Lebaran yang Mengiris Hati

Dua minggu lebaran berlalu. Saya sudah kembali ke Depok setelah mudik sepekan lebih di kampung halaman. Tapi sampai hari ini saya masih sering termangu. Lebaran ini terasa ganjil. Tak riang. Tak seramai biasanya. Sanak saudara yang biasanya datang rombongan demi rombongan, kini tak ada lagi. Yang datang satu dua orang pun tak sampai hitungan sebelah jari tangan. Sepi. Nelangsa. Saya tak lagi berada di dapur terus menerus untuk mencuci piring gelas bekas tetamu seperti tahun tahun sebelumnya. Posisi saya kini berpindah ke dipan kecil di depan tivi, nyaris sepanjang hari selama libur mudik kami.

Saya tahu, kami semua tahu sebabnya, karena Etta sudah tiada. Kami semua merasakannya, tapi tak ada yang membicarakannya. Kami hanya menelan rasa sepi dan ganjil itu dalam diam bersama kesedihan yang dalam. Kami menelannya bulat2 disertai usapan pada sudut mata karena rasa hangat dan basah yang menjalar pelan. Ada pedih di ulu hati, ada perih di ujung hidung yang memerah.

Dua hari setelah lebaran, hujan mengguyur deras sepanjang hari tiada henti. Sabtu pagi, seketika dada makin sesak saat menyaksikan dinding tanah di kolam ikan buatan Etta terkikis runtuh. Saya bisa menahan diri dan menelan raungan dan air mata, meski akhirnya tak tahan juga untuk tak meneteskannya saat diam-diam saya melirik kakak saya yang selalu berurai air mata. Dia tak pernah tak menangis saat melihat semua bekas tangan Etta di setiap sudut rumah dan halaman kami. Pada meja kursi kasar buatan Etta dengan kapaknya. Pada kolam ikan bekas paculan Etta. Pada setiap helai dedaunan tanaman Etta. Pada panenan buah peninggalan Etta. Pada bisikan terakhir serupa pamitan Etta di halaman karena tak bisa membantu kakak kami lagi mengurus rumah.

Rasa sesak kian membuncah tatkala satu demi satu dari kami meninggalkan rumah. Jika tak pandai menelan rasa sedih dan nyeri, saya yakin yang keluar saat pamitan adalah raungan dan caci maki. Bukan tak ihlas pada kepergian Etta tapi kepulangannya sungguh terasa sebagai kehilangan jembatan kami. Kami tak pandai bertukar cakap. Kami hanya bisa menelan dan menelan semua rasa. Rasa marah, rasa rindu, rasa sepi, rasa sayang, semua dipendam. Ini memang ketakutan terbesar saya setelah Etta pergi. Mama, dan dua kakak saya yang tinggal serumah, seperti tiga perempuan asing satu sama lain. Etta, yang jadi jembatan mereka (ya, mereka, karena saya tak pernah di rumah) tak ada lagi.

Hari ini, 21 Juli, tepat enam bulan kepergian Etta, pedih di hati masih menusuk. Hari ini, Kamis ke-26 kepergian Etta, perih di hati masih mengiris.

Kenangan Minim Bersama Etta

Hari ini di jam yang sama, sepekan lalu (Kamis, 21 Januari 2016), bapak yang saya panggil dengan sebutan “Etta” bersiap menjemput malaikat pencabut nyawa. Kalimat “laailahaillallah” terus dilafazkan dari mulutnya meski sayup terdengar. Sambil dipapah, Etta lalu buang air besar dan memuntahkan sisa-sisa makanan di lambung, lalu membasuh diri, dan menunaikan salat dhuhur. Usai salat, tangannya disedekapkan, berbaring menghadap kiblat, dan perlahan rohnya beranjak dari raga. Semuanya berlangsung begitu tenang sehingga orang2 terdekat yang mengelilinginya tak menyadari kepergiannya.

