bayang gelap?

saya ga tau persis apa yang sedang terjadi saat ini. pada satu sisi, kebahagiaan mengalir tiada henti. karena kamu selalu ada di pagi, siang, sore, dan malamku. tapi di sisi yang lain, ada rasa kuatir yang tak henti mendera. ada ketakutan menghadapi dinding yang entah tebal entah tipis di depan sana. di sisi yang lain lagi, bercampur segala hal tentang masa depan dan masa kini. saya takut pada kemungkinan datangnya bayang2 gelap di sisi satunya lagi. saya ga tau ketakutan macam apa yang tengah saya alami. ia terus membayangi. mungkin itu yang membuatku begitu gampang menangis akhir2 ini?
saya kangen kamu, selalu, sangat! ah, bagaimana menamainya?

terbakar

hari yang melelahkan. sangaaaat melelahkan.  pagi2 saya sudah terbakar amarah sendirian. membaca berita ini, rasanya amarah makin memuncak. lalu membaca berita tentang komitmen sekelompok pemuka agama yang berkumpul di rumah walikota, rasanya makin marah. mereka katanya akan membuat kampanye penegakan moral. saya tidak tahu, moral mereka sendiri sudah seberapa tegak berdirinya.
saya juga bingung, kenapa postingan macam ini masuk ke sini, dan bukan di sana.

*saya ingin cepat pulang. saya kangen kamu!

Andrea Hirata

Pekan lalu saya mendengar kabar Andrea Hirata akan datang ke Balikpapan. Gw konfirmasi via sms, katanya bener. Gw sempet ngisengin soal Mbak Linda Christanty yang juga kebetulan lagi di Balikpapan bareng Mas Andreas Harsono yang menggelar workshop Jurnalisme Sastrawi. Tapi ga ditanggepin ma dia, hehehe.

Andrea dijadwalkan jadi pembicara di Telkom siangnya, dan malamnya di Gramedia. Sore2 dia sms: “Nanti ke Gramedia Balikpapan ya, jam 7“. Gw ga janji datang, cuma menjawab Insya Allah, soalnya di kantor lagi dipenuhi big-bos, ada pergantian kekuasaan. Tapi Di sela2 ‘ketegangan kantor’ akhirnya gw bisa bolos ke Gramedia, sambil bawa buku2 buat ditandatangani. Gramedia cuma memberi kesempatan 10 menit bertemu sebelum dia naik panggung.

Ga menunggu lama, dia datang. Dia bilang, “Eh, Yati, akhirnya kita ketemu juga ya!” Dia ngajak duduk dan ngobrol. Gw dan 4 temen lainnya langsung nyodorin buku. “Haduh, akhirnya baru ketemu skarang ya, Yat,” katanya, diulang lagi. Ngobrol lagi. Lalu 10 menit berakhir. Kami balik ke kantor dan Andrea memulai acaranya.

Esok pagi, Andrea sms ngomentarin tulisan. Katanya memukau [mungkin menyesuaikan dengan judul tulisan :p] tapi gw bilang itu bukan tulisan gw. Sebenernya gw kesel karena ada beberapa hal yang lupa gw tanyain. Meski sering imel2an dan sms-an tapi gw mo nanyain soal khusus saat ketemu langsung. Terpaksa pertanyaan itu akhirnya gw layangkan via sms juga. Andrea janji akan menjawabnya di imel, kalo inget :p. Tapi ada hal yang lebih ngeselin! Ternyata dia berkunjung ke tetangga kami tapi tidak ke kami. Huh!

dinding

“ah, saya benci
seperti mendahului kehendak tuhan
tapi bagaimana pun kondisi itu harus disiapkan”

Terima kasih, my dear. Obrolan panjang tadi, sungguh melegakan. Membuat kita terbebas dari ruang gelap. Meski di depan sana masih ada dinding tebal yang harus kita lewati. Tak mengapa. Asal bersamamu, takkan ada jalan terjal. Meski harus menunggu di ujung waktu, tangan kita takkan saling melepas jalinan. Hati kita takkan usai mengingat janji yang sudah terucap.

hari bumi

Masih soal plastik-plastik seperti yang gw posting kemarin. Jadi, ceritanya, ada sebuah organisasi peduli lingkungan bikin kegiatan memperingati hari bumi di sini. Mereka akan membagi2kan tas daur ulang dengan pesan ‘pakai tas ini saat berbelanja’. Maksudnya, agar konsumen tidak lagi menjejali bumi dengan plastik-plastik dari toko yang ga akan hancur dimakan tanah itu. Kegiatan organisasi ini disponsori beberapa perusahaan tambang migas [yang notabene juga salah satu penyumbang terbesar karbon pemanas bumi, hiks]

Dengan pengalaman gw kemaren, tentu saja gw setuju banget dengan kegiatan ini [padahal sih ga pengaruh apa2 ke mereka gw setuju atau ga :p] Tapi gw sungguh prihatin karena katanya panitia kegiatan itu cukup kesulitan masuk mall dan supermarket untuk membagi2kan tas daur ulangnya. Mereka terkendala izin pemilik mall. Yaelaaahhh… bikin kesel [lagi]! Mall2 yang suka ngasih banyak plastik itu seharusnya yang lebih banyak diajak ngobrol soal bagaimana menjaga bumi. Tapi siapa yang mereka dengerin? Ga mungkin gw, liat aja kemaren perlakuan mereka. Padahal kalo mau melayani konsumen, lha gw juga konsumen tapi kok ga diladeni ketika gw menolak plastiknya?

