bukan-dewa

Kalo udah kek semalem, saya selalu inget kata2 Mas Andreas di buku undangan nikahnya: bila kesal, ia lantas menganggap saya manusia setengah dewa yang bisa meramal sumber kekesalannya. Hehehe, saya selaluuuu aja kek gitu. Kesel, trus diem dan membiarkan kamu kebingungan dan kuatir lalu mencari2 sendiri apa yang bikin saya kesel. Ya, padahal kamu bukan dewa. Untung kamu ga ngomentarin saya kek gitu ya?

Itulah jeleknya saya. Ngomong ga pake mikir dulu. Terlalu sering sensi dan celakanya PMS ga bisa lagi selalu jadi alesan. Masa PMS 30 hari sebulan? Jadi, maafkan saya ya, selalu mengacaukan semuanya. Buat yang lain juga, maafin saya.
Eh eh, tapi kan kamu matahariku? Harusnya bisa dong, ngeliat semua masalahku dengan jelas? Cahayamu kan terang sekali. :p

memilah

Saya sering menolak temen yang pengen curhat ke saya. Kedengaran jahat ya? Tapi begitulah. Sebisanya saya menghindar kalo curhatannya itu tentang orang lain terutama yang tidak saya kenal. Karena biasanya, cerita itu akan melekat terus dalam memori saya. Dan, itu akan sangat berpengaruh pada hubungan saya dengan orang yang diceritakan itu kalo misalnya suatu hari saya kenal dia. Saya akan men-judge dia seperti cerita temen saya sebelumnya.

Kalo cerita tentang dia baik2 aja, maka saya akan sangat welcome ketika pertama kali ketemu atau kenal, atau merekomendasikannya sebagai temen ke orang lain lagi. Tapi kalo cerita yang sampe ke telinga saya pertama kali udah jelek, akan buruk pula pandangan saya ke dia. Ga adil banget. Dan cenderung jahat. Belum kenal aja saya udah berani men-judge dia seperti itu. Padahal informasi yang saya dapatkan, ga balance. Sangat sangat ga adil. Makanya saya menolak curhatan seperti itu.

Cara itu, juga saya terapkan ke orang lain di sekeliling saya. Teramat banyak cerita2 miring tentang orang2 yang saya kenal. Tapi ketika temen saya meminta saya menceritakannya, meski cuma secuil, saya akan menolak. Ini bukan soal saya setia menyimpan cerita atau sebagai orang yang aman diberi rahasia. Sama sekali bukan. Sebab kadang2 saya ember kok. Menceritakan sesuatu yang sebenernya rahasia. Tentu saja saya memilih dan memilah, akan menceritakan bagian yang mana, ke siapa.

Tapi tentang cerita miring itu, tujuan saya cuma: Saya ingin menjaga telinga temen saya untuk mendengar yang baik-baik saja tentang orang lain. Biarkan yang diketahuinya cukup yang baik2 saja. Agar dia tak pernah berubah sikap pada orang lain. Karena saya takut dia akan seperti saya, men- judge duluan padahal informasi yang didapatnya ga balance. Saya takut orang yang semula dihormati dan dijunjung tinggi oleh temen saya, akhirnya diinjak2 hanya karena mendengar cerita saya yang sepihak! Karena akibatnya, saya akan menjadi orang yang ga bisa dipercaya lagi. Seperti itu juga yang saya lakukan pada “dia” yang sering saya sebut matahariku.

*) hanya untuk menulis soal pilah-memilah ini, kerjaan saya sampai terbengkalai? dudulz! makanya dipilah yang bener…

masih bermasalah

Gw masih bermasalah dengan sensi. Belum ilang meski gw udah tidur [dan sekarang udah ngantuk lagi]. Tapi gw juga ga mungkin nurutin nasehat iblisnya Miskan. Gw bermasalah dengan hampir semua orang. Kalo bicara gw suka ga mikir dulu. Jadinya, gw kedengeran ketus, sinis, dan kasar buat orang lain, yang celakanya, di telinga gw dengernya datar aja. Yang bermasalah sebenernya, otak, telinga, atau mulut gw?

*) eh, ini ga boleh terlewatkan. gw mo bilang SELAMAT buat my luv atas kebahagiaannya hari ini. masih banyak waktu kok, say, buat agenda kita yang satu itu 🙂 miss u too, dear

bungkam?