Saat dikabari, tangis saya pecah. Hanya sesaat. Saya disibukkan urusan packing dadakan untuk 3 orang, mengamankan dapur dan listrik sebelum ditinggal karena saya berniat akan lama di kampung menemani mama. Kondisi saat itu bener2 kacau. Tarik ulur mesen tiket untuk dua atau tiga orang karena ayah Puan baru masuk kantor sehabis cuti. Rencananya dia akan nyusul tapi akhirnya kami pulang barengan setelah ada kabar Etta meninggal, bukan hanya sakit. Pesawat berangkat jam 17 dan tiketnya harus dilunasi jam 14. Perjalanan ke bandara biasanya memakan waktu 2 jam. Kini sudah pukul 13.00. Puan kebelet. Saya masih harus membeli beberapa printilan, menyiapkan bekal buat puan, dan mampir ke atm. Hujan pun. Tak ada ojek, tak ada taksi, dan tak ada tetangga yang bisa dimintai tolong buat nganterin ke atm atau indomaret karena mereka baru akan keluar rumah jam 2 siang buat jemput anak sekolah, dan jam itu adalah time limit tiketku.
Akhirnya dengan lutut gemeteran karena belum sempet makan siang, saya menggendong Puan serta menjinjing dua tas besar, satu tas selempang kecil, menembus gerimis dan becek. Tak ada ojek dan angkot pun enggan berhenti. Akhirnya saya terseok seok berjalan dengan beban berat itu hingga 600 meter untuk sampai di pangkalan taksi. Saya meminta sopir taksi mampir ke atm untuk bayar tiket. Sopir taksi baru sadar bahwa saya terburu-buru setelah dia melihat saya menangis lewat kaca spion, saat mengabari ibu mertua. Taksi pun melaju kencang.

Setelah berada di bandara dan bertemu ayah Puan di sana, barulah saya sedikit bernafas lega. Saya baru mengingat-ingat bahwa sebelum Etta menjalankan ibadah umroh awal Januari lalu, sesungguhnya saya sudah mengihlaskan kepergiannya. Sebab penyakit sesak etta (karena usia) makin sering kumat sebelum berangkat. Maka doa saya pun hanya satu, “jika Engkau hendak memanggilnya ya Allah, tolong beri kesempatan kepada beliau untuk berkunjung ke tanah suci.”

Meski mengaku ihlas, di pesawat dalam perjalanan pulang, beberapa kali rasanya saya pengen mengamuk, maraung-raung, marah pada diri sendiri. Kenapa saya hanya meminta Etta bertahan hingga selesai umroh? Kenapa saya tak meminta pada-Nya agar kami masih bisa lebaran bersama idul fitri nanti?
Astagfirullahuladzim.

Lebaran idul adha lalu, saya mudik bersama Puan. Suasana lebaran masih rame, karena dari 9 bersaudara, hanya 3 orang yang masih tersisa dan Etta satu-satunya lelaki, sehingga rumah kami adalah tempat ngumpul. Di kampung pun, sama. Tetua lelaki hanya tersisa beberapa orang termasuk Etta dan semuanya sudah tak begitu sehat lagi. “Untungnya” saat itu saya mudik agak lama, sebulanan. Saya pun masih sempet mendorong2 kakak saya agar segera mengajak Etta untuk umroh karena menunggu giliran haji seperti menunggu Godot. Etta dan mama sudah mendaftar pada tahun 2009 dan diperkirakan baru akan mendapatkan giliran berangkat pada 2018, kalau beruntung.

Menurut KTP, Etta meninggal pada usia 84 tahun. Tapi kemungkinan beliau jauh lebih tua dari angka itu karena zaman dulu tak ada catatan pasti. Bahkan tanggal lahir Etta di KTP sama persis dengan 2 orang saudaranya yang lain, padahal mereka bukan kembar tiga. Dari ketiganya, yang tertua tetap Etta.

Hal yang saya ‘sesalkan’, di antara kami bersaudara, sayalah yang memiliki kenangan paling minim dengan Etta. Saat SD saya lebih banyak di rumah kakaknya mama yang berjarak 3 rumah dari rumah kami. Saat SMP saya tinggal di rumah adiknya Etta, yang meski satu desa, tapi saya jarang pulang. Saat SMA saya tinggal di rumah kakaknya mama yang lain di kota kabupaten. Zaman kuliah tak usah ditanya. Lepas kuliah saya ke Kalimantan selama 6 tahun, lalu ke Jakarta. Setelah menikah, saya tinggal di Depok.
Macam apalah saya….ddzzgghhh…
Sudahlah, saya tak sanggup lagi bercerita lebih banyak.

