Tahun Ketiga

Ennggg…tak enak memulai tulisan ini. Masih ada rasa mengganjal. Sudah lewat tiga hari, kita, atau lebih tepatnya saya, diem-dieman. Tapi tak perlulah saya tuliskan di sini, apa sumber diem-dieman itu. Ketika itu, saya meledakkan kata-kata, tapi tak marah. Saya hanya…apa ya kata yang pas? Jijik rasanya terlalu kasar. Mungkin lebih tergambarkan dalam bahasa Sunda, geuleuh. Mengingatnya saja saya pengen loncat2 seperti jika melihat tikus.

Ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Kita mestinya selalu bisa memetik pelajaran dari pertengkaran kecil ini. Tapi, tetap saja selalu berulang. Saya yang selalu merepet panjang, dan tak mau dipersalahkan oleh kebiasaan ini karena berpikir sangat jarang istri yang tak mengomel. Sementara kamu, juga mengulang kesalahan yang sama, masih saja tak bisa lebih bersih dan rapi.

Nah, klasik kan persoalan kita? Mungkin hampir semua pasangan suami istri mengalaminya. Tapi diem-dieman ini harus diakhiri. Hari ini hari istimewa kita. Tiga tahun lalu, kamu mengucap ijab kabul di depan penghulu, di masjid terbesar di Makassar. Dan kini kita tak hanya berdua. Ada Puan, guru kecil kita, yang juga perpaduan dari kita berdua.

Jadi, saya minta maaf, Suamiku
Selamat ulang tahun pernikahan
Saya mencintaimu.

*hiks, ga romantis blas*

2 thoughts on “Tahun Ketiga

  1. nillajuminten mengatakan:

    Uwow… Udah tahun ke-3 aja nih, mbak. Aku baru menginjak bulan ke-3.😄

  2. ipied mengatakan:

    selamat tahun ke 3! sama, tahun ini akupun juga tahun ke 3!😀 langgeng selalu ya mbak😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s