lem dan media

Saya baru saja keluar dari tempat makan yang jaraknya sekitar 500 meter dari kost. Saya memaksakan diri jalan kaki sejauh ini meski badan ga sehat, daripada lemes karena laper. Belok kiri dari pintu warung, ada dua anak kecil dengan koran lusuh di tangan mereka duduk di selasar ruko2. Lalu seorang bocah datang, juga sesama loper koran. Saya berhenti di depannya, melihat tajam ke mereka.

“Heh, kamu ngaibon ya?” Saya sok galak. Dan mereka sepertinya lagi on. Cuma mendongak, ngeliatin saya. “Kamu ngisep apaan? Lem?” Saya nanya lagi. Dijawab dengan pertanyaan oleh anak yang paling besar, “Omahmu neng ngendi?”
Heh, saya agak kaget. Terkesiap sesaat. Waduh, berhadapan dengan preman cilik nih, mau nyariin rumah saya dimana. Anak ini rupanya bener2 lagi on. Muka Makassar, tau2 ngomong Jawa. Oh, rupanya dia menyesuaikan. Tadi saya nanya ga pake logat Makassar.

“Saya yang nanya, kalian ngisep apa? Lem? Enak? Kenapa kamu mau tau rumahku dimana?” Saya liatin mereka sambil berdiri. Mereka tetep duduk di lantai, di tempat remang2. Si anak kedua yang tubuhnya lebih pendek, kini kembali mengeluarkan lem yang sempat diumpetin ketika pertama kali saya tanyain. Dia mulai menghirup aroma lem aibon dengan sangat khusyuk dan dalam. Padahal dari jarak semeter, saya pun bisa mencium baunya tanpa harus menempelkan hidung di lem itu.

“Enak nyium lem?” saya nanya lagi. Satunya ngangguk, satunya bilang, “nda enak.”
“Trus kenapa dicium, diisap, kalo ga enak?”
Eh, si anak nomer satu malah nanya, “kamu orang mana?” Agresif banget nih anak. Sementara si anak ketiga tetep konsisten nawarin koran, “kak, bagi2 rezekilah,” katanya sambil nyodorin koran lusuhnya.
Saya nanya balik ke anak pertama sambil ikutan duduk di samping mereka. “Kamu orang mana dan kenapa mau tau saya orang mana. Saya orang Sinjai.”
Dia ber-“ooh” lalu seperti bergumam, dia bilang, “saya banyak, orang makassar, bone, jawa, sinjai.”

Hmmm, lagi on anak ini. Tapi tak peduli, saya ajak ngobrol terus. Anak pertama namanya Apri kelas VI SD, kedua Yahya (kelas IV), ketiga Wawan (kelas IV). Mereka tinggal di Karuwisi. Tiap hari jualan koran sepulang sekolah. Dulu mereka jualan di perempatan tol-Pettarani. Tapi selalu dipalakin pengamen Rp 5.000 per hari, diancam badik. Mereka tak berani melawan karena tubuh si pengamen lebih gede. Lalu mereka ngalah dan pindah ke tempat ini, yang jauh dari rumah mereka. Di daerah sini pun mereka tak jualan di lampu merah, takut digaruk satpol PP. Apri ngaku jualan Fajar tanpa untung, dan jualan Tribun Timur untung Rp 500 per lembar. Maklum, koran pagi dijual sore jadi harganya harus diturunkan biar laku. Jika ga laku, maka mereka yang harus membayar koran itu ke bosnya. Sial! Jahat!

Bocah2 ini ujung tombak perusahaan media cetak. Agar orang2 kasian dan mau beli koran mereka, wajah mereka sengaja dibuat kuyu dengan ngaibon. Sehari, Apri beli aibon Rp 3.500 per kaleng. Sepertinya dibagi ke dua temennya. Karena wawan dan yahya naru aibon dalam gelas palstik bekas minuman yang bagian atasnya dilipet biar ujung hidungnya bisa nempel di lem saat dihirup.

Ini beda dengan pengalaman anak jalanan di Jakarta yang saya temui. Di Jakarta, anak2 ngaibon biar kuat nahan laper tiga hari. Kalo ngaibon pengeluarannya cuma Rp 5000. Jauh lebih murah dibanding beli makanan. Di Makassar, anak2 ini ngaibon biar wajahnya kuyu. Tapi emang beda sih, tubuh mereka memang terlihat lebhih berisi dan sehat dibanding anak jalanan di Jakarta. Kecuali mata si Yahya, mulai terlihat cekung dan ngomongnya ngawur. Sepertinya emang lagi on banget.

Sialnya, Apri ngaku mereka pertama kali belajar ngisep aibon karena melihat anak2 jalanan lain syuting, diwawancarai wartawan tivi di KFC, ga jauh dari tempat saya bertemu mereka tadi. Dari cerita Apri, sepertinya ia ingin mencontoh anak yang diwawancarai itu, jadi dia belajar ngaibon. Sepertinya lagi, ada nada sedikit kagum dan iri pada anak yang masuk tivi karena ngaibon. Makanya dia mau coba2 ngisep lem. Ah, saya ga tau mau bilang apa. Sial! Ah, media….😐

3 thoughts on “lem dan media

  1. ipied mengatakan:

    budaya ngelem ini ternyata ada di kota besar mana pun ya, tidak terkecuali😦

  2. didut mengatakan:

    dunno what to say😦

  3. partnerinvain mengatakan:

    sudah sampe ke desa-desa please deh kembalikan fungsi lem seperti khittahnya untuk merekatkan yang rusak, bukan untuk merusak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s