Namanya Puan

Dua belas Februari lalu, Puan Panrita Bestari berusia dua bulan. Yak, selama dua bulan pula saya tidak ngeblog. Saya melewati hari-hari yang sangat luar biasa selama dua bulan ini sehingga tak sempat ngeblog. Seperti saya ceritakan di postingan sebelumnya, persalinan akhirnya melalui operasi. Begitulah, manusia hanya bisa berencana tapi tuhan punya jalan lain. Jalan lahir anak saya ternyata harus dengan pembedahan.

Dari sejak diberitahu dokter hingga hari persalinan tiba, jangan ditanya bagaimana kondisi saya. Pikiran kemana-mana, kaki seperti tak berpijak di bumi. Kadang rasa sedih tiba2 datang, entah karena takut menghadapi operasi, juga karena masih berharap persalinan bisa dengan jalan normal. Beruntung saya memiliki suami yang begitu sabar (yang tentu saja juga punya sisi menyebalkan, hihihi), yang selalu menguatkan saya di saat2 seperti itu.

Mama saya juga ada di sini sejak sebulan sebelum persalinan. Yang baru saya ketahui belakangan, mama ternyata tak pernah kuat menyaksikan persalinan anak/mantunya. Kalo nemenin ponakan atau orang lain sih, udah pernah. Bersama saya adalah pengalaman pertama. Operasi pula. Tak bisa saya lukiskan ketakutan mama saat itu. Yang jelas terlihat hanya sakit kepala mama jadi sering kumat. Sesaat sebelum masuk ruang operasi (setelah saya ganti baju operasi), saya masih sempet becandain mama. Saya bilang: kok mama lebih pucat dan terlihat takut daripada saya?

Persalinan berlangsung pada 12 desember 2012 pukul 13. Puan lahir pukul 13.22. Panjangnya 47 sentimeter, beratnya 2,7 kilogram. Saya sudah berada di rumah sakit pada malam sebelum operasi. Seperti operasi lainnya, saya pun menjalani puasa selama 8 jam. Ini tak seberapa. Karena setelah operasi, saya baru boleh makan 12 jam kemudian. Kenyataannya, puasa yang saya jalani lebih panjang dari itu. So, rasa lapar ketika itu bener2 sebuah siksaan. Sakit kepala yang saya derita mungkin perpaduan antara kelaperan dan pengaruh obat bius.

Lalu, bagaimana rasanya berada di ruang operasi? Duh, tak bisa saya gambarkan detil. Yang jelas, kalo masih ada jalan lain, saya tak akan mau lagi kembali ke ruangan seperti itu. Terbaring dalam kondisi terbius separuh badan dalam ruangan dingin. Telanjang di atas meja operasi yang juga sangat dingin. Mata silau oleh lampu operasi yang juga memantulkan bayangan tangan2 dokter yang sedang membedah perut saya.

Selama operasi, saya tak kuat membuka mata. Saya ngeri melihat pantulan bayangan pada lampu ruang bedah di atas saya. Parahnya, memejamkan mata membuat obat bius juga bekerja sangat baik untuk meninabobokkan, sehingga saya tak bisa menyaksikan momen ketika Puan dikeluarkan dari perut. Saya pun tak bisa menjalani proses inisiasi Menyusui Dini (IMD) karena saya tertidur. Hal2 ini membuat saya penyesalan saya makin tebal.

Saat keluar dari ruang operasi, saya begitu ingin dipeluk tapi tak bisa saya ungkapkan. Meski akhirnya saya dapatkan, itu pun hanya sesaat karena suami sibuk wara wiri ngurus si jabang bayi. Saya hanya sempat memeluk dan nanyain gimana bayi kami. Apakah dia sudah melihatnya, mengazaninya, dsb. Suami berbisik: kakak cantik.

Ahhhh, saya malah makin ingin nangis. Bisa2nya orang2 lain bisa melihat Puan lebih dahulu ketimbang saya, orang yang mengandungnya 9 bulan ini, orang yang perutnya dibelah untuk mengeluarkannya. Seharian itu, saya dilingkupi rasa rindu yang teramat sangat. Saya ingin segera melihat putri saya. Tapi si cantik baru diantar ke kamar sekitar pukul 9 malam. Alangkah lamanya. Sebelumnya, Puan harus masuk ‘kotak’ dulu untuk menyesuaikan suhu tubuhnya dengan dunia. Lalu, jam 4 pagi, Puan diambil lagi dari dekapan saya untuk dimandiin dan diurus suster hingga pukul 8 pagi nanti. Lamanyaaaa!

Sedihnya lagi, air susu saya belum cukup banyak untuk dia. Saya pun belum begitu paham cara menyusui. Sementara itu, saya pun harus mendengar/membaca begitu banyak tudingan miring karena saya melahirkan di hari cantik, 12-12-12. Tapi, sudahlah, yang penting Puan lahir selamat dan sehat. Soal jalan lahir, sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya.
Cerita dalam gambar, bisa disimak di blog suami. Mungkin, gambar bisa bercerita lebih banyak dibanding kata-kata.

4 thoughts on “Namanya Puan

  1. kucingusil mengatakan:

    alhamdulillah, selamat datang Puan. aku suka namanya. cantik🙂

  2. yati mengatakan:

    Ma kacih tante linda…ga cuma namanya, orangnya juga cantikkkk :)) *menurut emaknya sih*

  3. Irsanti Sesmi Obillah mengatakan:

    cantik…
    semoga kelak tumbuh menjadi anak yang tidak hanya berparas cantik tetapi juga berhati cantik..🙂

  4. yati mengatakan:

    Amiiin….ma kasih “kanahaya” ayo ngeblog lagi. Biarin aja isinya soal baby terus, yang penting ngeblog :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s