kekuatan doa #1

Omongan para motivator atau apalah sebutan mereka yang suka muncul di tivi dengan gaya sok cool itu, sampai saat ini, belum mampu menyentuh hati saya. Kadang saya menganggap omongan mereka bullshit. Sorry to say, tapi gitulah. Saya ragu, apa mereka sendiri sudah melakukan semua hal yang mereka omongkan itu?

Lalu, saat hari2 belakangan saya menyimpan begitu banyak keinginan, kebutuhan, dan mimpi2 dengan keterbatasan tenaga, pikiran, dan biaya untuk menggapainya, seorang kakak ipar memberi saya selarik nasehat. Dia menyarankan agar saya berderma bagi anak yatim. Memberi mereka makan, dan minta didoakan. Kenapa? Karena zakat dan sedekah bisa membersihkan harta dan melancarkan rezeki, serta didoakan anak yatim, biasanya maqbul, langsung terpenuhi.

Saya setuju. Saya langsung menyanggupi dan nyerahin duit ke tetangga si kakak yang biasanya belanja dan masak untuk panti asuhan yang ditunjuk untuk disantuni. Tapi, kata si kakak, saya harus ikut hadir saat nyerahin paket makanan itu. Lha, saya pikir saya cukup nyerahin aja, dan selebihnya biar Allah dan malaikatnya yang tau dan mengatur segala sesuatunya buat saya. Kata kakak, saya harus meminta doa khusus di sana tentang apa yang saya inginkan.

Haduh, sejujurnya, saya malu banget untuk ikut ke panti, lebih2 untuk me-request doa khusus. Saya malu karena ini aksi pertama saya menyantuni anak panti secara khusus. Saya malu untuk minta didoakan secara khusus pula oleh anak-anak panti ini dengan hanya berbekal beberapa ratus ribu itu. Rasanya, ini seperti membayar doa mereka dengan sekotak makanan. Padahal pemberian ini memang sudah seharusnya saya lakukan, tanpa menerima imbal balik. Rasanya tidak etis dan tak sangat tak tahu diri.

Tapi kakak terus meyakinkan saya bahwa katanya Allah pun memberikan kesempatan ini untuk meminta pada-Nya sebagai imbalan atas pahala memberi makan pada anak yatim. Saya akhirnya ikut ke panti. Sejak dari pintu, saya sudah tak tahan untuk tak meneteskan air mata. Kayak di film kartun, air mata saya berderai2. Apalagi saat mendengar anak2 itu melafalkan doa-doa. Ini bukan doa khusus. Ini bacaan biasa yang merangkum semua harapan seorang manusia.

Tak sampai 10 menit kami di panti itu, tapi air mata yang keluar rasanya sudah segelas penuh. Melihat air mata heboh saya itu, si tetangga yang masak santunan tadi sampe nanya ke kakak saya: “Emangnya dia nanti nikahnya dijodohin ya? Apa dia menolak perjodohan sampe nangisnya gitu banget?” Huahahaha…saya jadi ngakak dan maluuuu. Justru kebalik buuu, saya memimpikan pernikahan ini. Saya ingin semuanya lancar dan sukses.

Lalu, doa2 yang mengalir di panti hari itu, kini terjawab satu per satu, pada saat tak diduga. Pernikahan yang semula tak begitu didukung, lalu diberi banyak doa dan restu. Rekening yang awalnya sedemikian minim, menjadi berisi. Isinya berasal dari sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan. Ada asuransi yang tiba masa pencairannya. Lalu, masa kontrak saya di Makassar diperpanjang sehingga saya bisa mengurus acara di sini secara total, tak harus bolak balik ke Jakarta.

Belum lagi soal lain yang sangat jauh dari hal2 yang selama ini saya takutkan. Misalnya soal mahar dan uang hantaran sebagaimana adat Bugis. Ternyata semua hati telah dilembutkan oleh-Nya, sehingga kami semua sepakat tak perlu ada hal2 yang memberatkan pihak mempelai laki-laki. Hanya “Alhamdulillah” yang menderas dari mulut saya. Allah memang Maha Besar. Dan doa anak2 yatim sungguh maqbul.

Mungkin para motivator itu ada benarnya soal “Berusahalah, dan mimpimu akan terujud.” Tapi mereka melupakan hal lain, bahwa sekeras apapun usahamu, kekuasaan Allah takkan tertandingi. Sehingga, setiap usaha harus disertai doa dan amal perbuatan yang lain.
Eh, saya akhirnya juga mirip motivator ya? Huahahahaha….. :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s