lebaran di velbak, di velbak

Sebenernya males nulis cerita lebaran. Apa yang harus ditulis dari pengalaman lebaran di Jakarta? Huh, ga enak! Sepiiiiii! Susah cari makan. Fastfood mulu jadinya. Semoga cuma sekali ini deh lebaran di sini.

Kesunyian dimulai dari Kamis sebenernya. Tapi ini soal pribadi. Saya ngerasa ditinggal mudik duluan. Padahal pengen ditemani karena ini pertama kalinya lebaran Idul Fitri di Jakarta. Tapi sudahlah.

Kesunyian yang beneran sepi dimulai esoknya, Jumat. Saya libur. Biar ga makin merasa nelangsa di kost, saya keliling naik busway. Ahaa…. Rp 3.500 saja dan saya menelusuri semua koridor. Dimulai dari deket kost, arah Lebak Bulus lalu balik ke Grogol melewati Indosiar, menuju Harmoni lewat Taman Anggrek, lalu ke Senen, Ancol, balik ke Matraman, Dukuh Atas, Ragunan, lalu balik ke Dukuh Atas arah Blok M. Lancar jayaaaa saking sepinya. Kecuali di Mampang pas mau buka puasa. Padat sih, tapi ga macet. Perjalanan berakhir di Plaza Semanggi yang nyaris tiap hari saya datangi pekan-pekan terakhir.

Lalu esoknya, Sabtu, setelah pulang kantor jam 16.00, saya cepet2 bayar zakat lalu maen ke mall Pondok Indah. Menghindari suara takbiran saat sendirian di kost biar ga mewek sepanjang masa. Buka puasa di mall. Oh iya, sejak kemarinnya, hidup saya mulai bergantung pada fastfood. Malem pas pulang ke kost, sepertinya takbiran malah makin marak Tapi air mata masih terbendung.

Minggu pas lebaran, saya sengaja bangun siang usai subuh. Tapi suasana ternyata emang sepiiiii banget. Ga ada takbiran, yang ada salawatan. Kok beda ya dengan di kampung? Saya memilih tak keluar kamar kost. Menunggu waktu masuk kantor siangnya, saya sibuk bebenah kost untuk menipu perut. Ternyata ga tahan juga, saya akhirnya menyerah dan bikin mie. Dua! Hahaha…! Saat makan mie itulah air mata saya bener2 ga bisa ditahan. Mewek sejadi-jadinya. Saya benci banget saat-saat itu. Jadi saya cepet2 keluar kost untuk ngantor. Ternyata di luar rame, ibu kost sibuk terima tamu, kumpul2 keluarga besar. Ya ampuuun, rasanya saya pengen terbang dari sana.

Di kantor pun sepi. Laper pula. Tapi ada kawan baik hati membawakan ketupat dan opor ayam plus kue lebaran. Aaaahhh…perempuan baik hati ini bikin saya nangis terharu. Jauh-jauh dari Depok, dia nyamperin ke kantor, dan saya akhirnya bisa makan makanan lebaran 😦 Ma kasih yaaaa….

Itu saja yang membekas. Agenda perjalanan ke Bogor pada Sabtu dan ke Subang pada Senin, batal karena serangan seribu jarum itu. Tapi Senin kemarin saya maen ke Kota Tua. Foto-fotonya akan menyusul di sana kalau ga lupa. Dan hari-hari ini, baik di kantor maupun di kost, diwarnai makanan fastfood yang bikin susah buang air.

Selamat lebaran semuanya, maaf lahir batin yaaa… 🙂

*judul niru umar kayam: Lebaran di Karet, di Karet*

Iklan

bertemu idola

Huaaaa…hari ini mungkin akan menjadi catatan besar buat saya. Sangat bersejarah. Saya barusan melakukan hal paling tolol di dunia. Rasanya pengen nangis kenceng-kenceng saking keselnya karena sikap tolol tadi. :((

Barusan, saya bertemu idola saya dari kecil, eh remaja. Bukaaaaan, bukan Rano Karno, apalagi Dina Mariana. Najis banget sih? Bukan, bukan Dian Sastro kok. Nikolas Saputra? Ah, bukan juga, saya ga ngefans. Iwan Fals? Bukaaan. Saya udah sering ketemu dia tapi ga seheboh ketemu idola saya yang satu ini, yang telah membuat saya terlihat cukup tolol.