Ketiga

Waktu berjalan begitu cepat. Hari ini Puan berusia tiga tahun. Tahun lalu, cerita ulang tahunnya berisi kejutan2, tahun ini pun sama. “Bakat copy paste” Puan berkembang pesat. Benar2 tahun emas perkembangan otaknya. Saya bangga (tentu saja) menceritakan ini tapi bukan untuk pamer, melainkan sebagai dokumentasi pribadi.

Saya ingat pada September lalu, saya dan Puan mudik selama sebulan. Di kampung, Puan saya ikutkan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Bukan atas keinginan saya tapi karena permintaan Puan. Sejak melihat anak2 tetangga kami mulai bersekolah, dia menuntut hal yang sama hampir setiap hari. Puan pernah saya ‘sekolahin’ sehari di G******e, dan itu membekas banget di kepalanya. Keinginan itu ga pernah padam dan makin menjadi2 karena tiap hari menyaksikan anak2 tetangga naik mobil antar jemput sekolah. Sementara kami belum siap menyekolahkannya. Alasannya, Puan belum berusia 3 tahun, masih terlalu dini untuk masuk sekolah. Alasan lain, di sini (Depok) seperti di perkotaan lainnya, mana ada sekolahan buat anak kecil yang gratis? Mahalnya minta ampyun, padahal ga jaminan juga Puan bakal betah sekolah terus.

Jadwal sekolah di PAUD berlangsung setiap hari pada Senin-Jumat. Dan Puan enjoy meski capek. Pekan kedua kami di kampung, Puan sakit, sehingga dia baru masuk sekolah lagi pekan berikutnya selama dua hari yang terpotong libur lebaran Idul Adha. Pekan terakhir di kampung, dia udah kecapean dan bilang, “Puan mau pindah sekolah ke TK Pelangi aja.” Hahaha, TK Pelangi itu obsesinya karena anak2 tetangga ada 5 orang yang sekolah di sana. Puan juga terpengaruh Ipin-Upin yang sekolahnya bernama sama, TK Pelangi.

Selama bersekolah, pada dasarnya Puan hanya mengulang semua kegiatan bermain yang dilakukan di rumah bersama saya. Jadi, dia sudah mahir merangkai semua permainan di kelas. Dari susun balok, main puzzle, meronce, menggambar, menjiplak bentuk, dan sebagainya. Permainan di rumah memang saya jiplak dari sekolah “sehari” Puan di mall itu. Pelajaran berbeda di PAUD adalah pengenalan huruf vokal, doa2, serta beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ini memang belum saya ajarkan ke Puan. Lagi-lagi saya menganggap masih dini.

Tujuan utama saya ikutkan PAUD semula adalah belajar bersosialisasi dengan lingkungan baru. Tapi mungkin waktunya memang tak memadai, apalagi Puan jenis diesel yang panasnya lama. Selama belajar pun saya ikut terus menerus di kelas.

Tapi hal yang bikin saya takjub adalah, Puan dengan cepat hapal doa2 yang seingatku hanya dibacain dua kali oleh guru PAUD. Selama ini saya juga sering melafalkan tapi sepintas lalu saja karena saya anggap Puan belum sampai ke sana. Yaaa, saya memang pemula banget lah, masih buta soal pendidikan anak, sehingga saya ga tau kalo ternyata memori otak anak kayak kanebo, meresap sampe titik air terakhir :p
Demikianlah, di suatu siang menjelang tidur, saya dikejutkan saat Puan membaca doa makan dengan lancar! Esoknya disusul dengan doa tidur, lalu besok2nya doa sebelum keluar rumah. Ya Allaaahhh…saya bawa oleh2 mudik yang luar biasa buat ayah Puan berupa hapalan doa-doa itu.

Usia menjelang dua tahun kemarin, titik perhatian saya adalah soal bakat foto copy Puan. Kini berkembang sedikit di atasnya. Kadang2 Puan saya anggap “polisi syariah” di rumah, karena dia tidak sekedar meniru lagi, tapi menjadi pengingat. Misalnya nyuruh saya segera salat, nyuruh saya pake jilbab jika akan keluar rumah, mengingatkan jika tidak berdoa sebelum ngapa2in, dll.

