Per-Empu-an

Sabtu lalu, kita bertiga ke dokter lagi. Kali ini naik angkot karena sopir taksi yang pada ngetem masih males jalan. Padahal, kita udah nyaris telat sejam dari jadwal jam 10. Iya, pagi2 saya sibuk ini itu di dapur, ditambah cucian numpuk seminggu, sampe ga berasa ternyata udah harus ke dokter buat ngecek keadaan kamu di dalam sana.

Sebenernya sih, kunjungan ke dokter ini juga telat 4 hari dari biasanya setiap tanggal 4. Soalnya, kalo kita periksa Selasa lalu, papah ga bisa nemenin. Saat itu, papah masih sakit gejala demam berdarah. Panasnya naik turun terus, bikin kita jadi kuatir banget 

Dokter menyambut dengan senyum seperti biasa. Nanyain kabar kita berdua. Dan saya menjawab, “Semuanya baik2 saja dok, kami hanya mau kontrol rutin.” Kamu yang di dalam sana sepertinya juga enjoy, kan? Aktif bergerak setiap saat 

Usai obrolan pengantar, dokter minta saya berbaring. Dokter memeriksa kakiku, memastikannya tidak bengkak. Lalu, kami diperdengarkan detak jantungmu. Bergemuruh tapi detaknya beraturan. Saya ikut berdebar mendengarmu, nak. Semoga sehat selalu kamu di dalam sana.

Setelah mendengar detak jantungmu, kami diperlihatkan ujudmu yang sedang asik berenang dalam cairan ketuban. Apakah kamu hangat dan nyaman di sana? Oh iya, kita sempat bertatapan agak lama ketika alat dokter mengarah ke wajahmu. Mata mungilmu mulai membuka ya, sayang? Mata, katanya tak pernah bohong nak. Semoga kamu melihat kerinduan dan rasa sayang dari mataku saat itu.

Dokter juga menyorot bagian pinggang, paha, dan tungkaimu. Semuanya sudah terbentuk. Saya berdebar lagi melihat bagian selangkangan. Tapi saya ga bisa mastiin gambarannya. Lalu saya bilang ke dokter, “Dok, kami sebenarnya penasaran, jenis kelaminnya apa?” Tapi dokternya hanya senyum2 hingga pemeriksaan selesai. “Katanya ga mau tau dulu?” gitu kata dokter.

Kami hanya cengengesan, antara agak malu tapi juga penasaran. Apakah kamu mendengar obrolan kami, nak? Sesungguhnya, apapun jenis kelaminmu, kami selalu menantimu dengan gembira dan penuh rasa syukur. Yang penting kamu sehat, sayang.

Di akhir pemeriksaan, tak tahan juga akhirnya saya tetep nanya, “Jadi dok, jenis kelaminnya apa?” Dokternya senyum sekilas lalu menjawab, “Hmm, nggak ada burungnya.” Mendengar jawaban itu, saya sempat agak blank. Antara ga nangkep, surprise, dan terharu. Saya tersenyum –mungkin cengengesan lebih pas– tapi saya ga ngerti artinya apa. Speechless! Saya teringat doa2 yang selama ini saya panjatkan. Allah benar2 Maha Besar, Maha Mendengar, Maha Segalanya, nak.

Sampai keluar dari ruangan dokter pun, saya masih tak tau harus berkata apa. Agak linglung, sampai agak tak peduli dengan wajah setengah meledek dari papah yang lagi ngomong, “puas, puas, puas…?” tanpa suara, dua kali. Ih, seperti ga berempati pada perasaan yang tak bisa saya gambarkan ini  Yang pasti sih jawabannya bukan puas atau tidak. Karena sampai sekarang pun saya belum bisa menggambarkannya. Saya hanya ingin ngomong, “Selamat datang per-Empu-an-ku.”

Iklan

Cerita dari Halaman: Cabe

Halaman rumah mungil kami hanya berukuran sekitar 3×3 meter. Tapi begitu banyak mimpi indah yang ingin kami tanamkan di sana. Pengen punya halaman indah dengan warna warni bunga. Pengen punya halaman sehat dengan tanaman obat2an. Pengen berkebun, panen, dan makan dari halaman sendiri yang ditanami buah dan sayur mayur. Tapi gimana bisa menampung itu semua dalam lahan seluas 3×3 meter?