Siapa sih dia? *pentung, kelamaan ngomongnya*
Dia adalah…jeng jeng jeng… Mbak Yeni. Yeni siapa, Yeni Wahid apa Yeni Shara? Aaaah, garing!
Namanya, Yeni Rosa Damayanti. Ga ada yang kenal? Hahahaha… wajarlah kalo ga kenal :p biarin juga kalo ga ada yang kenal. Saya fans yang aneh? Biarin juga, udah aneh dari dulu :p weeeekkk!

Jadi ceritanya, tadi saya duduk bengong di centro, Plangi nungguin ‘dia’ untuk buka puasa bareng. Lalu di depan saya melintaslah dia, berjalan pelan, maaf, agak pincang. Mulai tumbuh rambut putih di kepalanya bagian depan. Tapi wajahnya, tak berubah. Dan rasanya kok kenal, ngerasa dekat pula (tuh, SKSD banget kan? Ada yang ga kenal singkatan jadul ini? Huh, sok kenal sok dekat. Masa gitu aja ga tau).

Saya berusaha mengingat-ingat. Siapa ya? Woh, iya, mba Yeni. Tiba-tiba saya berdebar-debar, pengen nyapa. Apalagi dia sendirian, muter-muter nyobain sepatu dan sandal. Sempet ragu juga, dia bukan ya? Kok pincang? Woh, iya, saya pernah baca di koran, dia sempet pake kursi roda waktu itu. Lamaaa saya ngumpulin keberanian untuk mendatanginya. Akhirnya saya mendekat.

“Mbak Yeni, ya?” Saya menyapanya.
“Iyah,” katanya sambil mengangkat wajahnya. Kami berhadap-hadapan sekarang. Saya gugup, bingung mau ngomong apa. Gagap sampai gemetaran dan pengen nangis. Hah, tolol bukan?
“Saya Yati,” saya mengulurkan tangan.
“Maaf, lupaaa…siapa?” Dia menyambut uluran tangan saya sambil tersenyum lebar.
Saya gagap lagi. “Errr…kita belum pernah ketemu kok,” kata saya.
“Oh, dari mana?”
“Saya dari Sulawesi, mba.”
“Sulawesinya dimana?”
“Makassar, mba.”

Bingung, saya harus bicara apaaaa??? Mungkin ratusan orang telah saya wawancarai, dari gembel sampe pejabat tinggi, dari orang biasa sampe artis terkenal, dari manusia stengah gagu sampe orang haus publikasi, baru kali ini saya tergagap-gagap begini. Padahal saya sendirian, dia sendirian. Saya hanya menatapnya saat ia sibuk mencoba sepasang sendal berikutnya, lalu…

“Mba idolanya bapak saya,” cetus saya tiba-tiba. Gggrrrhhh…maaf pak, saya bawa2 nama bapak.
Dia langsung mengangkat wajahnya, sejenak terlihat kaget.
“Oooh ya? Salam aja deh buat bapaknya,” katanya, ramah. Atau berusaha terlihat ramah.
Saya ngangguk-ngangguk, ga jelas mau jawab apa.

“Kegiatan mba sekarang apa?”
“Oh, masih aktif di beberapa organisasi,” katanya.
“Mba sendirian? Sama siapa?”
“Sama temen-temen yang lagi buka puasa. Saya lagi ga puasa, maen ke sini bentar.”
“Kamu sama siapa?” Tanyanya kemudian.
“Sendiri,” kata saya sambil mengangguk kuat-kuat, menyembunyikan kegugupan.
“Oh ya? Jadi ke sini jalan-jalan atau?”
“Maen,” kata saya lagi sambil menggigit bibir bawah. Masih nervous.
“Lebaran di sini dong,” katanya.
“Iyah,” jawab saya.
Doh, begitu banyak jawaban tolol yang saya berikan hanya karena saya kehabisan kata. Saya ga bohong atas jawaban-jawaban itu, tapi semuanya ga tepat seperti itu.

Ketololan lain adalah, ketika minta berfoto, ga tau kenapa jari-jari saya tiba2 ga bisa menemukan tombol kamera di bb. Ga bisa ngambil gambar dan harus berulang2 mengambil pose dodol. Asli, pengen nangis karena kesel atas kegagapan saya tadi.

Mungkin saya kualat. Saya sering mencibir abg-abg yang pingsan2 atau nangis2 karena seneng ketemu artis idolanya. “Apa sih, pake nangis2. Yaoloooh, pingsan lagi, trus napa kalo ketemu idolanya. Apa sih bedanya artis ma abg-abg itu, sama-sama manusia, (maap) tainya juga sama-sama bau.”

