Namanya Puan

Dua belas Februari lalu, Puan Panrita Bestari berusia dua bulan. Yak, selama dua bulan pula saya tidak ngeblog. Saya melewati hari-hari yang sangat luar biasa selama dua bulan ini sehingga tak sempat ngeblog. Seperti saya ceritakan di postingan sebelumnya, persalinan akhirnya melalui operasi. Begitulah, manusia hanya bisa berencana tapi tuhan punya jalan lain. Jalan lahir anak saya ternyata harus dengan pembedahan.

Dari sejak diberitahu dokter hingga hari persalinan tiba, jangan ditanya bagaimana kondisi saya. Pikiran kemana-mana, kaki seperti tak berpijak di bumi. Kadang rasa sedih tiba2 datang, entah karena takut menghadapi operasi, juga karena masih berharap persalinan bisa dengan jalan normal. Beruntung saya memiliki suami yang begitu sabar (yang tentu saja juga punya sisi menyebalkan, hihihi), yang selalu menguatkan saya di saat2 seperti itu.

Mama saya juga ada di sini sejak sebulan sebelum persalinan. Yang baru saya ketahui belakangan, mama ternyata tak pernah kuat menyaksikan persalinan anak/mantunya. Kalo nemenin ponakan atau orang lain sih, udah pernah. Bersama saya adalah pengalaman pertama. Operasi pula. Tak bisa saya lukiskan ketakutan mama saat itu. Yang jelas terlihat hanya sakit kepala mama jadi sering kumat. Sesaat sebelum masuk ruang operasi (setelah saya ganti baju operasi), saya masih sempet becandain mama. Saya bilang: kok mama lebih pucat dan terlihat takut daripada saya?

Persalinan berlangsung pada 12 desember 2012 pukul 13. Puan lahir pukul 13.22. Panjangnya 47 sentimeter, beratnya 2,7 kilogram. Saya sudah berada di rumah sakit pada malam sebelum operasi. Seperti operasi lainnya, saya pun menjalani puasa selama 8 jam. Ini tak seberapa. Karena setelah operasi, saya baru boleh makan 12 jam kemudian. Kenyataannya, puasa yang saya jalani lebih panjang dari itu. So, rasa lapar ketika itu bener2 sebuah siksaan. Sakit kepala yang saya derita mungkin perpaduan antara kelaperan dan pengaruh obat bius.

Lalu, bagaimana rasanya berada di ruang operasi? Duh, tak bisa saya gambarkan detil. Yang jelas, kalo masih ada jalan lain, saya tak akan mau lagi kembali ke ruangan seperti itu. Terbaring dalam kondisi terbius separuh badan dalam ruangan dingin. Telanjang di atas meja operasi yang juga sangat dingin. Mata silau oleh lampu operasi yang juga memantulkan bayangan tangan2 dokter yang sedang membedah perut saya.

Selama operasi, saya tak kuat membuka mata. Saya ngeri melihat pantulan bayangan pada lampu ruang bedah di atas saya. Parahnya, memejamkan mata membuat obat bius juga bekerja sangat baik untuk meninabobokkan, sehingga saya tak bisa menyaksikan momen ketika Puan dikeluarkan dari perut. Saya pun tak bisa menjalani proses inisiasi Menyusui Dini (IMD) karena saya tertidur. Hal2 ini membuat saya penyesalan saya makin tebal.

Saat keluar dari ruang operasi, saya begitu ingin dipeluk tapi tak bisa saya ungkapkan. Meski akhirnya saya dapatkan, itu pun hanya sesaat karena suami sibuk wara wiri ngurus si jabang bayi. Saya hanya sempat memeluk dan nanyain gimana bayi kami. Apakah dia sudah melihatnya, mengazaninya, dsb. Suami berbisik: kakak cantik.

Ahhhh, saya malah makin ingin nangis. Bisa2nya orang2 lain bisa melihat Puan lebih dahulu ketimbang saya, orang yang mengandungnya 9 bulan ini, orang yang perutnya dibelah untuk mengeluarkannya. Seharian itu, saya dilingkupi rasa rindu yang teramat sangat. Saya ingin segera melihat putri saya. Tapi si cantik baru diantar ke kamar sekitar pukul 9 malam. Alangkah lamanya. Sebelumnya, Puan harus masuk ‘kotak’ dulu untuk menyesuaikan suhu tubuhnya dengan dunia. Lalu, jam 4 pagi, Puan diambil lagi dari dekapan saya untuk dimandiin dan diurus suster hingga pukul 8 pagi nanti. Lamanyaaaa!

