tentang kawan

kau tak akan pernah memahami fungsi selat dan laut sebagai penghubung antar pulau, kalau kau tak pernah memahami fungsi sungai sebagai penghubung gunung dan pantai

Kalimat itu terus berdengung di telinganya, membawanya berjalan, jauh ke pelosok negeri. Detik ini ia berada di Aceh, di tepi samudera, sisi paling barat negeri ini. Esoknya dia terlihat menari bersama perempuan2 sub suku Dayak Kenyah. Esoknya lagi dia mengabariku sedang melawan dingin di kawasan Bromo, lalu beberapa saat ia telah bergeser ke kaki Semeru, tiba-tiba lagi berada di Sampit, lalu kembali ke Minahasa, dan sesaat dia telah mengayuh sampan di perairan tanah kelahirannya, Mandar.

Ia tak pernah lupa mampir ke sini. Seperti kemarin, setelah dua tahun lalu ia juga mampir, bercerita tentang perjalanannya. Ia selalu saja membuatku iri. Ia kini bisa bercerita tentang titik dalam peta nusantara yang sudah dihubungkannya dalam catatan perjalanan. Aku tak bisa berkata apa2, cuma bisa mendengar ceritanya dengan segudang rasa iri. Eh, aku sempat bilang sama dia kalo sekarang aku udah bisa maen biola dikit2, setelah dulu aku gagal belajar biola dari dia. Dan setelahnya, dia memanas2iku untuk belajar harmonika. Dan, seperti kebo dicucuk idungnya, aku nurut aja, langsung beli harmonika kecil kemarin, langsung belajar.

Dan sebelum kami berpisah, ia berbisik, “Mungkin saya akan menetap, berbuat sesuatu yang lebih nyata, menyatukan pemuda2 yang dengan tangannya sendiri membangun usaha kecil, tanpa campur tangan pemilik kapital dari negeri pusat kekuasaan bernama Jakarta“. Hueksss…dia membuatku iri dua kali. Pertama dengan cerita2 perjalanannya menghubungkan titik-titik dalam peta nusantara. Kedua, sebelum aku mengikuti jejaknya berkeliling nusantara, dia menyetop langkahku dengan pesan:
tetaplah berdiri di sini, sama seperti dirimu yang kukenal sejak pertama kali. dalam pikiran yang jernih, tindakan yang suci, dan hati yang tenang dan damai. pegang erat ketiganya, jangan pernah goyah.
Dengan semua gempuran persoalan ini, apa dia pikir pesannya itu tidak berat? 😦

tentang waktu

“Apa jadinya gw tanpamu?”
Kasih, pertanyaanmu itu, juga ada di ujung lidahku. Tapi seperti biasa, kutelan lagi lalu mencari jawabannya pada wajahmu yang kutatap diam-diam. Seperti biasa pula, aku berharap hati kita yang akan saling bercerita, jauh lebih banyak. Lalu mata kita yang bertemu dalam tatap malu-malu, memahaminya begitu saja.
Yang tak berhenti kusesali, doraemon tak meminjami kita pintu ajaibnya, untuk kembali ke masa lalu. Tak usah jauh-jauh, cukup dua hari ke belakang. Aku ingin menikmati debar indah itu lebih lama. Aku ingin menikmati saat-saat ketika rasa rindu yang menggila itu tertumpah hingga berceceran di sepanjang jalan hingga depan toko buku.

“Udah lebih dari cukup, kok”
Itu jawabmu ketika lagi-lagi aku merutuki waktu yang berlari terlalu cepat dan memisahkan kita di depan pintu kaca. Kalo saja burung besi itu tidak delay sepanjang hari dan membuatku terkatung-katung di kota buaya. Kalau saja rasa ngantuk tidak menyerangku malam itu. Kalau saja aku bisa bolos dan tau jalan pulang. Kalau saja aku ga lupa mengundurkan waktu kepulangan. Kalau saja jarak kota itu dan kotamu sejauh belahan bumi yang lain.
Terlalu banyak ‘kalau saja’ yang tak tercapai dan membuat kita terdesak dalam himpitan waktu yang tak ramah. Tapi ya, sudahlah. Kuturuti katamu, ini sudah lebih dari cukup buat kita. Ya, 340 keping senja yang kita lewati dalam bentangan jarak ini, telah cukup membuat kita kuat, untuk menahannya, sebulan lagi, semoga!
Miss u, my luv….

pingsan aja ah

Gara2 gw jual laptop, semua data gw ilang. Padahal sebagian besar nyawa gw ada di sana. Waktu ngopi semua file dan folder ke flashdisk sih lengkap, gw cek berkali2 kok. So, dengan yakin gw hapus file di laptop, termasuk di recycle bin. Pan mo dijual, harus bersih kan?