Kami pernah main ke rumah tetangga, sore2, sebelum para bapak2 pulang kerja. Di rumah tetangga tersebut, saya buka jilbab karena cuaca sedang gerah banget. Puan pun negur saya dengan suara kenceng, “Kok ibu buka jilbab? Malu bu.” Astagfirullah, iya, iya…saya jadi nyengir :p

Kejadian lain saat puasa lalu, saya dan beberapa tetangga buka puasa bareng di mall. Rupanya Puan merhatiin, biasanya begitu azan magrib, abis buka puasa, cepet2 salat Magrib. Lha kali ini kok ya makannya lamaaa dan ga ada acara salat. Trus dia bisik2 ke saya, “Ibu kok ga salat salat dari tadi?” Haduh, saya kelimpungan cari alasan. Lalu saya bilang saya ga tau letak mushollah karena mallnya besaaar sekali dan ini pertama kalinya kami ke sini. Jawaban ngasal karena sekarang Puan sudah bisa bilang: “Yuk, kita tanya dulu ke orang-orang.”

So, makin jago copy paste Puan, saya harus semakin berhati-hati bertindak, bersikap, berkata2. Terima kasih guru kecilku yang mulai beranjak besar, selamat ulang tahun, semoga bahagia hidupmu, berguna bagi semua mahluk, Aaamiiin :*

Jobless dan Urusan Dana Jamsostek

Status ini akhirnya saya sandang juga, pengangguran. Iya, yang umum
berlaku, status sebagai ibu rumah tangga tanpa pembantu ga masuk hitungan sebagai pekerjaan karena tidak menghasilkan duit. Menghasilkan duit pun masih akan dipandang sebelah mata seperti nasib para pembantu yang gajinya ga sesuai standar UMP. Sehari-hari saya hanya menghasilkan sampah dapur, asap dari kompor, dan lemak di sana sini setelah sibuk memamahbiak menandaaskan makanan sisa2 yang sayang kalo dibuang. Badan pun melar sentosa karena ga (di)sempet(in) olahraga. Hihi, sensi nih, tulisan diawali dengan nyinyir dan curcol sendiri.

Saya resmi nganggur pada 1 September 2015. Surat pengunduran diri saya ajukan pada awal Agustus setelah cuti di luar tanggungan selama dua tahun, mulai 1 September 2013. Selama cuti di luar tanggungan itu, status saya di Tempo sebagai karyawan tidak aktif. Tempo memberi saya kesempatan nyambi sebagai karyawan kontrak untuk ngurusin blog indonesiana.tempo.co. Tapi…akibat kesoksibukan saya, pekerjaan ini kemudian terlantar. Pihak Tempo pun mangambil langkah-langkah menyikapi kelalaian saya dalam menjalankan tanggung jawab. Sebelum 1 september, hubungan kontrak saya pun diputus…huhuhuuuu, perihnya mak😦

Lanjuuuutttt…tetep Alhamdulillah yaaa karena dapet dana pensiun meski ga dapet duit tali asih. Juga ada (sedikit) dana Jamsostek yang bisa dicairkan meski harus melalui proses yang rada2 nyebelin.

Kenapa saya bilang nyebelin? Karena prosesnya udah beda dengan jaman dulu. Tahun 2009 saya juga pernah mencairkan dana Jamsostek dan bisa kelar dalam sehari dengan berbekal surat rekomendasi dari kantor lama. Sekarang syaratnya banyak.

Masih inget kan, negeri ini sempet ribut2 soal dana Jamsostek atau yang sekarang disebut BPJS Ketenagakerjaan. Sebelum Agustus 2015 ada aturan ga boleh dicairkan kalo belum usia pensiun meski sudah ga bekerja lagi. Lalu aturan ini direvisi, boleh dicairkan dengan syarat tidak bekerja lagi. Waktu itu saya baca di berita2, syarat utamanya adalah rekomendasi dari kantor yang menyatakan sudah ga bekerja di sana lagi. Jadi saya ngerasa udah komplit dan siap mencairkan simpenan saya sebulan setelah resign.

