sahabat – #11

award1Yah, saya dapet PR dari Ipied. Agak bingung mau menulis apa tentang sahabat. Ga tau harus memulai dari mana. Apa harus diurutkan sesuai jenjang sekolah? Tadinya saya berniat nulis satu kalimat saja: pendapat saya idem dengan postingan Ipied. :p ga kreatip amat? Ga punya pendapat, cih!

Baiklah, saya mulai seperti cara mereka saja. Di TK? Errrr…di kampung zaman saya dulu, TK ga ngetren. Sempet sih sekolah di TK tapi ga begitu banyak hal yang saya dapet dan kayaknya cuma beberapa kali ke sekolah. Ga ada main2nya. Makanya ketika ponakan saya males2an sekolah, saya sebenernya sedikit mendukung :p Ngapain coba di TK? Sekolah Ibu menurut saya lebih hebat.

Eh, ini cerita soal sahabat ya, bukan sekola? Maap :p

Jadi, intinya di TK dan SD saya ga punya sahabat. Temen deket tak lain adalah ponakan saya sendiri yang sebenernya lebih tua setahun daripada saya.

SMP, saya punya dua sahabat. Yang satunya masih sepupu berinisial S, satunya lagi kerabat jauh berinisial A. Kami akrab sejak kelas 1 dan melakukan banyak hal (yang sedikit bodoh) terinspirasi dari cerpen2 di Majalah Anita, dan buku2 Enid Blyton. Begitu tamat SMP, S sekolah di ibukota provinsi sementara saya dan A di ibukota kabupaten. Meski satu sekolah dengan A, saya ga akrab lagi. Sesekali saya maen ke kelasnya tapi dia ga pernah mencari saya. Sementara dengan S, kami surat2an tapi sesekali juga.

Menyedihkan tapi makin lama kami makin ga nyambung. Ketika bertemu di acara nikahan ponakan awal bulan lalu, kami bagai dua orang yang hanya pernah kenal. Mungkin saya yang menghindar. Entah minder, entah merasa ga tau apa yang harus diobrolin lagi. Saya kuatir ga nyambung. Ah, saya memang bukan kawan yang baik. Sangat sering saya menarik diri seperti ini. Apalagi jika sekeliling saya udah mulai riuh.

Di SMA, sahabat dekat ga ada. Sejak kelas 1 selalu sebangku dengan manusia pilihan terakhir yang juga belum dapet temen sebangku. Geng besar ada, tapi tidak seorang pun dari mereka menjadi teman akrab saya, apalagi untuk curhat-curhatan. Satu2nya teman akrab saat SMA adalah adik sepupu saya yang usianya beda setahun. Makin keliatan, saya manusia kuper kan?

Saat kuliah, semester2 awal, saya punya sahabat sefakultas sejurusan, inisialnya I. Kemana pun dan ikut kegiatan apapun, kami stick together :p Tapi seiring waktu, kami mulai jauh karena dia orang yang tekun belajar di kelas sementara saya tekun belajar di jalanan. Hasilnya, dia wisuda lebih cepat dua tahun sepertinya.

Setelah kami makin jauh, saya menemukan kawan lain di organisasi dan di jalanan. Banyak dan akrab semua. Tapi ga satupun yang satu fakultas dengan saya. Yang perempuan, yang akrab banget L dan N. Tapi dengan L lebih akrab lagi termasuk dengan ibunya. Kawan dekat lainnya, ada M, B, I, Z, I, N, banyaaak.

Kawan dekat lainnya yang beda kampus juga ada beberapa. Yang beda organisasi tapi sekampus dan sering bertemu di jalanan juga ada beberapa. Saya sering banget nginep di tempat mereka, entah di sekretariat mereka, kampus mereka, atau juga rumah mereka yang kebanyakan lelaki. Kalo di tempat temen2 perempuan malah ga pernah. Kenapa ya?

Kalo saya keluar daerah misalnya ke Jawa, Bali, Lombok, atau daerah lain di Sulawesi, biasanya juga gitu. Nginep di tempat temen2 cowok, atau di sekretariat dan kampus mereka. Saat mereka yang ke Makassar, saya nampung mereka di rumah.

Seiring waktu, pertemanan mulai renggang dengan beberapa orang. Ada yang disebabkan kami berbeda jalan dan prinsip, adapula karena jarak dan komunikasi, adapula karena ga nyambung. Tapi sebisanya saya selalu berusaha menghubungi kawan2 saat kuliah ini, tetap membangun hubungan dengan mereka meski jalan kami berbeda. Karena bersahabat itu indah. Sayangnya, saya termasuk orang yang sulit, ribet, riwil, labil, atau apalah yang bisa membahayakan pertemanan.

Menurut penelitian yang pernah saya baca, hubungan pertemanan akan berganti setiap tujuh tahun. Nyatanya dengan teman2 kampus pertemanan saya lumayan awet. Padahal saat bekerja, jalinan perkawanan saya makin luas meski hampir tak ada yang bener2 akrab. Eh, ada, inisial S.

Dunia maya memperkaya pertemanan saya. Banyak sahabat yang saya temukan. Meski ada juga yang akhirnya hambar karena saya ga merasa KLIK. Ya, mungkin karena saya memang orang yang SULIT :d

Selesaaaaiii PR-nya. Saya ga melempar ke siapapun. Takut jadi beban di mereka πŸ˜€ kalo ada yang mengerjakan dengan rela, silakan πŸ™‚

Iklan

5 thoughts on “sahabat – #11

  1. cynthinks berkata:

    πŸ˜› emang susah kali ya nemuin sobat yg bener-bener klop.

  2. cynthinks berkata:

    lhoo itu tadi ternyata pertamax yaaaa *komentar ndak penting*
    Tapi sebetulnya mbak perempuanapi punya kriteria seorang “sahabat” gak siy ?

  3. wongiseng berkata:

    Pertemanan berganti tiap 7 tahun itu menarik, belum pernah denger. Apa iya ya ? Jadi teman SD, SMP+SMA, Kuliah+Awal Kerja berlanjut ke Temen Kerja (+dari dunia virtual gak jelas seperti ngerumpi/politikana :)))

  4. ipied berkata:

    eh mbak mana tuh link artikelnya yang ttg 7 tahun itu? jadi penasaran soalnya saya baru denger… :p

    makasih PRnya dah dikerjain hihihih πŸ˜€ maaf lho bila merepotkan hehehe…

    ternyata masalah kita itu sama ya.. saat mulai betemu banyak orang, menjadi riuh, ya itulah saat kita merasa ingin menarik diri… ah perempuan aneh! :p

  5. […] makin merasa terintimidasi karena guru-guru terus menerus membanding-bandingkan saya dengan saudara sepupu yang juga sahabat saya. Lebih ga nyaman lagi saat kena puber, semua guru kayaknya cuma fokus merhatiin nilai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s