keperempuanan?

akhirnya saya tiba pada hari terakhir di kantor ini secara resmi. sehari sebelumnya, kemaren sore, bos dan big bos memanggil saya ke ruangannya. bicara enam mata. mereka menawari saya untuk mencabut surat saya. tapi saya udah bulat. dan saya pikir, tak perlulah saya mengungkapkan alasan panjang lebar mengapa dan kemana saya setelah cabut dari sini karena hal itu ga akan membawa perubahan apapun.

lagipula, di surat resign toh saya sudah mengungkapkan satu alasan, yang saya pikir itu udah cara pamit paling baik dan sopan. saya juga merasa ga perlu mengumumkan tempat berlabuh saya selanjutnya pada siapapun karena saya pikir itu tak terlalu penting untuk diketahui orang lain.

dan persepsi serta kesimpulan mereka dengan kebungkaman saya adalah: tindakan saya terlalu drastis. saya ini mahluk cerdas tapi ga rasional. cuma bisa bikin sedih dan membebani orangtua, serta tak membuat kantor ini bangga pada saya. dengan tindakan ini, “kamu tuh cuma menunjukkan keperempuanan kamu!” damn!

whatever lah… saya yang paling tau dan saya sadar pada apa yang saya lakukan. kalo mau mengubah keadaan, harusnya udah dilakukan dari dulu tanpa menunggu saya berencana hengkang. ah, sudahlah…ga guna diomongin. saya sedang ingin menata hidup saya selanjutnya setelah 6 tahun ini tak berbuat apa2. ada kerjaan di depanmata yang harus saya bereskan.

bagaimanapun, ada hari2 penuh pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama di sini. saya tak pernah lupa untuk berterima kasih pada pengalaman hidup yang saya peroleh. maaf juga jika banyak hal-hal tak berkenan yang saya lakukan. sampai bertemu di episode hidup selanjutnya. *kok jadi brasa sinetron gini? :p*

dua dewa

pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, saya terhenyak. cuma ada dua dewa yang diakui di tempat ini. kondusifitas dan kapital. dan cuma satu pekerjaan yang diakui di tempat ini. pekerja tambang (entah migas atau batubara). 

mata para ibu bapak akan berbinar jika melihat putranya atau menantu lelakinya mengenakan seragam tambang dengan garis orange atau perak di punggung, penanda mereka punya punggung :p Kebanggaan yang sama atau lebih mirip keangkuhan juga terlihat saat mereka mengendarai kendaraan2 buatan amerika berbentuk setengah truk itu di jalan2 kota. ah, bawa truk aja bangga!

dan di penghujung waktu ketika saya berniat meninggalkan kota ini, saya menuding sekeliling sayalah yang sebenarnya membuat saya panik. mereka terus bertanya: setelah di sini, akan kemana? kerja apa? apakah di tempat baru saya akan lebih baik? apakah gajinya lebih tinggi? bagaimana memulai sesuatu di tempat baru setelah 6 tahun terbiasa dengan ‘suasana sini’? apakah sudah dipertimbangkan baik-baik keputusan itu? dll, dsb.

update:

saya capek!

sesungguhnya saya tersudut dengan pertanyaan2 itu. apakah hanya dengan menjadi SIAPA maka saya DIANGGAP ADA? kepanikan itu sampe terbawa2 dalam mimpi buruk dan mendatangkan tangis di subuh hari. saya mimpi tak seorang pun dari keluarga besar saya yang mau menegur saya hanya karena saya resign. di mimpi itu saya satu2nya anggota keluarga yang tak dianggap dan tak bisa membanggakan.

saya ingin sekali berteriak bahwa saya memang sedang ga ingin jadi apa-apa dan siapa-siapa sekarang ini.

 

* entah ada hubungannya atau tidak, saya menulis postingan ini karena terinspirasi dari postingan di blog dee: Perubahan tak pernah terjadi oleh hal lain di luar kita, meski faktor eksternal bisa jadi pemicunya. Yang mampu menggerakkan perubahan sejati hanyalah kita sendiri.

juga dari kata2 yang pernah diucapkan puput: Mbak, perhatiin si vokalisnya Ungu kalo nyanyi. Tangan satu nunjuk2, tangan satunya nepuk dada. Itu tingkah pola sebagian dari kita, menuding orang lain dan menyanjung diri sendiri. Pret!

resign

akhirnya saya mengambil keputusan. sepulang cuti yang lumayan mendadak tapi panjang itu, esoknya di kantor saya segera membuat surat resign. terhitung mulai hari terakhir bulan ini. di surat itu saya menulis alasan: akan melanjutkan sekolah saat ada kesempatan.

sebelumnya, selama sebulanan lebih, saya menebar surat lamaran kemana-mana. pikiran takut menganggur itu terus mengejar2 saya sehingga nyaris setiap hari saya mengirim lamaran. bahkan selama saya cuti pun saya tetap mengirim dan menunggu panggilan kerja :p

tapi sepertinya, apa yang terlalu dikejar-kejar penuh nafsu, biasanya akan menjauh. dan itu bikin capek. kenapa sih saya begitu takut menganggur dan tidak begitu yakin pada kemampuan diri sendiri? 

akhirnya saya membuat jeda beberapa hari kemarin. tak mengirim satu pun surat lamaran. dan tak disangka, seorang kawan menghubungi. memintaku bergabung di perusahaannya. sebuah tempat dimana saya bisa melakukan kegiatan yang selalu saya sukai, tetap menulis. 

