alasan nge-lem

Ketika melihat dua anak asik nge-lem di bawah pohon beberapa waktu lalu, saya sungguh tak habis pikir, apa enaknya ngelem. Saya tak habis pikir mengapa mereka mau dan suka ngelem. Padahal menurut saya bau lem itu ga ada enaknya sama sekali. Siapa yang ngajarin? Apa maksudnya ngajarin?

Pertanyaan2 itu akhirnya terjawab saat mendengar cerita tentang anak-anak di kelas kolong dari guru mereka, Mas Dono.

Adalah soal ekonomi yang menggiring mereka untuk menikmati bau lem yang tak wangi itu. Soal yang sama yang menggiring mereka hidup di jalanan yang begitu keras.

Sama sekali bukan keinginan mereka untuk hidup di jalan. Tapi keadaan yang memaksa. Demi melanjutkan hidup. Demi meneruskan sekolah. Demi makan mereka sekeluarga. Apapun akan dilakoni. Ngemis, ngamen, mulung.

Dan penghasilan dari tiga kegiatan itu sebagian besarnya didasari rasa kasihan mahluk lain. Anak kecil, tak peduli lagunya enak atau ngga, pasti akan dapet duit tiap kali ngamen. Ibu2 yang menggendong bayi juga begitu. Orang cacat fisik juga mudah mendatangkan rasa iba. Jadilah mereka bisa menghasilkan uang Rp 30-60 ribu sehari.

Tapi bagaimana dengan anak jalanan yang beranjak remaja? Ia cenderung tak bisa mendatangkan empati. Malah dianggap anak brandalan, dan sebagainya. Bagaimana cara mereka menyiasati hidup yang tak murah ini? Ya, mereka berhitung. Pendapatan mereka terus berkurang, sementara harga makanan terus menanjak. Jika pendapatan sehari menurun hingga Rp 15 ribu saja atau bahkan ga dapat apa2, apa yang bisa dimakan sekeluarga? Apa yang bisa disimpan untuk biaya sekolah?

Nge-lem akhirnya jadi solusi. Harga sekaleng lem hanya Rp 5.000-an. Dengan sekaleng itu mereka bisa menghemat ga makan sama sekali paling tidak selama dua hari. Sangat hemat! Dibanding makan dua kali sehari sekeluarga yang tak menyisakan sepeser pun pendapatan hari itu, maka nge-lem adalah cara terbaik.

[bersambung…]

10 thoughts on “alasan nge-lem

  1. mobil88 mengatakan:

    Tulisan Anda hari ini begitu luar biasa dan inspiratif. Tetaplah menulis…!!
    http://mobil88.wordpress.com

  2. merahitam mengatakan:

    Ya ampun, jadi itu alasannya. Untuk nahan lapar? *langsung speechless*😦

  3. bangsari mengatakan:

    beh. jadi bukan karena alasan mabuk?

  4. […] meratapi anaknya meninggal sia2 di tragedi semanggi, ada remaja2 kolong jembatan yang menempuh cara ngelem demi memangkas uang jatah uang makannya *sumpah, saya nangis baca artikel ini* ya sudahlah, anda semua lebih banyak tahu mungkin daripada […]

  5. dinda mengatakan:

    astaga… itu kah alasannya? biar nggak lapar? *speechless..*

  6. elia|bintang mengatakan:

    andai pemerintah baca postingan ini. atau sbnrnya mereka udah tau kenyataan ini tapi malah menutup mata. rakus dan serakah padahal perut udah pada buncit.

    ah ga tau lagi saya😐

  7. clingakclinguk mengatakan:

    lho? jd ngelem itu bisa bikin tahan ndak makan ya?

    dulu semasa kecil pun saya pernah mencoba membaui/ menghirup aroma lem, tp lbh enak aroma spidol kayaknya

  8. […] Postingan ini menyambung kisah sebelumnya tentang alasan anak2 ngelem demi menghemat uang makan dua hari. Obrolan dengan mas dono, guru anak2 kolong itu, akhirnya […]

  9. shizuura mengatakan:

    Kalau saya lebih suka aroma iler waktu baru bangun, tapi aromanya malah bikin lapar😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s