Sebelum menikah, kami sudah sepakat harus ada pohon mangga di halaman kami. Alasan mas sih, karena itu buah kegemaranku. Kalo saya sih lebih karena penghijauan dan bisa dimakan hasilnya, dari masih muda, mengkal, sampe mateng. Lalu setelah menikah, saya ingin menambahkan pohon sirsak. Daun tanaman ini bisa buat obat segala macempenyakit, dan lagi2 ada buahnya.

Lalu, setelah kami menempati rumah ini, saya begitu iri melihat halaman tetangga. Penuh tanaman, dalam pot maupun ditanam langsung di tanah pekarangan. Dari cabe, daun bawang, sereh, kunyit, hingga anggrek. Duh, anggreknya ini bikin saya iri deh. Tapi, saya menanam bukan ikut2an sih. Target saya, di rumah ini harus ada tanaman kebutuhan sehari2, misalnya cabe, daun bawang, jeruk nipis, dan kemangi. Tanaman2 ini rasanya mudah tumbuh, seperti pengalaman di kampung. Dalam pot pun ga masalah, malah lebih baik karena ga makan banyak tempat dan bisa dipindah2in.

Tanaman pertama kami adalah cabe dan daun bawang. Stok biji cabe lumayan banyak karena saat itu kami blom punya kulkas sehingga cabe gampang busuk dan tinggal di lempar ke halaman, tumbuh deh. Trus, daun bawang, saat beli di pasar, akarnya ga kami potong. Setelah daunnya diambil, sisain pohon bagian bawah yang ada akarnya, tancepin, tumbuh deh. Sayangnya, daun2 bawang ini ga bertahan lama (seperti punya tetangga). Paling sekali panen daun, trus pohonnya kering atau membusuk dan mati. Saya serba salah. Kebanyakan air, busuk. Kekurangan air, mati. Sementara punya tetangga ditanam sebagai pagar, tersiram sinar matahari penuh, dan tetep subur.

Tanaman berikutnya, mangga, sirsak, dan jeruk nipis. Ga ada yang ditaro di pot. Ketiganya bersaing mendapatkan makanan dari lahan seiprit yang (celakanya) di bawahnya ada septic tank. Gemes deh sama pengembang perumahan yang naro septic tank justru di lahan berrumput, bukan di bawah carport L Jadi berkurang lahan pertanian kami :p

Sementara itu, cabe2 kami tumbuh subur dan rimbun. Pot2 udah ga muat. Dengan terpaksa, kami sebar cabe itu di halaman juga. Makin ketatlah persaingan antar tanaman di sana. Belakangan, semua cabe yang di pot terpaksa dengan berat hati dimatiin aja. Kini bertahan dua pohon cabe gede yang sarat buah dan saya panen tiap dua hari sekali. Tiap panen rata2 10 biji. Lumayan kan? Ga perlu beli cabe lagi buat nyambel. Toh cuma saya yang makan cabe di rumah ini. Jadi cukup bangetlah.

Menyaksikan tanaman cabe ini tumbuh dari hari ke hari, rasanya jadi pengalaman tersendiri yang, gimana ya melukiskannya? Saya suka geli sendiri saat awal2 menyaksikan mas mengajak tanaman2 itu ngobrol seperti mengajak anak bicara, mengelus2 daunnya seperti mengelus kepala anak kecil. Lalu betapa kami surprise ketika putik2 bunga bermunculan, menjelma menjadi buah. Itulah kenapa kami sangat berat hati mencabut banyak pohon cabe. Tapi, yang bikin sangat patah hati, ketika buah yang begitu rimbun, habis dipetikin anak2 kompleks lalu diulek2 di sepanjang tembok samping rumah. Duh! Cuma sekali sih, mungkin mereka tobat juga karena kepedesan main cabe.

Cerita dari halaman tentang tanaman lain, masih banyak. Besok disambung lagi deh setelah edisi periksa rutin ke dokter kandungan.

Nama Anak

Ada hal berulang setiap kali saya menjawab usia kehamilan saat ini. Usai menjawab: “Lima bulan,” pasti berlanjut dengan komentar: “Udah ketahuan dong jenis kelaminnya?” Dan setiap itu pula saya menceritakan postingan lalu tentang Jenis Kelamin. Pertanyaan selanjutnya, trus gimana nyiapin namanya dan belanja keperluan bayinya kalo ga tau jenis kelaminnya?

