Ijab Lancar

Setelah melewati masa kursus, ternyata banyak printilan2 yang harus kami selesaikan lagi sebelum hari H. Kadang urusan2 ini selesainya tengah malem banget. Sampe kost atau rumah kakak, udah stengah teler. Ga ada yang namanya menyiapkan fisik sebelum hari H. Karena siapa lagi yang bakal ngurusin ini semua kalo bukan saya?

Sehari menjelang akad nikah, saya ke salon untuk dipakein heena di lengan hingga punggung tangan. Sedangkan dia, untuk fitting baju pengantin. Enaknya pake baju adat Bugis-Makassar ini, karena saya tak perlu diet2an. Bajunya longgar :p Selain ngurusin salon dll, saya ngurus penginapan buat calon mertua (waktu itu emang masih calon) dan dua adik si mas yang datang sehari sebelum nikah. Abis dari salon, saya ke bandara jemputin keluarga inti si mas. Saya masih wara wiri sampe sore, sampe saya tak enak hati sendiri karena udah banyak orang yang ngumpul di rumah dan saya sibuk sendiri ngurusin semuanya. Padahal di mana2 calon pengantin keknya hari2 itu udah duduk manis aja harusnya.

Esoknya, Ahad 20-11-2011, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Dari subuh saya ke salon. Agak bingung sekaligus sedih sih. Ini kok kami terlalu mandiri ya. Kalo ga ada adek sepupu yang jemputin, mungkin kami pun naik taksi ke tempat acara. Sampe sana, kami jalan aja gitu berdua ke masjid, nyariin ruangannya, tanpa diiringi siapa2. OMG. Konyol dan sedih. Di ruangan masjid, kami pun berpisah. Saya duduk di kamar pengantin, sementara si mas duduk di luar, di ruang utama masjid tempat akad nikah berlangsung.

Saat itu, deg2annya bukan kepalang. Saya seperti bisa mendengar degup jantung saya memukul2 dinding dada. Dan saat2 seperti itu, biasanya saya langsung mual2 karena tegang. Kalo ga minum, saya bisa sampe muntah beneran. Tapi saya sendirian di ruangan itu. Akhirnya pasrah aja, merapal segala macam ayat yang sempat saya ingat. Karena, celakanya, saya bener2 lupa bacaan yang harus mengiringi si mas agar lancar mengucap ijab kabul di luar sana.

Tapi, Alhamdulillah, semua prosesi berjalan lancar. Si mas cuma sekali mengucap ijab dan langsung dinyatakan sah. Semuanya bener2 lancar meski jam nikahnya dimajukan setengah jam. Sebenarnya di undangan saya nulis jam 10. Berhubung hari itu (mungkin) tanggalnya dianggap unik, 20-11-2011, yang nikah banyak banget. Pak penghulu bingung dan terus2an mengingatkan saya untuk tepat waktu karena saya orang pertama yang dinikahkan hari itu. Akhirnya waktunya pun saya majukan, dan pak penghulu senang.

Alhamdulillah, lancar, kecuali proses berduaan untuk melaksanakan sholat bareng mas, agak terburu2. Lagi2 karena pengantin berikutnya yang akan nikah di tempat itu, sudah ngantri. Nah, turun dari masjid di lantai dua ke lantai satu di tempat acara, lagi2 kami jalan berdua tanpa pengiring. Sepatu dan selop kami pun tak keliatan di mana. Karena kelamaan nunggu alas kakinya dicariin, akhirnya kami jalan aja ke ruang resepsi tanpa alas kaki. Saya melihat wajah ibu mertua dan bos di kantor yang keheranan karena kami jalan ke pelaminan tanpa pengiring.:( ya, saya pun merasa cara ini agak2 gimanaaa…seperti anak hilang).

Tapi, sudahlah, soal itu tak terlalu saya pikirkan lagi. Rasa sedih itu bisa tertutupi dengan kegembiraan melihat semua temen datang. Temen organisasi di kampus, temen kerja, temen pers mahasiswa, dari yang paling senior hingga yang paling junior, semuanya datang. Acara ini, seperti saya bilang ke temen2 sebelumnya, bener2 menjadi ajang reunian kecil. Alhamdulillah.

Demikianlah, hingga acara selesai, semuanya berjalan. Tak ada acara adat, tak ada lagu pengiring, dan tak ada malam pertama (haha, si tamu sedang berkunjung dan kami bingung nyari tempat nginep, dan kami kecapean). Semuanya simpel. Eerrr…saya ga munafik. Sejujurnya, saya juga pengen acara pernikahan yang lengkap prosesi, acara adatnya, dll. Apalagi saya menikah dengan lelaki yang berbeda suku. Tapi, apa daya saya untuk mewujudkan semua itu kalo saya hanya sendirian menyelesaikan ini semua. Tangan cuma dua, kaki cuma dua. Dikasih lebih pun, tenaga saya udah ga mencukupi.
Saya cukup terharu saat di pelaminan, mas berbisik, “Kamu hebat say, bisa bikin acara seperti ini sendirian.” Terima kasih atas apresiasinya, mas. Love u.

5 thoughts on “Ijab Lancar

  1. Di Jual Rumah mengatakan:

    nice post
    salam kenal yah😀

  2. dinda mengatakan:

    yang penting happy ending, dear. Seneng deh lihat kalian berdua kemaren🙂 harus ketemuan lah, biar bisa ngobrol panjang2😀

  3. puput mengatakan:

    eittsss,,,
    kapan nih tour de java nya dimulai?:D

  4. Nila mengatakan:

    Nice Story sistaa…

    Mba Yatii…. Happy Wedding…
    it’s too late … (heeeee)
    semoga Allah limpahkan kebahagian dalam setiap langkah meraih keluarga Samara…
    Gimana sudah ada hasiill dari bulan madunya..? walaupun tanpa malam pertama di hari pertama pernikahannyaa, hee….

    Salam kangen dari Ibuu mbaaa….. (mau dikirimin poto weddingnya duunkkk ke imel yaahh, #HAARRUUUSSS!! ibu mau liat potonya, hee )

    dadaaaahh…..
    ditunggu imelnya n rply this quote…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s