taksi ga sesat-2

Kali ini saya bukan mau bercerita tentang pengalaman tersesat saat naik taksi. Bukan juga mau ngikut beberapa postingan di ngerumpi.com yang akhir2 ini banyak (lebih dari dua kan?) membahas soal pengalaman di taksi. Tapi, kebetulan, tadi petang pulang dari mall beli bahan makanan buat sahur, saya numpang taksi burung biru yang sopirnya perempuan, seperti pengalamannya mas ririsatria. Cerita tentangnya sepertinya sayang untuk dilewatkan.

Bu sopirnya bernama Retno, asli Yogyakarta. Ia seorang yang ramah. Baru buka pintu saja saya udah diajak ngobrol banyak (padahal masih ngos-ngosan ngangkat box plastik plus isinya ke taksi). Saat saya sibuk menjawab pertanyaan2nya, Bu Retno membuka kaca jendelanya untuk menyapa satpam mall, “Selamat sore, pak.”

Perjalanan bersama Bu Retno tak lama, hanya berjarak argo Rp 20-an ribu, dari Plaza Semanggi hingga Pakubowono/Velbak Kebayoran Lama. Meski singkat, Bu Retno menyajikan cerita cukup lengkap tentang hidupnya.

Bu Retno telah enam tahun jadi sopir taksi. Empat tahun di Yogya dan dua tahun di perusahaan cap burung biru di Jakarta. Putra-putrinya enam orang. Anak tertuanya, juga bekerja di perusahaan burung biru yang ditempatkan di mall Plaza Semanggi. Yang lainnya masih sekolah. Dua orang diantaranya, yang duduk di bangku SD, mendapat beasiswa. “Senin besok, jadwal mereka dijemput dari asrama karena sekolahnya mulai libur lebaran,” katanya.

Sementara anak perempuannya, yang kini duduk di kelas III SMK Pariwisata telah direkrut menjadi karyawan di Hotel Santika setelah menjalani proses magang di sana dan dinilai bagus kerjanya.
“Alhamdulillah, saya bersyukur anak-anak saya ga ada yang nyusahin. Sepertinya mereka ngerti kondisi orangtuanya,” kata Bu Retno sambil melirik saya dari kaca spion. Saya tersenyum dan turut mengucap syukur dalam hati.

Sambil terus berkonsentrasi ke jalanan yang cukup lancar, Bu Retno bercerita. Ia kost di Tangerang. Di sana ia berbaur dengan penghuni kost lainnya yang berusia jauh lebih muda. Ia pun dinobatkan sebagai ’emak’ bagi teman-teman kostnya. “Waduh, anak-anak saya banyak bener, ga tau siapa bapaknya,” candanya.

Wilayah operasi kerja Bu Retno di Tangerang. “Tapi tadi pagi ada tamu dianter ke Jakarta, jadi saya muter-muter seharian di kota,” katanya.
“Duh, maaf, maaf,” katanya saat tubuh kami terguncang akibat jalanan tak rata yang dilewati roda taksinya.

Setelahnya, ia melanjutkan cerita tentang jam kerjanya. “Kata anak saya, kerja saya kebalikan sama maling. Saya keluar jam 4 pagi dan pulang jam setengah 2 malam.”
Waktu tidurnya hanya 2,5 jam. “Kalau pas libur, ceritanya mau balas dendam, tidur seharian. Eh, malah pusing kalo kebanyakan tidur,” katanya diiringi tawa berderai.

Di bunderan Senayan, Bu Retno agaknya tersadar bahwa peran saya hanya tawa dan pertanyaan satu dua patah kata. Ia pun bertanya, “Ntar mudik?”
Saya agak bingung, karena pulangnya setelah lebaran, harusnya dinamai arus balik, bukan mudik. “Errr…iya, bu. Tapi abis lebaran,” kata saya.
“Kok kayaknya sedih gitu? Ga pulang itu biasa, paling nangis-nangin ntar malam lebaran karena sepi. Tapi, bergembiralah, banyak kok yang ga pulang. Saya juga ga mudik,” katanya.

“Bergembiralah,” saya ulangi dalam hati kata-kata itu. Plak! Ini tamparan pertama Bu Retno. Ya, apa alasannya untuk tak bergembira saat hal yang lebih sulit juga dialami orang lain?

Perjalanan dilanjutkan dengan obrolan ringan. “Pakubuwono, lurus kan?” Saya menjawab, “Bener bu, lurus.”

Bu Retno mengantar saya hingga pintu gerbang kost. Rp 20.400 tertera di argo. Saya ulurkan Rp 55.000 dan dia meminta angsur Rp 30.000.
“Bentar ya, bu, maaf, repot nih box-nya.”
“Santai saja mbak, ga usah buru-buru.”
Saya mesem-mesem sambil sibuk mengatur receh dalam saku, memasukkan dompet ke tas, lalu meraih box plastik di samping saya.
“Yaaa, sapa tau ibu mau ngejar setoran, maap lama ini, ribet saya,” kata saya diiringi ketergesaan.
“Ngejar setoran? Hahaha…ngengsi dong. Santai aja lah, ga ada yang harus dikejar-kejar,”katanya.

Plak! Ini tamparan kedua. Pelajaran kedua Bu Retno, bahwa hidup dan waktu yang kita punya bukan melulu tentang setoran dan uang. Jadi, santailah, Co, jangan jadi manusia super serius gini.

Saya menutup pintu taksi sambil tersenyum agak masem karena malu. Bu Retno (semoga) ga liat karena gelap. Tapi masih sempat ia berpesan, “Selamat malam, selamat beristrahat yaaa.”
“Ma kasih bu, hati-hati.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s