Suatu hari di bulan Oktober saya pun menuju kantor Jamsostek di daerah Salemba. Sampe sana, orang bejubel. Saya membaca semua pengumuman yang ditempelkan, dan mulai bingung. Lalu nanya cleaning service, “Mas, ngambil nomer antrean di mana ya?” Dia balik nanya, mau ngurus apa? Mau cairkan dana Jamsostek. Oh, tempatnya di gedung belakang.

Saya pun ke belakang, sambil ngendong Puan nih. Sampe belakang, ketemu Satpam dan dibilangin, “Pengambilan nomer antrian baru dibuka lagi pada 5 Januari.” Astaganagaaa…itu ngambil nomer antrean doang harus nunggu tahun depan? Ma kasih deh. Tapi Pak Satpam lalu ngasih kertas kecil berisi alamat situs bpjsketenagakerjaan.go.id. Katanya ngurus klaim lewat online lebih cepet. Tapi saya disuruh ke kantor depan lagi buat nanya lebih jelas ke bagian informasi. Harus ngambil nomer antrian yang berbeda lagi di sini. Demikianlah, perjalanan jauh dari Depok ke Salemba dengan menggendong Puan menghasilkan secarik kertas kecil tadi.

Di rumah, saya pun segera membuka situs yang dimaksud. Semua berkas difoto lalu diapload ke situs tersebut. Jawaban datang esok hari bahwa saya berkas saya belum lengkap karena berkas ga bisa diunggah. Tapi sudah ada kejelasan bahwa saya harus ke Jamsostek lagi pada tanggal sekian dengan membawa berkas asli.

Ternyata bener, respons via web lebih cepet. Tapiii, ternyata ada syarat baru lagi, dan itu berlaku bagi peserta Jamsostek yang mengundurkan diri sejak 1 Agustus 2015. Syaratnya, surat rekomendasi atau keterangan kerja dari perusahaan harus dilegalkan oleh Dinas Tenaga Kerja. Saya telpon ke kantor dan pihak PSDM baru tahu aturan itu juga. Saya disarankan ke suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Selatan yang membawahi wilayah kantor Tempo. “Di sana paling surat rekomendasinya dikasih cap aja kok,” kata mbak PSDM.

Saya pun browsing lebih banyak lagi dibanding sebelum ke Jamsostek untuk tau pengalaman orang lain. Tapi rupanya blom ada yang update syarat terbaru itu. Saya nelpon ke Disnaker DKI Jakarta, dioper ke Sudin Naker Jaksel, dan jawaban yang didapat…yagitudeh. Saya dibikin bingung antara harus ke kantor wali kota Jakarta Selatan atau Jakarta Barat. Katanya, mending dateng ke sini dulu, kalo ga baru ke Jakarta Barat. Ya Allah, bapak itu ya, ga mikir perjalanan Depok-Jakarta Selatan-Jakarta Barat.

Tapi yasudahlah, semoga cuma sehari ini, sekalian bawa Puan jalan2 ke Jakarta. Ternyata eh ternyata, sampe di Sudin Naker Jaksel, riweuh lagi. Ada beberapa syarat untuk melegalisir surat keterangan kerja. Ada KTP, fotocopy surat keterangannya 4 rangkap, dll, dan yang nyebelin adalah membuat surat permohonan legalisir dengan ditulis tangan. Petugasnya bilang cukup 1, tapi syarat yang ditempel di dinding katanya 2 rangkap. Ckckck, hari gini, buang-buang kertas.

Setelah berkas lengkap, masuklah ke ruangan petugas yang nerima dan akan memverifikasi berkas. Proses ini ga serta merta kelar lho ya, karena lebih banyak waktu nungguin petugasnya inilah itulah. Dan ternyata lagiii…urusan ini ga bisa kelar hari ini juga. Mesti nunggu lusa. Haduh, ke Jakarta lagiiii? So, sehari khusus hanya masukin berkas buat dapet stempel doang, lalu nunggu sehari, lalu esoknya datang buat ngambil berkas yang sudah distempel. Tentu saja plus nungguin petugas ber-apalah-apalah dulu, tanpa sistem antrean–sehingga mereka marah2 sendiri ngeliat orang bejubel nungguin petugasnya.