Sedihnya lagi, air susu saya belum cukup banyak untuk dia. Saya pun belum begitu paham cara menyusui. Sementara itu, saya pun harus mendengar/membaca begitu banyak tudingan miring karena saya melahirkan di hari cantik, 12-12-12. Tapi, sudahlah, yang penting Puan lahir selamat dan sehat. Soal jalan lahir, sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya.
Cerita dalam gambar, bisa disimak di blog suami. Mungkin, gambar bisa bercerita lebih banyak dibanding kata-kata.

Cerita dari Halaman: Kebun Vertikal

Gambar

Berbekal pengalaman, cabe kami dihabisin anak2 buat main masak2an, dan kangkung yang rajin disambangin Tono si kelinci putih milik tetangga, serta tabungan yang sudah lumayan mencukupi, akhirnya kami bikin pagar. belum jadi, hanya setengah. Belum diberi pintu besi. Bagian depannya masih berupa rangka. Abis, harga baja/besi mahal sih. Ini komponen paling mahal kalo bikin bangunan. Nantilah, nunggu duitnya ngumpul lagi aja.

Sebenernya, kami bikin pagar bukan mau ngalangin anak2 atau si Tono maen di halaman juga. Toh gerbangnya belum ada, jadi orang2 masih bebas keluar masuk. Tapi kok Tono ga mampir2 lagi ya? Padahal, kangkung yang dalam pot sudah kami pindahkan ke depan, dari tempat semula di garasi sepeda yang ada pintunya.

Alasan bikin pager adalah, agar kami bisa mewujudkan impian bikin kebun vertikal. Hehehe, terlalu berlebihan kayaknya kalo dibilang kebun vertikal. Wong cuma dua susun talang air yang ditanami kangkung, bayam, pakcoy, daun bawang (eh, banyak juga ya :p). Kalo kami bikin taman vertikal yang asli kayak rancangan arsitek2, pasti mahal banget. Media tanamnya pasti beda. Materialnya juga pasti yang lebih serius dan mahal. Jadi, akhirnya saya bikin gambar sendiri dan eksekusinya diserahkan ke tukang.

Taman vertikal ini saya tempatkan di pagar tembok sebelah kiri. Karena, yang bagian kanan berbatasan sama carport. Di sebelah kanan ini rencananya cuma akan digantungin pot bunga rambat yang ga makan banyak tempat. Nah, tembok pagar dibuat dari bata biar lebih kuat. Semula sih, biar murah, maunya pake batako aja, tapi katanya kurang kuat kalo bakal dijadiin taman vertikal.

Nah, pagar pada ketinggian setengah meter dari tanah, diselipin lempengan besi berbentuk huruf L sebanyak 20-an buah dengan jarak 15-20 sentimeter. Setengah meter lagi di atasnya, diselipin lempengan besi serupa tapi lebih pendek daripada yang bawah, biar tanamannya tetap dapet sinar matahari. Di atas lempeng besi ini, kami tempatkan talang air.

Mengapa kami pilih talang air dan bukan pipa paralon seperti yang banyak dipakai orang buat wadah tanaman? Karena talang air bentuknya persegi dan ga harus diapa2in lagi. Kalo pake pipa, harus dibolongin. Bentuknya juga bulat sehingga bisa terguling di atas lempengan besi tadi. Kalo pake talang air, tinggal diisi media tanam berupa campuran tanah, sekam, pupuk kandang, dan kompos. Jadi deh, langsung bisa ditanamin.

Percobaan pertama, kami nanem bayam. Sebenernya saya pengen nunggu dua talang air ini penuh media tanam dulu dan saling meresap bahannya. Tapi suami ga sabaran banget udah mau nyebar2 bibit. Tiap hari nanya, kapan boleh nanem? Akhirnya saya biarin dia menebar bibit. Akhirnya sih seperti biasa, saya ngomel panjang lebar.

