Rantau – #8

negeriSudah lama saya mendengar buku ini, Negeri Lima Menara. Membacanya, saya akhirnya bisa membayangkan kenapa dulu ada kerabat saya yang setengah mati menangis2 minta disekolahkan ke Gontor seperti kakaknya dan tak puas hanya dipondokkan di Pesantren Modern IMMIM seperti saudara saya yang lain.

Cerita2 dari sekolah berasrama menurut saya selalu menarik disimak. Apalagi jika ceritanya penuh bumbu dan ajaib macam di Hogwarts, sekolah asramanya Harry Potter. Nah, cerita2 dari Pesantren Madani miriplah dengan cerita di Hogwarts. Lebay? Biarin. Jika Harry Potter berada di dunia sihir dan dongeng, maka Alif Fikri atau A. Fuadi berada di negeri Islam, di dunia nyata kita, Indonesia.

Tentang inti cerita, buku ini mirip dengan buku-buku lain tentang bagaimana alam semesta mendukung segala upaya kita untuk meraih dunia yang kita impikan. Buku yang diangkat dari kisah nyata ini, tak kalah dengan semangat bermimpi yang ditularkan Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya. Ali Fikri pun akhirnya bisa meraih semua hal yang diimpikannya sejak dalam ‘asrama pencarian’. Menjadi wartawan Tempo, ke Amerika, dan mimpi2 kecil lainnya.

Tapi buat saya pribadi, catatan penting yang saya dapatkan dari buku ini adalah, syair dari Imam Syafii:

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Kenapa syair ini? Karena sudah seringkali saya merasa begitu capek berjalan, lelah mencari, dan sedih sendirian hidup di rantau. Tak ada penyemangat selain rasa kesamaan nasib yang saya dapatkan dari jeritan kerinduan Sobron Aidit untuk pulang ke negerinya dalam bukunya: Surat Kepada Tuhan.

Tapi membaca syair pemikir mazhab Syafii yang meninggal di Mesir pada 819 Masehi ini, sedikit ada rasa bangga menjadi pejalan dan perantau. Saya (jika boleh GR) merasa termasuk golongan orang pandai dan beradab. Hihi….

Iklan

3 thoughts on “Rantau – #8

  1. ipied berkata:

    wew… sebuah komentar yang berbeda lagi dari pembaca, negeri 5 menara. saya jadi bingung akan saya beli dan baca gak ya? sampe sekarang belum memutuskan untuk membacanya soalnya. belum merasa tertarik hehehe 😀

  2. lina ling berkata:

    sependapat sama ipied. masih bingung…beli gak yak. soalnya saya niat minjem saja :))

    sepertinya ini pertama saya datang…ke sini
    salam,

  3. dian berkata:

    hihi.. jika memang begitu, berarti saya termasuk orang yang tidak pandai dan tidak beradab.. karena sampai sekarang terlalu banyak alasan untuk tidak merantau 😦
    tapi apapun itu.. syair itu tetap bikin saya berpikir.. 🙂
    dan mungkin saya akan membeli bukunya… sepertinya bagus..
    ini tanggapan saya yang pertama.. salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s