Yakinlah, setelah kelar urusan di kantor pemerintah, leganya luar biasa, meski duit yang tak seberapa itu belum di tangan. Sebab, urusan di kantor Jamsostek sendiri lumayan cepet pet, khususnya yang ngeklaim lewat jalur online ya. Saya ga sampe 15 menit di kantor Jamsostek Depok dan urusan pun selesai. Tinggal nunggu duitnya cair sekitar 10 hari kerja yang ditransfer ke rekening. Nah, salah satu kelebihan ngeklaim lewat web adalah, kita bisa milih di kantor Jamsostek mana pun yang kita pengen.
Dengan cairnya duit ini, resmi pulalah saya sebagai pengangguran total *urut dada*

Akhirnya…

Hari ini Kamis ke sekian Puan disapih. Sudah mendekati dua bulan. Prosesnya lumayan lama. Kata orang2 yang lebih berpengalaman, lamanya proses itu salah satunya karena menyapihnya ketika si anak sudah melewati usia 2 tahun. Katanya lagi, prosesnya akan lebih mudah jika si anak disapih pada usia 2 tahun pas.

Entahlah. Beragam cara untuk menyapih. Saya udah nanya banyak ibu2 muda saat akan menyapih Puan. Saya ingiiin sekali proses menyapih begitu saja tanpa drama. Katanya proses itu harus didahului dengan pesan yang disampaikan ke anak, jauh hari sebelumnya, 6 bulan hingga setahun. Tapi, ada juga yang berlangsung mulus, bahkan diminta oleh anaknya sendiri, tanpa didahului pesan2.

Saya sempat mencoba menyapih sebelum Puan berusia 2 tahun. Tapi saya ga konsisten. Rasa ga tega membuat saya plin plan. Ditambah pikiran, toh saya di rumah, toh anaknya masih mau, toh air susunya masih ada, jadi kenapa harus disapih? Apalagi ditambah cerita tetangga dan teman lain yang menyapih anak bahkan hingga usia 5 tahun. Saya ga akan sampe 5 tahun juga sih, tapi faktanya ada anak yang bisa sampe usia segitu dan ASI-nya masih ada. Isinya racun? Bohong. Nyatanya ga ada anak usia 2 tahun ke atas yang keracunan ASI.

Demikianlah ketidaktegaan saya berlangsung hingga Puan berusia 2,5 tahun. Sebulan menjelang puasa lalu, akhirnya saya merencanakan untuk menguatkan hati menyapih Puan. Saya mengambil momen puasa karena saya jadi punya penjelasan ke Puan: Bentar lagi bulan Ramadan, waktunya puasa. Ibu puasa makan dan minum, Puan puasa nenen. Nanti, kalau udah puasa, Puan ga nenen lagi yaaa…

Saya ga mengulang2 kalimat itu selama sebulan. Hanya disampaikan sesekali, karena saya mencoba menyapih sebelum Ramadan tiba. Saya berencana mengurangi waktu nenennya misalnya dengan dijatah 2-10 menit saja. Ternyata, cara itu kurang tepat karena faktanya, kami hampir selalu melewatkan waktu yang disepakati. Beberapa kali juga saya berniat berhenti dan membiarkan Puan nenen sesukanya sampai usia berapapun. Lalu saya sadari bahwa keberhasilan menyapih memang terletak pada kuat tidaknya niat dari ibunya. Anak sih pasti akan beradaptasi. Itulah kenapa sistem penjatahan waktu nenen agak sulit berhasil. Saya pun kembali pada niat semula, menyapih pada hari pertama puasa.

Waktunya pun tiba, hari Kamis, usai sahur, saya kembali ke tempat tidur saat Puan nangis kebangun mencari2 nenen seperti biasa. Saya peluk dan ingatkan: Ini sudah puasa, waktunya berhenti nenen. Dan seperti sudah diduga, dia menangis sejadi-jadinya sekitar satu jam, hingga akhirnya dia tertidur kelelahan. Siang hari saat akan tidur siang, proses itu berulang. Puan nangis lagi sejam dan tertidur sambil tersedu2.