Kenapa? Tiga hari kemudian, benih bayam yang disebar si suami mulai keliatan. Titik2 ijo muncul di mana2 dan bergerombol. Nah, gimana ga kesel. Ternyata, suami nanemnya ga disebar per biji, tapi sebanyak yang lepas dari sela jarinya. Jadi, ga merata rumbuhnya. Ada bagian yang kosong, ada bagian yang tanamannya bergerombol. Gimana ntar makannya tanaman2an itu, masa rebutan? Si suami mungkin ga inget bahwa 1 biji=1 pohon. Banyak pohon, bisa2 ga maksimal tumbuhnya karena makanannya ga cukup.

Tapi ya sudahlah, namanya juga percobaan pertama. Dan ini pasti pengalaman pertama si suami bisa nanem2 gini. Bedalah dengan saya si anak kampung yang terbiasa nanem apa2 untuk bisa makan sesuatu. Kenapa harus menanam? Pertama, karena tanah masih luas untuk ditanami. Kedua, tak selalu ada duit untuk membeli apapun. Ketiga, kalo bisa nanam sendiri, kenapa harus beli? Kan enak, tinggal metik.

Bayam yang kami tanam di kebun vertikal ini, bibitnya beli di penjual tanaman (hias). Waktu itu, saya juga beli bibit kangkung dan pakcoy. Bibit kangkung sih belum pernah kami buka karena kami sudah dua tiga kali panen kangkung dari hasil nguburin sampah sisa dapur. Sedangkan bayam, udah dua kali panen dari menebar bibit. Tapi beberapa kali pula kami panen bayam hasil menebar bunga bayam yang tumbuh liar. Konon bayam liar ini lebih bagus kualitasnya dibanding bayam cabut seperti kebanyak dijual. Bayam liar tumbuh alami, daunnya lebih hijau, lebih lebar. Tetangga saya ada yang ngasih makan bayinya dengan bayam liar ini. Konon, daun bayam liar juga lebih bagus dibikin keripik daun bayam (semacam peyek).

Sekarang, kami lagi nungguin panen pakcoy. Udah bisa dipanen sih. Tapi sejak abis lahiran ini, mertua sering banget memasok pakcoy (dari tukang sayur tapi) sehingga kami blom memanen dari halaman.

Kalo ada yang nanya, apa sih asiknya nanem2 dan kenapa harus bersusah2 gitu? Tinggal beli di penjual sayur keliling, kan beres. Harganya juga ga seberapa (sampe miris banget mikirin: ini petani kita dapet untung ga sih?). Kalo ditanya asiknya, ga bisa saya ceritain karena ga terukur. Kalo soal harga sayuran, oke, murah. Kadang2 malah nyaris ga berharga. Tapiiiii, jangan ditanya jaman2 sekarang. Sejak musim hujan menggila dan bikin banjir di mana2, setiap hari saya mendengar keluhan para ibu2.

Bayangin yak, bulan Februari lalu, harga seikat bayam yang biasanya saya beli Rp 500, naik menjadi Rp 1500. Itu juga ga segede biasanya jadi saya harus beli paling ga 3 ikat buat sekali masak. Asal tau aja, saya dan suami emang pemakan sayur banget. Trus, kemarin, harga tomat sampe Rp 2000 dapetnya cuma tiga biji yang ukurannya segede duku. Cabe kalo lahi muahal banget, beh, segenggam harganya Rp 5000. Harga daun bawang yang biasanya Rp 1000 dapet 6 batang, sekarang harganya Rp 3000.

Kalo kata orang2 pinter, sekarang tuh dunia lagi menghadapi krisis pangan. Krisis ini akibat cuaca yang ga menentu atau perubahan iklim. Dulu di pelajaran SD, kita taunya musim hujan jatuh pada bulan2 yang berakhiran -BER kayak September, Oktober, November, Desember. Sekarang? Mau Januari, mau Februari, mau Juli, hujan turun terus, banjir di mana2, dan gagallah panenan para petani. Ga heran kalo sekarang, organisasi non pemerintah, banyak merhatiin masalah perubahan iklim ini karena efeknya ke kehidupan kita di bumi emang gede banget. Misalnya kayak Oxfam. Oxfam ini merupakan konfederasi Internasional dari 17 organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Semoga sih organisasi ini bisa mewujudkan gerakan perubahan itu. Yah, dimulai dari hal kecil kayak gini deh, menghemat Rp 500 dengan menanam sendiri kebutuhan sehari2 kita.

