hanya kamu

Di Makassar sedang berlangsung Makassar International Writers Festival. Mirip yang di Ubud, sama kerennya. Rangkaian acara ini cukup banyak dan udah dimulai sejak 13 Juni lalu. Semalem, berlangsung film screening the making of “I La Galigo”, pentas teater, musik, dan tari berisi kisah Sureq Lagaligo, kisah dari Bugis kuno yang merupakan epik terpanjang di dunia.

Di Museum Kota Makassar itu juga berlangsung pemutaran film The Irreplaceable. Sebuah film untuk mengenang Bapak Muh. Salim, penerjemah naskah Sureq Lagaligo, yang meninggal menjelang pementasan I La Galigo di Makassar, April lalu. Pementasan Lagaligo dilakukan di tanah kelahiran kisah ini setelah bertahun-tahun melanglang buana ke kota-kota besar dunia, dibawa oleh sutradara Robert Wilson.

Setelah pertunjukan semalem, juga berlangsung pembacaan puisi “lahirnya La Galigo” oleh Sapardi Joko Damono, dan puisi-puisi yang disadur dari naskah Lagaligo, oleh Hendra Gunawan dan Aan Mansyur. Tapi saya ga akan cerita detil soal pembacaan puisi yang sudah pasti keren, bikin merinding, dan dibawakan oleh orang2 yang juga keren dengan cara yang keren.

Saya hanya ingin bercerita tentang seorang penonton. Ia, perempuan manis tapi tangguh, yang menyimpan perasaan cinta yang begitu dalam terhadap salah satu pembaca puisi. Di kamar kost-ku yang dingin pagi ini, saya menyimak tumpahan perasaan si perempuan. Sedemikian dalamnya cinta dan kasih itu, hingga ia tak dapat menahan buncahan air matanya jika mengingat sang lelaki. Ia sedih, betapa lelaki itu begitu jauh dari jangkauan dan rengkuhannya. Ia sedih, sembilan tahun rasa itu tetap bertahta dalam hati, jiwa, dan pikirannya. Ia seperti merasa berada dalam lagu: Kasih Tak Sampai.

Saya ikut menangis melihat bulir air mata yang terus mengalir di pipinya. Cinta bisa sesakit itu. Seperti puisi cinta Retna Kencana Colli Pujie Arung Pancana, yang ditulisnya di pengasingan di sela kesibukannya memimpin pasukan melawan Belanda, dan mengumpulkan serta menulis ulang naskah Lagaligo yang terserak. Perempuan bangsawan yang cerdas ini, konon jatuh cinta pada lelaki Belanda, musuh negara, sekaligus teman kerjanya dalam mengumpulkan naskah kuno untuk dibawa ke negeri kincir angin.

Saya mendorong perempuan dengan cinta yang begitu dalam pada lelaki pembaca puisi itu, untuk terus menunjukkan perasaannya. Jujur, saya kaget melihatnya menangis. Karena, selama ini yang terlihat darinya hanya sisi ekstrim kaum feminis. Dia cocok dengan pemikiran Ayu Utami. Saya pun mendorongnya untuk tidak menutupi sisi emosionalnya itu, agar si lelaki bisa melihat betapa perempuan ini mencintai dan mendambanya begitu dalam dan serius.

Pertanyaan perempuan tangguh itu pagi ini: “Normalkah saya jika hanya dia lelaki yang saya sukai? Akan seperti apa saya jadinya jika lelaki itu memilih perempuan lain? Normalkah saya jika saya tak lagi bisa punya perasaan apa2 dan menutup diri pada lelaki lain?”

Kepadanya saya katakan, semua yang dia rasakan dan alami saat ini, adalah NORMAL. Lalu saya ceritakan, tentang rasa yang saya alami pada lelaki yang kusebut matahari itu. Sejak mengenalnya 2007 lalu, bertemu dengannya setahun kemudian, tak ada lagi lelaki yang terpikirkan selain dia. Saya tak bisa berpaling darinya meski banyak lelaki lain yang lebih keren. Sesungguhnya, perasaan ini adalah rahmat Ilahi. Jadi, tak usah mempertanyakan ke-normal-annya.

Selamat ulang tahun, my luv🙂

One thought on “hanya kamu

  1. Real Estate Value mengatakan:

    perasaan cinta itu memang misteri..
    tak bisa diterjemahkan dengan ukuran ketampanan, kemapanan, atau materi lainnya…
    ia datang begitu saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s