Selama proses itu, rasanya sediiiiih sekali, dan saya pun ikut nangis. Apalagi, malam pertama disapih. Puan masih mencoba meminta nenen. Saat saya ingatkan perjanjian seperti subuh dan siang harinya, Puan cuma tertunduk sedih lalu berbalik memunggungi saya dan memeluk guling.

Haduh, rasanya hancur hati ini. Saya sedih karena saya berpikir Puan udah ga membutuhkan ibunya lagi. Saya protes dalam hati, begitu cepatkah dia melupakan nenennya? Rasanya ga relaaaa banget. Saya nyaris tergoda untuk menawarinya nenen lagi. Selama ini saya selalu berpikir rasa sedih itu hanya ke-lebay-an para ibu muda yang baru punya anak. Saya salah. Kini saya mengalaminya. Penuh drama. Mama saya mengalaminya juga pada 5 anaknya.

Puan hanya menangis minta nenen dua kali, pada subuh dan siang di hari pertama. Tapi hari2 selanjutnya, dia selalu gelisah dan terbangun tengah malam mencoba mencari2 nenen lagi. Pada siang hari, dia begitu rewel dan ogah tidur siang.

Alhamdulillah, prosesnya cukup lancar. Tapi saya menodainya dengan membuat kesalahan besar. Suatu hari kami meninggalkan Puan sendirian untuk salat subuh di mushollah. Dan dia terbangun mencari2. Saat saya pulang, Puan menangis di jendela memanggil2 dengan wajah ketakutan. Apalagi lampu kamar saya matikan. Sambil nangis, dia sempet cerita: Puan cari2 ibu ga ada. Puan lempar2 mainan.

Sedih, hingga sakit rasanya dada ini. Semua gorden keliatannya tersingkap, dan mainannya berceceran di kolong kursi. Mungkin saking marah dan frustasinya dia mencari2 saya ke dapur, tempat biasanya dia menemukan saya saat terbangun. Kamar dan dapur gelap. Lampu yang dinyalakan hanya di ruang tamu. Tapi dia tidak menemukan siapapun di dalam rumah, apalagi menemukan nenen :((((

Saya mencatat peristiwa ini sebagai sebuah penyesalan luar biasa yang menjadi sumber trauma Puan. Hari2 setelahnya, jika dia tak menemukan saya di sisinya saat terbangun tengah malam, sahur, dan subuh, dia akan menangis sejadinya. Akhirnya saya pun terpaksa menggendong sambil masak saat sahur. Karena saat saya bergerak dari tempat tidur, dia pasti terbangun dan menangis kenceng. Sampe saat ini pun, Puan masih nempel dan ga mau lepas dari pelukan saat saya ada di rumah. Tapi, dia sudah mulai mau ditinggal berdua ayahnya di rumah jika saya pamit baik2.

Alhamdulillah lagi, sejak berhenti nenen, makannya lancar jaya 3 kali sehari meski dengan menu yang itu2 aja, telur dadar atau telur puyuh. Alhamdulillah, terima kasih guru kecilku :*

Tentang Menyapih

Sambil tiduran, ngobrol sama puan.

S: puan ngantuk? Yuk, bobo, tapi ga usah nenen ya. Nennya udah abis. Udah perih, nak.

P: *menarik wajahnya agak menjauh. Mukanya memelas. Lalu munggungin emaknya sambil meluk guling*

S: *loadingnya lama* puan kenapa, kok diem aja? Mau bobo?

P: *nengok bentar, wajah sendu, geleng kepala*

S: ibu garuk2 punggungnya ya?

P: *menggeleng sambil menepis tangan emaknya*

S: dielus-elus kepalanya aja?

P: *menggeleng dan menepis tangan*

S: dipeluk aja?

P: *lagi2 menggeleng*

S: dicium2 aja?

P: *reaksinya tetep kayak tadi*

S: *mulai merasa ada yang ga beres dan bertanya2 apa puan sakit lagi* trus puan maunya apa dong?

P: *pelan2 balik badan ngadep emaknya, mukanya memelas*

S: puan kenapa nak? Sakit lagi?

