Pertama

Sesaat sebelum terlelap, mata beningnya menatapku lekat-lekat. Tatapan seperti ini, meski dari seorang bocah, kadang bikin jengah juga. Puan paling sering melakukannya saat kupeluk dalam gendongan kanguru. Tatapan kali ini disambi dengan tangan mungilnya yang nepuk2 badan saya, dan mulut yang sibuk ngenyot :p Agar tak jengah, kugoda dia dengan memonyongkan bibir ke arah jidatnya. Puan tersenyum, lalu memejamkan mata, dan terlelap.

Pagi tadi, ayah agak telat ke kantor. Eh, ralat, ga telat juga sih, biasanya emang berangkat agak siang karena….ga tau deh, urusannya begitu banyak meski topik besarnya cuma dua, ngutak atil henpon dan kamera. Setelah nyuapin Puan tadi pagi, ayah malah lanjut mandiin, yang biasanya adalah tugas saya. Ya sudahlah, seneng2 aja sih. Mungkin ayah ingin memberi kesan khusus pada ulang tahun Puan hari ini.

Iya, tepat setahun lalu, jam segini, saya di rumah sakit Hermina, Depok. Kala itu jantung saya berdebar sangat kencang. Perut mules. Saya memang mengalami kontraksi terus menerus meski saya tidak begitu merasakannya. Tapi bukan kontraksi yang bikin mules, melainkan rasa tegang menanti operasi. Panggul saya terlampau sempit, kepala janin tak kunjung sampai ke jalan lahir, sementara air ketuban keburu habis. Dokter memilih tanggal cantik, 12-12-2012, meski saya sudah menolak karena takut tak dapat perhatian yang cukup mengingat banyaknya ibu2 melahirkan hari itu. Tapi dokter hanya punya waktu hari itu, ya sudahlah, ini namanya jodoh.

Pukul 12.00 saya berjalan ke ruang operasi. Yak, jalan sendiri, bukan dibaringkan di tempat tidur. Berjalan dengan badan mendadak kedinginan dan sedikit gemetar, diiringi mama dengan wajah yang justru lebih pucat, dan suami yang terlihat berusaha santai.

Saya tak sanggup menceritakan detail perasaan saya selama di ruangan super dingin itu, baik sebelum, saat berlangsung, dan setelah operasi berjalan. Yang paling lekat dalam ingatan adalah rasa dingin. Lalu, selintas rasa sedih karena meski Puan lahir pukul 13.22, saya baru bisa melihat sosoknya menjelang tengah malam. Saya yang membawanya dalam perut selama 9 bulan tapi saya justru menjadi orang terakhir yang melihatnya setelah lahir. Meski rasa sedihnya sekilas, tapi membekas hingga kini. Saya selalu menutup mata jika melihat gambar bayi yang baru lahir. Rasanya ngilu, dan sedih.

Hari ini tepat setahun usia Puan Panrita Bestari. Semoga guru kami ini senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan. Semoga kami sanggup menjadi orang tua yang membahagiakan hidupnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s