Mmm…belanja? Sejujurnya sih, saya ga terlalu mikirin soal belanja2. Entah emang beda dengan (calon) ibu2 lainnya atau saya emang terlalu tradisional, mikirnya selalu, “Ah, pengalaman ngeliat sodara2 di kampung, ga segitu hebohnya belanja2 perlengkapan bayi.” Emang apa aja sih keperluan bayi? Baju? Itu sih otomatis ya. Tapi ga harus ditumpuk sekarang kali beli2nya. Paling satu ukuran baju dipake berapa minggu sih? Trus, box dll? Ga ah, takut mubadzir dan menuh2in doang. Takutnya, rumah sempi ini akan terasa makin sempit padahal boks-nya ga dipake setahun.

Ini emang jadi resiko (seolah) ga mau tau lebih awal jenis kelamin anak antara lain. Soal nama, kami harus siap dua nama. Atau paling nggak, harus nyiapin nama yang unisex. Kami juga harus siapin baju2 dan perlengkapan bayi dengan warna2 netral. Tapi harapan saya sih, semoga saya ga makin boros dengan bertambahnya alasan buat belanja karena bakal punya bayi.

Yang jelas, soal nama, saya udah ada bayangan. Dari dulu saya berpikir, nama anak saya harus kata yang Indonesia BANGET. Ga ada Arab2an. Iya sih, pernah dibilangin, usahain namanya harus yang ada di Al Quran dan punya arti bagus. Tapi, saya pikir, pakai bahasa apapun, asal isinya doa yang baik, ya akan baik juga kan? Ini hanya persoalan bahasa. Dan menurut saya, sebaiknya kami menjaga ke-Indonesia-an ini dimulai dari NAMA.

Saya dari dulu juga pengen, nama anak kelak harus ada kata senandung (untuk perempuan) atau kidung (kalo laki) seperti nama blog ini. Tinggal menyesuaikan setelah melihat jenis kelaminnya. Udah Indonesia banget kan? Anak temenku (cowok) di kantor lama, namanya: Senandung Kidung Pelangi. Keren. Saya kepincut pada ‘senandung’ dan ‘pelangi’-nya. Nah, persoalannya, Mas pengen ada unsur Bugis dalam nama anak kami nanti. Trus, doanya harus jelas. Kalo kayak nama tadi, doanya apa? Oke, iya juga. Sesungguhnya saya patut malu karena Mas lebih peduli untuk melestarikan budaya Bugis, dibanding saya, si anak Bugis asli. Lagian, jarang2 kan nama Bugis. Bisa unik hasilnya ntar.

Saya bertahan ada kata Senandung atau Kidung atau Pelangi, atau Raya. Mas mengharuskan ada nama dari bahasa Bugis. Lalu Mas menambahkan, harus ada kata Bestari (dari kata bijak-bestari). Kata2 dalam bahasa Bugis yang udah diincer misalnya: Tobarani (pemberani), Panrita (bijak cendikia), dll. Beberapa perpaduan nama sudah kami dapatkan dan cukup cocok untuk nama laki maupun perempuan meski cuma nyiapin satu nama. Oh iya, saya pengennya nama terdiri dari tiga kata, menyesuaikan dengan nama dalam standar internasional biar gampang bikin pasport :p hihihi… Ada usulan ga? Tapi ntar diseleksi lagi lho ya (halah)….

Lebaran di Depok, di Depok

Judul ala Umar Kayam ini (Lebaran di Karet, di Karet) udah dua kali jadi judul di blog saya. Artinya, udah dua kali Idul Fitri saya ga pulang. Tahun 2009, lebaran bulan September, saya pulang pada hari kedua (kalo ga salah). Tapi tahun ini, seperti sudah saya duga tahun lalu, saya ga pulang. Pertama, liburnya ga bareng sama Mas. Masa liburan saya lebih panjang, seminggu sebelum lebaran. Kedua, kalo dipaksain juga pas hari libur yang bersamaan dengan mas, kuatir capek di jalan doang. Soalnya ke kampung butuh perjalanan lamaaa. Sementara, bandaranya ada di Makassar. Mau ga mau, harus ada waktu buat nginep di Makassar. Berkurang lagi dong liburan saya di kampung.

Akhirnya, ya sudahlah, ga pulang aja. Toh sekarang setidaknya ga se-nelangsa tahun 2009 lalu. Sekarang lebaran sama suami, aheummm… :p Ga senelangsa tahun 2009? Enggg, ga juga sih. Nelangsanya tetep ada, diperkuat oleh sentimentil dan emosi labil karena hamil (alesan, bilang aja emang cengeng!). Hehe. Tahun lalu, saya tugas di Makassar dan lebaran di sana. Mudik sih. Tapi mewek2 juga. Karena saya memikirkan lebaran tahun ini pasti udah beda. Kemungkinan saya akan berlebaran dengan suami dan keluarga suami. Ternyata, bener. dan suasananya jelas beda banget. Jadi, ya mewek2 lagi dah.