Yup, kualat, saya kualat 100 persen. Ternyata bertemu idola bisa bikin tolol kayak gini.
Dan tingkah tolol saya sepertinya membuat mba Yeni kurang nyaman dan segera pamit. Duh, mba…saya bukan intel. Sumpah. Malah mungkin kita orang yang sama-sama di-inteli (ge-er boleh dong?)

Lalu, jawaban2 bodoh saya, sapa tau mba Yeni baca postingan ini, itu bukan kebohongan. Hanya, yaaa, ga tepat. Karena yang tepat adalah: saya udah pindah ke Jakarta sejak Maret lalu. Saya memang dari Sulawesi tapi ke sini bukan untuk maen, melainkan kerja. Saya terpaksa lebaran di sini karena baru dapet cuti setelah lebaran nanti. Saya ada di Plangi memang sendirian karena lagi nunggu temen. Dan, mba Yeni memang idola bapak saya.

Soal idola ini, kayaknya udah pernah saya ceritakan di blog saya sebelum2nya. Dulu, nama Yeni Rosa begitu ngetop di keluarga kami. Setiap subuh dan malam menjelang tidur, kami selalu mendengarkan namanya disebut di radio Nederland, BBC, atau apalah itu, radio2 dari luar negeri. Yeni diidolakan karena dia perempuan satu-satunya yang berani terang-terangan menentang Soeharto (yang kami merasa terwakili karena itu). Yeni yang ketika itu berunjuk rasa di Brussel, Jerman, bersama Sri Bintang Pamungkas (yang kini…ah, sudahlah) menyambut Soeharto. Yeni yang kemana-mana suka bawa ular di tasnya. Yeni yang…suatu hari bapak sampe bilang: “saya mau membiayai anak-anak saya kuliah hanya untuk berdemonstrasi” dan membuat saya bercita-cita TOLOL untuk menjadi tahanan politik demi menyaingi popularitas Yeni di keluarga kami. Bisa jadi, karena nama Yeni juga akhirnya saya bisa seperti sekarang.

Jadi, demikianlah. Lega rasanya menceritakan ketololan saya akhirnya. Semoga ada diantara kalian yang membaca tulisan ini dan tau alamat emailnya mba Yeni, sudilah membaginya buat saya. Saya hanya ingin bilang ke dia: maaf atas ketidaknyamanan tadi.

taksi ga sesat-2

Kali ini saya bukan mau bercerita tentang pengalaman tersesat saat naik taksi. Bukan juga mau ngikut beberapa postingan di ngerumpi.com yang akhir2 ini banyak (lebih dari dua kan?) membahas soal pengalaman di taksi. Tapi, kebetulan, tadi petang pulang dari mall beli bahan makanan buat sahur, saya numpang taksi burung biru yang sopirnya perempuan, seperti pengalamannya mas ririsatria. Cerita tentangnya sepertinya sayang untuk dilewatkan.

Bu sopirnya bernama Retno, asli Yogyakarta. Ia seorang yang ramah. Baru buka pintu saja saya udah diajak ngobrol banyak (padahal masih ngos-ngosan ngangkat box plastik plus isinya ke taksi). Saat saya sibuk menjawab pertanyaan2nya, Bu Retno membuka kaca jendelanya untuk menyapa satpam mall, “Selamat sore, pak.”

Perjalanan bersama Bu Retno tak lama, hanya berjarak argo Rp 20-an ribu, dari Plaza Semanggi hingga Pakubowono/Velbak Kebayoran Lama. Meski singkat, Bu Retno menyajikan cerita cukup lengkap tentang hidupnya.

Bu Retno telah enam tahun jadi sopir taksi. Empat tahun di Yogya dan dua tahun di perusahaan cap burung biru di Jakarta. Putra-putrinya enam orang. Anak tertuanya, juga bekerja di perusahaan burung biru yang ditempatkan di mall Plaza Semanggi. Yang lainnya masih sekolah. Dua orang diantaranya, yang duduk di bangku SD, mendapat beasiswa. “Senin besok, jadwal mereka dijemput dari asrama karena sekolahnya mulai libur lebaran,” katanya.

Sementara anak perempuannya, yang kini duduk di kelas III SMK Pariwisata telah direkrut menjadi karyawan di Hotel Santika setelah menjalani proses magang di sana dan dinilai bagus kerjanya.
“Alhamdulillah, saya bersyukur anak-anak saya ga ada yang nyusahin. Sepertinya mereka ngerti kondisi orangtuanya,” kata Bu Retno sambil melirik saya dari kaca spion. Saya tersenyum dan turut mengucap syukur dalam hati.

