Ke Serpong

Dua lelaki di balik kaca terlihat cuek saat seorang perempuan clingak clinguk di depan lubang loket. Merasa tak diacuhkan, si perempuan mengulurkan selembar duit lima puluhan ribu. Si lelaki yang duduk di balik meja menoleh sebentar. Lalu;

“Beli tiketnya di sono,” katanya sambil nunjuk dengan mulut dimonyongin.

“Lho katanya di sini,” si perempuan membalas dengan suara tak kalah tinggi.

“Emang lo mau kemana?”

“Serpong!”

“Belom buka!”

“Bilang dong dari tadi.”

Percakapan itu diwarnai peregangan pada urat leher. Dua2nya bersuara tinggi. Bukan percakapan, tapi saling balas teriakan. Setelahnya saya menggerutu, “huh, dia ga tau saya belom makan dari pagi.” Ya, perempuan yang membalas teriakan petugas yang sama sekali ga simpatik itu, saya!

Saya (tepatnya kami, karena jalan berdua) bertemu petugas yang bikin emosi jiwa itu di stasiun Kebayoran Lama. Tak ada keramahan di wajah mereka. Udah gitu, loket untuk tiket KRL ekonomi AC baru buka ketika waktunya mepet. Kereta berangkat jam 10.14, loketnya dibuka jam 10. Kalo melihat gaya mereka, sama sekali ga menjamin bakal melayani dengan cepat. Kecuali keretanya telat.

Mengapa saya terdampar di sana pada minggu pagi lalu? Saya berniat jalan2 ke BSD, bertemu sepupu, bertemu orang ini, dan orang ini, yang udah lama banget kayaknya ga ketemu.

Jadi demikianlah,saya pun antre tanpa kepastian kapan akan dibuka loketnya. Akhirnya dapet tiket setelah ada pengumuman kereta sudah berada entah di stasiun mana. Lalu saya masuk tempat nunggu, di pinggiir rel. Mencari2 tempat duduk. Dapetnya di sela seorang pria yang menghadap ke belakang dan seorang wanita yang menghadap ke depan (rel).

Belum lama duduk, datang perempuan dengan tatapan menindas, bicara banget, seolah bilang: “eh itu tadi tempat gw yang gw tinggal bentar. Laki yang deket lo itu buktinya. Dia laki gw. Minggir lo.” Jadi saya dengan patuh meninggalkan tempat duduk itu dan si perempuan kembali ke tempatnya, tetap dengan tatapan yang sama, penuh kemenangan. Ah, serba ga enak pagi itu (kecuali karena saya bersama orang istimewa :p)

Lalu tadi di kantor saya ceritakan ke temen saya, komuter, yang bolak balik ngantor naik kereta. Mendengar kekesalan saya, dia bilang, “Emang tuh, mereka harus dididik.Sama sekali ga ramah, judes, jutek semua.” Dan teman kantorku itu cerita, sepertinya sepanjang jalur ke Serpong emang jutek semua. di stasiun Pondok Ranji, petugas sampai harus memasang tulisan di bawah pengumuman di depan loket, “JANGAN TANYA LAGI YA!”

Ya ampun!?!? Kasian sekali orang yang mungkin baru pertama naik kereta, atau orang yang baru pertama nginjek stasiun itu. Lagian, kalo keretanya selalu tepat waktu, orang ga akan bertanya dan patuh pada jadwal. Kalo keeretanya telat mulu dan kita dilarang nanya trus tau2 ketinggalan, gimana? Kasian banget sih pengguna angkutan umum kayak saya ini.

2 thoughts on “Ke Serpong

  1. ipied mengatakan:

    ternyata ada yang lebih jutek dari lo mbak :)) hahahaha…..
    eh iya emang Nila udah balik dari tugasnya di Sorong ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s