takdir

dawai kepedihan dari larik kehidupan, dawai kepiluan dari tangis kematian, dawai kesenyapan dari gesekan biola, menyatu membelitku
hingga memar seluruh tubuh hingga ke hati
teruskan cambukanmu pada badan ini
agar nadi terus teteskan perih untuk kau tangisi
biar kumati dalam dekap takdir sunyi

*cukupkan sudah tangis2 bodoh itu, kawan!

Iklan

11 thoughts on “takdir

  1. venus berkata:

    kok horor gini? 😦

  2. stey berkata:

    Sabar mbak..sabar..

  3. mariskova berkata:

    Gak mau, ah. Aku gak mau mati dalam kesunyian. Tapi dimana ada mati yang rame ya?

  4. mbah sangkil berkata:

    hmm….

    ya..ya.. ya…

  5. Juminten berkata:

    wah, mbak yati lg kenapa ini? 😐
    are you ok, mbak?

  6. padmasambawa berkata:

    mm..lumayan deh..

  7. gagahput3ra berkata:

    wadoeh uda ketinggalan post banyak banget tahu2 latest postnya mendung gini 😐

    what’s up with you my broder sister? 😦

  8. edratna berkata:

    Mbak Yati,

    ….kadang mood kita lagi sendu…tapi kita juga harus berpikir bahwa kehidupan masih berjalan, serta banyak hal yang masih bisa kita perbuat.

    Mudah2an postingan ini, hanya karena cuaca yang sering mendung, bukan karena hati penulisnya yang lagi sendu. Percayalah, takdir tak akan meninggalkan kita, dan pasti kita akan mendapatkan sesuatu yang sesuai…dan baru dipahami setelah semuanya berlalu. Sebelumnya, banyak cobaan yang harus dilalui…dan kita harus kuat.
    (Ehh maaf kok saya jadi OOT gini ya…..)

  9. erander berkata:

    Ketika kematian dipinta .. justru napas terus berhembus, karena kita diberikan kesempatan untuk menyembuhkan luka yang telah dicambukan ke badan ini.

    Ketika nadi meneteskan perih untuk ditangisi .. justru air mata mengering, karena kita diberikan waktu untuk introspeksi diri dengan segala perbuatan.

    Ketika dawai didentingkan .. justru untuk menghibur jiwa yang sedang kosong agar kita bisa mengisi dengan alunan bunyi dawai yang menenangkan.

    Setelah semua kita lakukan .. perbaikan hidup, penyesalan perbuatan, menebarkan kebaikan .. baru kita siap menghadap-Nya dalam keadaan putih bersih ..

    *biar tidak malu, ketika mati kalau hati masih berdarah-darah karena dicambuk cinta bohongan*

  10. er Mallo berkata:

    Saya ingat tulisan Sapardi tapi lupa judulnya, ‘ada yang sedang diam-diam menulisi riwayat hidupku/menimang-nimang hari lahirku/mereka-reka/sebab-sebab kematianku…

    Tangis yang pertama seperti haru, tangis kedua penyesalan, tangis ketiga kecelakaan.

    Oh iya, dengan senang hati kaka Yati. Terima kasih sudah membacanya. Saya merinding menulis comment ini. Suatu saat kita akan bertemu, dan kaka Yati mau menyentuh rambutku…

  11. putirenobaiak berkata:

    puisi yg hebat walau sedih…

    benamkan sedih dlm puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s