Listiana Srisanti

Tadi, pagi sekali (versi saya), saya bangun dengan segala keribetan. Mata masih merem, saya ngelepas charger , eh, bb-nya kelempar, jatuh tercerai berai. Haduh, makin ga sabar ganti  sebulan lagi. Yang ini udah layak dipensiunkan setelah 1,5 tahun. Udah gitu, lama pula nyalanya, selalu diminta ‘insert card’. Tau deh, yang error kartu xl-nya apa bb-nya.

Setelah saya jungkir balik nyariin onderdil2 berceceran dan  normal lagi, buka twitter lah. Dan kabar sedih itu datang, Listiana Srisanti meninggal tadi subuh di Bandung akibat kanker stadium 4 yang udah lama dideritanya.

Saya langsung sms ke dinda. Kenapa, karena saya inget, dia pernah posting di blog tentang keinginannya bertemu si penerjemah Harry Potter itu. Soalnya, bahasanya keren dan ga bikin minder baca versi bahasa Indonesianya. Karena, begitu banyak bahasa Indonesia baru dan sangat passss penggunaannya dalam buku itu. Keren lah pokoknya.

Saya ga pernah lupa bagian cerita yang bikin saya ngakak abis. Cerita tentang Ron yang begitu bangga karena merasa berhasil mengetahui nama teknologi kaum muggle atau manusia biasa, yaitu telepon. Tapi Ron menyebutnya felliton. Udah salah, bangga pula :p

Lama setelah dinda posting di blognya, kompas membuat profil Listiana, lumayan gede waktu itu. Diceritakan, Listiana mengalami kanker. Kalo ga salah, udah stadium dua ketika ketahuan penyakit itu mengendap di tubuhnya. Tapi ia tetap semangat mengerjakan usulan nekatnya, menerjemahkan Harry Potter. Ya, idenya sempat ditolak karena orang berpikir, anak mana yang akan baca buku setebal itu? Tapi hingga Harry Potter 7, ia tetap tekun, bersemangat, meski sambil terus melakukan kemoterapi (yang pasti dahsyat banget sakitnya). Penyakit itu pula yang menjemputnya tadi subuh, menemui ajal. Selamat jalan.

Iklan

jakarta

Jakarta ulang tahun hari ini, yang ke….. entah. ratusan pokoknya.

Banyak PR yang harus dikerjakan Foke. Ngatasi macet, banjir, perbanyak ruang terbuka hijau. Tapi sebagai warga, mbok ya perhatiin lingkungan juga. Ga mungkin semuanya diserahkan di seorang bang kumis.

Kan lucu, ngomel2 soal kemacetan Jakarta dari dalam mobil yang ditumpangi sendirian.
Atau, menuntut banjir dibendung oleh Foke tapi beli tempat sampah buat di mobil aja ga bisa. atau masih aja buang sampah sembarangan.
Atau, meminta Foke memperbanyak ruang terbuka hijau, tapi ga pernah ngunjungin taman2 yang ada. Tempat liburnya di mal. Ga pernah ke museum, dll.

Saya sih tetep punya protes juga buat Foke. Kok dia kayaknya gengsi melanjutkan programnya Bang Yos seperti busway, monorel, dll. Tapi juga ga berbuat sesuatu yang lain. Coba deh, tegas dikit aja, asal untuk kepentingan umum, pasti didukung.

Satu lagi, Jakarta itu milik semua bangsa (baca: suku), karena dia adalah ibu kota negara. Jadi ga usah ekslusip2an. Yang penting warga baru juga harus cinta sama Jakarta.

tentang bapak

Katanya kemarin itu hari ayah. Saya ga ikutan ngetwit, saya menyimpannya untuk di blog, jadi cerita sendiri.

Bapak saya itu serba bisa. Merancang rumah, walau bukan arsitek. Rumah kayu, rumah batu, benda2 dari kayu, bisa. Bahkan bikin jalan, manual, pake cangkul. Biar permukaannya keras, kami disuruh main lompat tali di sana.

Bapak itu guru semua hal. Dari belajar baca, belajar ngaji, belajar nulis. Dulu, ditemani lampu petromax, saya belajar baca tulis arab dan latin tiap malam. Tangan saya dicelupin ke kobokan, lalu latihan bikin huruf2 di lantai papan rumah panggung kami. Begitu tertiup angin, ‘tinta air’ mengering. Saya pindah ke bilah papan yang lain, menulis huruf yang lain, sampai tiba saatnya makan malam.

