29 Februari

Selain karena hari ini hanya akan ada sekali dalam 4 tahun, apalagi yang istimewa? Selain karena saya masih bisa mendengar suaramu, melihat kedipan namamu di layar monitor, apalagi yang istimewa? Ah, ya… rasanya, catatan tentang keistimewaan itu, terjadi semalem. Saat kau dan aku saling berbagi cerita tentang mimpi2 kita. Tentang cerita yang tak nyata tapi mampu membuat kita tersipu, kelu dan tak tau harus mengurai kisah itu dari ujung mana di tengah belitan kerinduan kita yang menggila.

Itu penting. Dan istimewa. Tapi yang lebih penting yang ingin saya catatkan di taman cinta kita adalah rasa penasaran saya. Apa yang terjadi dengan mimpi2 kita itu, empat tahun kemudian, di hari yang sama? Masihkah…? Ah, saya ingin berhenti bertanya. Rasa penasaran saya hanya akan merusak suasana. Kenapa saya tak membiarkan mimpi itu tetap ditempatnya untuk kita pandangi dan resapi keindahannya?

Toh empat tahun bukan waktu yang lama sebenernya. Bukankah waktu terlama dan terjauh dari kita adalah sedetik yang lalu? Empat tahun … kita pasti akan mencapainya, jika tempat terdekat dari kita sekarang tidak menjemput kita sedetik lagi, kematian.

i love u

biarkan saja

banyak kekhawatiran. banyak kekecewaan. tapi saya ga boleh ikut campur. itu hidupnya, bukan hidupku. dan saya bukan siapa2. jadi biarkan dia dengan keasyikan barunya, permainan barunya. toh kalau jatuh, dia pasti bisa bangun sendiri. udah biasa kok 🙂 main lumpur bikin kotor? ah, nggak juga. malah bisa dibiayai negara, asal ceritanya hebat. kalo ga kotor kan ga belajar.

sudah, sudah…biarkan saja dia. usianya sudah diambang dewasa kok, walopun usia bukan patokan kedewasaan dan kesadaran. berharap saja suatu hari hatinya akan tersentuh saat tak sengaja melihat malaikat kecil sedang bermain petak umpet di pojok rumah yang telah dihuni sarang laba2.

sebenernya dia sudah bisa membedakan putih dan hitam, tapi dia suka berada di wilayah abu-abu itu. meski suram, katanya dia adem di sana karena adanya tersamarkan. udah, biarkan saja. saya memang cuma anak kecil yang tak tau apa2 dan tidak berhak atasnya.

patung

sedang kubuat patung
patung yang terbuat dari udara
patung yang berbentuk diriku
kalau jadi, akan kutiupkan ruhku kedalamnya
supaya aku bisa melayang, terbang ke tempatmu

jadi, sayangku…
Kalau kau merasakan angin berdesir di pipimu
Atau angin menyibak rambutmu
mungkin itu aku, sedang mencium dan membelaimu

* coretan matahati matahari-ku

jelang petang

Jelang petang, tidak membawa perasaan nelangsa kali ini. Melainkan setangkup rasa senang. Tapi status masih tetap seorang penakut. Petang ini sang invisible hand rupanya sedang bekerja. Meski hanya mengepakkan sayap kupu2, anginnya terasa hingga ke ruangan ini. Bukan angin yang menghempaskan, tapi semilir yang melegakan. Semoga angin itu bisa memangkas kepongahan dan mempermalukan ketakpercayaan.
Ayolah, berpegangan tangan dalam keyakinan, bahwa calon tirani, harus tumbang :p

penakut

Dulu, saya selalu bisa mengatakan: Saya harus bisa menyelesaikan apapun sendirian. Tak ada orang yang bisa membantu saya. Orang2 sibuk dengan urusan masing-masing. Saya harus berusaha sendiri, sampai bisa!

Dan saya memetik hasilnya. Lebih puas karena hasil usaha sendiri. Dan cukup menakjubkan. Cerdas.

Tapi sekarang kok nggak? Saya selalu berharap ada orang yang bisa membantu saya, meski jelas2 ga akan ada!
Saya lebih penakut sekarang 😦

senyum

aku ingin selalu membuatmu tersenyum
tapi masih sulit menata intonasiku agar tak terdengar marah. masih sulit menempatkan kata yang tepat agar telingamu tak terganggu. masih sulit menyenandungkan lirik penuh cinta saat simfoni hatiku sedang bergolak
tapi sungguh,
aku ingin senyummu sempurna, matahariku!

menemanimu selalu

saya tau, hari2mu kini lebih berat
ingin menemanimu selalu setiap detik, tapi jarak menjauhkan kita
ingin kudekap setiap kau lelah, tapi bentangan laut mengalahkan kita
akhirnya hanya bisa kutemani kau, dari depan layar yang berkedip genit

*tak sabar menunggu bulan ini berlalu

belajar

Saya punya temen, perempuan, menjalin hubungan dengan teman saya yang lain. Mereka beda agama. Awal2nya, temen perempuan sering ngobrolin soal perbedaan mereka itu dengan saya. Pandangan yang saya beri selalu saya dasarkan pada pengalaman pribadi. Saya ga pernah bilang langkahnya salah atau benar. Saya juga tak pernah bilang mendukung atau menolak. Saya memberinya pandangan, dan keputusan tetap sama dia. Tapi dengan alasan terlanjur cinta dan terlanjur sayang, persoalan memang tidak menjadi ringan untuk diselesaikan.