Awalnya sih, baik2 aja. Kita akhirnya pasrah ga pulang demi kesehatan di calon bayi (dan saya). Masa liburan saya manfaatkan buat manggil tukang. Banyak hal harus dibenahi di rumah mungil kami ini. Kamar belakang, sebaiknya dijebol untuk membuat lubang cahaya biar kamarnya ga gelap2 amat. Pencahayaan dari atap dapur sepertinya kurang maksimal. Trus, kami juga akan membuat pagar yang dilengkapi sama taman/kebun vertikal. Tapi setelah dihitung2 ternyata biayanya lumayan mahal, akhirnya kami putuskan hanya bikin lubang cahaya kamar belakang, rangka pagar bagian depan, dan mindahin saluran air dari dek beton di atas teras. Rencana kebun vertikal akhirnya di-pending dulu dan diubah menjadi kebun dalam pot beton berbentuk kotak.

Selama 4 hari, Senin sampe Kamis, saya nungguin mas pulang kantor sambil ngawasin tukang, sambil nyiapin buka puasa (dan sahur :p). Sejak Rabu, satu per satu, tetangga sekompleks yang jumlahnya ga sampe 40 keluarga itu, pamit mudik. Mulai deh kesepian itu terasa 😦 Maka hiburan saya adalah, nelpon ke rumah. Satu per satu kakak2 saya telponin sekedar nanya lagi ngapain, bikin kue apa, bikin lauk apa, tar buka puasa makan apa, dll. Jumat pas 17-an, Mas juga udah libur. Trus, saya paksa2in maen ke mall. Maksudnya sih biar ga sepi. Tapi kayaknya dia malah bete, soalnya macet poll di mana2. Hhhh… Karena kecapean, hari terakhir puasa kami ga kebangun buat sahur 😐

Kebetean kayaknya berlanjut besoknya. Tepatnya sih saya yang bete. Karena sepi. Trus saya nanya2 ke mas gimana kebiasaan lebaran di tempat bapak ibu (mertua). setelah diceritain, saya makin….susah gambarinnya, yang ada saya mewek sepanjang setengah hari tanpa alasan yang jelas. Inti keluhannya sih, lebaran di sini kok sepiiiiii :(( Saya berniat tetap membawa kebiasaan lebaran di kampung yang sebelumnya diisi dengan bersih2 rumah secara total, menata macem2, mengganti peralatan (ga harus baru tapi harus bersih), dan tentu saja masak2 macem2.

Segala persiapan masakan khas lebaran udah saya siapin dengan menyesuaikan menu di sini. Opor ayam bumbunya udah siap. Ketupat sayur, sayurnya udah siap, pepaya udah diserut, kacang panjang udah diiris2. Sambel goreng ati, bahannya juga udah disiapin. Tapi, karena bete tadi, dan mikir siapa yang akan ngabisin kalo ternyata lebaran di kota tuh ga ada tamunya kayak di kampung yang tamunya ga abis2 sampe seminggu, akhirnya saya batalin semua rencana masak2 itu. Lalu? Mewek :p Suami sampe bingung (mungkin), ini kenapaaa nangis mulu.

Sabtu sore kami ke tempat mertua. Nginep di sana sampe salat ied besoknya. Dan, ya seperti yang diceritain mas, lebarannya bener2 sekeluarga kecil. Makanan buat sekeluarga sendiri. Ga ada tamu, tetangga, atau kerabat. Usai salat ied, makan bersama, dan istrahat bentar, kami ke Bintaro, ke tempat Bude. Kata mas, di sana biasanya jadi tempat ngumpul sodara2 karena Bude ini sodara tertua bapak (mertua). Cuma ngunjungin satu rumah dan kami nyampe rumah di Depok lagi sore menjelang magrib. Doh, begini ternyata lebaran di kota Jakarta (dan sekitarnya). Malemnya, saya ngajakin mas pulang. Biarin sepi, asal kita di rumah sendiri, menikmati kesunyian (dengan membawa banyak stok makanan). Terpaksa makan ketupat sampe 3 hari. Untung ga jadi bikin sendiri ya. Bisa bosen.

So, gimana lebaran kalian tahun ini? Maaf lahir batin ya 🙂