Satu pesan bapak yang paling utama adalah: harus JUJUR. Berkata jujurlah walaupun buahnya pahit. Dari sikap itu, seingatku, sejak SD, dalam setiap kepengurusan atau kepanitiaan, saya dan saudara yg lain selalu jadi bendahara. Belakangan, jadi sekretaris, karena tulisanku bagus :p (walopun tidak begitu bagus menurut bapak karena waktu itu saya ga menulis huruf bersambung lagi seperti tulisan zaman dulu).

Profesi bapak, banyak. Dulu, bapak pegawai negeri. Bapak juga seneng bikin catatan. Nulis dalam aksara Bugis maupun dalam bahasa Indonesia. Nyambi jadi petani, terutama nanam cengkeh dan buah2an. Bapak juga bikin empang. Banyak yang bilang itu pekerjaan gila, karena bapak bikin empang di punggung bukit di belakang rumah. Dengan cangkul sendiri! Suatu saat setelah hujan deras datang berhari2, tanggul empang jebol. Habis semuanya. Esoknya, mamaku menemukan seekor ikan mas cukup besar, tersesat di selokan.

Bapak ga suka Soeharto dan Golkar. Menurut bapak, tak ada yang dilakukan mereka selain pembodohan kepada rakyat. Bapak mendukung penuh reformasi dan ingin semua anaknya terlibat dalam demonstrasi menuntut perubahan itu. Ketika Soeharto lengser, bapak bersuka cita dengan melempar tivi pake toples.

Bapak ga banyak bicara. Seingatku, kami tak pernah berbincang akrab. Tapi beda dengan salah satu kakakku, selalu ada topik yang mereka perbincangkan sampai jauh malam.

Haduh…saya ga sanggup melanjutkan ini. Tiba2 saya mengingat beberapa hal, yang ga saya mengerti ketika bapak memberi hukuman tanpa saya tau apa salah saya. Mungkin sebelumnya saya memang nakal. Atau saya melakukan sesuatu yang saya anggap benar, tapi tak bisa saya kemukakan ke bapak. Untuk ngomong pun saya sulit. Bahasa saya bahasa tulisan, bukan lisan.

sabar

Kemarin saya mengalami hari yang bener2 panjang. Dimulai dengan janjian yang batal, lalu motret di Senayan, ke Ambassador, Plaza Semanggi, yang semuanya diwarnai debar panik. Untung berujung debar manis sepanjang jalan Sudirman di tengah malam.

Banyak yang terjadi dalam satu momen debar panik itu yang membuat rencana awal akhirnya bubar. Ini membuat saya harus mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian itu lagi, merencanakan dengan matang, dan mengupayakan tak ada kesalahpahaman. Kecuali jika itu datang dari luar diri saya, apa boleh buat.

Saya sempat sedih karena merasa tak bisa melakukan suatu hal agar segalanya berjalan lancar. Juga sedih karena ini berarti jalan yang akan dilalui makin panjang. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa memilih jalan damai, berada di tengah, tak memaksakan diri dan tidak memaksa orang lain mengikuti apa yang saya pikirkan.

Sabar bukan berarti menyerah.
Sabar bukan berarti kalah.
Sabar adalah meminimalkan hal negatif ditimpakan padamu.
Sabar adalah jalan damai untuk semua.

anak bawang

Suatu malam sekitar Maret lalu, ada peristiwa yang membuat saya menyadari sesuatu hal. Ternyata saya tak memiliki akar di mana pun. Tidak di satu komunitas, di suatu adat, bahkan hampir2 di keluarga.

Dulu di Makassar seringkali saya dikira orang Jawa. Ketika di Kalimantan, kalo nggak dikira Jawa, pasti dikira orang Banjar. Bahkan seorang sepupu yang tak begitu akrab dan jarang ketemu mengira saya orang Cina. Saya tak begitu dikenal dan mengenal keluarga besar karena malas gaul dan pemalu :p

Di lingkup komunitas juga begitu. Zaman kuliah, saya ga pernah di fakultas maupun di jurusan. Kebanyakan di jalan. Ketika riuh reformasi berakhir, saya gaul ke jurusan Fisika di fakultas MIPA. Lama2 main ke Teknik. Saya terasing dengan fakultas sendiri di Ekonomi. Oleh mahasiswa baru, saya kadang dianggap anak Fisika :p, bahkan diminta untuk asistensi laporan. Kesian juga anak2 baru itu.