Sambil terus berkonsentrasi ke jalanan yang cukup lancar, Bu Retno bercerita. Ia kost di Tangerang. Di sana ia berbaur dengan penghuni kost lainnya yang berusia jauh lebih muda. Ia pun dinobatkan sebagai ’emak’ bagi teman-teman kostnya. “Waduh, anak-anak saya banyak bener, ga tau siapa bapaknya,” candanya.

Wilayah operasi kerja Bu Retno di Tangerang. “Tapi tadi pagi ada tamu dianter ke Jakarta, jadi saya muter-muter seharian di kota,” katanya.
“Duh, maaf, maaf,” katanya saat tubuh kami terguncang akibat jalanan tak rata yang dilewati roda taksinya.

Setelahnya, ia melanjutkan cerita tentang jam kerjanya. “Kata anak saya, kerja saya kebalikan sama maling. Saya keluar jam 4 pagi dan pulang jam setengah 2 malam.”
Waktu tidurnya hanya 2,5 jam. “Kalau pas libur, ceritanya mau balas dendam, tidur seharian. Eh, malah pusing kalo kebanyakan tidur,” katanya diiringi tawa berderai.

Di bunderan Senayan, Bu Retno agaknya tersadar bahwa peran saya hanya tawa dan pertanyaan satu dua patah kata. Ia pun bertanya, “Ntar mudik?”
Saya agak bingung, karena pulangnya setelah lebaran, harusnya dinamai arus balik, bukan mudik. “Errr…iya, bu. Tapi abis lebaran,” kata saya.
“Kok kayaknya sedih gitu? Ga pulang itu biasa, paling nangis-nangin ntar malam lebaran karena sepi. Tapi, bergembiralah, banyak kok yang ga pulang. Saya juga ga mudik,” katanya.

“Bergembiralah,” saya ulangi dalam hati kata-kata itu. Plak! Ini tamparan pertama Bu Retno. Ya, apa alasannya untuk tak bergembira saat hal yang lebih sulit juga dialami orang lain?

Perjalanan dilanjutkan dengan obrolan ringan. “Pakubuwono, lurus kan?” Saya menjawab, “Bener bu, lurus.”

Bu Retno mengantar saya hingga pintu gerbang kost. Rp 20.400 tertera di argo. Saya ulurkan Rp 55.000 dan dia meminta angsur Rp 30.000.
“Bentar ya, bu, maaf, repot nih box-nya.”
“Santai saja mbak, ga usah buru-buru.”
Saya mesem-mesem sambil sibuk mengatur receh dalam saku, memasukkan dompet ke tas, lalu meraih box plastik di samping saya.
“Yaaa, sapa tau ibu mau ngejar setoran, maap lama ini, ribet saya,” kata saya diiringi ketergesaan.
“Ngejar setoran? Hahaha…ngengsi dong. Santai aja lah, ga ada yang harus dikejar-kejar,”katanya.

Plak! Ini tamparan kedua. Pelajaran kedua Bu Retno, bahwa hidup dan waktu yang kita punya bukan melulu tentang setoran dan uang. Jadi, santailah, Co, jangan jadi manusia super serius gini.

Saya menutup pintu taksi sambil tersenyum agak masem karena malu. Bu Retno (semoga) ga liat karena gelap. Tapi masih sempat ia berpesan, “Selamat malam, selamat beristrahat yaaa.”
“Ma kasih bu, hati-hati.”

bukan tentang 090909

Sampe hari ke sekian (lupa) bulan puasa ini, udah dua kali saya kena diare dan muntah-muntah yang akhirnya diikuti dengan batalnya puasa. Rasanya lemeees banget, perut melilit2 dan pusing, plus perih di anu* karena keseringan ke belakang.

Pertama sebabnya adalah, saya sahur dengan lauk basi. Belum basi2 amat sih, soalnya saya pernah makan yang lebih basi dari sekedar keliatan basah gitu dan ga kenapa-napa seingat saya. Lauk sambel goreng hati kemarin itu saya beli pas pulang kantor jam 11 malem. Tiap hari saya gitu, beli makanan buat sahur sebelum tidur dan, lagi-lagi ga kenapa2 tuh. Jadwal sahur saya jam 3.30. Saat mulai makan, hmm, kayaknya mulai basi nih, basah gitu. Akhirnya saya makan hati-nya aja yang cuma beberapa iris itu. Otomatis dong pengen nambah lauk karena nasinya baru laku beberapa suap. Atas saran temen di plurk, saya pilih ngerebus mie instan yang sebenernya juga udah lama saya hindari. Makanya kalo ga diingetin, saya sebenernya udah lupa punya mie karena emang udah diumpetin jauh-jauh.

