damai

Seminggu setelah lebaran, kondisi jakarta belum kembali normal. Penjual makanan yang biasa mangkal di jalan masuk komplek perumahan belum lengkap. Tadi siang saya pun makan di pinggir jalan depan kantor pos taman puring/mayestik. Enak. Mungkin karena laper kali ya. Dan saking lapernya, saya lupa pesen ke tukang gado2 supaya ga pake pare. Tapi ternyata parenya juga enak, ga pait.

Eh, sebenernya bukan soal makan yang ingin saya ceritakan. Tapi soal insiden kecil yang terjadi di depan saya saat makan siang. Jalur di titik itu ga terlalu padat. Meski berada di tikungan dan merupakan penyatuan dari dua arah, laju kendaraan lumayan kenceng. Biasanya saya nunggu lamaaa banget kalo mau nyebrang. Nah pas saya makan, ada motor mau belok masuk kantor pos tapi posisinya ga di kanan, melainkan di tengah. Motor lain dari belakang jadi ngerem mendadak karena laju. Jadilah agak rame2 saling klakson. Apalagi yang mau belok ini motornya agak2 ngadat. Ada yang mulai emosi, brenti di tengah kepadatan itu hanya buat ‘nggertak’ si pemotor yang mau belok dengan mlototin. Pemilik kendaraan lain makin sibuk mengklakson2. Ramelah.

Melihat kejadian itu, rasanya agak geli. Yaelah, cobalah dimaklumi aja, kasian motornya ngadat gitu, ga usah dimarahin lagi. Orang yang di mobil, ikut negur si penggertak, “udahlah, jalan aja, macet tuh.” Teguran itu sepertinya bikin si penggertak malah ga terima. Akhirnya orang2 di pinggir jalan termasuk penjual minuman ikut tereak, “woi, masih lebaran woi, udah…udah, jalan aja. Lebaran woi.”

Diingetin begitu, macet sesaat pun terurai. Bagus juga mau nurut dengan kata2 ‘lebaran’. Tapi, kalo misalnya lebarannya udah lama lewat, apa mereka juga masih mau ngalah (atau ngihlasin apapun) seperti tadi? Kenapa sebagian orang ga berpikir bahwa damai itu indah ya? Kalo saja bisa, saya pengen suasananya lebaran terus, biar damai. Damai di bumi bagian mana pun, terutama di bekasi sana.

3 thoughts on “damai

  1. Juminten mengatakan:

    iya, aku jg mau lebaraaaaannn terus. biar suasananya selalu damai.
    dan jg mau suasananya Ramadhaaaaannn terus. biar orang mikir berkali2 sebelum melakukan hal2 yg salah dan merusak puasanya.

  2. joanna mengatakan:

    memang suasana damai membuat hati nyaman dan sejuk, alangkah indahnya bila kita selalu berdamai dengan apapun juga..ikhlas memaafkan dan menerima kesalahan orang lain🙂 salam kenal ya mbak..

  3. kucing_usil mengatakan:

    lah, jangankan lebaran … pas bulan puasa lalu aja, satu jam menjelang berbuka persimpangan di wilayah bintaro macet ndak bergerak. terkunci di persimpangan karena ndak ada yang mau ngalah dan merasa punya kepentingan untuk sampai duluan di tempat tujuan.

    miris lho, sebenarnya kita belajar apa sih dari Ramadhan ini😦

    *mendadak relijius*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s