Cerita dari Halaman: Cabe

Halaman rumah mungil kami hanya berukuran sekitar 3×3 meter. Tapi begitu banyak mimpi indah yang ingin kami tanamkan di sana. Pengen punya halaman indah dengan warna warni bunga. Pengen punya halaman sehat dengan tanaman obat2an. Pengen berkebun, panen, dan makan dari halaman sendiri yang ditanami buah dan sayur mayur. Tapi gimana bisa menampung itu semua dalam lahan seluas 3×3 meter?

Sebelum menikah, kami sudah sepakat harus ada pohon mangga di halaman kami. Alasan mas sih, karena itu buah kegemaranku. Kalo saya sih lebih karena penghijauan dan bisa dimakan hasilnya, dari masih muda, mengkal, sampe mateng. Lalu setelah menikah, saya ingin menambahkan pohon sirsak. Daun tanaman ini bisa buat obat segala macempenyakit, dan lagi2 ada buahnya.

Lalu, setelah kami menempati rumah ini, saya begitu iri melihat halaman tetangga. Penuh tanaman, dalam pot maupun ditanam langsung di tanah pekarangan. Dari cabe, daun bawang, sereh, kunyit, hingga anggrek. Duh, anggreknya ini bikin saya iri deh. Tapi, saya menanam bukan ikut2an sih. Target saya, di rumah ini harus ada tanaman kebutuhan sehari2, misalnya cabe, daun bawang, jeruk nipis, dan kemangi. Tanaman2 ini rasanya mudah tumbuh, seperti pengalaman di kampung. Dalam pot pun ga masalah, malah lebih baik karena ga makan banyak tempat dan bisa dipindah2in.

Tanaman pertama kami adalah cabe dan daun bawang. Stok biji cabe lumayan banyak karena saat itu kami blom punya kulkas sehingga cabe gampang busuk dan tinggal di lempar ke halaman, tumbuh deh. Trus, daun bawang, saat beli di pasar, akarnya ga kami potong. Setelah daunnya diambil, sisain pohon bagian bawah yang ada akarnya, tancepin, tumbuh deh. Sayangnya, daun2 bawang ini ga bertahan lama (seperti punya tetangga). Paling sekali panen daun, trus pohonnya kering atau membusuk dan mati. Saya serba salah. Kebanyakan air, busuk. Kekurangan air, mati. Sementara punya tetangga ditanam sebagai pagar, tersiram sinar matahari penuh, dan tetep subur.

Tanaman berikutnya, mangga, sirsak, dan jeruk nipis. Ga ada yang ditaro di pot. Ketiganya bersaing mendapatkan makanan dari lahan seiprit yang (celakanya) di bawahnya ada septic tank. Gemes deh sama pengembang perumahan yang naro septic tank justru di lahan berrumput, bukan di bawah carport L Jadi berkurang lahan pertanian kami :p

Sementara itu, cabe2 kami tumbuh subur dan rimbun. Pot2 udah ga muat. Dengan terpaksa, kami sebar cabe itu di halaman juga. Makin ketatlah persaingan antar tanaman di sana. Belakangan, semua cabe yang di pot terpaksa dengan berat hati dimatiin aja. Kini bertahan dua pohon cabe gede yang sarat buah dan saya panen tiap dua hari sekali. Tiap panen rata2 10 biji. Lumayan kan? Ga perlu beli cabe lagi buat nyambel. Toh cuma saya yang makan cabe di rumah ini. Jadi cukup bangetlah.

Menyaksikan tanaman cabe ini tumbuh dari hari ke hari, rasanya jadi pengalaman tersendiri yang, gimana ya melukiskannya? Saya suka geli sendiri saat awal2 menyaksikan mas mengajak tanaman2 itu ngobrol seperti mengajak anak bicara, mengelus2 daunnya seperti mengelus kepala anak kecil. Lalu betapa kami surprise ketika putik2 bunga bermunculan, menjelma menjadi buah. Itulah kenapa kami sangat berat hati mencabut banyak pohon cabe. Tapi, yang bikin sangat patah hati, ketika buah yang begitu rimbun, habis dipetikin anak2 kompleks lalu diulek2 di sepanjang tembok samping rumah. Duh! Cuma sekali sih, mungkin mereka tobat juga karena kepedesan main cabe.

Cerita dari halaman tentang tanaman lain, masih banyak. Besok disambung lagi deh setelah edisi periksa rutin ke dokter kandungan.

One thought on “Cerita dari Halaman: Cabe

  1. […] pengalaman, cabe kami dihabisin anak2 buat main masak2an, dan kangkung yang rajin disambangin Tono si kelinci putih milik tetangga, serta […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s