Taksi-Sesat-1

Sebenernya udah lama pengen nulis soal pengalaman naik taksi di Jakarta ini, tapi gengsi. Ga mau ketahuan oon-nya. Tapi setelah saya beberapa kali melihat postingan soal ke-bego-an yang sama dengan yang saya alami, rasanya memang perlu berbagi pengalaman.

Dulu, sebelum tinggal di Jakarta dan hanya datang sesekali, kemana pun saya selalu naik taksi. Jauh-dekat pokoknya naik taksi, karena saya serem naik bus. Dibilang nggaya? Biarin. Anak daerah kok, banyak duit kalo pas jalan2 ke Jakarta, hihihi.

Yang saya pahami, naik taksi pasti aman. Sopir taksi pasti tau segala tempat yang dituju. Dan lagi, enak, adem, ga kena polusi. Saya juga diberitau beberapa temen, naik taksi burung biru saja, pasti aman. Kalo mau yang lebih murah dan lumayan terpercaya, naik taksi merk si cepat aja. Atau naik taksi biru anaknya si burung biru. Hemat dan aman katanya.

Tapi pengalaman berkata lain. Pertama, waktu itu berdua sama temen sesama anak daerah yang buta Jakarta. Dari Sarinah, kami mau pulang ke kost di Kebayoran Lama. Maksudnya biar hemat dikit, kami naik busway dulu dari Sarinah trus turun di Gelora Bung Karno. Dari sana, biar aman (pikir kami), ngambil taksinya dari loby hotel Century.

Naik burung biru, kami menuju Kebayoran Lama. Saat itu di taksi kami diem aja dengan muka lugu karena kedinginan abis ujan2an dan kena AC, plus panik belum ngerjain PR, plus resah karena berantem ma pacar. Tapi kalopun kami dalam kondisi normal, kayaknya sih tetap tersesat karena perjalanan malam hari dan buta medan.

Di perempatan RS Medika, sopir nanya, Kebayoran Lama arah mana, kiri atau kanan? Kami bingung jawabnya. Sopir juga bingung. Akhirnya kami diturunkan dengan tidak hormat di perempatan itu. Dan kami nyambung naik angkot, tetep dengan uji coba ala si peta buta. Kami ke arah kanan dan ternyata salah karena itu malah menjauhkan kami dari arah kost yang seharusnya ke arah Palmerah. Mau hemat katanya. Taunya makin boros.

Bodohnya, kejadian yang sama terulang lagi dua hari kemudian. Dari Sarinah kami coba naik bus arah Slipi jadi bisa nyambung angkot di perempatan Palmerah. Ceritanya, biar lebih hemat lagi. Tapi ternyata kami tak tau perempatan Slipi-Palmerah itu dimana. Buta sama sekali. Malem pula. Akhirnya turun di sembarang tempat dalam kondisi kalut (saya masih resah karena didiemin).

Perjalanan disambung dengan naik taksi si cepat, biar aman, pikir kami. Nyatanya muternya juga jauuuh, lewat rel, Permata Hijau, muter balik ke arah Palmerah lagi. Hemat dari Hongkong kalo gini, mah.

Bersambung…. (Udah berasa sinetron dah)

ngompol

Terbangun jam 01.30 dini hari tadi dalam keadaan basah karena ngompol (?) tanpa dipicu oleh penuhnya kantung kemih atau mimpi serem, membuat saya berpikir macem-macem.

Saya teringat beberapa tetua di keluarga besar saya yang saat menjelang ajal mengalami hal seperti ini. Saya tiba-tiba sedih memikirkan begitu banyak hal yang belum saya lakukan. Itulah mengapa saya begitu takut pada kematian.

Kepindahan saya ke Jakarta sebenernya antara lain ingin mencoba peluang untuk sekolah lagi. Tapi sesampainya di sini, sepertinya cukup sulit mewujudkan itu sambil tetap bekerja. Lalu saya berpikir hal lain yang juga jadi cita-cita saya sejak dulu. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bisa memberangkatkan ortu saya ke tanah suci. Dua-duanya penting buat saya tapi kelihatannya susah untuk fokus pada dua hal sekaligus. Dan banyak lagi hal lain yang belum saya lakukan.