Kenaikan harga2 sayuran dan kebutuhan pokok, emang paling dirasakan para ibu2. Jadi, jangan heran kalo yang suka nanem2, ya ibu2 kayak saya ini. Kerasa banget lho manfaatnya. Tanaman2 di halaman kami ini, Alhamdulillah, menolong banget. Mau cabe, tinggal metik. Walopun satu pohon gede udah kami musnahkan karena akarnya ternyata memang udah keropos. Tapi pohon yang satu lagi, bisa dipetik tiap hari, dibagiin ke tetangga yang pengen nyambel atau…makan mie instan. Mie instan, dengan irisan cabe yang banyak, dimakan pas ujan2 gini, yummy. Hih, bikin pengen :p

Halaman kami emang cuma seiprit, 3×3 meter persegi, yang di bawahnya pun ditempatkan septik tank oleh pengembang perumahan. Tapi kalo mau kemangi? Beh, ngambil berapa pun bisa. Oh iya, sehari setelah Puan aqikah, pohon2 kemangi juga terpaksa kami musnahkan karena terlalu rimbun sehingga menghalangi jalan masuk pintu samping. Sekarang sih udah dipindahin ke beberapa pot dan Alhamdulillah, masih bisa dibagi2 ke tetangga yang pengen makan daun kemangi (buat pepes atau lalapan). Yang sekarang lagi tumbuh subur juga adalah daun bawang. Dua bulan ini saya ga pernah lagi beli daun bawang. Tinggal ngambil dari pot2 yang saya jejerkan di rangka pagar.

Sebelum mengakhiri tulisan pamer2 tanaman ini, saya ngasih sedikit tips. Cih, sok ya? :p hihi… Gini, saya sering ditanyain, gimana sih nanem daun bawang? Apakah nanem bawangnya atau gimana? Jawabnya, belilah daun bawang yang masih ada akarnya. Kalo ga malu, minta deh di penjual martabak telor. Mereka kan biasanya cuma ngambil daun ijonya. Sementara batangnya ga diambil sampe akar. Nah, sisa batang yang masih ada akar itulah yang ditanam. Jangan lupa ngasih pupuk berupa kotoran hewan terutama kambing. Tebar aja di permukaan tanah sekitar tanaman itu. Dijamin deh, tiga hari kemudian akan keliatan tunas barunya. Selamat berkebun.

Jalan Lahir

Tadi, pagi banget (eh, ga pake banget ding karena salatnya udah ga subuh lagi) saya udah siap2 mau kontrol ke RS lagi. Sekarang udah harus kontrol setiap pekan karena udah memasuki pekan ke 37. Saya hari ini berangkat lebih pagi dari jadwal periksa karena mau ikut senam hamil dan kelas prenatal. Jam 9 saya dan suami udah nyampe rumah sakit. Saat di kasir, petugasnya bilang, senam hamilnya udah berjalan. Mending ikut yang jam 11 aja. Oke, saya langsung setuju. Jadi, rencana semula dibalik, kontrol dulu baru senam. Tadinya mau senam dulu kontrol.

Ternyata, eh ternyata, hasil kontrol berkata lain. Pemeriksaan kali ini berjalan cukup lama dari biasanya. Hasil tes darah pekan lalu juga dibaca. Ada sedikit infeksi di kandung kemih. Oh iya, untuk infeksi ini saya dikasih antibiotic. Diminum ga ya?

Hasil pemeriksaan dokter yang akhirnya bikin saya sesak nafas dan pengen nangis2 bombay adalah, proses persalinan saya ga memungkinkan dilakukan secara normal. Kenapa? Pertama, terjadi CPD=Cepalo Pelvic Disproportion, alias terjadi ketidaksesuaian janin dengan panggul. Pada kasus saya, berat bayi sih ga masalah. Berat 2,8 kilogram ga gede juga sebenernya. Tapi jalan keluar bayi emang sempit. Kata dokter, umumnya orang yang tubuhnya pendek memang begitu.