Apa jadinya jika dalam waktu bersamaan semua orang di sekitarmu lagi sensi? Oke, gw juga punya andil menciptakan suasana ga nyaman itu. Kesalahan yang ga disengaja. Gw sedang capek. Capeeek banget. Trus kata2 keluar dengan tidak terkontrol. Bukan, bukan membentak. Tapi salah menempatkan kata. Lalu kondisi temen2 juga kebetulan mungkin sedang tidak stabil. Lalu terjadilah chaos. Tumpang tindih dan tak bisa lagi mencari pangkal persoalan. Kesalahpahaman saling membelit satu sama lain. Semakin rumit. Tak bisa dirunut.

Mereka punya masalah dan gw ga membantu? Atau kerjaan gw lagi banyak dan mereka ga membantu padahal itu tugasnya? Atau gw seharusnya minta bantuan tapi mereka emang lagi bermasalah? Atau mereka bermasalah dan seharusnya gw ga berharap mereka membantu dan gw harus nyelesein semua kerjaan yang seharusnya mereka kerjakan? Atau gw salah dan mereka sensi? Atau gw sensi dan mereka ga salah? Bingung? Sama! Oh, iya, ini bukan semata soal orang2 di lingkungan kerja. Ini luas, luaaaas sekali. Gw salah. Gw akui, gw punya andil kesalahan. Trus, gw harus ngapain biar semuanya kembali seperti semula? Bungkam? Menunggu semua beres dengan sendirinya? Tidur? Bisa ya, dengan cara itu?

Bertemu Eva

HARI masih gelap [setidaknya di kamar gw] ketika hp gw berdering. Ternyata dari my luv, nanya dah sholat ato belum. Lalu dia cerita mimpinya semalem yang langsung gw Amin-kan. Apa mimpinya, ga usah gw ceritain :p Abis itu gw bilang, maap, mo tidur lagi karena baru tidur sekitar pukul 04.30, usai subuh.

Ga lama, hp berdering lagi. Nomer ga terdaftar. Ternyata, si nona Eva! Ya ampun, gw lupa kalo hari ini dia transit di Balikpapan, mo pulang ke Palu dari Menado. Ini kali kedua dia mampir ke Balikpapan. Sebelumnya, dia mampir ke sini pas gw lagi bersama keluarga Mbilung. Kalo ga maksain bangun, masa gw ga ketemu lagi sih? Tapi gw masih nawar, “Va, gw pengen nraktir makan siang. Tapi gw tidur sejam lagi ya. Ga kelamaan kan?” Hehehe…dia anak baik, nurut aja. Gw tidur.

Eh, ga jadi tidur, ding. Kerjaan udah memanggil. Update, update! Jadi gw sms lagi si Eva, “Va, sorry, bukan tuan rumah yang baik neh. Gw telat ke sana ya, ada kerjaan, ga bisa ditinggal.” Lagi2 dia nurut. Ah, baiknya. Tapi gw ga telat2 banget kok. Gw bergabung ma dia, masih di jam makan siang, hihihi. Kami ketemuan di Gramedia, lalu makan siang, dan jalan2. Dia beli souvenir banyak banget keknya. Katanya sih buat ibu-nya, tapi keknya yang bukan buat ibunya lebih banyak :p

Di toko souvenir langganan gw itu, gw dengan kabar Soeharto akhirnya meninggal. Hmm….kenapa nerima berita kek gini gw selalu berada di tempat yang sama? Pas kecelakaan Garuda di Jogja dulu, dapetnya di toko ini. Kecelakaan pesawat dua hari berturut2 di Balikpapan, pas gw disini. So, abis belanja, gw pisah ma Eva. Gw pulang ke kantor, dan Eva ke bandara, menunggu pesawat jam 19.00. Waks…masih lama banget tuh, Va. Slamat bengong deh, di bandara.

Kesan-2

Ini seri kedua tentang profil orang-orang yang menurut saya membawa kesan dan pelajaran dalam hidup. 

