Nama Anak

Ada hal berulang setiap kali saya menjawab usia kehamilan saat ini. Usai menjawab: “Lima bulan,” pasti berlanjut dengan komentar: “Udah ketahuan dong jenis kelaminnya?” Dan setiap itu pula saya menceritakan postingan lalu tentang Jenis Kelamin. Pertanyaan selanjutnya, trus gimana nyiapin namanya dan belanja keperluan bayinya kalo ga tau jenis kelaminnya?

Mmm…belanja? Sejujurnya sih, saya ga terlalu mikirin soal belanja2. Entah emang beda dengan (calon) ibu2 lainnya atau saya emang terlalu tradisional, mikirnya selalu, “Ah, pengalaman ngeliat sodara2 di kampung, ga segitu hebohnya belanja2 perlengkapan bayi.” Emang apa aja sih keperluan bayi? Baju? Itu sih otomatis ya. Tapi ga harus ditumpuk sekarang kali beli2nya. Paling satu ukuran baju dipake berapa minggu sih? Trus, box dll? Ga ah, takut mubadzir dan menuh2in doang. Takutnya, rumah sempi ini akan terasa makin sempit padahal boks-nya ga dipake setahun.

Ini emang jadi resiko (seolah) ga mau tau lebih awal jenis kelamin anak antara lain. Soal nama, kami harus siap dua nama. Atau paling nggak, harus nyiapin nama yang unisex. Kami juga harus siapin baju2 dan perlengkapan bayi dengan warna2 netral. Tapi harapan saya sih, semoga saya ga makin boros dengan bertambahnya alasan buat belanja karena bakal punya bayi.

Yang jelas, soal nama, saya udah ada bayangan. Dari dulu saya berpikir, nama anak saya harus kata yang Indonesia BANGET. Ga ada Arab2an. Iya sih, pernah dibilangin, usahain namanya harus yang ada di Al Quran dan punya arti bagus. Tapi, saya pikir, pakai bahasa apapun, asal isinya doa yang baik, ya akan baik juga kan? Ini hanya persoalan bahasa. Dan menurut saya, sebaiknya kami menjaga ke-Indonesia-an ini dimulai dari NAMA.

Saya dari dulu juga pengen, nama anak kelak harus ada kata senandung (untuk perempuan) atau kidung (kalo laki) seperti nama blog ini. Tinggal menyesuaikan setelah melihat jenis kelaminnya. Udah Indonesia banget kan? Anak temenku (cowok) di kantor lama, namanya: Senandung Kidung Pelangi. Keren. Saya kepincut pada ‘senandung’ dan ‘pelangi’-nya. Nah, persoalannya, Mas pengen ada unsur Bugis dalam nama anak kami nanti. Trus, doanya harus jelas. Kalo kayak nama tadi, doanya apa? Oke, iya juga. Sesungguhnya saya patut malu karena Mas lebih peduli untuk melestarikan budaya Bugis, dibanding saya, si anak Bugis asli. Lagian, jarang2 kan nama Bugis. Bisa unik hasilnya ntar.

Saya bertahan ada kata Senandung atau Kidung atau Pelangi, atau Raya. Mas mengharuskan ada nama dari bahasa Bugis. Lalu Mas menambahkan, harus ada kata Bestari (dari kata bijak-bestari). Kata2 dalam bahasa Bugis yang udah diincer misalnya: Tobarani (pemberani), Panrita (bijak cendikia), dll. Beberapa perpaduan nama sudah kami dapatkan dan cukup cocok untuk nama laki maupun perempuan meski cuma nyiapin satu nama. Oh iya, saya pengennya nama terdiri dari tiga kata, menyesuaikan dengan nama dalam standar internasional biar gampang bikin pasport :p hihihi… Ada usulan ga? Tapi ntar diseleksi lagi lho ya (halah)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s