Sebenernya dari awal, saat baca2 buku persalinan dll, banyak disebutin bahwa pada usia segini (iyeee, berapaaa?) dan dengan tinggi badan segini doang, emang rentan. Agak sulit untuk melahirkan dengan normal. Tapi tetep aja keterangan dokter ini bikin saya ga bisa ngomong apa2, sesek! Apalagi sebelumnya, dokter udah muji2 posisi bayi bagus, ga terlalu gede, tali plasenta ga menghalangi jalan lahir, tali puser ga melilit, dll.

Buat lebih mastiin, dokter pun “merogoh” jalan lahir si baby, tapi ga kunjung dapet kepalanya. Padahal di layar jelas terlihat bahwa posisinya ngadep ke bawah, tapi ga bisa masuk ke jalan lahir karena jalan lahirnya sempit 

Faktor kedua, kini air ketubannya kian menipis. Di beberapa bagian udah ga kena air ketuban. Kalo ibarat di kolam renang, ketubannya cuma seleher si bayi. Akibatnya, kata dokter, sekarang kalo babynya gerak dikit aja, bakal kerasa banget di perut emaknya. Karena ga ada pelindung lagi berupa air ketuban. Pantes aja beberapa hari terakhir ini, doh, bener2 derita deh kalo si baby nendang2. Padahal kata dokter sebelumnya, gerak bayi udah ga begitu heboh karena ruang geraknya udah terbatas.

Sepanjang penjelasan dan praktek2 itu, saya udah ga bisa berkata2 tapi hanya berkaca2. Sebelumnya penuh harapan bakal lahiran normal, ternyata hari ini harus denger berita kayak gini. Saya udah rajin jalan pagi, sujud berlama2 sebagai pengganti olahraga nungging, dll, tapi yaaaaa…gitu deh

Lalu dokter ngajakin ngobrolin soal jadwal. Dokter langsung bilang, kita jadwalkan tanggal 12 ya? Heh, kenapa harus 12 dok? Ga bisa hari lain? Saya justru kuatir pada tanggal itu terlalu banyak permintaan bedah caesar sehingga saya bisa terancam tak terlalu diperhatikan karena pasien lagi banyak. Maklum, tanggal cantik, 12-12-2012. Tapi dokter bilang, justru dia hanya punya waktu pada hari itu, di jam 13.00. Ya udah, mungkin emang begini jalannya. Saya inget penentuan tanggal nikah tahun lalu, 20-11-2011, cantik juga meski tak sengaja juga dapetnya.

Tapi, tanggal cantik bener2 tidak bikin saya cukup terhibur dengan berita ini. Maaf ya Allah. Mungkin, satu2nya yang saya syukuri adalah, saya ga hidup di zaman sulit yang tidak memungkinkan dilakukan operasi bedah pada ibu2 yang “bermasalah” sehingga terjadi banyak kematian pada ibu dan anak dalam proses persalinan akibat keterbatasan pengetahuan.
Sesek, tapi beginilah jalannya 

Berat Badan

Acara kontrol Sabtu lalu bikin saya sedikit lebih tenang walopun malemnya saya jatuh lagi dari kursi. Ceritanya, saya lagi makan, trus balik badan, dan kaki kursi plastik ikut keplintir dan bikin saya jatuh kejengkang. Saya udah was2 lagi sama si kakak yang dalem perut. Besoknya, agak takut2 gitu ngomong ke dokter soalnya udah pernah jatuh juga di kamar mandi dan dimarahin. Waktu itu, kata dokter. Hati2 dong, semua harus dilakukan serba pelan. Kalo perut udah gede gitu dan posisi bayinya sampe geser lagi, susah baliknya nanti.

Tapi kali ini saat saya ngelapor abis jatuh lagi, dokternya tenang2 aja. Katanya, bayi dalam kandungan kondisinya udah tercipta sedemikian rupa, terlindungi, sehingga posisinya aman. Kecuali kalo perutnya yang kena. Lalu proses pemeriksaan berlangsung. Alhamdulillah, masuk pekan ke 36, dan semuanya baik2 saja. Posisi bayi sama kayak sebelumnya, udah ngadep ke bawah. Tali pusar tidak melilit. Tali plasenta tidak menghalangi jalan keluar.