SAYA mengenalnya dari buku. Suatu hari di penghujung tahun 2005, saya ke toko buku dan tertarik membaca bagian belakang sampul Laskar Pelangi (LP). Tak pikir panjang, saya membelinya, menamatkannya esok harinya. Sepekan setelah itu, saya ke toko buku lagi, nemenin temenku beli buku yang sama. Saya dan temenku, harus punya buku itu, masing-masing. Terlalu bagus untuk tidak dikoleksi.

Suatu hari di pertengahan 2006, seorang teman di Makassar, Aan si pecandu buku, memintaku untuk jadi panelis di talk show radio yang sedang ditanganinya. Acara radio itu khusus bicara soal buku. Saya tanya, “Apa tak ada orang lain di Makassar sampe harus nyebrang lautan nyari narasumber?” Dia bilang, “Saya tau kamu suka buku Andrea Hirata. Mungkin tepat kalo kamu jadi panelis. Kamu dapet giliran pertama untuk bicara, setelah itu Andrea Hirata.”

What? Saya terlonjak! Bener2 ga nyangka. Meski cuma lewat telfon, tapi panelis untuk review buku Andrea dan soal pendidikan di Indonesia, benar2…saya ga tau menamakannya apa. Tak ada waktu untuk menolak. Saya sedang di kantor ketika acara talk show itu mengudara. Saya bicara nyaris “asal”. Nervous!

Sebelum berhasil menata debaran jantung usai wawancara itu, Aan kembali menghubungiku. Katanya, “Ma kasih, Sukses acaranya.” Syukurlah. Dan saya ga mau melewatkan kesempatan begitu saja. Saya minta dikenalin ke Andrea. Aan memberiku nomer hp-nya. Tapi saya tak pernah menelfon. Esoknya saya ngirim imel ke Andrea. Saya lampirkan nomer hp saya dan minta izin untuk membuat review bukunya, Sang Pemimpi (SP).

Setelah review bukunya dimuat di koran, saya menghubunginya lagi untuk mengirim bukti terbit. Ketika Edensor terbit pada Mei 2007, saya membuat reviewnya lagi di koran. Baru saat itu saya mengontaknya lagi untuk wawancara lengkap. Setelahnya, beberapa kali kami saling berkirim sms tengah malam. Kala itu, insomnia saya emang gila, kadang tak tidur semaleman, bahkan sampe 3 hari. Andrea juga begitu katanya. Belakangan, pihak manajemennya yang lebih banyak menghubungi saya. Sayangnya, info2nya kadang tak lengkap untuk sebuah publikasi.

Sosok Andrea, sangat sederhana. Hal itu tergambar jelas dalam tiga novel Tetralogi Laskar Pelangi yang tak lain bercerita tentang kisah hidupnya di tanah kelahirannya, Belitong. Namun, dengan kesederhanaan itu, Andrea Hirata tampil cukup mengejutkan di dunia kesusastraan Indonesia. Baru pertama kali menulis novel, tapi karya-karyanya langsung menjadi best seller. Tawaran untuk memfilmkan karyanya pun berdatangan.

Tak salah pula jika sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris, Sorbonne Prancis ini disebut sebagai penulis yang rajin karena bukunya terbit setiap tahun. Dimulai dengan LP pada September 2005, SP pada Juli 2006, dan Edensor pada Mei 2007.

Kesan dan pelajaran apa yang saya petik dari Andrea? Buanyak, sampe tak bisa saya sebutkan satu per satu karena banyaknya. Saya suka mengutip kata2 Arai di Edensor: “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi2 itu.” Kalimat itu, mewakili segalanya tentang Andrea. Semangat hidupnya, pantang menyerahnya, cita-citanya, hidupnya, segalanya.
Petikan wawancara saya dengannya, ada di sini

adegan

Kemarin siang, setelah menghilangkan kegerahan dengan memangkas rambut, saya ke rumah sakit. Rupanya ibu kantin yang abis kecelakaan hari Senin lalu, masih harus nginep di rumah sakit. Setiap bangun, kepalanya masih pusing. Oleh dokter, dia masih diharuskan tinggal di sana meski katanya setelah difoto, kepalanya nggak apa2.

Ruang perawatan ibu kantin berada di ujung kompleks rumah sakit. Dalam satu ruangan, ada empat tempat tidur, tapi hanya ada tiga pasien, termasuk ibu kantin. Saat saya tiba, bapak kantin sedang menikmati makan siangnya. Jadi saya ngobrol2 dengan ibu kantin. Tapi tak banyak yang kami obrolkan. Ibu kantin belum bisa banyak ngobrol dan bergerak. Kami berdua hanya memperhatikan pasien lain di ruangan itu.