Apa yang terjadi sodara-sodara. Hanya beberapa saat setelah sahur yang waktunya mepet itu, perut saya mulai memberontak. Buang-buang air. Lalu jam 9 pagi mulai muntah. Batallah puasanya. Dan sepanjang hari itu saya bolak-balik ke wc tapi tetep ngantor. Karena, bos yang juga diare aja masuk kantor. Alasan saya pasti cukup jelek kalo ga masuk kerja :p

Lalu peristiwa kedua, karena sahur sup berbusa. Sebenernya, udah kali ketiga saya sahur pake sayur sup. Tapi baru kali ini berbusa. Padahal belinya di warung yang sama dengan bahan yang sama. Maksudnya, pake kol juga. Saya baru merhatiin busanya saat tiga sendok makan kuah tertuang di nasi. Abis itu saya stop, yang penting nasinya udah basah dikit, biar ga seret lewat tenggorokan. Tapi apa yang terjadi sodara2? Perut saya protes! Mungkin aksi dua hari sebelumnya belum sembuh bener, dihajar makanan berbusa lagi, protes keraslah ia. Nasinya belum abis, saya udah ke belakang menenuhi tuntutan perut. Muntah2nya baru nyusul siang2 jam 12-an. Rugi ga tuh, puasanya batal lagi.

Perut saya emang sensiii banget, kayak tuannya :p Minum susu kotak/cair/cream mencret (doh, kayak bayi kan?), kopi seteguk bisa pingsan (padahal pengen banget lho terlihat keren dengan minum kopi gitu, hahaha), duren ga bisa, coklat, dan banyak lagi yang lain. Mungkin akibat terlalu sering dihajar typus.

Tapi ajaibnya, perut saya kuat buat sambel, cabe dan cuka atau jeruk nipis. Mantap banget dah tuh, apa2 dikasih cabe dan jeruk nipis. Tapi jangan kasih merica, bisa mures2 lagi. Di kantor lama, saya pernah dikasih gelar ratu sambel. Soalnya orang2 yang pesen sambel di kantin biasanya minta sambel terasi dengan (paling banyak) 3-5 cabe. Kalo saya, paling ngga harus 9-12 biji cabe tanpa berdesis2 sehabis makan :p beuh…ibu kantin aja takjub! :))

Balik ke soal makanan basi tadi, ga tau kenapa, tiap kali masak, gampang basi. Mungkin rice cooker mini-nya udah tua? Puasa 2004 tuh kayaknya dibelinya. Dan saya agak bingung kalo masak untuk sekali makan. Maklum deh, dulu terbiasa masak untuk banyak orang, kayak mau pesta. Rasanya sedih banget tiap kali harus buang nasi karena basi. Apalagi kalo inget harga beras merah jauh lebih mahal dibanding beras putih, haduh sayang banget. Akhirnya solusinya, saya ganti nasi/beras merah jadi kentang. Yup, kentang rebus anti basiii…! Saya ngerebus kentang jam 11 sebelum tidur, kondisinya masih bagus tuh sampe sahur besoknya lagi, bukan yang beberapa jam setelahnya. Mau coba?

*lho, jangan protes, ini memang tentang perut sensi, bukan tentang 090909*

kelas kolong

Sehabis hunting terakhir ke stasiun Tanjung Priok bersama kelas fotografi anak kolong yang pernah saya ceritakan di sini, saya ikut rombongan balik ke kolong. Masih ada kelas pelajaran sekolah yang berlangsung sore hari sehabis hunting. Tapi saya bukan pengajar, cuma pengunjung.

Saat melihat2 puluhan anak belajar di kolong jembatan itu, saya tertarik pada tulisan di punggung salah satu anak.

_mg_8464

Iya, saya setuju, janganlah kuatir akan hari esok. Selama masih ada orang-orang baik macam Mas Sardono dan kawan-kawannya itu, semoga anak-anak ga kehilangan harapan akan masa depan. Selalu salut untuk mereka yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi pada sesamanya. Mereka yang tak pernah digembor2kan di media, bekerja dalam diam, tapi berbuat nyata bagi orang lain.

Ya, jangan kuatir tentang masa depan. Selama semua orang mau mengamalkan Pancasila. Iya kan, Pak, Mas, eh, Kak Guru? 🙂

_mg_8466