Nyebar Undangan #2

Adek sepupu saya yang bekerja di Berau, Kalimantan timur, katanya akan pulang hari ini. Sebagaimana para pekerja tambang, ia memiliki jadwal cuti yang teratur. Setelah dua bulan berada di hutan atau lokasi tambang, ia akan memperoleh cuti dua pekan. Tapi bukan soal cuti dan mungkin oleh2nya yang saya sangat harapkan, melainkan bantuannya menyebar undangan nikahan nanti. Hahaha…sekarang prinsipnya, manfaatkan semua orang :p abis, siapa lagi yang bisa bantu?

Menyebarkan undangan adalah bagian paling ribet dalam sebuah rencana pernikahan. Beberapa waktu lalu, saat bos saya yang orang Jawa akan menikahkan ponakannya di Makassar, soal menyebar undangan ini pula yang paling “dihebohin”. Menurut Pak Bos, orang sini tuh ga praktis. Nyebar undangan ga memanfaatkan Pos atau jasa pengiriman lain. Jadi, undangan harus dianterin satu-satu ke setiap orang, dan ga boleh nitip2 atau nyelipin di bawah pintu maupun di kotak surat.

Saya cengengesan dengernya. Ya emang bener sih omongan bos saya itu. Walopun sebenernya, kondisi sekarang udah merupakan kemajuan luar biasa dari yang saya lihat sejak kecil. Zaman dulu, sebelum ada undangan, orang membawa batang2 rokok sebagai penanda hari. Jika pestanya jatuh pada hari ke tujuh, maka ada tujuh batang rokok diserahkan. Jika yang diundang adalah bangsawan, pemuka adat, pejabat desa, biasanya jumlah rokoknya sebungkus. Ga heran kan kalo saya udah kenal rokok sejak kecil? Sebab, penanda undangan sudah diterima adalah dengan menghisap rokok itu di depan pembawa undangan.

Periode sebelumnya lebih ribet lagi. Hari H pesta ditandai dengan jumlah pembawa undangan. Jika ada tujuh pembawa undangan, berarti pestanya jatuh pada hari ke tujuh. Jika ada 40 pembawa undangan, berarti pesta akan berlangsung pada hari ke-40. Bayangkan ramainya. Mereka semuanya biasanya berpakaian adat, baju bodo dan sarung sutra. Kaum lelaki memakai jas tutup dan kain semi sutra. Penyebaran undangan dilakukan jauh-jauh hari sebab zaman dulu biasanya memang pesta berlangsung lama. Banyaknya pihak yang harus diundang, membuat orang harus gerak cepat, jauh2 sebelum harinya.

Makin ke sini, tradisi itu ditinggalkan. Tapi setelah ada kertas undangan, saya masih pernah menerima sebungkus rokok dan selembar undangan yang diserahkan di atas piring perak atau kuningan, terbungkus sapu tangan. Bahkan setelah lebaran Idul Fitri kemarin, saya masih melihat orang datang membawa undangan berupa sebungkus rokok. Pembawanya, mengenakan jas modern, dalaman kemeja, dan bawahannya berupa sarung mirip tenun sutra.

Saat ini, yang umum terlihat adalah sepasang laki dan perempuan, atau dua laki2, dalam balutan pakaian adat, berboncengan menyebarkan undangan. Sudah jauh lebih praktis. Tapi masih dianterin satu2. Pada golongan muda saat ini, menyebarkan undangan udah bisa pake nitip2, tapi itu jika undangannya juga ditujukan pada komunitas sendiri. Itupun belum pake jasa pengiriman, masih face to face.

Menurut bos saya tadi, kelebihan dari cara ini adalah, orang akan merasa sungkan untuk ga menghadiri undangan itu. Emang bener, sebab orang akan melihat: “Woh, mereka datang dari kampung yang jauh untuk nganterin undangan sendiri, masa kita ga hadir?”

Tapi ya ribetnya gitu. Saat ini, siapa orang yang ga sibuk? Zaman kuliah dulu, spesialis pengantar undangan adalah para anak lelaki, sepupu dan ponakan yang tinggal bareng2 di rumah di Makassar. Mereka tau alamat para kerabat hingga di pinggir2 kota. Sekarang, adik, sepupu, ponakan, semuanya udah bertebaran di muka bumi. Tak ada lagi si pengantar undangan. Yang turun tangan akhirnya para orangtua kami, dianterin siapapun yang bisa nyetir, dan hanya pada akhir pekan.
Jadi, begitu mendengar jadwal cuti adek sepupu tadi jatuh pada hari ini, gimana saya ga bergembira ria? Hahaha…apalagi kalo dibawain mantau dan kalung mutiara atau batu2an hasil transit di Balikpapan. Uhukkk…ngarep :p

5 thoughts on “Nyebar Undangan #2

  1. heri mengatakan:

    woh, hahahaha, emang ndak ada yang bener-bener praktis dalam urusan ini ya, jaman skarang aja kita masih merasa ribet dengan urusan nyebar undangan, eh ternyata jaman dulu jauh lebih ribet🙂

    slamat menyebar undangan ya

  2. sapiterbang mengatakan:

    Alhamdulillah, salah satu kemudahan dari Tuhan🙂

  3. puput mengatakan:

    kalo di desa saya dulu undangan dianter oleh orang yang memang udh jd pekerjaan nya dia. undangan ky gitu namanya ulem. dr saya kecil setau saya pengulem itu bapak tua yang suaranya keras banget! kalau dia datang setelah mengucap salam seluruh keluarga berkumpul, mendengarkan ia bicara dengan nada tertentu dan kalimat yg mungkin sudah di hapal nya bertahun2, menggunakan bahasa jawa ngoko desa! menarik kan? sekarang mungkin bapak itu sudah meninggal dan undangan dianter pake kertas cantik berhias pita.btw, mbak yati malah rajin nulis yahhh kalau mau hari H🙂

  4. yati mengatakan:

    unik juga tuh put :d tulis dong…
    ini bukan rajin sih, tapi maksain diri kembali latihan nulis. pengennya ikut bikin novel di nanowrimo. tapi blom bisa bikin novel, minimal rutin nulis postingan ajalah dulu…

  5. puput mengatakan:

    Ya kan klo uda rajin gini isyarat yg baik buat nulis novel hehe..
    Wah aku udah agak2 lupa ma yg namanya ulem.baca postingan mb yati jd inget.
    Jadi dulu itu yg penting adl ingatan kita,krn harus dengerin baik-baik omongan bapak pengulem dan mengingat kapan tepatnya acara itu diadakan..dan hebatnya mamah/tante saya ga pernah nulis di agenda.pokoknya inget aja tanggal hari acaranya lho heheheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s