Itulah mengapa saya begitu sedih dengan pikiran tentang ngompol tadi. Akhirnya susah untuk tidur lagi padahal waktu imsak masih lama dan saya biasa sahur jam 03.30. Untuk tak terlalu memikirkannya, saya bangun untuk bersih-bersih kamar kost. Benahin barang2, nyapu, ngepel, bersihin kamar mandi, ganti seprei, dll. Berharap badan letih dan akhirnya tertidur, ternyata sia-sia. Mata saya tak kunjung terpejam. Aaarrgghhh…

Puasa

Ada rasa yang sama setiap bulan ini datang. Jatuh cinta. Tapi entah pada apa. Rasanya seperti ketika pertama kali suka seseorang atau saat pertama kali jadian. Ada debar-debar aneh. Ada rasa kangen yang teramat dalam.

Bukaaaan, ini bukan soal religi! Saya sendiri tak tahu. Karena selain debar-debar anehnya, juga ada kesedihan yang dalam. Atau mungkin haru? Entahlah, yang jelas rasanya pengen nangis.

Ini terus menerus dan selalu terjadi, di awal dan akhir Ramadhan. Apa ya, namanya? Perasaan itu makin bertambah saat mendengar lagu tertentu. Hhhhh…religius? Saya (kayaknya) belum pernah sampai pada tahap itu. Jauhlah.

Ah, mungkin ini cuma kecengengan dalam bentuk lain. Mungkin kali ini karena pengaruh obrolan semalam dengannya. Obrolan yang nyaris membuatku meledak. Tapi sekarang saya lebih pasrah. Kalau jodoh, takkan kemana-mana kan? Saya udah bisa tersenyum kok 🙂

Love u, and U!

Blogger Gila Ngumpul di Balikpapan

Cihuy, blogshops Balikpapan sukses! Walopun cuma diikuti 30 peserta, tapi mereka fokussss banget. Saking fokusnya, sebagian tetep bertahan saat “diusir2″ buat makan siang, untuk menyelesaikan tugas dari Fany (trainer dari dagdigdug yang gagal jadi model ini sempat tampil di koran Tribun Kaltim dua hari berturut-turut lho…hihihi) yang membimbing mereka membuat blog.

sehabis blogshopsehabis blogshop

Semangatnya tinggi. Padahal boleh dibilang, usia rata-rata peserta ini bukan anak muda lagi, melainkan bapak-bapak dan ibu guru. Simak komentar Ibu Rachel, peserta paling ’senior’ karena usianya sudah 56 tahun, tentang acara ini. “Saya termotivasi ikut blogshop karena murid-murid saya banyak yang punya blog. Jangan sampai saya justru nggak bisa ngeblog dan ga bisa jawab kalau ditanya murid,” kata guru Bahasa Inggris di SMK 2 Balikpapan ini. Mereka datang berombongan sesama guru dengan mengenakan batik bercorak Kaltim.

Meski kebanyakan peserta adalah guru, tapi ada pula peserta yang masih belia. Usianya 14 tahun, kelas 2 SMP. Namanya Trisna Manunggal Puspaningrum. Sepanjang pelaksanaan blogshops Pesta Blogger 2009 ini, kemungkinan dia adalah peserta termuda. Dia mulai mengenal komputer saat duduk di bangku kelas 2 SD dan menjadi juara favorit lomba komputer se-Kota Balikpapan. Tapi ia belum bisa membuat blog, makanya ia mengikuti blogshops keempat dalam rangkaian roadshow pesta blogger 2009 ke 10 kota di Indonesia ini.

“Sekarang sih, setelah ikut blogshop jadi lebih ngerti dan kayaknya kalau ada yang nanya-nanya, sudah bisa ngajarin. Saya juga ngeblog karena ingin punya lebih banyak teman berbagi,” kata Trisna.

