bertemu idola

Huaaaa…hari ini mungkin akan menjadi catatan besar buat saya. Sangat bersejarah. Saya barusan melakukan hal paling tolol di dunia. Rasanya pengen nangis kenceng-kenceng saking keselnya karena sikap tolol tadi. :((

Barusan, saya bertemu idola saya dari kecil, eh remaja. Bukaaaaan, bukan Rano Karno, apalagi Dina Mariana. Najis banget sih? Bukan, bukan Dian Sastro kok. Nikolas Saputra? Ah, bukan juga, saya ga ngefans. Iwan Fals? Bukaaan. Saya udah sering ketemu dia tapi ga seheboh ketemu idola saya yang satu ini, yang telah membuat saya terlihat cukup tolol.

Siapa sih dia? *pentung, kelamaan ngomongnya*
Dia adalah…jeng jeng jeng… Mbak Yeni. Yeni siapa, Yeni Wahid apa Yeni Shara? Aaaah, garing!
Namanya, Yeni Rosa Damayanti. Ga ada yang kenal? Hahahaha… wajarlah kalo ga kenal :p biarin juga kalo ga ada yang kenal. Saya fans yang aneh? Biarin juga, udah aneh dari dulu :p weeeekkk!

Jadi ceritanya, tadi saya duduk bengong di centro, Plangi nungguin ‘dia’ untuk buka puasa bareng. Lalu di depan saya melintaslah dia, berjalan pelan, maaf, agak pincang. Mulai tumbuh rambut putih di kepalanya bagian depan. Tapi wajahnya, tak berubah. Dan rasanya kok kenal, ngerasa dekat pula (tuh, SKSD banget kan? Ada yang ga kenal singkatan jadul ini? Huh, sok kenal sok dekat. Masa gitu aja ga tau).

Saya berusaha mengingat-ingat. Siapa ya? Woh, iya, mba Yeni. Tiba-tiba saya berdebar-debar, pengen nyapa. Apalagi dia sendirian, muter-muter nyobain sepatu dan sandal. Sempet ragu juga, dia bukan ya? Kok pincang? Woh, iya, saya pernah baca di koran, dia sempet pake kursi roda waktu itu. Lamaaa saya ngumpulin keberanian untuk mendatanginya. Akhirnya saya mendekat.

“Mbak Yeni, ya?” Saya menyapanya.
“Iyah,” katanya sambil mengangkat wajahnya. Kami berhadap-hadapan sekarang. Saya gugup, bingung mau ngomong apa. Gagap sampai gemetaran dan pengen nangis. Hah, tolol bukan?
“Saya Yati,” saya mengulurkan tangan.
“Maaf, lupaaa…siapa?” Dia menyambut uluran tangan saya sambil tersenyum lebar.
Saya gagap lagi. “Errr…kita belum pernah ketemu kok,” kata saya.
“Oh, dari mana?”
“Saya dari Sulawesi, mba.”
“Sulawesinya dimana?”
“Makassar, mba.”

Bingung, saya harus bicara apaaaa??? Mungkin ratusan orang telah saya wawancarai, dari gembel sampe pejabat tinggi, dari orang biasa sampe artis terkenal, dari manusia stengah gagu sampe orang haus publikasi, baru kali ini saya tergagap-gagap begini. Padahal saya sendirian, dia sendirian. Saya hanya menatapnya saat ia sibuk mencoba sepasang sendal berikutnya, lalu…

“Mba idolanya bapak saya,” cetus saya tiba-tiba. Gggrrrhhh…maaf pak, saya bawa2 nama bapak.
Dia langsung mengangkat wajahnya, sejenak terlihat kaget.
“Oooh ya? Salam aja deh buat bapaknya,” katanya, ramah. Atau berusaha terlihat ramah.
Saya ngangguk-ngangguk, ga jelas mau jawab apa.