Lalu gimana caranya biar mereka mau mendengar? Kalo gw bilang sih, komporin itu walikotanya. Kemaren dia udah kampanye ‘bersepeda ke kantor’, sekarang ajak lagi ‘ber-tas daur ulang’. Ini memang “hanya” tindakan kecil, tapi menurut gw, ini ajakan yang lebih nyata. Kalo bersepeda…hmm, harus pake duit banyak buat punya sepeda. Jalan kaki bahkan lebih murah :p. Ayolah, kayak gw dong, ke kantor jalan kaki. Hihihi…oke, ngaku deh, gw punya motor sejak 4 tahun lalu tapi gw ga bisa dan ga pernah berani make dan akhirnya cuma parkir di rumah sepupu gw. Tapi kan, dengan ketidakmampuan gw pake motor itu, gw ga ikut2 nyumbang karbon dan polusi? Yaks…. postingan maksaaaa!
Selamat hari bumi!

perempuan

Apa yang bisa saya ceritakan tentang hari-nya para perempuan Indonesia hari ini? Melupakan himpitan hidup mbak2 penjual jamu gendong dengan menghadirkan profil para perempuan manajer? Mengabaikan perjuangan kaum buruh perempuan dengan mengeksplorasi berita tentang parfum dan panggung para selebriti yang memperingati hari Kartini?

Ah, terlalu biasa. Saya ingin membagi cerita dari kawan saya, si anak Papua itu. Ketika seluruh perempuan dunia yang mengaku berpikir maju, lantang meneriakkan tentang pemberdayaan perempuan, sekelompok masyarakat di ujung timur negeri ini, sama sekali tak tersentuh. Mungkin daerah yang lebih dekat dengan pusat kekuasaan juga masih banyak yang mengalami ketertinggalan seperti warga Papua, tapi mungkin tak separah di sana, setidaknya menurut kawan saya itu.

Cerita kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, sudah menjadi ciri beberapa kelompok masyakarat adat di sana. Misalnya di masyarakat suku Amungme. Jika seorang suami tidak menyukai sikap istrinya, misalnya merasa dihalang2i untuk gaul atau seneng2, maka justru saudara2 si istri menjadi pembela si suami. Mereka akan mengatakan: “Ipar masih banyak ladang yang laen bukan satu itu saja. Kita kasih kamu satu lagi ini, trus tinggalin aja yang lama”. Intinya, kalo istrinya ngelarang2, sodara2 istrinya ngasih perempuan satu lagi buat si suami. Dodol banget yak? Tapi kalo si suami yang mengusulkan perempuan lain untuk dijadiin istri keduanya, maka dia wajib membayar denda kepada keluarga istrinya.

Adat lain, ada lagi. Mas kawin boleh nyicil! Itu brarti, mereka boleh kumpul kebo dulu sampe punya banyak anak, baru nikah resmi. Asal ngasih DP dulu buat mas kawin. Alamak! Si temen gw ini punya temen kayak gitu. Udah punya dua anak baru mulai nyicil mas kawin.

Ada satu lagi, pengalaman temennya kawan gw. Sebut saja A. Si A udah beristri. Tapi suatu hari dia kenal perempuan lain, mereka menjadi deket, sampe akhirnya perempuan itu bunting. Maka dipanggillah si A menghadap bokap perempuan itu untuk dimintai uang denda karena anaknya bunting. Si A bilang, dia mo menikahi perempuan itu, tapi si bokap menolak kalo anaknya dijadiin istri kedua. Pokoknya dia mau si A bayar denda. Kalo nggak, si bapak akan menyerahkan daftar kunjungan si A ke anak perempuannya kepada istri si A. Mau ga mau, daripada bayar denda ke dua pihak, akhirnya si A membayar denda Rp 60 juta ke bokap cewek itu. OMG, masih mending kalo itu duit diserahkan ke perempuan hamil itu buat biaya anaknya nanti. Lha kalo diabisin sama bapaknya buat berjudi, minum2, dll, gimana? 😦 Dan setelah pembayaran denda, masalah dianggap selesai dan seolah2 tidak pernah terjadi apa2.

Nah, nikah adat ada lagi. Misalnya perempuan dan laki saling suka, mereka bikin perjanjian pernikahan secara adat. Jika dikemudian hari mereka ada masalah, misalnya suami ketahuan selingkuh, maka pilihannya ada dua. Bayar denda atau mati. Tapi ini berlaku untuk yang sesama suku. Tapi ada juga suku lain yang masih menyelesaikan permasalahan seperti itu dengan cara kekeluargaan, lalu bayar denda dan cerai. Tapi ujung2nya tetep sama, perempuan selalu dikorbankan, dan umumnya pelakunya adalah orang tua dan saudara mereka sendiri.
Selamat hari Kartini [telat sehari :p]

sakura

Kota Minyak, 12 September 2003

Usai percintaan panjang kita semalam
Ada yang membuatku rindu
Untuk selalu kembali padamu
Bau keringatmu di tubuhku
Takkan bermusim
Seperti sakura

* coretan pada halaman depan buku Jhumpa Lahiri; Penafsir Kepedihan, kutulis ulang saat ingatanku terus bergelut pada adamu