Dalam sesi sharing, selain chairman Iman Brotoseno, tampil pula penggiat Balikpapan Blogger, Alfa Malik dan Bambang Herlandi. Iman menjelaskan mengenai kode etik di dunia maya. “Misalnya saat mengutip omongan atau gambar orang lain, harus disebutkan sumbernya. Selain itu, tulisan yang dibuat, jangan menyinggung soal SARA. Kalau hal-hal itu tidak dilanggar, pasti aman.”

Pemaparan yang cukup menyita perhatian peserta adalah ketika Bambang Herlandi menjelaskan pengalamannya memanfaatkan blog untuk proses belajar-mengajar. “Saya menggunakan blog untuk e-learning. Nggak repot harus foto copy bahan pelajaran, siswa tinggal buka blog saya,” katanya. Demikian pula saat harus meninggalkan sekolah untuk suatu keperluan, ia pun bisa ‘mengajar jarak jauh’ dengan akses internet. “Bahkan hasil ujian siswa pun saya umumkan di blog jadi saya tidak ikut nempel-nempel kertas seperti guru lain,” imbuhnya. Bambang mengajak guru-guru yang menjadi peserta blogshops ini untuk terus ngeblog, “Karena manfaatnya sangat bagus dan efisien serta efektif sebagai media pengajaran”.

Blogshops ini berlangsung di laboratorium komputer milik STIKOM Balikpapan. Ketua STIKOM Balikpapan, Satria, sangat mendukung kegiatan ini dengan meminjamkan laboratorium kampus untuk blogshops serta halaman kampus untuk Pesta Blogger mini pada malam harinya. Selain didukung Stikom Balikpapan, acara ini juga didukung oleh Harian Tribun Kaltim, Indosat, Radio IDC, Balikpapan ICT Community, Elex Media Komputindo. Dan tentu saja dukungan penuh datang dari Panitia Pesta Blogger 2009 sebagai penyelenggara serta Depkominfo, US Embassy, dan Microsoft sebagai sponsor.

Acara Gathering atau Pesta blogger mini di Balikpapan, tak kalah seru dengan daerah lain. Sebuah panggung sengaja didirikan di halaman kampus. Rencananya, jika peserta membludak, jalanan depan kampus segera ditutup. Dua polisi lalu lintas mengatur arus lalu lintas saat acara berlangsung. Acara diisi dengan penampilan beberapa ‘penyanyi lokal’ dan dua MC dadakan yang cukup mengundang tawa dengan logat dan bahasa gaul khas Balikpapan. Setelahnya acara diisi dengan talkshow dengan tiga pembicara yang sama seperti siang harinya yakni Iman Brotoseno, Alfa Malik, dan Bambang Herlandi. Talkshow diselingi kuis dengan hadiah-hadiah menarik dari sponsor lokal.

Tapi sesi paling seru sekaligus mengharukan dan membuat Pesta Blogger mini di Balikpapan berbeda dengan kota lainnya adalah dengan hadirnya tiga ‘blogger gila’!!! Mereka adalah Dillah, Wawan, Fortynine (lupa nama aslinya) dari komunitas blogger Kalimantan Selatan. Bahkan Tristram Perry, Atase Pers Kedutaan Amerika yang hadir di Balikpapan berkali-kali menyebut mereka “crazy”.

Mengapa?

Bayangkan ini! Siapa yang rela menempuh perjalanan darat selama 12 jam dengan naik motor ‘hanya’ untuk bertemu sesama bloggger di daerah lain? Siapa yang begitu berani menembus jalan trans Kalimantan, hanya bertiga, melewati hutan, hanya untuk menghadiri pesta blogger nun jauh di timur Kalimantan? Siapa yang mau tak tidur selama berjam-jam, terguncang-guncang di atas motor melewati jalanan rusak hanya untuk hadir sekejap dengan orang-orang yang tak pernah benar-benar dikenalnya didunia nyata?