tapi garis mati di tempat itu tidak terjadi setiap detik seperti di sini. mungkin saya akan bisa menghirup nafas panjaaang kapan pun saya mau. teman saya juga menawarkan, jika capek meng- edit tulisan, saya boleh jalan-jalan ke kampung, berbaur dengan petani, bersama mereka menyayangi ibu bumi dengan mengolah lahan pertanian organik, membuat bahan bakar bio gas, dan sebagainya.

saya tertarik walaupun saya belum bilang YA. tapi saya sekarang bisa tersenyum lebar. bukan finansial yang dijanjikan teman saya. tapi saya bisa senang-senang di sana. keputusan saya memang belum mencapai garis finish, tapi saya sudah punya bayangan dan saya akan enjoy di sana.

jika jalan ini yang akhirnya saya pilih, jarak akan menjauhkan kami. tapi jangan risaukan itu. kita telah terbiasa dengan jarak. waktu dan tempat adalah kemerdekaan yang sama kita genggam. tapi hati akan tetap menjalin, saling memilin, erat.

belum

tetangga kubikal: kok kamu jadi pengalah gitu sekarang?

saya: saya belum menyerah, belum kalah. saya hanya berhenti sejenak, menghirup nafas baru

 

*hu uh, maafkan. banyak yang harus kuceritakan tapi tak tau akan memulai dari mana*

It’s Me!

Saya tergelitik untuk menulis posting ini setelah seseorang mencurigai rencana perjalanan saya besok lusa. Menurutnya, saya sedang aneh. Tidak biasa2nya saya seperti ini. Katanya lagi, pasti ada sesuatu. Dengan kerjaan saya yang sekarang, yang saya bilang bahkan tak punya waktu untuk diri sendiri, kok bisa2nya bepergian untuk alasan maen doang, dalam waktu yang lama pula [lagi2 untuk ukuran orang sesibuk saya]. Dia bahkan bilang: dia tau kapan saat saya bener2 senang, sedih, atau menutup2i kesedihan. Ouh, ma kasih, ada yang bisa mengerti, saya bersyukur.

Tapi saya bilang ke dia, saya dulu seperti ini. Dan saya sedang kangen dengan itu. Saat pengen pergi2, saya langsung cabut. Kemana saja. Sendirian, atau bersama seseorang atau beberapa orang [dan pasti selalu cantik sendiri di tengah penyamun]. Saya sedang kangen berpikir dan bertindak spontan. Saya menyesal tidak melakukannya sejak kemaren2 dan membiarkan diri saya terkungkung selama lima tahun.

Sekian lama saya terjebak dalam rutinitas. Dan baru terbangun beberapa hari lalu. Dalam sekian menit obrolan saya dengan Dian, di kamar dan disambung di kantin kantor, saya menemukan sebagian diri saya yang dulu. Ah, bodoh dan leletnya otak saya sekarang 😦

Menyedihkan.
Kenapa saya tak pernah ingat lagi bagaimana serunya berjalan sendirian ke Bali, Lombok, terus ke timur lagi, lalu pulang dengan kapal ke Makassar. Atau bagaimana menegangkannya melewati daerah konflik seperti Poso saat setiap menit nyawa bisa melayang karena ledakan ranjau dan tebasan parang dari lelaki berwajah suram yang menyeruak dari hutan di tepi jalan?
Atau bagaimana darah berdesir saat melewati tanjakan dengan tebing menganga di sisi jalan sepanjang wilayah Kebun Kopi, jalan trans Sulawesi dari selatan menuju Gorontalo dan Manado? Atau bagaimana was-wasnya orang2 yang kutinggalkan karena saya nekad menempuh Bandung-Jakarta tengah malam buta tanpa ada tempat yang dituju?
Atau bagaimana mama menangis saat tau saya bolos dari lokasi KKN dan ke Jawa dengan kapal saat laut sedang tak bersahabat karena badainya, lalu menyusuri timur hingga barat? Atau bagaimana keluarga besar saya tercengang ketika menyadari saya benar2 meninggalkan rumah untuk menetap di Kalimantan dan memulai semuanya dari nol, sendirian.

Saya baru terbangun sekarang setelah tertidur enam [baru inget, bukan lima tahun seperti saya tulis di atas] tahun lamanya. Selama ini saya ketakutan dan melihat spontanitas saya di masa lalu adalah sebuah kebodohan. Pantas Dian menertawai kekuatiran saya yang melarangnya ke pedalaman hanya berbekal duit 40 ribu rupiah, atau menyeberang ke Madura dengan duit cuma 27 ribu di tangan. Buat saya, itu konyol. padahal, dulu saya juga melakukan itu! Hhhhh….saya terlena kemapanan, pelayanan nomer satu [tau sendiri, klien sering ketakutan dicap jelek kalo ga ngasih pelayanan istimewa]

Jadi, sekarang saatnya BERGERAK [oh God, bahkan saya nyaris lupa punya blog meledak2 itu] Saya udah memulainya Rabu kemarin. Memutuskan libur dan jalan2 saat hari udah menunjukkan pukul 1 siang [untung ada temen kantor yang baik hati]. lalu nyebrang bolak balik Sungai Mahakam, menyusuri kota tua hingga gelap, makan di Jinggo, warung khas Samarinda, yang selama ini terlupa karena kebanyakan masuk mall. Lalu nginep di kost temen dan yang punya kost nginep di kantor. Sehari yang penuh … entah bagaimana menamakan segala hal yang memompa deras adrenalin saya itu.

Dan sekarang saya berdebar untuk perjalanan panjang lusa. Dan lebih berdebar lagi atas keputusan yang akan saya ambil setelah pulang cuti, akhir Februari nanti. Hei, believe me! it’s me, really really me!