kelas pagi

Dulu banget, zaman saya kecil di kampung nun jauh di pinggir hutan di Sulawesi sana, setiap membaca tentang Jakarta, saya memimpikan hal berbeda. Jika anak-anak lain mungkin bercita-cita menginjak tanah jakarta untuk menikmati hiburan di Ancol, Taman Mini, Dunia Fantasi, Monas, atau bertemu Soeharto (hihihi…), saya tidak. Tempat seperti itu yang ingin saya datangi paling hanya Kebun Raya Bogor dan istana tempat Sukarno dulu.

Mungkin saya udah serius sejak kecil. Yang saya impikan tentang Jakarta adalah main ke kantor Bobo, Ananda, dan bertemu orang-orang pintar yang menjadi penulis buku dan artikel di majalah anak-anak itu. Ketika remaja (SMP), impian saya adalah bertandang ke kantor Anita Cemerlang, Aneka, Mode, dan Hai. Saya juga memimpikan bertemu NH Dini. Saya juga memimpikan kampung saya bisa seperti kampung di Inggris sana dan saya bisa meniru petualangan yang diceritakan Enid Blyton tentang lima sekawan, sapta siaga, dan segala macamnya.

Beranjak lagi di bangku kelas III SMP, lalu SMA dan masuk kuliah, mimpi saya tentang Jakarta lebih serius lagi. Jika ke Jakarta, saya ingin bertemu orang-orang terkenal di rumah saya, yang bukan artis-artis. Yang saya maksud misalnya, Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti (ada yang kenal? :p), atau nongkrongin bunderan HI dan sekitar Senayan dan Cendana, serta ngunjungi kampus-kampus bertemu orang pintar dan pemberani. Impian itu baru terujud akhir masa kuliah, jauh setelah momen-momen 98.

Kini saya di Jakarta. Impian saya belum berubah tapi bertambah. Pertama, pengen aktif ngelola taman baca, rumah singgah, atau semacamnya buat anak-anak pinggiran. Mau nebeng di tempat ‘dia’ dulu aktif tapi dia nolak setiap diajakin ke sana. Kedua, pengen ngajar anak jalanan. Udah ada jalannya sih, udah sempet dua kali hadir di kolong jembatan sana. Sayangnya ga selalu sesuai ma jadwal kerja sehingga jadi ga enak sendiri dan akhirnya malu menampakkan diri lagi. Lalu, ketiga, pengen memperdalam ilmu jurnalistik, baik tulisan maupun foto.

Untuk tulisan, sebenernya tinggal keseriusan untuk latihan terus, toh saya udah pernah kursus segala macam tentang penulisan. Tapi jam kerja selalu jadi alasan :p ga sempet2 liputan dan bikin tulisan mendalam.

Soal foto, hhhh…kamera 400d saya udah berdebu dan nyaris karatan tuh, jarang dipake. Lalu saya menemukan jalan beberapa hari lalu. Ada orang baik dan murah hati bernama Anton Ismael yang membuka kelas pagi fotografi secara gratis!!! Namanya kelas pagi, bukanya pagi benerrr, jam 06.00 sampe jam 10-an. Baik hati bener orang ini, ngajar gratis untuk rakyat agar paham fotografi. Sama baiknya dengan Mas Sardono yang ngajar fotografi dan pelajaran sekolah untuk anak-anak jalanan di kolong jembatan itu (yang saya melarikan diri karena benturan jam kerja).

Jadilah tadi pagi, rekor terpagi saya ninggalin kost untuk ikut kelas fotografi ini. Jam 06 kurang, saya udah di depan studio mas AI yang tempatnya pas di belakang kantor. Peserta lain berdatangan jam 06 lewat, dengan segala peralatan dan hasil karya. Ada yang udah nyiapin pameran. Kelas hari ini diisi dengan pelajaran cuci-cetak foto. Ggrrrhhhh…gemes banget rasanya kenapa saya baru tahu ada kelas istimewa ini. Kelas dimulai sejak April lalu, jelas saya udah sangat-sangat jauh ketinggalan.

Celakanya lagi, mulai pekan depan sepertinya kelas akan pindah tempat karena studio ‘mata ketiga’ (versi bahasa indonesianya neh)-nya pak AI pindah ke daerah fatmawati. Huhuhu, disini saya tinggal nyebrang jalan dari kost ke kelas. Kalo di fatmawati, gimana ya? 😦 Jangan-jangan ini kelas pertama sekaligus terakhir saya 😦 Sama dong ma kelas di kolong jembatan itu…

Iklan

6 thoughts on “kelas pagi

  1. gw berkata:

    nulisnya udah tanggal 1 ternyata :p

  2. domba garut! berkata:

    Impian kita terus berubah selekas mendapatkan yang sebelumnya.. semoga kedepan dalam upayanya menggapai impian bisa dimudahkan…

    Wah sayang ya kelasnya pertama dan terakhir.. tadinya saya tertarikuntuk ikut, si 5D ini juga sudah mulai berdebu didalam lemarinya 😀

    Salam hangat dari afrika barat..

  3. puputpuputpuput berkata:

    mbak, nanti setelah menikah aku tinggal di dekat bekas rumah NH Dini di Sekayu lhooo
    (hayah, gitu aja bangga put!!)

  4. yati berkata:

    ha???? puuuuuuuuuuutttt….kalo nikah kabarin. biar gw ke sana! anterin, kita ke rumah NH Dini!!!!

  5. mayssari berkata:

    mimpi saya ketemu Gunawan Mohammad sama sapardi sampai sekarang belum ksampaian….

    Apa kabar??

  6. […] terakhir ke stasiun Tanjung Priok bersama kelas fotografi anak kolong yang pernah saya ceritakan di sini, saya ikut rombongan balik ke kolong. Masih ada kelas pelajaran sekolah yang berlangsung sore hari […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s