Jawabnya, hanya blogger GILA! Tapi kegilaan mereka mengharukan :(

sehabis pestasehabis pesta

Akhirnya, puncak acara malam itu diakhiri dengan tukar cinderamata. Blogger nekat dari Kalimantan Selatan menyerahkan cindera mata yang terbuat dari batu pualam bertuliskan: “Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Kayuh Baimbai, Goes to: Pesta Blogger, Road to: Kalimantan Timur, 2009.” Sementara B!Blogger sebagai tuan rumah juga menyerahkan kaos komunitasnya. Chairman Pesta Blogger 2009, Iman Brotoseno juga melakukan tukar cinderamata dengan menyerahkan kaos Pesta Blogger 2009 dan Pin dengan logo ciamiknya itu.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama diiringi lagu Kemesraan.

*yup, betul. postingan ini saya copy dari sini*

Pesta Blogger Menuju Bumi Etam

Rangkaian blogshops Pesta Blogger 2009 akhirnya menuju Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara di Balikpapan merupakan blogshops pertama yang berlangsung di luar pulau Jawa. Sebelumnya blogshops berlangsung di Malang, Semarang, dan Bandung.

Blogshops dan pesta blogger mini di Balikpapan akan dilaksanakan pada hari Rabu, 19 Agustus 2009. Dan, rasanya senaaaang sekali karena  Mas Alfa dan kawan2 Balikpapan Blogger Community (B! Blogger) bersedia mendukung penuh acara ini sebagai tuan rumah.

Acara di Balikpapan berlangsung dalam dua sesi yaitu pada pagi dan malam hari. Acara pagi merupakan sesi khusus blogshops.
Waktu : Pukul 10.00 – 16.00 WIB
Tempat : Laboratorium Komputer STIKOM
Kampus A STIKOM Balikpapan, Jl. Pierre Tendean 2A Gunung Pasir
Tel. (0542) 424545

Acara yang dimulai pukul 09.30 ini diisi dengan registrasi ulang, worskhop “Blogging for Beginners” (Fasilitas berupa komputer/laptop serta koneksi internet akan disediakan oleh STIKOM Balikpapan), lalu istirahat, review workshop session, sharing session dengan top bloggers dan perwakilan komunitas lokal (B! Blogger).

Seperti di kota lain, sesi pagi ini pesertanya dibatasi sebanyak 40 orang. Tapi kalau bersedia berdesak2an dan membawa laptop sendiri, boleh datang kok. Syarat menjadi peserta? Gampang! Cukup berbekal email, dan belum punya blog.

Biar gampang, siapkan data berupa nama, nomor hp, pekerjaan dan alamat email sebagai konfirmasi.

Pendaftaran peserta dapat dilakukan di:
Kampus A STIKOM Balikpapan, Jl. Pierre Tendean 2A Gunung Pasir
Tel. (0542) 424545. Email: suhar_taty@yahoo.com

Sementara yang sesi malam, akan berlangsung pukul 19.00 – 22.00 WITA. Tempatnya sama, di kampus A STIKOM Balikpapan, Jl. Pierre Tendean 2A Gunung Pasir Tel. (0542) 424545

Acara malam seru lhooo…soalnya ada music performance, yang menampilkan STIKOM Musik. Ada talkshow, yang akan menghadirkan tiga pembicara yaitu Iman Brontoseno (Chairman Pesta Blogger 2009), Mas Bambang Herlandi, blogger dan guru TIK SMKN 3 Balikpapan, dan dr. Fajar Qimi, dokter dan juga blogger tulen. Ada games-nya juga! Salah satunya adalah Kontes Ngeblog Dadakan. Tentu saja hadiah menarik sudah disediakan.

Untuk sesi malam ini, siapa saja boleh datang. Karena tempat terbatas, jadi buruan daftar!!!

Acara ini didukung oleh: Depkominfo, US Embassy, Microsoft, Balikpapan ICT Community, Tribun Kaltim, Elex Media Komputindo, Radio IDC FM

Tapiiii….bagi yang ketinggalan acara di Balikpapan, bisa ikut acara yang sama di Samarinda lhoooo. Acara di Samarinda akan digelar pada 21 Agustus 2009. Bagi yang berdomisili di Balikpapan tapi udah ga kebagian tempat, boleh mendaftar saat acara berlangsung di Balikpapan untuk acara di Samarinda.

Oke, sampai jumpa di Bumi Etam, Kalimantan Timur.