Saya lebih tenang lagi ketika dokternya ngomong, udah deket lahiran ini. Udah siap2 kan? Senam, banyakin jalan kaki. Trus, kenali tanda2nya kalo udah mau lahiran. Kalo intesitas kontraksi makin tinggi, atau ada cairan yang keluar terus menerus, atau ada darah keluar, segera ke rumah sakit ya. Tapi ga usah panic trus sampe lari2 ke sini. Santai saja, karena proses melahirkan tuh lama. Sekitar 12-16 jam dari gejala awal mulai terasa.

Mendengar gitu, entah kenapa, rasanya tenang sekali. Padahal sebelumnya, sampe pengen nangis panic kalo ada yang bilang, wah, anak cewek biasanya lebih cepet lho lahirnya dari perkiraan dokter. Bisa cepet dua minggu. Sempet percaya setelah saya melihat tetangga saya kayak gitu. Tapi ngeliat dokternya tenang2 sambil senyum2 dan bilang jangan panic, ya udah, saya udah punya kepercayaan diri lagi.

Nah, yang bikin dokternya agak2 cerewet pada pemeriksaan kali ini adalah, katanya berat badan saya kok ga naik. Mau makan dari mana bayinya kalo ibunya kurang makan? Hmmm, menurut perasaan saya padahal, beh, naik tinggi nih, karena makannya terus2an, ga bisa dibendung. Bentar2 laper. Untungnya kata dokter, berat bayinya normal 2,7 kilogram sekarang. Suami pun akhirnya nyuruh2 makan ini itu. Apalagi sabtu lalu saya periksa darah paket prenatal, ada beberapa poin kekurangan seperti pada hemoglobin.

Tapi, saya sungguh penasaran, masa sih berat saya turun? Tadi pas nimbang kok ga merhatiin juga? Sampe rumah, saya nimbang badan lagi. Hmmm…beda 2 kilo dari omongan dokter tadi. Atau timbangan di rumah rusak kali ya? Trus saya cek buku lagi. Oalaaaahhhh, ternyata si dokter ngeliat data pemeriksaan dua pekan lalu. Pantesan. Padahal yaaa, berat saya naik hamper 4 kilogram dalam dua minggu. Skarang saya yang panic, gimana ngendaliin ini? :( (

Dua Minggu

Bulan ini, ‘jatah’ kontrol ke dokter udah dilakukan dua pekan sekali karena usia kandungan saya udah memasuki usia 32 minggu. Sabtu lalu, udah masuk 34 minggu. Bulan depan, udah sekali seminggu periksanya. Saya baru ngasih tau dokter kalo saya abis jatuh dan abis rekam jantung. Dan, dimarahin dikit. Kata dokter, heh, perut udah gede gini dan jatuh? Hati2 dong, semua harus dilakukan serba pelan. Kalo udah usia segini dan jatuh, sudah lagi balikin posisi janinnya.

Alhamdulillah, posisi kepala bayi saat ini udah ke bawah. Ketubannya cukup. Geraknya bagus. Detak jantungnya bagus. Beratnya 2,4 kilogram. Semuanya normal, Alhamdulillah. Pesen dokter yang lain masih sama: senam, banyak gerak, banyak jalan, aktivitas ga berubah, tapi tolong hati2. Trus, suami diminta siap2…jadi suami siaga menjelang persalinan.

Kalo ditanya apa yang saya rasakan saat ini…duh, sulit digambarkan. Oh iya, saya belum cuti. Masih ngantor, walaupun bolong-bolong. Banyak minta kerja remote aja. Soalnya, duh, susah juga ya, naik ojek ke stasiun, trus naik kereta, nyambung pake taksi, pulangnya pake taksi full tapi macet bikin kelamaan di jalan yang artinya saya akan duduk cukup lama, dan ujung2nya, kaki bengkak 

Setiap bertemu orang kantor, terutama saat mulai naik tangga ke lantai 3, udah pada negur. “Haduh, mulai cuti ajaaaa, udah susah gitu jalannya.” Ya iya sih, tapi saya belum mau cuti. Pengennya pas deket2 lahiran aja. Kalo perkiraan lahir 25 Desember, pengennya cuti sekitar 15-an Desember aja. Yak, mending berlama2 bareng bayi setelah lahiran daripada tegang berdebar2 sebelum lahiran karena ga ada aktivitas. Yang pada ngerti sih udah ngomong, “Ogah rugi lu, ya? Mending lama2 abis lahiran ya, daripada sebelum lahiran.” Betul!

