeda masing2 lho :d *pamer, bangga ga jelas*

Ceritanya udah melebar gini yak!? Hihi…
Oh iya, barusan saya ngirim bbm ke suami: selamat 5 bulan pernikahan kita yaaa :*