*postingan ini juga dimuat di http://pestablogger.com*

Lesbian

“Gw baca semuanya, gw suka, gw ikut berdebar2, apa itu berarti naluri gw berat ke hubungan sesama jenis?”

Pertanyaan itu saya ajukan ke Dian setelah membaca blog http://cemilansepocikopi.blogspot.com yang dia berikan beberapa jam sebelumnya. Di sela kesibukan kerja, saya membacanya dari awal hingga akhir dan saya harus kecewa karena sesi sebelumnya udah ditutup. Berarti saya harus beli bukunya untuk bisa baca semua isinya.

Tapi membaca secuil kisah di sesion kedua ini, saya udah langsung mengatakan, saya suka. Kadang saya ikut berdebar membaca bagian2 manis di kisah mereka saat mereka sedang beromantis-ria dengan pasangannya.

Membaca blog itu makin membuka kesadaran saya bahwa memperoleh kebahagiaan adalah hak semua orang, dengan cara masing-masing.

Bagian kisah manis yang saya suka itu sebenarnya bercampur rasa iri. Saya ingin mengecap rasa yang sama dari pasangan saya dengan cara seperti itu. Saya ga tau, apakah standar rasa suka kami sama atau tidak. Tapi saya pikir, sebagian besar perempuan menginginkannya. Sentuhan sekilas pada saat yang tepat, sepatah dua patah kata yang langsung melumerkan hati. Sekali dua kali, ia pernah melakukannya. Tapi saya ga pernah bilang saya menyukainya. Saya hanya menyesapnya dalam-dalam sendirian, dan berharap dia mengulanginya lagi besok-besok. Ya, saya termasuk introvert untuk urusan begini.

Kembali ke pertanyaan tadi, saya ingin tegaskan, itu pertanyaan serius. Karena membaca kisah di blog itu, menikmati cara mereka menjalani hidup, membuat saya teringat saat-saat sangat ga pede karena menjomblo sejak lahir sampe lulus kuliah dan bekerja. Saya ketika itu sering bilang: “Jenis kelamin nomer sekian, yang penting kasih sayang dan pengertian.” Dan saya mengucapkan dengan serius dan penuh pengharapan. Haha, segitu depresinya yak? :p

Ya, saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta pada lelaki (dan kamu sudah membuatku jatuh cinta. Ma kasih ya) tapi mudah kagum dan suka pada perempuan. Bisa jadi, itu akibat rasa terkekang. Saat SMP dulu, bapak tau di sekolah ada yang bilang suka ma saya dan saya coba-coba membalasnya. Bapak marah besar (dengan caranya sendiri), mengatakan tugas saya hanya belajar dan belajar. Bukan ‘main-main’ ga jelas seperti itu.

Saya ketakutan dengan amarah bapak dan berjanji untuk ga akan memberi harapan pada lelaki meski jelas saya menyukainya juga. Di lain waktu, larangan itu diperkuat dengan ajaran bahwa tak ada istilah pacaran dalam agama kami. Ketakutan menjalin hubungan dengan laki-laki membuat hati saya benar-benar terkunci rapat-rapat, walau sesekali merasa kesepian, ga pede, dan akhirnya melontarkan kata-kata tadi.
Jadi, menurut kalian, penyuka sejenis-kah saya?
Oiya, saya tomboy sejak kecil, dan ketika kuliah, nama panggilan saya berubah jadi nama anak laki-laki, Aco.

Jawaban Dian atas pertanyaan saya, “kayaknya setiap orang punya bakat untuk menyukai sesama jenis”. Jawaban senada juga saya dapatkan di plurk.
Gimana pendapat kalian?

kelas pagi

Dulu banget, zaman saya kecil di kampung nun jauh di pinggir hutan di Sulawesi sana, setiap membaca tentang Jakarta, saya memimpikan hal berbeda. Jika anak-anak lain mungkin bercita-cita menginjak tanah jakarta untuk menikmati hiburan di Ancol, Taman Mini, Dunia Fantasi, Monas, atau bertemu Soeharto (hihihi…), saya tidak. Tempat seperti itu yang ingin saya datangi paling hanya Kebun Raya Bogor dan istana tempat Sukarno dulu.