“Kegiatan mba sekarang apa?”
“Oh, masih aktif di beberapa organisasi,” katanya.
“Mba sendirian? Sama siapa?”
“Sama temen-temen yang lagi buka puasa. Saya lagi ga puasa, maen ke sini bentar.”
“Kamu sama siapa?” Tanyanya kemudian.
“Sendiri,” kata saya sambil mengangguk kuat-kuat, menyembunyikan kegugupan.
“Oh ya? Jadi ke sini jalan-jalan atau?”
“Maen,” kata saya lagi sambil menggigit bibir bawah. Masih nervous.
“Lebaran di sini dong,” katanya.
“Iyah,” jawab saya.
Doh, begitu banyak jawaban tolol yang saya berikan hanya karena saya kehabisan kata. Saya ga bohong atas jawaban-jawaban itu, tapi semuanya ga tepat seperti itu.

Ketololan lain adalah, ketika minta berfoto, ga tau kenapa jari-jari saya tiba2 ga bisa menemukan tombol kamera di bb. Ga bisa ngambil gambar dan harus berulang2 mengambil pose dodol. Asli, pengen nangis karena kesel atas kegagapan saya tadi.

Mungkin saya kualat. Saya sering mencibir abg-abg yang pingsan2 atau nangis2 karena seneng ketemu artis idolanya. “Apa sih, pake nangis2. Yaoloooh, pingsan lagi, trus napa kalo ketemu idolanya. Apa sih bedanya artis ma abg-abg itu, sama-sama manusia, (maap) tainya juga sama-sama bau.”

Yup, kualat, saya kualat 100 persen. Ternyata bertemu idola bisa bikin tolol kayak gini.
Dan tingkah tolol saya sepertinya membuat mba Yeni kurang nyaman dan segera pamit. Duh, mba…saya bukan intel. Sumpah. Malah mungkin kita orang yang sama-sama di-inteli (ge-er boleh dong?)

Lalu, jawaban2 bodoh saya, sapa tau mba Yeni baca postingan ini, itu bukan kebohongan. Hanya, yaaa, ga tepat. Karena yang tepat adalah: saya udah pindah ke Jakarta sejak Maret lalu. Saya memang dari Sulawesi tapi ke sini bukan untuk maen, melainkan kerja. Saya terpaksa lebaran di sini karena baru dapet cuti setelah lebaran nanti. Saya ada di Plangi memang sendirian karena lagi nunggu temen. Dan, mba Yeni memang idola bapak saya.

Soal idola ini, kayaknya udah pernah saya ceritakan di blog saya sebelum2nya. Dulu, nama Yeni Rosa begitu ngetop di keluarga kami. Setiap subuh dan malam menjelang tidur, kami selalu mendengarkan namanya disebut di radio Nederland, BBC, atau apalah itu, radio2 dari luar negeri. Yeni diidolakan karena dia perempuan satu-satunya yang berani terang-terangan menentang Soeharto (yang kami merasa terwakili karena itu). Yeni yang ketika itu berunjuk rasa di Brussel, Jerman, bersama Sri Bintang Pamungkas (yang kini…ah, sudahlah) menyambut Soeharto. Yeni yang kemana-mana suka bawa ular di tasnya. Yeni yang…suatu hari bapak sampe bilang: “saya mau membiayai anak-anak saya kuliah hanya untuk berdemonstrasi” dan membuat saya bercita-cita TOLOL untuk menjadi tahanan politik demi menyaingi popularitas Yeni di keluarga kami. Bisa jadi, karena nama Yeni juga akhirnya saya bisa seperti sekarang.

Jadi, demikianlah. Lega rasanya menceritakan ketololan saya akhirnya. Semoga ada diantara kalian yang membaca tulisan ini dan tau alamat emailnya mba Yeni, sudilah membaginya buat saya. Saya hanya ingin bilang ke dia: maaf atas ketidaknyamanan tadi.

Iklan

2 thoughts on “bertemu idola

  1. mayssari berkata:

    ha..ha…ha… kamu bisa lucu juga yah???
    Tapi hal yang wajar kok, coba langsung bilang saya juga mengidolakan mbak… mungkin kegugupannya akan berkurang…

  2. pretty berkata:

    tahun berapa ya itu waktu masih jaman demo2 mbak Yeni ? tahun 95 an kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s