Lalu terjadilah hari ini. Saat gw mo upload ke blog, foto2 lama yang lumayan langka dan berharga banget (karena lokasi liputan dan momennya ga mungkin diulang), ternyata semuanya ga ada di FD gw! Gw udah menyusuri kemungkinan jejak gw masih bisa dipungutin, baik di dokumen kantor maupun di bekas laptop gw. Di dokumen kantor, sebagian masih ada, apalagi yang tulisan2. Tapi foto2, ga janji! Yang tersimpan dengan baik hanya foto2 yang pernah dimuat di koran. 😦 Apesssss!

Akhirnya gw cuma bisa tertunduk lesu dan lemes.
Lalu secercah harap muncul. Semoga laptop itu, oleh pembelinya, belum diapa-apain, belum diformat. Tersengal karena berlari, gw coba nyelamatin hidup gw. Ternyata, laptopnya udah diformat ulang. Terima kasih. Gw udah kehilangan lebih separuh otak gw. Gw udah kehilangan lebih separuh nafas gw. Dan….yang paling menyakitkan… aaarrrgghhh, gw keguguran!!! Janin buku…ya Tuhan, janin buku gw. :(( Nangis guling2 ga akan cukup. Pingsan juga ga akan ngembaliin file gw. Tapi ga tahan lemesnya nih….pingsan aja ah…. :((

kalah

ini pengakuan saya…
hari kemarin akan kucatat sebagai hari kekalahan perang
Perang melawan nafsu amarah
dan hari ini adalah hari pemakaman
kemarahan harus dikuburkan sebelum membusuk
tapi ia tak pantas disertai tembakan salvo, tidak juga karangan bunga dan pertanyaan
kecuali senyum
tak perlu diiringi air mata, tidak juga barisan pelantun lagu kematian, pidato
kecuali hening
dalam peti mati, sisipkan saja biola dan sapu tangan
dengan lengking dawainya biar kuiris sepi yang menjalari kami
lalu kubasuh luka di sela bisikan jemari yang meneteskan lara

*semuanya memang cuma lelucon, untuk menarik perhatianmu…

autis

Kamu bilang autis? Iya, saya autis. Saya sibuk dengan dunia saya sendiri. Saya bukan tak mendengar keriuhan kalian di luar sana. Tapi saya enggan terlibat. Saya sibuk. Sibuk menikmati dunia saya sendirian. Sangat nyaman di sini.
Idiot? Masokis? Oh, iya, sangat idiot. Mengulangi kesalahan yang sama. Dan dengan sangat idiotnya menyakiti diri berulang-ulang. Saya pikir dengan menyakiti diri, autis saya akan sembuh. Saya mencoba dan selalu mencoba menyelami dunia kalian walaupun itu menyakiti saya, karena saya ga ingin autis lagi. Tapi begini jadinya. Saya berdarah2.

# dari seorang kawan; tak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri!
# maka kupahami flowers for algernon sebaik daniel keyes. menyakitkan memang!

taman

Aku tau keresahanmu. Aku pun resah sepertimu. Tidak, sayang….tak akan kuhapus jejak kita berdua, seperti katamu. Bukankah kita sudah cukup belajar dari taman cinta yang dulu kau bangun untuk kita berdua? Ingat bagaimana sesaknya hari2 setelah taman itu kau tutup? Padahal waktu itu tak ada huru hara seperti di Omashu, cerita dalam dongeng-dongeng malam pengantar tidurku darimu. Percaya, sayang, jejak kita akan abadi disini, taman kedua yang tanpa labirin. Dan hei…siapa yang tahu, 100 tahun lagi dari sini akan lahir senandung cinta yang lebih merdu dari nyanyian seruling emas dan kolintang itu? Iya, karena itu, akan terus kupajang surat cinta kita disini. Biarkan mereka membacanya, mencatatnya diam-diam, lalu mengirimnya buat para kekasih mereka.
Ayo sayang, berikan senyum termanismu hari ini, untuk kupeluk dalam mimpiku nanti malam.

selamat bertugas

Pagi ini mendung menggelayut di wajah kota. Seperti mendung yang membayangi wajah kami. Kelesuan sudah terasa sejak Sabtu kemarin. Seorang kawan, upsss…maksudnya atasan saya, ditarik ke coorporate pusat [hebat,…dengan jabatan yang melesat jauh]. Banyak senior di kantor ini, tapi tidak semuanya bijak. Jadinya, saya [mungkin juga kawan2 yang lain] benar2 kehilangan seorang yang bijak, bahkan melebihi kebijaksanaan yang lebih senior. Cool kalo kata anak2 sekarang. Pinter tapi ga menggurui, kalo marah ga pernah keliatan lagi marah, selalu tenang menghadapi persoalan serumit apapun, bahkan disertai guyonan sehingga kami tak ikut panik. Sepertinya, ajaran yang diturunkan dari orangtua beliau, benar2 dijalankan ; Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa menyenangkan orang lain, membuat orang tidak senang itu, tidak membahagiakan [maap…sebenernya dalam bahasa Jawa, tapi karena ga bisa bahasa Jawa, saya yang sok tau ini mengartikan kira2 seperti itu]. Selamat bertugas di tempat baru, terima kasih bimbingannya! 🙂