Saya dulu punya hubungan jarak jauh dan berbeda keyakinan. Tapi saya belum terjebak pada kondisi seperti kawan saya. Sehingga, meski tidak mudah, akhirnya saya bisa memutuskan hubungan dengan alasan, masa itu adalah masa buang-buang waktu. Sebab saya dan lelaki itu sama-sama tau bahwa kami tidak akan pernah bisa melangkah jauh. Kami akan bertahan pada keyakinan masing-masing meski kami berdua bukanlah golongan orang2 yang sangat religius. Ketakutan untuk dihukum gantung di ruang keluarga mungkin penyebab utama :p jelas bukan alasan religius.

Dua malam lalu, saya dan teman perempuan saya itu baru sempat ngobrol panjang lebar lagi. Ternyata keputusannya untuk menikah dengan lelaki itu sudah mantap. Terlihat gurat letih di wajahnya mengurusi administrasi pernihakan. Yang cukup mengusik saya adalah, betapa banyak teman-temannya yang menjauh karena keputusannya itu. Dia belajar banyak, bahwa lamanya pertemanan bukan jaminan sebuah ketulusan menerima kelebihan dan kekurangan kawan kita. Saya pun juga belajar banyak, bahwa satu keputusan bisa berjuta dampak.

maukah kau…?

Lihat kan, semalem? Saya melakukan kebodohan yang sama lagi. Menangis tanpa sebab jelas. Tapi hanya di dekatmu saya bisa menangis. Dekat orang lain, ga akan, saya malu. Oh, bukan, bukan tanpa sebab saya menangis. Saya tau kamu ga sengaja menanyakan itu. Juga tak ada maksud menyebutku suka brantem karena ini [:p emang kamu ga nyebut gitu kan? hehehe, maap]

Ga tau kenapa, tiba2 saja airmata menganak-sungai. Bagian mana dari hatiku yang tersentuh dengan pertanyaan itu? Saya juga ga tau, bahkan ga ngerti. Mungkin bagian yang suka sedih, mungkin bagian yang suka tersinggung, mungkin bagian yang suka sakit, atau bahkan mungkin bagian yang sedang senang? Saya bener2 ga tau.

Lalu sisi lain hatiku berkata, saya kelewatan telah membuatmu kebingungan dengan tangis tak jelasku. Dan kenapa saya harus menangis saat bersamamu? Kenapa tak kutumpahkan saja semuanya ketika diingatkan dengan cara ini? Dan kau masih saja menganggapku tak jahat dan tak bodoh. Kau masih saja memberiku kalimat bijak meski tangisku telah mendominasi ceritamu tentang mereka yang digusur dari rumahnya oleh orang2 berseragam itu –sebuah hal yang jauh lebih penting dibicarakan, dibandingkan tangis tak jelasku–?

Maaf, kau terlalu baik. Tak seharusnya kuajak kau menangis untuk sebuah kenangan yang kualami sendirian. Tak seharusnya kuajak kau berduka untuk hal-hal yang seharusnya kuselesaikan sendiri.
Kau selalu baik. Maukah kau tetap menjadi mimpi indahku?

hari ini, 2 tahun lalu

baru saja saya mengubah status ym dari invisible menjadi available, tiba2 id ym itu nyala. tetap ada rasa kaget yang tersisa. ya, karena pemilik id itu, telah pergi, dua tahun lalu. hmmm, kenapa saat saya berpikir untuk menulisnya, id itu nyala, tepat jam ini? lagi-lagi sama dengan dua tahun lalu. eh, tahun lalu juga. 😦 saya masih bengong ketika id itu menyapa.

id itu: hai apa kabar
gw: baik….ini siapa? ale? pa kabar? *ale = temen almarhum, yang katanya harus jagain saya*
id itu: yup. baik
id itu: semalam gw ditelp ama n***** dia minta dianter ke gereja
gw: trus?
id itu: kasihan juga tuh anak
gw: ada acara di rumah?
id itu: ga ada sih paling kalo dia mo main kerumah abang kita jemput
gw: maksud gw…peringatan hari meninggalnya abang
id itu: mang abang meningal bulan apa? bukan acara peringatan. si n***** masih truma gitu
gw: gw tau le…. gw cuma nanya: di rumah almarhum ada apa? ada pengajian atau apa? abang meninggal bulan fenruari kan?
id itu: ada pengajian yati… sorry gw rada blank
gw: oh…ya
id itu: iya nih mungkin kebanyakkan nyabu kali ya
gw: lo nyabu?
id itu: yup
gw: 😐 apa yg lo cari le?
id itu: ga tau gw nih musik dah nyatu didiri gw
gw: hei….main musik ga mesti nyabu kan? napa sih lo?
id itu: iya sih siang malam gw main, libur paling satu hari. itulah dopping yg gw butuhkan ya shabu
gw: ya tuhan! ga ada cara lain apa?
id itu: gw dah mulai coba mengurangi yat
gw: lalu? emang udah brapa lama lo make? org rumah tau?
id itu: ya hampir 1 tahun lebih. semula ga tau,akhirnya keluarga yg kasih tau
gw: trus? lo diapain?
id itu: gitu deh. eh web site lo apa
*gw ngasih alamat blog. juga postingan dua tahun lalu itu*
id itu: asli pas banget kan disaat gw baca ini tgl 15 pas abang meninggal
gw: iyah
id itu: ada apa ya. but gpp kan? kalo inget jam segini gw ama abang dah dimarahin. kalo dia mo latihan basket,trus kalo urusan kerjaan numpuk. kadang kalo harus pulang malam gw ga bisa berhari2 gw dicuekkin ama dia
gw: 😐 sudah le….
id itu: ok. yat thanks ya gw cabut dulu, baik2 ya
gw: ok….baik2 ya, le. jangan nyabu lagi
id itu: gw coba utk berhenti yat. byeeeee

hufhhh… obrolan berakhir. bengong sesaat. lalu…, hidup harus terus berjalan, yat! ini akan selalu jadi pelajaran besar. semoga almarhum tenang di sana, Amin!