anak bawang

Suatu malam sekitar Maret lalu, ada peristiwa yang membuat saya menyadari sesuatu hal. Ternyata saya tak memiliki akar di mana pun. Tidak di satu komunitas, di suatu adat, bahkan hampir2 di keluarga.

Dulu di Makassar seringkali saya dikira orang Jawa. Ketika di Kalimantan, kalo nggak dikira Jawa, pasti dikira orang Banjar. Bahkan seorang sepupu yang tak begitu akrab dan jarang ketemu mengira saya orang Cina. Saya tak begitu dikenal dan mengenal keluarga besar karena malas gaul dan pemalu :p

Di lingkup komunitas juga begitu. Zaman kuliah, saya ga pernah di fakultas maupun di jurusan. Kebanyakan di jalan. Ketika riuh reformasi berakhir, saya gaul ke jurusan Fisika di fakultas MIPA. Lama2 main ke Teknik. Saya terasing dengan fakultas sendiri di Ekonomi. Oleh mahasiswa baru, saya kadang dianggap anak Fisika :p, bahkan diminta untuk asistensi laporan. Kesian juga anak2 baru itu.

Nah, yang parah, sebenernya saya agak terancam juga dengan ketidakjelasan itu. Setiap kali saya harus kembali ke fakultas untuk kuliah (yg jarang banget saya lakukan), saya harus melewati tempat nongkrong anak Fisip dan Sastra. Sering sekali saya digertak, dihardik, karena dikira anak Teknik.

Ya, hubungan fakultas ini emang kayak kucing dan anjing. Tawuran mulu, apapun bisa jadi masalah. Ga mikir bahwa itu merugikan semua pihak. Enak bener ngancur2in gedung kampus yg dibangun dari duit mereka sendiri, duit yg dibayarkan orang tuanya. Tapi nantilah setelah kalian lulus, baru terasa gimana ga enaknya dimana2 dikatain tukang tawuran😦

Dari segi penampilan, saya emang ngga ‘Fekon’ banget yang terkenal modis2, dan seperti masuk kawasan pecinan, karena penghuninya, errr…ya, gitu, mungkin sama dengan kampus lain, banyak orang Cina. Saya cowok banget, jins sobek, kaos dilapisi kemeja yg ga dikancing, topi, dan sendal jepit. Gimana ga makin terasing?

Ketika wisuda pun, saya sama sekali tak melepaskan kebiasaan ‘aneh’ itu. Wisudawati lain bersanggul dan berkebaya, saya tetap dengan rambut awut2an, jins sobek serta sepatu kets, tanpa bedakan!

Di komunitas setelah bekerja juga begitu. Ga ada yang pasti. Komunitas blogger, nama saya sekedar tercantum di sana, itu pun karena diundang. Organisasi profesi juga ngga, apalagi organisasi kedaerahan.

Peristiwa Maret lalu itu bener2 bikin saya berpikir, saya ini sebenernya manusia bebas, tanpa identitas, atau malah anak bawang?
Kasiaaaan…. *pake gaya menghinanya ipin-upin*

3 thoughts on “anak bawang

  1. mbah sangkil mengatakan:

    anak bawang!!!

  2. partnerinvain mengatakan:

    ya ndak opo2 toh asal dirimu senang aja

  3. ipied mengatakan:

    eh…. templatenya gantiiiiiiii😆 wahaha saya sampe pangling lihatnya! saya pikir salah masuk blog!

    kalo saya sih komunitas berganti2 seiring berjalannya waktu sih… kadang kalo komunitas sebelumnya bubar atau mati suri saya akan dengan senang hati berburu komunitas baru😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s