P: *geleng2 dan munggungin emaknya lagi*

S: puan marah sama ibu? *sambil berusaha nyiumin*

P: *geleng2 dan menepis emaknya lagi*

S: trus kenapa dong? Puan mau apa?

P: *balik badan, wajah memelas, nyentuh pelan dada emaknya*

S: puan mau nenen?

P: iya *suaranya pelaaaan dan mukanya melas banget*😦

S: ya ampun nak, bilang dong, biar ibu tau. Kirain puan sakit *mulai senyum cerah*

P: tolong ibu, puan mau minta nenen *omg, mukanya melas banget*

S:…..

P: tolong bu

S: tolong apa nak?

P: puan mau nen

S: *liat wajahnya melasnya jadi ga bisa apa2 lagi*

*saat ini usia Puan 2 tahun 2 bulan 4 hari*

Mesin Jait

Ulang tahun kali ini, istimewa sekali. Saya akhirnya dapet kado yang ada ujudnya, hahaha. Kasian, udah tua baru dapet kado sekarang. Eh, boong ding, udah sering kok dapet kado dari temen2 sebelum2nya. Tapi kali ini, kadonya dari suami. Isinya, mesin jahit. Yay! Istimewanya, saya dapatkan kado ini saat ulang tahun Puan. Jadi, Puan yang ultah, saya yang dapet kado. *cium2 Puan dan suami*

Sudah lama sekali saya menginginkan benda ini, meski belum tau kapan bisa menggunakannya. Sejak tahun lalu saya sudah nanya2 beberapa orang soal merek mesin jait yang dipakenya. Hmmm, mahal-mahal. Saya pernah melihat mesin jait di Ace Hardware dengan harga murah, ga sampe separohnya dibanding rekomendasi temen2. Tapi ya serba listrik, dan saya belum terbiasa. Saya baru sekali menggunakan mesin jait yang pake pedal listrik, dan rasanya sulit mengendalikan kaki sehingga jarum jaitnya lajuuuuu sekali.

Urusan jait menjait bukan hal baru sebenernya. Bahkan dulu saya juga menyulam jenis kristik yang bentuknya xxx itu. Masalahnya, mesin jait yang biasa saya gunakan adalah mesin jait tempo doeloe milik mama di kampung sana. Mesin ini bener2 bisa dikendalikan dengan mudah karena serba manual.

Lalu kenapa nekat tetep beli? Karena tangan saya gatel pengen bikin ini itu, reparasi ini itu, yang kalo dipikir2 alangkah mahalnya kalo mesti dibawa ke tukang jait. Ditambah lagi, saya berpikir sudah akan full di rumah saja dan kehilangan minat kembali bekerja setelah melihat perkembangan angkutan umum ke
Jakarta yang makin tak manusiawi. Dan tentu saja alasan pertama, saya akan bersama PUAN.

Pilihan saya akhirnya jatuh ke kelas menengah. Bukan yang mahal tapi juga bukan yang paling murah. Spesifikasinya juga menengah, meski kemungkinan saya hanya akan menggunakan pola jahit lurus. Tapi mesin ini memiliki 12 pola jahitan, bisa bikin lobang kancing, bisa jait mundur, dll. Nah, kalo bisa dapet mesin dengan spesifikasi lebih dari sekadar jait lurus, kenapa ngga? Soal merek, ah, sudahlah. Kalo bermerek udah pasti mahal. Soal daya tahan? Temen lain ada yang pake mesin jait lebih murah dan masih tahan aja. Ada pula tetangga yang pake mesin jait mahal dan udah rusak. So, yang penting dijaga ajalah, jangan diforsir dan jangan dipake…eh :))

Apa mereknyaaa? FHSM 506. Ga pernah denger? Sama, saya juga :))
Buat temen yang nungguin cerita gimana-gimananya mesin ini, sabar-sabar dulu yak. Bener2 belum ada waktu buat make mesinnya. Saya juga baru belanja kain2 murah buat latihan tapi beneran, Sabtu kemaren. Buat latihan tapi bikin seprei, tirai, hahaha, pokoknya yang jait lurus.

Akhirnya, selamat ulang tahuuuun.
*halah*