Ngunduh Mantu

Minggu sore lalu, akhirnya saya dan dia bisa bernafas lega. Sebab  siangnya, kami berdua baru saja melalui tahapan acara ngunduh mantu di  Depok. Sebenernya saya jauh lebih santai saat persiapan acara ini. Sebab  beda dengan di Makassar, di mana semua acara dan item kerjaan saya handle  sendiri, di Depok sini tinggal bayar ke WO. Semua udah komplit, dari  gedung, katering, rias dan baju pengantin, sampai hal-hal kecil seperti  buku tamu.

Semua hal sudah tersedia. Jadi sebenernya, kami hanya perlu duduk manis  menjalani rangkaian acara. Tapi ga gitu dengan ibu mertua. Mungkin karena  ini kali pertama menikahkan anak, so, ibu sepertinya begitu panik. Mau ga  mau, saya jadi ikut ngurusin detil2 yang sebenernya sudah dalam  penanganan WO. Soal ngerjain souvenir, masukin satu2 kartu ucapannya, itu  sih ga masalah banget. Saya bisa menyelesaikannya sendirian dalam waktu  dua jam untuk 250 souvenir.

Yang sebenernya agak ribet adalah, pada waktu yang bersamaan, kami berdua  harus pindah rumah. Taulah, masuk rumah baru, bukan kerjaan ringan. Mulai  dari mindahin barang, bersih2nya (ini bener2 ga abis2), menatanya, dll.  Repotnya, rumah kami belum jadi sepenuhnya. Tembok belakang tingginya  cuma semeter sehingga dapur kami langsung terhubung dengan kebun bambu di  belakang kompleks perumahan. Kalo siang sih, enak,adem, dan asik gitu.  Tapi pas malem, huh, jangan ditanya, serem!

Di tengah kerepotan ngurus rumah, saya harus bolak balik ke rumah mertua  dan ketemu WO. Dua hari sebelum acara, saya bener2 pontang panting.  Kayaknya, bangun sepagi apapun hari itu, kerjaan tetep ga kelar.

Waktu itu, di saat bersamaan, pagi2, saya harus ngurusin empat tukang  yang akan mulai kerja. Saya pun harus nyiapin kedatangan lima orang  (mama, tante, dan kakak2) yang akan menghadiri acara kami. Ga mungkin  mereka nginep di penginapan di Jakarta. Kejauhan. Apa pula gunanya ada  rumah ini jika mereka saya inapkan di hotel. Jadi, walo harus bersempit2  dan repot karena rumah juga lagi dibangun, ngumpul bersama di rumah kecil  ini, sangat membahagiakan. Alhamdulillah.

Ketika hari H tiba, alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Acaranya  cukup komplit dan gedungnya meski kecil tapi cukup menakjubkan buat saya.  Lalu, yang mengharukan adalah, hampir semua orang yang saya undang  (walopun hanya lewat imel) bersedia hadir. Ada Mbilung sekeluarga, ada  Dinda, temen2 kantor bahkan bos saya sekeluarga, temen2 panitia pesta  blogger 2010 beserta chairwomennya, para keluarga yang saya undang hanya  via telepon, dan bahkan ada Siti yang jauh2 terbang dari Balikpapan.  Kalian semua…, bener2 bikin saya senang dan terharu. Terima kasiiiiih  banget :*

2 thoughts on “Ngunduh Mantu

  1. ipied mengatakan:

    hem sekarang saya yang sedang bingung dengan acara ngunduh mantunya :p emang sih akan sederhana tapi kok kalo dilihat lihat akan jadi tidak sesederhana itu ya?…

    sedang berandai andai bisa gak ya ngunduh mantu itu gak harus pake kebaya, jarit dan sanggul lagi? mungkin pake jeans dan kaus kesukaan?😀 ah kok kayaknya saya terlalu ngimpi ya hahaha….

    let see.. kita lihat deh nanti akan jadi kayak apa… hehehe…

  2. kopisusu mengatakan:

    Review & poto²nya dong mbaaaak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s