demi gengsi

Saya capek. Sudah lama saya rasakan ini. Sudah lama juga saya ingin menyerah. Saya ingin pulang, melupakan semuanya.

Saya akhirnya menyadari, saya menjalani ini semua hanya karena gengsi. Biar ga nganggur. Biar gaul. Biar ga dipandang sebelah mata oleh orang2 yang ngerasa hebat karena punya kantor.

Bertahan demi gengsi itu melelahkan sekali.

Tapi ketika akan menyerah dan ‘pulang’ ada saja yang berkata, “Ah, ini bukan kamu yang saya kenal, yang punya daya juang tinggi dan tak pernah menyerah.”

Mereka yang mengatakan itu, apakah benar2 mengenal saya?

Apakah mereka tahu tentang impianku yang “hanya” ingin total menjadi penulis? Penulis cerita anak!

Yang saya butuhkan saat ini, ada orang yang memaksaku pulang agar saya punya alasan dan punya seseorang untuk disalahkan.

Demi gengsi!

*akhirnyadiupdatejugabloginisetelahsebulanberlalu*

11 thoughts on “demi gengsi

  1. Juminten mengatakan:

    suka bikin cerita anak ya, mbak?
    kemarin ada lomba dr penerbit erlangga, loh.
    lomba cerita anak gitu.
    aku ikutan sih, tp ga sreg sama ceritaku sendiri.
    soalnya emang belum pernah bikin ceita anak. ;P
    lain kali coba aja, mbak.
    mungkin bisa dapat peluang lebih besar dr sana.😉
    percaya deh dgn kekuatan pikiran.
    kalo tekatnya kuat, biasanya tercapai beneran loh.
    semangat, mbak yati. ^^

  2. ipied mengatakan:

    eng entah lah mbak saya tiba2 ndak mengenalimu 1 minggu terakhir ini, mendadak seperti sengaja menarik diri dari hiruk pikuk dan keramaian dunia maya. ada apakah? jenuh dengan pekerjaankah? *peluk mbak yati*

  3. dinda mengatakan:

    …pada akhirnya, apa yang kamu BENAR-BENAR inginkan? dan apa yang sudah kamu lakukan untuk mendapatkan apa yang BENAR-BENAR kamu inginkan tadi?

    Kamu masih yati kok kalo gak kerja disana🙂

    Kamu kan masih tetep mau temenan sama dinda yang nggak lagi kerja di LA Times kan? Dinda yang sekarang jadi tukang es profesional, hehehe….

    …. yogurt nya neeeengg… yoguuurrrrttt….segaaaarrr… hahahah :)….

    senyum doong! *peluk*

  4. mya mengatakan:

    aku pengen peluk mbak yati, bear hug yang lama…

    baca cerita di atas, jadi ingat kisah temen deketku. tiga tahun kerja jadi wartawan tetep nggak bisa meredam impian jadi penulis. akhirnya dia total ngelepas itu, lalu kerja di rumah, nulis. tiga bulan berhasil nyelesaiin novelnya. ditawarin ke Gramedia, dan langsung diterbitkan, awal bulan ini.

    sampai sekarang, dia masih dipandang sebelah mata oleh teman2 wartawannya yg nganggap kerja beneran ya kerja yang kelihatan. di kantor. tapi siapa peduli ya? dia kan sudah mengikuti hatinya.

    dan itu yang penting. semoga terang batinmu dalam memutuskan ya mbak🙂

  5. yati mengatakan:

    komentar kalian bener2 bikin gw mewek seketika. tapi kok gw ga bisa memutuskan apapun ya? masih pengecut!

  6. pupusscantik mengatakan:

    (cozy)

    saya tunggu di sisi sebelah sini ya. sisi yang dianggap sebelah mata oleh orang-orang yg memilih kerja di perusahaan besar, berebut menaiki jenjang karir, supaya dilihat orang.
    kalo nanti ada yg mengasiani atau meledek, kasih tau saya, biar saya sobek mulut nyinyir mereka.

    take your time to decide, pawang. this is your chance of a lifetime. you got all the time in the world. mwah!

  7. aubreyade mengatakan:

    Kalau skrg belum bisa memutuskan apa2, jangan lekas gusar,mba – karena itu tandanya, mba yati sedang “takut” tidak berhasil mewujudkan mimpimu mjd seorang penulis cerita anak yang hebat. “ketakutan” itu justru sbg modal awal utk menyusun langkah2 selanjutnya, utk mewujudkan impian itu, mba jadi lebih berhati2 & penuh strategi.
    Dan ketika nantinya pada akhirnya kamu berhasil mewujudkannya, itu bukan lagi demi pembuktian ke orang2 bhw kamu mampu, tapi lebih kepada ke pembuktian ke dirimu sendiri, bahwa kamu memang pantas menerima buah manis dari hasil jerih payahmu sendiri.

    Ga ada yg bisa aku bagi, selain kata2,mba-semoga semangatmu tetap menyala…May God always be with you, mba yati *hugs*

    btw, jd penulis cerita anak, secara ga langsung udh nyelametin generasi anak2 skrg lho, termasuk anakku🙂 *hayo mba, dikuatkan tekadnya,aku doakan spy berhasil*

  8. lessthanthirteen mengatakan:

    JK rawling sebenarnya juga ‘hanya’ penulis cerita anak loh…tapi statusnya sudah dihormati orang sekarang. DAn tercatat sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia. Saya pikir sih bukan perkara profesinya, tapi bagaimana totalitas menjalaninya. Selamat menjalani mimpinya…semoga jadi penulis cerita anak yang sukses.😀

  9. bangpay mengatakan:

    lha memang gengsi itu keliatannya gratis, padahal aslinya muahal banget!!!!🙂

    —maaf baru mampir, nomer hape saya masih tetep kok….

  10. suci mengatakan:

    Mba yati pasti bisa.. ngikutin kata hati itu gak salah kok… jangan fokus sama omongan orang2

  11. mariskova mengatakan:

    Kalau hanya gengsi, kadang jawaban gampang dicari. Kalau masalah dapur ngepul, itu yang susah.
    Gw jg punya keinginan sama. Gw cuma pengen nulis. Titik.

    Semoga dapet jawabannya, Jeng Yati. Apapun itu, bukan titelnya yang penting, dedikasi yg kita taruh disitu yg penting. Halah, easier said than done.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s