Kami berdua tertarik dengan pasien di sudut yang berlawanan dengan tempat tidur ibu kantin. Pasien perempuan, rambutnya udah memutih. Suster memanggilnya ibu Maria. Suaminya, juga udah tua. Badannya mulai bongkok. Tapi rambutnya masih hitam, selegam alisnya. Mereka berdua suka tersenyum dan rajin nanya ke suster. Saat disuntikkan insulin ke lengan ibu Maria, dia bilang, dia juga mantan suster. Setelah disuntik, mereka berdua tidur bersisian di satu ranjang sambil ngobrol riang.

“Begitulah kita nanti. Hanya berdua di masa tua, tak ada anak, saling menjaga seperti adik-kakak,” ibu kantin menyela keasyikanku menonton pasangan tua itu. Tak lama, ibu Maria tampaknya ingin ke toilet. dengan hati2 ia bangun dan menyingkap selimutnya. Suaminya menggulung celana panjang hitamnya, lalu meraih lengan istrinya. Tapi ibu Maria tampaknya merasa bisa berjalan sendiri, lalu melepaskan tangan suaminya. Suaminya berjalan cepat, membukakan pintu kamar mandi.

Tapi ibu Maria mampir buat ngaca di depan toilet. Suaminya meringis, “Waduh…”. Istrinya mematut diri di depan cermin, kembali merapikan rambut putih sebahunya dengan memasang sebuah bando hitam. “Gimana?” tanyanya pada suaminya. Sang suami dengan senyum lebar mengatakan, “Cantik, kok! Kamu cantik.” Puas dengan jawaban suaminya, ibu Maria masuk kamar mandi. Suaminya menunggu di depan pintu. “Hati2 ya sayang, sendiri aja ya, saya tunggu di sini,” katanya sambil merapatkan pintu.

Hei….dada saya berdesir. Saya sukaaa adegan mereka. Dan tiba2 saya merindukan bapak-mama. Akan begini jugakah mereka nanti saat saya tak bersama mereka? Ya Tuhan, saya kangen! Lalu…saya membisiki ibu kantin. “Bu, harus diralat. Saat tua seperti itu, kita bukan seperti adik-kakak, tapi seperti orang pacaran.” Ibu kantin mengangguk lemah tapi sambil tersenyum.

Keluar dari kamar mandi, bu Maria tampaknya ingin menikmati angin sore di teras kamar yang menghadap ke taman. Suaminya mendudukannya di bangku teras lalu bergabung dengan keluarga pasien lain, penghuni kamar sebelah. Saya ikut duduk di sisi bu Maria. Membuka obrolan. “Ibu sakit apa?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Katanya sih sakit diabetes. Padahal saya ga pernah merasa sakit. Ga ada sakitnya. Cuma, kalo abis makan, saya tuh pengennya makan lagi, makan lagi.” Saya tersenyum. “Saya juga heran,” lanjutnya.

Lalu kami mengalihkan pandangan ke taman. Jam besuk telah tiba. Banyak anak kecil bermain di taman.  Mereka melempari burung2 gereja dengan remah2 roti. Burung2 kaget dan beterbangan ke pohon cemara. Kini cemara itu seperti berbunga burung gereja di setiap pucuknya. “Indah ya!” kata Bu Maria. Saya menoleh ke arahnya. Tangannya menunjuk ke taman, “Anak2 itu suka.” Saya mengangguk.

“Ayo bu, udah waktunya makan. Udah stengah jam abis disuntik,” ajak suami bu Maria sambil tersenyum ke arahku. Saya ikut masuk lagi ke ruangan, ke sisi bu Kantin. Mata saya terus melihat ke pasangan tua itu. “Mau makan sendiri atau disuapin? Makan sendiri aja, ya,” kata suaminya lagi. Bu Maria mengangguk dan mulai menyendok makanannya.
Lagi-lagi dada saya berdesir. Lalu pikiran saya menerawang….

*) kisah ini buat kamu. bu kantin juga bilang ‘ma kasih’ atas doamu. love u!