Eh, iya lho, sekarang kayaknya saya gampang tegang gitu. Trus, saya cenderung menghindari mendengar cerita orang abis lahiran. Tiga tetangga saya udah lahiran dalam waktu berdekatan. Beda 1-2 minggu doang. Eh, udah empat orang ding. Yang terakhir, lebih cepat dua minggu dari perkiraan dokter. Tapi saya udah ga pengen denger cerita tentang lahiran  Bikin tegang. Plis, plissss, doain dong, semoga lahirannya lancar dan normal, Amiiiiinnnnnn!

20-11-2011

Hari ini, setahun yang lalu. Di sebuah ruangan di Masjid Al Markas Al Islami Makassar. Bersimpuh sendirian. Penuh debar menanti kedatanganmu. Lalu, ucapan itu meluncur dari bibirmu. Akad nikah kau lafalkan dengan lancar. Haru membuncah di dada. Akhirnya, hubungan ini kita resmikan. Hilang segala kekhawatiran, berubah menjadi kelegaan.

Detik ini, ada irama baru menemani kita. Denyut jantung mungil, buah cinta kita. Mungkin sekitar 6 minggu lagi, dia akan hadir mengisi hari2 kita. Semoga hadirnya, membuat tiga cinta dari tiga hati kita kian erat.

Happy Anniversary, my love.

Ps: cepet pulang, kangen!

Cerita dari Halaman: Kangkung

Kalo ga salah ingat, sudah tiga kali kami makan dengan lauk tumis kangkung, yang dipetik dari halaman mungil kami. Wew, seluas apa sih kebunnya? Serimbun apa sih tanaman kangkungnya? Hihi, saya bilangin ya…, tanaman kangkung di halaman kami, tumbuh dengan sendirinya dari sisa-sisa potongan sayur yang kami timbun di dalam tanah.

Maksud awalnya, sampah dapur itu kami tanam sebagai kompos. Tau2, kangkungnya tumbuh. Ada yang di halaman, ada yang di pot. Cuma dua rimbunan itu, tapi bisa mengenyangkan juga :p setidaknya, porsinya lebih banyak dibanding kalo mesen tumis kangkung di dcost misalnya. Kalo cuma buat dimakan berdua, berapa banyak sih yang kami butuhkan?

Tanaman kangkung yang tumbuh di bawah pohon jeruk nipis kami itu, harusnya sih udah bisa dipanen berkali-kali. Tapi, pada awal2, kami selalu keduluan si Tono, kelinci tetangga. Doyaaaan banget dia nongkrongin rimbunan itu tiap hari. Hihi, serasa disiapin buat kamu sendiri ya, Ton? Kelinci yang pinter, tauuu aja kalo di halaman kami ada makanan lezat. Apa coba kata pemiliknya saat tau si Tono rutin makan siang di halaman kami? “Jangan dimarahin ya, maklum, anak bungsu kami belum ngerti.” Haha, ya sudahlah, silakan dimakan Ton, cuma itu yang bisa kami sajikan :p

Eh iya, kami juga mulai nanem bayam. Yang udah tumbuh duluan sih kebanyakan jenis bayam liar, yang pohonnya bisa sampe tinggi banget, ada bunganya, daunnya lebar2 dan ijo banget. Konon, jenis ini malah lebih baik disbanding bayam cabut yang kecil2 itu. Tetangga saya ada yang ngasih makan bayinya dengan bayam jenis ini.

Daunnya yang lebar juga katanya paling cocok dibikin rempeyek daun bayam. Pengen sih nyobain, tapi blom sempet2 bikinnya. Blom ketemu resep rempeyek yang simple. Tapi,lama2 kalo pengen banget, kayaknya saya bakal pake tepung bumbu biasa juga. Pasti bisa, tapi ga jamin soal rasanya, hahaha…

Nah, ternyata ya, saya baru tau kalo si Tono, ga suka makan bayam! Bener2 dah, makanan spesialisnya kelinci cuma kangkung dan wortel. Jadi, sejauh ini, bayam kami sangat aman. Ga dipetikin sama anak-anak maupun si Tono. Tapi kami blom sempet masak bayam produksi halaman sendiri. Blom cukup banyak. Skarang masih ngandelin bayam dari tukang sayur, sambil nungguin bayam cabut yang tingginya baru 10 sentimeter.