haram ngemis?

Postingan ini menyambung kisah sebelumnya tentang alasan anak2 ngelem demi menghemat uang makan dua hari.
Obrolan dengan mas dono, guru anak2 kolong itu, akhirnya menimbulkan kegeraman pada saya perda pemprov DKI-nya bang kumis yang mengharamkan memberi uang pada anak jalanan, gembel dan pengemis.

Sebenernya saya mendua sikap pada aturan ini. Saya setuju pada alasan, jika diberi, mereka akan makin betah di jalan. Gimana ga betah, duduk2 doang sambil menengadahkan tangan plus muka kumal dan memelas, bisa dapet Rp 30-an ribu sehari. Karena sebrengsek apapun Jakarta, masih lebih banyak orang baik dan murah hati yang akan membagi duitnya 500-1.000 rupiah.

Di Kaltim lebih dahsyat, sehari pengemis bisa dapet sampe Rp 350.000 (penelitian dinas sosial), punya rumah gedong di kampung, bolak balik naek pesawat ke kampung tiap bulan. Miriplah sama cerita pengemis yang mangkal di jembatan penyeberangan bunderan HI, bisa belanja2 di mall tiap minggu pas libur ngemis.

Membandingkan cerita pengemis sukses dengan anak jalanan yang harus ngelem itu miris banget kan? Satunya cuma duduk diem, satunya berusaha kerja dengan ngamen, mulung, jual asongan, tapi penghasilan mereka jauuh banget!
Lalu datang pula aturan yang akan menghukum si pemberi ke anak jalanan. Habis sudah sumber hidup mereka yang memang cuma mengandalkan rasa belas kasihan orang lain.

Bego kan, ada larangan, tapi ga ada solusi. Warga dilarang memberi, tapi anak jalanan ga dikasih jalan untuk mencari sumber penghidupan lain. Jadinya seperti mengamputasi tangan dan kaki yang sebenernya sehat2 aja. Kemana itu zakat2, kemana itu pajak2, kemana itu anggaran pemberdayaan masyarakat?

Ah, taiklah!
Entah kalo memang sebenernya ada upaya menghapuskan kemiskinan dengan membabat mati si miskin dengan cara ini.

5 thoughts on “haram ngemis?

  1. amri mengatakan:

    tapi diantara banyaknya pengemis sukses tersebut, masih banyak pengemis yang bener2 mis mis mis alias gak sukses😀

  2. ridu mengatakan:

    diantara mereka juga lebih memilih jadi pengemis daripada jadi pembantu rumah tangga atau tukang cuci atau tukang kebun yang derajatnya lebih mulia dari pada ngemis.. tapi yaa emang mereka kadang juga emang keasyikan atau emang dasarnya males yaa..

    ini sih udah PR kita semua.. baik masyarakat, pemerintah, dan juga si pengemis itu..

  3. dinda mengatakan:

    kadangkadang gue suka marah sama diri sendiri.

    secara reflek, gue lebih sering ngasih orang yang minta-minta di jalan, ketimbang misalnya membeli kue-kue yang dijual, atau koran, atau anak jalanan lain yang menawarkan ekstra service ketimbang hanya minta.

    dan gue harus berkali-kali mengingatkan diri buat melakukan itu…

    tapi sejujurnya, gue pun ga tau jawaban pertanyaanmu😦

  4. venus mengatakan:

    iya co. emang taik! sedih ga tau harus gimana😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s