Mungkin saya udah serius sejak kecil. Yang saya impikan tentang Jakarta adalah main ke kantor Bobo, Ananda, dan bertemu orang-orang pintar yang menjadi penulis buku dan artikel di majalah anak-anak itu. Ketika remaja (SMP), impian saya adalah bertandang ke kantor Anita Cemerlang, Aneka, Mode, dan Hai. Saya juga memimpikan bertemu NH Dini. Saya juga memimpikan kampung saya bisa seperti kampung di Inggris sana dan saya bisa meniru petualangan yang diceritakan Enid Blyton tentang lima sekawan, sapta siaga, dan segala macamnya.

Beranjak lagi di bangku kelas III SMP, lalu SMA dan masuk kuliah, mimpi saya tentang Jakarta lebih serius lagi. Jika ke Jakarta, saya ingin bertemu orang-orang terkenal di rumah saya, yang bukan artis-artis. Yang saya maksud misalnya, Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti (ada yang kenal? :p), atau nongkrongin bunderan HI dan sekitar Senayan dan Cendana, serta ngunjungi kampus-kampus bertemu orang pintar dan pemberani. Impian itu baru terujud akhir masa kuliah, jauh setelah momen-momen 98.

Kini saya di Jakarta. Impian saya belum berubah tapi bertambah. Pertama, pengen aktif ngelola taman baca, rumah singgah, atau semacamnya buat anak-anak pinggiran. Mau nebeng di tempat ‘dia’ dulu aktif tapi dia nolak setiap diajakin ke sana. Kedua, pengen ngajar anak jalanan. Udah ada jalannya sih, udah sempet dua kali hadir di kolong jembatan sana. Sayangnya ga selalu sesuai ma jadwal kerja sehingga jadi ga enak sendiri dan akhirnya malu menampakkan diri lagi. Lalu, ketiga, pengen memperdalam ilmu jurnalistik, baik tulisan maupun foto.

Untuk tulisan, sebenernya tinggal keseriusan untuk latihan terus, toh saya udah pernah kursus segala macam tentang penulisan. Tapi jam kerja selalu jadi alasan :p ga sempet2 liputan dan bikin tulisan mendalam.

Soal foto, hhhh…kamera 400d saya udah berdebu dan nyaris karatan tuh, jarang dipake. Lalu saya menemukan jalan beberapa hari lalu. Ada orang baik dan murah hati bernama Anton Ismael yang membuka kelas pagi fotografi secara gratis!!! Namanya kelas pagi, bukanya pagi benerrr, jam 06.00 sampe jam 10-an. Baik hati bener orang ini, ngajar gratis untuk rakyat agar paham fotografi. Sama baiknya dengan Mas Sardono yang ngajar fotografi dan pelajaran sekolah untuk anak-anak jalanan di kolong jembatan itu (yang saya melarikan diri karena benturan jam kerja).

Jadilah tadi pagi, rekor terpagi saya ninggalin kost untuk ikut kelas fotografi ini. Jam 06 kurang, saya udah di depan studio mas AI yang tempatnya pas di belakang kantor. Peserta lain berdatangan jam 06 lewat, dengan segala peralatan dan hasil karya. Ada yang udah nyiapin pameran. Kelas hari ini diisi dengan pelajaran cuci-cetak foto. Ggrrrhhhh…gemes banget rasanya kenapa saya baru tahu ada kelas istimewa ini. Kelas dimulai sejak April lalu, jelas saya udah sangat-sangat jauh ketinggalan.

Celakanya lagi, mulai pekan depan sepertinya kelas akan pindah tempat karena studio ‘mata ketiga’ (versi bahasa indonesianya neh)-nya pak AI pindah ke daerah fatmawati. Huhuhu, disini saya tinggal nyebrang jalan dari kost ke kelas. Kalo di fatmawati, gimana ya? 😦 Jangan-jangan ini kelas pertama sekaligus terakhir saya 😦 Sama dong ma kelas di kolong jembatan itu…