Nah, yang parah, sebenernya saya agak terancam juga dengan ketidakjelasan itu. Setiap kali saya harus kembali ke fakultas untuk kuliah (yg jarang banget saya lakukan), saya harus melewati tempat nongkrong anak Fisip dan Sastra. Sering sekali saya digertak, dihardik, karena dikira anak Teknik.

Ya, hubungan fakultas ini emang kayak kucing dan anjing. Tawuran mulu, apapun bisa jadi masalah. Ga mikir bahwa itu merugikan semua pihak. Enak bener ngancur2in gedung kampus yg dibangun dari duit mereka sendiri, duit yg dibayarkan orang tuanya. Tapi nantilah setelah kalian lulus, baru terasa gimana ga enaknya dimana2 dikatain tukang tawuran 😦

Dari segi penampilan, saya emang ngga ‘Fekon’ banget yang terkenal modis2, dan seperti masuk kawasan pecinan, karena penghuninya, errr…ya, gitu, mungkin sama dengan kampus lain, banyak orang Cina. Saya cowok banget, jins sobek, kaos dilapisi kemeja yg ga dikancing, topi, dan sendal jepit. Gimana ga makin terasing?

Ketika wisuda pun, saya sama sekali tak melepaskan kebiasaan ‘aneh’ itu. Wisudawati lain bersanggul dan berkebaya, saya tetap dengan rambut awut2an, jins sobek serta sepatu kets, tanpa bedakan!

Di komunitas setelah bekerja juga begitu. Ga ada yang pasti. Komunitas blogger, nama saya sekedar tercantum di sana, itu pun karena diundang. Organisasi profesi juga ngga, apalagi organisasi kedaerahan.

Peristiwa Maret lalu itu bener2 bikin saya berpikir, saya ini sebenernya manusia bebas, tanpa identitas, atau malah anak bawang?
Kasiaaaan…. *pake gaya menghinanya ipin-upin*

Manis dan Pahit

Saat diberi kebahagiaan dan kabar gembira, saya sekaligus ingin belajar sesuatu.
“Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dimuntahkan”

Petuah dalam pelajaran bahasa Indonesia zaman SD ini berarti bahwa; yang manis bisa saja beracun. Seperti dalam cerita Putri Salju yang diberi apel manis oleh nenek penyihir yang ternyata berisi racun.
Dan yang pahit, seperti obat. Memang rasanya tak enak, tapi itu hanya sesaat dan pasti akan menyembuhkan, membebaskanmu dari rasa sakit.

Pesan ini mengajarkanku untuk tidak terlena menerima segala kebaikan. Kita bisa mengukur dalamnya laut, tapi kita takkan pernah benar-benar tau kedalaman hati seseorang.

Kita bukan tak menghargai kebaikan orang lain. Kita hanya berusaha berjaga2 karena selalu ada penghianat di setiap kelompok, kata Tan Malaka. Maka belajarlah menjaga dirimu sendiri, belajarlah menyayangi hatimu sendiri, dan belajarlah menghargai pikiranmu sendiri. Karena hanya kamu yang bisa melakukannya, bukan orang lain di luar dirimu.

Temanmu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Berdamailah dan bekerjasamalah.

Selamat

Diem2 sejak tanggal 1 Juni lalu saya udah janji dalam hati, saya ga akan bertindak sedodol tahun lalu. Saya akan mencatatnya, menyalakan alarm jam 12 pada 15 Juni nanti, dan sebagainya.

Saya juga ga akan beliin sesuatu yang memakai ukuran seperti saat membelikanmu baju tahun lalu. Postingan ini pun sengaja kusiapkan sebelum harinya tiba.

Saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, buat kamu. Juga selamat ulang tahun pernikahan buat bapak-ibu.

Semoga segala yang kamu cita-citakan tercapai. Semoga segala sehat menyertaimu. Semoga rezeki selalu dilimpahkan padamu.

Juga…semoga waktu makin mendewasakan kita. Semoga segala mimpi yang kita rajut, akan terjalin indah.

Amin!